Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 73


__ADS_3

Sampainya di markas saat Denis keluar dari dalam mobil, semua anak buahnya merinding merasakan aura Denis yang menguar di sana yang sangat mengintimidasi mereka.


“Selamat datang bos” ucap semua anak buahnya dengan serentak.


Arkan yang mendengar kedatangan Denis sudah berdiri menunggunya didepan pintu markas bersama dengan Sandro. Sedangkan Max sebagai pengurus markas, saat ini berada di hotel Hilton untuk memantau semua pengamanan disana buat acara besok.


Kenapa aura ka Denis sangat menyeramkan setiap hari, batin Arkan dengan takut.


“Hey bocah apa kamu takut?” tanya Sandro sambil tersenyum menyeringai.


“I…….ya” jawab Arkan dengan gugup.


“Ini belum seberapa bocah. Sebaiknya kamu persiapkan mentalmu sebanyak-banyaknya, karena mulai detik ini kamu akan melihat hal yang tidak pernah kamu lihat seumur hidupmu” ucap Sandro dengan suara dingin dan tegas.


Glek………………..


Arkan menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Sandro barusan seakan mengatakan selamat datang di neraka.


“Kumpulkan semua di aula” titah Denis dengan suara dingin dan tegas.


“Baik bos” jawab Sandro dengan suara tak kalah dingin.


Arkan menunduk tak berani menatap Denis saat melewatinya, sedangkan Denis yang melihat Arkan menunduk tersenyum smirk melihatnya yang sangat penakut padahal ia belum memberi latihan untuknya.


“Bos semuanya sudah disini” ucap Sandro.


Denis duduk di kursi kebesarannya sambil berpangku kaki melihat semua anak buahnya dengan tatapan tajam, yang berada di markas untuk melakukan pekerjaan mereka seperti biasa yaitu memproduksi senjata untuk di jual di dunia bawah.


“Sean” panggil Denis dengan suara dingin.


“Iya bos” jawab Sean dengan suara tegas sambil maju menghadap Denis.


“Apa anak-anakku makan dengan baik hari ini?” tanya Denis dengan tatapan tajam.


“Seperti biasa saya memberi mereka makan sebanyak 3 kali dalam sehari bos dan sesuai porsi yang bos perintahkan” jawab Sean dengan jujur.


“Heeemmmm” deham Denis.


Apa maksud bos? Kenapa menanyakan makanan Sita dan lainnya, batin Sandro dengan penasaran.


“Sepertinya malam ini mereka akan mendapat tambahan protein” ucap Denis membuat Sean mengerutkan keningnya tak mengerti.


“Ehh! Bos?” tanya Sean dengan bingung.


Dor…………..dor………………dor………………….


Bunyi 3 tembakan bergema didalam aula, membuat semuanya kaget bukan main saat Denis tiba-tiba menembak 3 orang anak buahnya tepat di kepala mereka. Arkan yang baru pertama kali melihat hal itu sampai syok gemetaran ketakutan.


“Mark” ucap Denis dengan suara menggelegar.


Mark yang tahu maksud bosnya langsung menampilkan sebuah video di layar proyektor, dimana 3 orang teman mereka yang ditembak tadi kedapatan menyelundupkan hasil jual senjata mereka semalam di salah satu gudang tua di pinggiran kota.


“Kalian sudah tahu apa kesalahan mereka?” tanya Denis dengan suara tinggi.


“Sudah bos” jawab semua anak buahnya dengan serentak.


“Sean buang 3 mayat pengkhianat itu ke anak-anakku dan Mark perlihatkan ke semuanya saat mayat mereka dilempar untuk menjadi pelajaran bagi siapa saja yang ingin berkhianat atau berbohong kepadaku” titah Denis dengan suara tegas.


“Baik bos” ucap keduanya dengan serentak.


“Kamu ikut aku” tunjuk Denis ke Arkan.


Denis berlalu pergi diikuti Sandro, Arsen, dan Arkan menuju ruangan pribadinya di lantai 3. Sepanjang jalan Arkan menelan salivanya berkali-kali, merasa ketakutan merasa sudah membuat keputusan yang salah datang kesini.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Sampainya di ruang pribadi Denis, ia duduk di kursi kebesarannya sambil berpangku kaki dan menghisap sebatang rokok dengan tatapan tajam dan dingin menatap Arkan seakan sedang memindainya dari ujung kepala ke ujung kaki.


“Bagaimana rumah barumu?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Bocah jawab pertanyaan bos jangan diam saja” hardik Sandro mengagetkan Arkan.


“Ah! i…ya!” jawab Arkan dengan gugup.


“Ini b……….ukan rum……ah tapi seperti m……..ark……as” tambahnya lagi dengan terbata-bata karena gugup.


“Ckk!! Penakut” ejek Sandro dengan sinis.


“Apa dia tidak mengingatkanmu Arsen?” tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.


“Dia seperti aku waktu menjadi seorang pecundang bos” jawab Arsen dengan suara dingin.

__ADS_1


“Apa kamu ingin melatihnya?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Aku masih jauh dari kata bagus bos untuk menjadi seorang pelatih buat dia. Menurutku Max akan cocok atau Sandro bos” jawab Arsen.


“Aku sih mana-mana saja bos jika harus mengajarinya tapi Arsen yang harus mengantikan aku di perusahaan ya bos” ucap Sandro dengan cepat.


“Bos aku tarik kembali ucapanku! Menurutku Max saja yang cocok jadi pelatih Arkan” potong Arsen dengan cepat.


“Ckk!! Bocah empat mata apa maksudmu menarik kembali ucapanmu sialan” hardik Sandro dengan suara tinggi.


“Max lebih cocok jadi pelatihnya bos” ucap Arsen dengan cepat.


“Biarkan aku saja yang jadi pelatih bocah ini bos” tambah Sandro tak mau kalah.


“Max saja bos” potong Arsen.


“Aku saja bos”


“DIAM!” bentak Denis dengan suara menggelegar didalam sana.


Seketika keduanya diam tidak berdebat lagi, karena tidak ingin mendapat bogem mentah dari Denis, apa lagi hari ini Sandro sudah merasakan pukulan Denis yang masih terasa sakit sampai saat ini.


“Arkan” panggil Denis dengan suara dingin.


“I…..ya ka” jawab Arkan dengan terbata-bata.


“Panggil bos dengan sebutan bos karena ini markas dan bos yang menjadi pemimpinnya bukan kakakmu” hardik Arsen dengan suara tinggi.


“Ba…..ik” jawab Arkan.


“Persiapkan dirimu besok malam! Karena mulai besok malam kamu akan berlatih denganku secara langsung” titah Denis dengan suara dingin.


Eeehh…………..


Arkan kaget mendengar ucapan Denis yang mengatakan akan melatihnya sendiri mulai besok malam. Padahal ia pikir tadi akan dilatih oleh orang yang bernama Max.


Semoga kamu bisa selamat dari neraka mulai besok bocah, batin Sandro merasa iba.


“Keluar dan bertanya kepada Jeki dimana kamarmu” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik b….os”


Arkan segera beranjak keluar dari sana dengan langkah pelan, sambil menunduk membuat Sandro dan Arsen menggelengkan kepala melihat sifat Arkan yang sangat penakut melebihi Arsen waktu itu.


“Jika ada keinginan pasti bisa dan tidak ada proses yang mudah untuk menjadi yang terbaik” balas Denis dengan suara dingin.


“Jadi bos tidak akan masuk perusahaan selama melatih dia?” tanya Arsen yang sudah menebak apa yang akan terjadi.


“Apa itu benar bos?” tanya Sandro dengan cepat.


“Heemmmm! Aku akan membawanya untuk mengurus bisnis di Amerika sekalian ingin melebarkan sayap kelompok kita kesana” jawab Denis dengan suara dingin.


“Berapa lama kali ini bos akan pergi?” tanya Sandro dengan cepat.


“2 bulan karena aku berjanji kepada kekasihku hanya 2 bulan saja” jawab Denis dengan suara dingin.


“Bos apa anda yakin dengan nona Leila?” tanya Arsen dengan cepat.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis menatap Arsen sambil mengangkat alisnya sebelah mendengar pertanyaan Arsen yang seakan tidak mempercayai Leila.


“Maaf bos tapi aku belum sepenuhnya percaya dengan nona Leila karena aku tidak ingin dia hanya memanfaatkan bos saja” tambah Arsen lagi.


“Aku tahu. Jangan khawatir karena aku sudah mengenal Leila semenjak aku mengenal kamu waktu di taman dan aku tahu dia berbeda dengan perempuan lainnya” ucap Denis dengan suara tegas.


“Jika bos memang mempercayainya maka aku akan mempercayainya juga. Tapi aku akan tetap memantau semua pergerakannya bos” balas Arsen dengan suara tegas.


“Lakukan tapi ingat batasanmu” titah Denis dengan suara dingin dan tatapan tajam.


“Baik bos”


Denis segera berlalu keluar dari ruang pribadinya karena harus kembali ke hotel Hilton, untuk mempersiapkan diri buat acara besok nanti dan juga harus menemui mamanya besok pagi, buat sarapan bersama dengan lainnya seperti pesan mamanya tadi pagi.


~ Hotel Hilton ~


Tak terasa waktu berlalu dengan sangat cepat dan kini hotel Hilton sudah dipenuhi dengan banyak sekali wartawan disana, yang ingin meliput siapa saja yang datang ke acara ulang tahun DA Corp. Juga ada salah satu stasiun televisi yang terpilih untuk meliput acara tersebut secara langsung.


Max yang bertugas mengontrol pengamanan disana selama acara melakukan tugas dengan sungguh-sungguh. Sedari kemarin dan hari ini ia sedang memberikan informasi kepada Arsen dan Sandro lewat earpiece.


Denis menatap pemandangan malam dari jendela kamar dengan penampilan yang sangat memukau bagi siapa saja yang melihatnya malam ini.

__ADS_1


Kharismanya sebagai seorang penguasa sangat terasa didalam sana, membuat siapa saja tak berani untuk mendekatinya atau mengusiknya.


“Denis” panggil Amira dengan suara sangat lembut.


“Mama” balas Denis berbalik menatap sang mama yang terlihat sangat cantik memakai gaun berwarna cream yang elegan.


“Kamu sangat tampan nak. Kamu mirip sekali dengan papa kamu nak” puji Amira dengan kagum melihat ketampanan anaknya yang malam ini berlipat kali tampan.


“Terima kasih ma. Mama juga sangat cantik malam ini” puji Denis sambil memeluk Amira dengan erat.


“Papamu pasti bangga melihat kamu sudah menjadi anak yang sukses nak. Terima kasih sudah hadir dalam hidup mama” ucap Amira dengan suara sangat lembut.


“Aku yang harus berterima kasih karena mama sudah melahirkan aku dan menjadikan aku anak mama dan papa” balas Denis dengan suara lembut.


Cup……………..


Denis mencium kening mamanya dengan sangat lembut, membuat Amira berkaca-kaca tak menyangka anaknya akan sangat menyayanginya seperti papanya waktu mereka baru berpacaran hingga menikah.


“Bos” panggil Rian dengan sopan.


“Mama duluan ke ballroom bersama Rian ya ma” ucap Denis.


“Iya nak. Mama tunggu kamu disana” ucap Amira.


“Iya ma”


Rian lalu menemani sang nyonya untuk turun lebih dahulu ke ballroom hotel, dan Amira akan bergabung bersama keluarga Sandro begitu juga dengan keluarga Arsen.


“Bos semuanya sudah siap” ucap Sandro.


“Apa tamu undangannya sudah hadir semua?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Sudah bos” jawab Sandro dengan cepat.


“Kita ke ruang tunggu dan beritahu Rian untuk mulai acaranya 15 menit lagi” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos” jawab Arsen dan Sandro dengan serentak.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Saat ini di dalam ballroom hotel sudah penuh dengan tamu undangan baik dari rekan bisnis DA Corp dan juga pemerintah maupun artis ibu kota, yang turut diundang untuk memeriahkan acara ini sebagai pengisi acara dan juga tamu undangan.


“Wah pestanya sangat meriah ya beb” ucap Alexa yang datang menemani Kenzo.


“Iya beb. Seperti biasalah kalau aku menghadiri acara-acara seperti ini” ucap Kenzo dengan sombong.


“Yang benar beb? Berarti kamu sudah terbiasa datang ke acara bergensi seperti ini?” tanya Alexa dengan antusias.


“Seperti itulah beb” balas Kenzo sambil tersenyum sombong.


Ando diam saja mendengar ucapan keduanya, karena menurutnya tidak penting dan ia disini hanya sebagai asisten Kenzo jadi harus selalu menemaninya kemana pun ia pergi.


“Tuan direktur Steven sedang berbicara dengan presdir dan direktur utama” bisik Ando.


“Kita kesana” ucap Kenzo berlalu pergi ke arah direktur Steven dan lainnya.


“Selamat malam direktur Steven dan semuanya” ucap Kenzo dengan suara berwibawa.


“Selamat malam tuan Kenzo” balas direktur Steven dengan suara dingin dan tatapan tidak suka.


“Selamat atas ulang tahun perusahaan anda direktur Steven” ucap Kenzo sambil tersenyum lebar.


“Terima kasih tuan Kenzo” balas direktur steven dengan suara dingin.


“Pesta yang sangat menakjubkan dan sangat mewah direktur Steven. Saya yakin perusahaan anda pasti mengeluarkan biaya yang sangat banyak” ucap Kenzo dengan basa-basi.


Leo menggelengkan kepalanya melihat Kenzo yang tidak bisa berbicara tentang bisnis atau apa, malah berbicara hal yang tidak penting membuat dia seakan tidak disukai karena membahas hal pribadi perusahaan orang.


“Banyak atau tidak menurut saya itu bukan urusan dari seorang CEO BakerTech. Lebih baik kita mengurus saja urusan perusahaan kita dari pada mengurusi perusahaan orang lain dengan cara melakukan hal-hal kotor hanya untuk mendapat sebuah informasi” sindir direktur Steven dengan suara tegas.


“Apa maksud perkataan anda direktur Steven? Anda tidak menyinggung kami disini kan?” tanya direktur Abraham sambil tersenyum.


“Jika anda merasa tersinggung berarti anda melakukannya, tapi jika tidak berarti anda tidak melakukannya direktur Abraham” jawab direktur Steven dengan suara dingin.


“Sebaiknya anda harus memperhatikan ucapan anda direktur Steven karena bisa saja membuat tamu anda merasa tidak nyaman” ucap Kenzo sambil tersenyum manis.


“Ah! Begitu ya? Maaf jika ucapan saya membuat anda semua tidak nyaman terutama anda tuan Kenzo Arjuna” balas direktur Steven sambil tersenyum penuh arti.


Kenzo tersenyum lebar seakan tidak terpengaruh dengan ucapan direktur Steven barusan, tapi dalam hati sedang mengumpat dan memaki direktur Steven karena ia tahu ucapan tadi ditujukan untuknya.


Pak tua sialan, batin Kenzo dengan emosi.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue………………


__ADS_2