Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 99


__ADS_3

Jantung Arsen berdetak dengan cepat mendengar ucapan Denis yang seakan tidak mengenalinya. Ia tahu ia sudah membuat kesalahan yang sangat fatal dan sudah mengecewakan kepercayaan Denis yang selama ini ia berikan kepadanya.


Brugh………………


Arsen berlutut didepan Denis membuang semua rasa malu dan egonya, karena saat ini yang ada dipikirannya hanya ingin meminta maaf dan mengakui semua kesalahannya.


“Aku mengaku bersalah bos! Aku minta maaf bos. Aku sudah egois dan lupa diri siapa sebenarnya aku” ucap Arsen dengan tulus.


“Siapa bosmu? Aku tidak mengenalmu jadi pergi dari hadapanku sebelum aku melemparmu keluar dari jendela di lantai ini” ucap Denis dengan suara tegas.


“Bos aku mengaku salah tolong maafkan aku bos” ucap Arsen sambil merendahkan tubuhnya hingga ia bersujud di kaki Denis.


Bugh……………..brugh……………….


Arsen terlempar mengenai tembok didepannya saat Denis menendangnya dengan kuat, membuat dia merasa sangat pusing karena tendangan Denis tak main-main di kepalanya barusan.


“Jangan pernah muncul di hadapanku lagi bangsat” seru Denis memperingati Arsen.


Brak…………..


Denis menutup pintu apartemennya dengan kuat membuat Arsen terlonjak kaget tak menyangka akan mendapat sambutan seperti itu. Ia tersenyum getir merasa kecewa pada dirinya sendiri yang sudah membuat Denis kecewa kepadanya.


“Maafkan aku bos. Maaf karena aku tidak bisa mengikuti perintahmu dan akan kembali muncul di hadapanmu mulai besok bos” lirih Arsen dengan suara pelan didepan pintu apartemen Denis.


Ia berlalu pergi dari sana menuju apartemen yang tak jauh dari sana yang sudah ia pesan selama ia berada di Amerika. Tanpa Arsen sadari ternyata Denis mendengar semua ucapannya barusan dan ia ingin melihat seberapa gigih Arsen ingin mendapat maaf darinya.


2 Minggu kemudian


Sudah 2 minggu berlalu sejak Arsen menemui Denis di apartemennya dan selama 2 minggu terakhir, Arsen tak pernah absen untuk menemui Denis dimana saja, meski ujung-ujungnya ia akan mendapat pukulan dan tendangan dari Denis.


Seperti saat ini Denis menyuruh Riki menghajar Arsen dengan brutal tak perduli jika Arsen akan mati ditangannya di markas Black Damon yang ada di Amerika.


“M….aafkan a…..ku bos” ucap Arsen dengan terbata-bata merasa sekujur tubuhnya sangat sakit karena pukulan Riki sama kuat seperti pukulan Max.


“Berani juga kamu masih menunjukan wajahmu di hadapanku” ucap Denis sambil tersenyum smirk.


Ia berjalan menuju Arsen yang sudah terkapar dengan tubuh penuh darah di lantai, membuat Riki segera minggir dan memberikan jalan kepada Denis.


Grep………………..


Denis menjambak rambut Arsen dengan kuat hingga wajahnya mendongak ke atas bertatapan langsung dengan mata Denis. Mata coklat tajam dan dingin Denis menatap Arsen tak berkedip, seakan sedang menelan jiwanya membuat Arsen seketika sesak napas merasa udara disekitarnya menipis.


Lama sekali Denis menatap Arsen tanpa berkedip membuat Arsen semakin pucat karena kesusahan bernapas. Riki dan lainnya yang berada di sekitar berdiri mematung tak bisa mengerakkan tubuh mereka seperti sedang diikat dengan rantai.


Hosh……………..hosh……………….hosh………………


Arsen bernapas satu-satu setelah Denis melepas jambakannya, membuat wajahnya sangat merah padam seperti baru saja dicekik seseorang.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Ma…..afkan ak…..u b………os. Aku bersa.....lah” lirih Arsen dengan suara lemah.


“Maaf ya! Apa yang akan aku dapatkan jika aku memaafkanmu?” tanya Denis sambil tersenyum smirk.


“Apapun bos. Apapun akan aku lakukan agar bos mau memaafkan aku” jawab Arsen dengan suara tegas seperti mendapat angin segar mendengar pertanyaan Denis barusan.


“Kamu yakin? Apapun akan kamu lakukan?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Yakin bos” jawab Arsen dengan suara tegas.


“Kalau begitu berikan nyawamu kepadaku maka aku akan memaafkanmu” ucap Denis dengan suara tegas.

__ADS_1


Duar……………….


Tubuh Arsen menegang bagai disambar mendengar ucapan Denis barusan yang meminta nyawanya sebagai jaminan untuk mendapatkan maaf darinya.


Setidaknya aku bisa pergi dengan damai karena sudah mendapat maaf dari bos, batin Arsen setelah berpikir agak lama.


“Baiklah bos. Aku akan memberikan nyawaku” ucap Arsen dengan suara tegas.


Riki dan lainnya kaget bukan main mendengar ucapan Arsen yang rela memberikan nyawanya, hanya untuk mendapat kata maaf dari bos mereka. Arkan yang sedari tadi melihat hal itu sampai syok, tak menyangka ada orang seperti Arsen yang lebih memilih mati demi kata maaf.


Denis tersenyum menyeringai menatap Arsen yang menjawab dengan suara tegas tak ada keraguan sama sekali dalam ucapannya barusan.


Menarik, batin Denis sambil tersenyum menyeringai.


Denis melempar pisau lipat kesayangannya didepan Arsen seakan menyuruhnya untuk melakukan sekarang apa yang ia minta dengan pisau tersebut.


Arsen mengambil pisau itu tanpa ragu dan menatap Denis sambil tersenyum tulus karena di sisa akhir hidupnya ia bisa mendapat maaf dari Denis. Meski nanti keluarganya akan sedih dengan kepergiannya, tapi ia yakin Denis akan menjaga keluarganya setelah ia tidak ada lagi.


Sret……………………


Arsen menusuk pisau Denis tepat di jantungnya membuat darah keluar dari jantungnya sangat banyak. Sebelum ia menutup mata untuk selama-lamanya ia tersenyum manis menatap Denis merasa semua bebannya hilang.


“Maa…..fkan aku b….os” ucap Arsen sambil menutup matanya dan jatuh di tanah.


“Aku sudah memaafkanmu” ucap Denis sambil menatap Arsen dengan tatapan yang sulit diartikan.


~ Markas Utama Black Damon ~


Prang……………


Bunyi pecahan bergema didalam aula membuat semuanya menatap ke arah suara dimana pelakunya adalah Sandro yang melempar gelas di tangannya.


“SIALAN KAMU ARSEN SANJAYA! AKU BELUM MEMAAFKAN KAMU KENAPA KAMU SUDAH PERGI AN***G!” teriak Sandro dengan emosi.


Aaaarrghh…………


Teriakan Sandro menggelegar didalam sana membuat semua anak buahnya merasa takut. Max lalu menyuruh anak buahnya untuk keluar dari aula setelah melihat isyarat Rian yang menyuruh semuanya untuk pergi.


“Tenangkan dirimu dude. Ikhlaskan kepergian Arsen dude” ucap Rian.


“Dia belum meminta maaf kepadaku…………..hiks hiks hiks hiks………………aku tidak mengijinkannya pergi……………hiks hiks hiks” ucap Sandro sambil menangis dengan histeris di lantai merasa sangat terpukul dengan kepergian Arsen.


“Ikhlaskan dude. Jika kamu seperti ini dia akan sedih melihat kamu dari sana”


“Apa yang dibilang Rian benar bos Sandro. Ini sudah menjadi pilihan bos Arsen dan sebaiknya kita berdoa untuknya agar ia tenang disana” ucap Max dengan suara dingin.


“Hiks hiks hiks hiks…………..kenapa kamu pergi secepat itu Arsen…………aku akan memaafkanmu tapi kamu harus kembali…………….hiks hiks hiks” teriak Sandro sambil menangis dengan pilu.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Rian menatap Max untuk membiarkan Sandro seperti ini, karena saat ini Sandro pasti merasa sangat hancur dan kehilangan Arsen Sanjaya dalam hidupnya.


~ Kediaman Castel ~


Tes……………


Air mata Adrian tiba-tiba mengalir dengan deras menonton video yang dikirim oleh Rian dari markas Black Damon.


Semua keluarganya yang saat ini sedang berada di ruang keluarga, menatap Adrian dengan bingung pasalnya mereka semua sedari tadi diam saja tapi tiba-tiba Adrian menangis.


“Kamu kenapa Ad?” tanya Hans kakeknya dengan bingung.

__ADS_1


“Aku pergi sekarang kek” jawab Adrian sambil menghapus air matanya.


“Kamu mau kemana jam segini Ad? Kakek belum selesai bicara mengenai keluarga ini” hardik Hans dengan suara tinggi.


“Please kek. Jangan menahan aku untuk pergi malam ini” ucap Adrian dengan tatapan sendu meminta kakeknya untuk tak menghalanginya pergi.


“Pergilah dan ingat hati-hati Ad” ucap Hans dengan suara lembut.


Adrian tersenyum manis menatap kakeknya dan berlalu pergi dari sana, membuat papa dan mama tirinya menatap Adrian dengan kesal karena dibiarkan pergi oleh Hans.


“Kenapa papa biarkan dia pergi? Bukannya malam ini papa ingin bicara penting dengan kita semua?” tanya Ceaser dengan suara tinggi.


“Karena dia cucu kesayanganku!” jawab Hans dengan suara tegas.


“Lagian masih ada hari besok untuk berbicara” tambahnya lagi dengan santai dan berlalu pergi dari sana.


Ceaser menatap papanya dengan emosi karena lagi-lagi papanya membela cucunya dari pada putranya sendiri.


“Kamu lihat sendiri kan sikap papa kamu ke kamu mas? Dia seakan tidak perduli lagi denganmu yang notebene adalah anak kandungnya sendiri mas” ucap Hana memprovokasi suaminya.


“Benar yang dibilang mama pa. Bisa jadi papa akan dicoret dari daftar waris kakek” tambah Ando.


“Itu tidak akan pernah papa biarkan. Semua harta kakek harus jatuh ke tangan papa karena papa adalah anak satu-satunya dan pemilik sah semua warisan kakek” ucap Ceaser dengan suara tegas.


“Kalau begitu kamu harus melakukan sesuatu ke anak kamu itu mas” ucap Hana sambil mengusap pundak suaminya dengan lembut.


“Ya aku tahu apa yang harus aku lakukan” balas Ceaser sambil tersenyum menyeringai.


Hana melirik kedua putranya sambil tersenyum penuh arti merasa senang karena rencana mereka berhasil untuk memprovokasi Ceaser.


Tanpa mereka sadari ternyata semua pembicaraan mereka didengar oleh Hans, yang tidak pergi dari sana dari tadi dan ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh putranya dan keluarga selingkuhannya itu.


“Papa tidak akan membiarkan kamu melakukan hal buruk kepada cucu papa Ceaser” gumam Hans dengan tatapan berkilat emosi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue…………………..


.


.


.


.


.


Hay para readersku semua……….


Terima kasih ya udah mampir ke karya aku selama ini dan tanpa terasa udah mau masuk chapter 100. Author hanya bisa ngucapin terima kasih yang sebanyak-banyaknya karena kalian semua udah ngedukung author selama ini.


Love you all my readers


Oh ya!


Author mau nanya nih pendapat kalian tentang Arsen. Apa author harus menyelamatkannya atau ngak dan author minta pendapat kalian semua ya readers and jangan lupa tinggalin komentar kalian buat nasib Arsen selanjutnya ya guys………


Semoga semua readers author selalu sehat dimana pun berada dan jangan lupa ikuti terus novel PENYESALAN ANAK DURHAKA dan beri dukungan kalian sebanyak-banyaknya buat author ya guys biar author selalu semangat nulisnya.


Terima kasih all my readers!!!!!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2