
Warningโ ๏ธ
Perhatian ada adegan kekerasan fisik 21+
Suara jeritan kesakitan dan cambukan menggema didalam ruang bawah tanah. Sandro, Arsen, dan Arkan yang baru saja sampai di anak tangga terakhir ruang bawah tanah dengan jelas mendengar suara tersebut.
Ketiganya buru-buru menuju ruang hukuman untuk melihat apa yang terjadi. Baru saja masuk ke dalam ruangan hukuman, ketiganya sudah disuguhi pemandangan yang sangat mengerikan.
Didepan sana Denis seperti monster berdarah dingin mencambuk Henry dan William bergantian. Tubuh keduanya sudah penuh dengan luka cambuk yang sangat panjang dan dalam.
Cambuk yang dipakai Denis bukan cambuk biasa karena di bagian ujungnya terdapat pisau berukuran kecil. Kulit tubuh keduanya sampai terkoyak dan berceceran dilantai.
"Beraninya kalian ingin membunuh keluargaku!" bentak Denis dengan suara menggelegar.
"A.......mpun. Aku moh.....on ampuni aku" ucap Sanches dengan suara terbata-bata.
"Lepaskan mereka sialan!" teriak Roy dengan emosi.
"Lebih baik kamu diam saja pak tua karena giliranmu sebentar lagi" tunjuk Denis dengan pisau kesayangannya ke Roy.
Tubuh Roy bergetar melihat tatapan Denis yang sangat mengerikan, ia bungkam tak berbicara lagi memikirkan ucapan Denis yang tidak main-main. Perasaannya mulai tidak tenang karena memikirkan nasibnya sebentar lagi.
"Bawa tang" ucap Denis dengan suara dingin.
Sandro memberikan tang yang berada tepat di sampingnya kepada Denis. Mata Sanchez melotot dengan tubuh bergetar melihat Denis yang maju mendekatinya sambil tersenyum lebar.
"A.....pa yang ingin kamu lakukan?" tanya Sanches ketakutan.
"Pergi! Jangan mendekat sialan! Pergi!" teriak Sanches semakin ketakutan.
"Apa kamu takut pak tua?" tanya Denis sambil tersenyum lebar.
"Jangan bunuh aku........hiks hiks hiks.......aku mengaku salah........hiks hiks...........tolong jangan bunuh aku" pinta Sanches sambil menangis histeris.
"Hehehehe! Kenapa menangis? Bukannya kita akan bermain permainan yang seru?" tanya Denis sambil terkekeh.
"Am.......pun! Aku mohon tolong jangan bunuh aku" pinta Sanches ketakutan.
Denis memainkan tangan didepan wajah Henry membuat dia semakin menangis ketakutan. Bahakan ia sampai kencing di celana saking takutnya.
"Iihhhh! Jorok bangat sih" ucap Arkan dengan tatapan jijik.
"Buka mulutnya" titah Denis dengan suara dingin.
"Apa! Tolong jangan lakukan itu Denis" pinta Sanches ketakutan.
Dua anak buah Denis memaksa membuka lebar mulutnya. Ia berontak ingin lepas karena tahu apa yang akan dilakukan oleh Denis tapi percuma saja.
Aaaarrghhh.............
Suara jeritan kesakitan Sanches George bergema didalam sana. Roy dan Henry sampai menutup mata tak kuasa melihat apa yang dilakuan Denis saat ini.
Sedangkan Denis ia tersenyum lebar mendengar teriakan kesakitan Sanches yang terdengar merdu di telinga. Ia semakin b bersemangat mencabut gigi Sanches dengan tang.
Semua anak buah Denis menunduk melihat kekejaman Denis saat ini. Meski sudah berulang kali disuguhkan pemandangan seperti itu tapi mereka belum terbiasa.
Sret...........sret...........sret............
Denis menguliti Sanches di bagian wajah dan bagian dada. Darah segar bercucuran di sana membuat semuanya keuangan itu berbau anyir darah sangat pekat.
Semua orang bergidik ngeri melihat kekejaman Denis saat, apa lagi Sanches terlihat seperti hewan yang sedang di sembelih.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
"Bos semakin mengerikan" ucap Arsen dengan syok melihat kekejaman Denis didepan sana.
"Menurutku si Martinez sialan itu akan lebih parah lagi" ucap Sandro menatap kearah Roy yang sendang membuang muka ke samping.
"Itu sudah pasti, lagian dia itu adalah otak dari semua ini" ucap Arkan dengan berapi-api.
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat permainan bos sama sialan itu" seru Sandro dengan tak sabar.
Dor..................
Mata Arsen dan Sandro melotot melihat peluru yang meluncur tepat di samping keduanya hingga mengenai tembok di belakang.
Keduanya menelan saliva dengan susah melihat Denis yang menatap mereka dengan tatapan membunuh.
"Maafkan kami bos" ucap kedua serentak tahu apa kesalahan mereka.
"Sekali lagi kalian menganggu kesenanganku maka kalian mengantikan posisi mereka" ucap Denis dengan suara dingin sebagai perintah.
"Maaf bos" ucap keduanya lagi sambil menunduk.
Denis berbalik melihat mainannya yang sudah tidak bernyawa lagi karena kehabisan darah. Ia tersenyum menyeringai melihat Henry yang menatapnya bergetar ketakutan.
"Jangan bu......nuh aku! Tolong ampuni aku" pinta Henry bergetar ketakutan.
"Boleh" balas Denis dengan suara dingin.
"Terima kasih. Terima kasih" ucap Henry merasa lega dan senang.
"Uhm! Tapi kamu boleh bebas di kehidupan berikutnya" ucap Dneis sambil tersenyum smirk.
Duar...................
Tubuhnya seperti di sambar petir mendengar ucapan Denis barusan. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk bisa lepas dari tangan Denis.
Menyesal!
Itulah yang dirasakan oleh Henry saat ini dan ia sangat menyesal sudah ikut menjebak Demian sampai di keluarkan dari kelompok mereka.
Bukan itu saja meski Demian sudah mati tapi mereka masih menganggu keluarganya hanya untuk harta Denis.
"Maafkan aku.........hiks hiks hiks.........maafkan aku" ucap Henry sambil menangis tersedu-sedu.
Sret..............sret.................
"Siram dia dengan air lemon" titah Denis dengan suara dingin.
Byur...............aarrggh............
Teriakan kesakitan Henry Ignasio bergema saat tubuhnya disiram air lemon setengah ember. Lukanya terlihat seperti terkena air panas mendidih dan melepuh hingga berwarna merah.
Sret......................
Denis men***s tubuh Henry di bagian perut hingga putus dan memperlihatkan isi dalamnya yang tumpah keluar dan bergantungan.
Roy bergetar ketakutan melihat apa yang barusan dilakukan oleh Denis barusan. Apa lagi saat mata yang keduanya bertatapan dan Denis tersenyum seperti seorang monster.
Aura Denis menguar didalam sana membuat semua orang bergetar ketakutan. Matanya menatap Roy Martinez dengan wajah mengelap seakan ingin menelannya hidup-hidup.
"Bagaimana pak tua? Apa kamu menikmati pertunjukan barusan?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Kamu monster" ucap Roy dengan ketakutan.
"Hehehehe! Ya kamu benar aku adalah monster" balas Denis sambil terkekeh.
"Ternyata darah iblis dari papa kamu mengalir juga ya dalam tubuh kamu. Aku penasaran apa tanggapan Demian melihat anaknya ternyata memilki sisi monster menjijikan selama ini" ucap Roy sambil tersenyum menyeringai.
Bugh..............
Denis menumbuk Roy di mulut hingga gigi depannya 4 copot. Darah mengalir dengan deras dari mulutnya karena pukulan Denis barusan tidak main-main.
"Hehehehe! Kenapa? Apa kamu tidak menerima kenyataan kalau kamu itu iblis menjijikan ?" tanya Roy memprovokasi Denis ingin menghancurkan mentalnya.
Hahahahaha...............
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
__ADS_1
Tawa Denis pecah didalam sana mendengar ucapan Roy barusan. Ia menatap Roy dengan tatapan mengejek karena tahu apa yang dipikirkan oleh Roy saat ini dan maksud ucapannya.
"Ingin membuat mental aku down pak tua! Aku sarankan kamu belajar lebih baik lagi" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Itupun kalau kamu masih hidup" tambahnya lagi.
"Kurang ajar! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Roy dengan emosi.
"Simpan suaramu pak tua karena kamu akan membutuhkannya nanti" balas Denis dengan aura membunuh.
"Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Roy saat Denis memainkan pisau kesayangannya di pipi Roy.
"Menurutmu" ucap Denis dengan sinis.
Sret.............sret...................
Aaarrgghhh................
Suara jeritan Roy bergema didalam sana saat Denis menusuk kedua pipinya dan mengoyaknya. Ia juga menarik pi**u sampai dagu hingga terlihat sangat mengerikan.
Darah seger mengalir dengan deras dari kedua pipi Roy hingga membuat tubuh Denis bermandikan darahnya.
Arkan yang melihat hal itu memuntahkan isi perutnya tak kuasa menahan bau anyir darah. Sedangkan Arsen ia saat ini sedang melakukan video call bersama Simon yang meminta untuk melihat daddynya.
"Berengsek kamu Denis Arkana!" bentak Roy dengan penuh kebencian.
Sret..........sret..........sret...........
Denis mulai melukai mengukir tubuh Roy Martinez membuat Roy berteriak kesakitan. Bukan hanya itu Denis juga menusuk perut dan kedua paha Roy sambil mengoyaknya.
Seperti monster kejam dan tak berperasaan Dneis melakukan aksinya membalas semua perlakuan Roy selama ini dan juga membalas dendam papanya.
"Inilah akibatnya kamu berani mengusik keluarga aku sialan!" bentak Denis dengan tatapan membunuh mengingat apa yang dialami papanya selama ini.
Crash.........crash............crash.......crash.........
Brugh..........
Roy terjatuh dilantai saat tangan dan kedua kakinya ditebas Denis. Ia merintih kesakitan dibawah sana tak kuasa menahan rasa sakit yang amat luar biasa.
"Am......pun" lirih Roy dengan memohon.
"Tidak ada ampunan untuk orang seperti kamu sialan" hardik Denis dengan suara menggelegar.
Sepeti kesetanan Denis mencabik-cabik tubuh Roy sepeti singa kelaparan. Ia melampiaskan semua rasa sakit dan dendam dalam dirinya selama ini kepada Roy.
bugh..................
Ia menendang kepala Roy sampai hancur saat Roy sudah tidak bernyawa lagi. Semuanya di sana bergetar ketakutan melihat aksi Denis yang sangat mengerikan.
Simon yang melihat semua itu menangis dalam diam dari seberang. Meski daddynya sudah melakukan banyak sekali kejahatan selama ini tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya.
Hatinya sangat sedih melihat apa yang dialami sang daddy. Biar bagaimanapun Roy adalah daddynya yang selama ini ia hormati.
Denis keluar dari sana dengan tubuh penuh darah menuju ke markas. Saat ia berjalan keluar Arsen sempat memfotonya dan mengirim ke grup perkumpulan mereka.
Papa Denis susah membalaskan dendam papa, batin Denis sambil menatap ke langit setelah keluar dari ruang bawah tanah.
Tes...................
~ Mansion Denis Arkana ~
Duar..................
Kilat menyambar di langit membangunkan Leila yang tertidur pulas. Ia mengelap matanya yang tanpa sadar menangis.
"Kenapa aku menangis dan kenapa aku merasa suaminya sedang tidak baik-baik saja" ucap Leila sambil memegang jantungnya yang berdetak cepat.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
__ADS_1
To be continue.................