
Bunyi tembakan bergema diluar sana saat Thomas dan anak buahnya turun dari mobil mengurus musuh mereka yang menghadang mereka di tengah jalan.
Meski di luar sedang terjadi baku tembak tapi didalam mobil Denis, ketiga orang itu duduk dengan santai seakan sedang menonton film aksi secara langsung.
Denis sendiri tidak terpengaruh atau takut dengan bunyi tembakan di luar sana dan tetap memeriksa laporan perusahaan dan markas.
Kring.............
Bunyi hpnya membuyarkan perhatiannya dari pekerjaannya. Saat melihat nama Mine di layar hpnya ia segera menjawab.
^^^"Ada apa sayang?" tanya Denis dengan suara lembut.^^^
"Kamu lagi dimana sayang? Kenapa sangat berisik disana?" tanya balik Leila dari seberang.
^^^"Ada di jalan menuju ke restoran mama sayang" jawab Denis.^^^
"Oh gitu ya sayang"
^^^"Heemmmm. Ada apa sayang?" tanya Denis.^^^
"Tidak ada apa-apa sayang. Aku kira kamu tidak jadi datang kesini" jawab Leila dengan suara lembut.
^^^"Sedikit lagi aku sampai disana sayang"^^^
"Baik sayang. Aku tunggu kamu sayang"
^^^"Iya sayang"^^^
Denis segera mematikan panggilannya sepihak karena tak ada lagi yang ingin ia katakan. Bersamaan dengan itu Thomas berjalan dengan langkah tegap menghampiri mobil Denis.
Tok.........tok.........tok..........
Sandro menurunkan kaca mobil saat Thomas mengetuk kaca mobil di sampingnya.
"Bagaimana?" tanya Sandro dengan suara dingin.
"Sudah beres bos Sandro" jawab Thomas.
"7 menit 20 detik. Cepat juga kamu" puji Sandro.
"Iya bos Sandro"
"Bereskan mereka semua dan cari tahu siapa yang mengirim mereka" titah Sandro dengan suara dingin.
"Baik bos Sandro"
Sandro lalu menyuruh sopir melajukan mobil pergi meninggalkan Thomas dan anak buahnya yang akan membereskan kekacauan disana.
Tak berselang lama setelah kepergian Denis dan lainnya tiba-tiba Thomas dikagetkan dengan kedatangan detektif Gilang dan beberapa mobil polisi disana.
"Sial! Hubungi bos Arsen beritahu apa yang terjadi disini" titah Thomas kepada salah satu anak buahnya.
Anak buahnya segera mengirim pesan kepada Arsen sedangkan Thomas ia berdiri dengan santai menunggu detektif Gilang yang sedang berjalan datang ke arahnya.
"Apa yang terjadi disini?" tanya detektif Gilang dengan suara dingin.
"Seperti yang anda lihat detektif" jawab Thomas dengan santai.
"Kalian semua jangan ada yang bergerak dan kalian ikut kami ke kantor" hardik detektif Gilang dengan suara menggelegar.
Thomas tersenyum penuh arti mendengar ucapan detektif Gilang dan menoleh ke arah anak buahnya sambil mengangguk kepala, memberitahu mereka untuk mengikuti apa yang dikatakan detektif Gilang.
~ D&A Resto ~
Arsen yang mendapat kabar dari anak buah Thomas segera membereskan semua cctv disana untuk menghilangkan jejak milik Denis, dia, dan pengawal Denis.
Tak lupa menyuruh pengacara DA Corp untuk menangani kasus Thomas dan anak buah mereka yang saat ini ditahan di kantor polisi.
Denis dan Sandro sendiri belum mengetahui hal itu dan dengan santai masuk ke dalam restoran yang langsung disambut Amira dan Leila.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Mama pikir kamu tidak jadi datang nak" ucap Amira setelah memeluk sang anak.
"Aku udah bilang tadi pagi dan pasti akan datang ma" balas Denis sambil tersenyum manis.
"Kalau begitu ayok kita makan" ajak Amira menuju ruang VIP 5.
Amira dan Sandro sudah lebih dulu pergi meninggalkan Denis yang menahan Leila disana. Leila menatap kekasihnya dengan bingung bertanya ada apa lewat tatapan matanya.
Cup................
Mata Leila melotot tak menyangka Denis akan menciumnya tiba-tiba disana. Denis tersenyum lebar setelah ciuman keduanya terlepas.
"Sayang kamu apa-apaan sih! Malu tahu di liatin orang" ucap Leila dengan wajah cemberut.
"Aku tidak perduli sayang" balas Denis dengan acuh.
Phew..............
Leila membuang napasnya dengan kasar tak bisa membalas ucapan kekasihnya yang sangat acuh dan tidak mau perduli dengan pendapat orang lain.
Denis lalu menggenggam tangan Leila dengan lembut dan menyusul sang mama yang sudah lebih dulu ke ruang VIP 5.
Sampainya didalam sana Leila segera mengambil makanan buat Denis sedangkan Amira mengambil menakan buat Sandro.
Ceklek.............
Semua mata memandang ke arah pintu melihat Arsen yang baru saja datang.
"Dari mana kamu bocah?" tanya Sandro dengan cepat.
"Thomas mengirim pesan kalau polisi tiba disana setelah kita pergi tadi" jawab Arsen dengan suara dingin.
"Apa!" pekik Sandro, Amira, dan Leila dengan kaget.
Sedangkan Denis ia tidak berkata apa-apa dan hanya menatap Arsen seakan bertanya apa mereka sudah diurus atau belum.
"Nak Arsen memangnya kenapa Thomas ditangkap?" tanya Amira dengan penasaran.
"Ka Sandro sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Leila dengan penasaran.
Arsen menatap ketiganya bergantian tidak tahu harus menjawab pertanyaan siapa lebih dulu. Melihat wajah Arsen yang kebingungan dengan cepat Denis menyela mereka dan menyuruh mereka semua untuk makan.
Bukan tanpa alasan Denis terlihat santai karena ia yakin pasti Arsen sudah mengurus Thomas dan anak buahnya sebelum menyusul mereka.
Meski sangat penasaran akan informasi Thomas dan lainnya, tapi Sandro menahannya untuk tidak bertanya dan menyelesaikan makanan didepannya dengan cepat.
1 Jam kemudian
Melihat semuanya sudah menyelesaikan makanan mereka, Sandro lalu menatap Arsen dengan tatapan tajam selama menyuruhnya untuk memberitahu informasi mengenai Thomas.
"Thomas dan lainnya baik-baik saja. Aku sudah menyuruh pengacara perusahaan untuk mengurus mereka dan mereka semua sudah dipulangkan dari kantor polis" papar Arsen menjelaskan.
"Memangnya apa yang terjadi dengan Thomas nak Sandro? Kenapa mereka ditahan polisi?" tanya Amira yang tidak mengetahui masalah awalnya.
"Tadi sebelum kami kesini ada musuh yang menghadang kami. Thomaslah yang membereskan semuanya dan belum selesai menghapus jejak mereka tiba-tiba polisi datang ke sana nyonya" jawab Arsen.
"Kalian baik-baik saja kan?" tanya Amira dengan cemas.
"Kamu baik-baik saja ma" jawab Denis.
"Aku rasa ada yang menelpon polisi untuk datang ke sana" ucap Sandro.
"Aku juga berpikir begitu. Kita tunggu saja kabar dari Thomas yang sedang menyelidiki orang-orang itu" balas Arsen.
Denis, Arsen, dan Sandro lalu bergegas pergi kembali ke perusahaan bersama Leila. Sebenarnya ia ingin pulang tapi Denis memaksanya untuk menemaninya di perusahaan.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan tak terasa matahari sudah berganti dengan bulan menandakan hari sudah malam.
__ADS_1
~ Markas Utama Black Damon ~
Saat ini Denis sedang berkumpul di markas bersama Sandro, Arsen, Arkan, Max, dan Rian membahas masalah Lewis Hamilton.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arkan yang baru mendengar kabar tentang orang yang sudah menabrak kakaknya Leila sadari tadi terus mengumpat dan ingin sekali menemuinya dan membunuhnya.
"Bos biarkan aku ikut dengan bos menemui sialan itu" pinta Arkan dengan emosi.
"Kontrol emosimu Arkan. Kamu tidak akan aku ijinkan ikut" ucap Denis dengan suara tegas.
"Bos aku mohon" lirih Arkan dengan memohon.
Denis tidak mengatakan apa-apa dan malah menatap Arkan dengan tatapan tajam memberi isyarat untuk tidak membantah ucapannya
Arkan membuang mukanya ke samping tak berani membantah ucapan Denis lagi. Padahal ia sangat ingin sekali bertemu dan memberi pelajaran kepada orang yang sudah mencelakai kedua kakaknya.
"Bos Lewis Hamilton berada di Deluxe Casino saat ini bos" ucap Arsen yang membaca pesan yang dikirim Abi barusan.
"Suruh Abi untuk memantaunya dan jangan sampai ketahuan" ucap Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
"Sandro siapkan helikopter aku" titah Denis.
"Oke bos"
"Bos boleh aku ikut" pinta Arkan dengan wajah memelas.
"Ya. Tapi kamu tunggu di ruangan Adrian" ucap Denis dengan suara dingin.
"Tapi aku ingin bertemu dengan dia bos" protes Arkan tak setuju.
"Lakukan perintah aku atau kamu tidak usah pergi saja" tegas Denis dengan suara dingin.
"Aku akan menunggu di ruangan ka Adrian bos" ucap Arkan dengan cepat dari pada ia tidak ikut.
Denis dan lainnya segera pergi ke Deluxe Casino setelah Max memberitahu jika helikopter sudah siap. Sebelum pergi ia sudah mengirim pesan kepada Adrian untuk mengawasi Lewis Hamilton.
~ Deluxe Casino ~
Adrian mengangkat alisnya sebelah membaca pesan beserta foto yang dikirim oleh Denis barusan.
"Erwin cari tahu dimana orang ini sekarang" titah Adrian sambil menunjukkan foto Lewis.
"Baik tuan"
Erwin lalu memerintahkan pihak keamanan lewat earpiece untuk mencari keberadaan orang yang ada dalam foto tersebut. Tak berselang lama Erwin sudah mendapatkan keberadaan orang yang dimaksud Adrian.
"Tuan orang itu berada di lantai dua dan sedang brain poker di meja nomor 4" ucap Erwin sambil memperlihatkan cctv di lantai 2 tepat di meja nomor 4.
"Siapa saja yang bermain dengan dia?" tanya Adrian dengan cepat.
"Inspektur Agung Subroto, Adu Herlambang, dan Lucas Martin tuan" jawab Erwin setelah membaca identitas orang yang berada di meja nomor 4.
"Suruh anak buahmu untuk pantau orang itu sampai Denis datang" titah Adrian dengan suara tegas.
"Baik bos"
Adrian lalu memilih pergi ke rooftop untuk menyambut kedatangan sahabatnya sekaligus ingin menanyakan siapa orang itu yang tadi ia kirim fotonya.
Sampainya di rooftop bertepatan dengan helikopter Denis yang baru saja landing di helipad. Denis keluar dengan langkah tegap dan jangan lupakan wajah datar dan dinginnya itu.
Ckk!! Gunung es itu selalu saja berwajah datar dan dingin tak ada raut wajah lain apa, batin Adrian dengan kesal selalu melihat tampang datar dan dingin Denis.
Bugh..............brugh...........
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue..............