
Denis terkekeh melihat Lexi yang pucat dan gemetaran dibawah sana. Dengan santai ia mengeluarkan pisau lipat kesayangannya membuat Lexi semakin gemetar ketakutan.
Hehehehe............
Arkan terkekeh melihat musuh mereka yang seperti maling ketangkap. Sedangkan Rio ia memilih tidak ikut campur karena ia tahu sosok didepannya adalah sosok yang sangat kejam.
Berengsek kamu Lexi! Karena kamu markas aku jadi sasaran Black Damon, batin Rio sambil menatap Lexi dengan emosi.
"Kamu tahu konsekuensi orang yang mencuri milikku?" tanya Denis dengan suara dingin.
"A......mpun! Aku mohon maafkan aku! Aku mengaku bersalah" pinta Lexi dengan memohon.
"Pegang dia" titah Denis.
"Jangan! Aku mohon ampuni aku King!" teriak Lexi dengan panik.
2 Orang anak buah Denis lalu memegang Lexi di kedua tangannya memaksanya berdiri dengan tegak. Lexi yang memberontak merasa kesulitan karena kedua anak buah Denis memegangnya dengan sangat erat.
"Tangan ini yang sudah mencuri barang ku" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai memegang tangan kanan Lexi.
"Aku mohon jangan. Tolong ampuni aku King" pinta Lexi dengan suara bergetar.
Sret.............sret.........sret.........sret.......
Aaarrgghh..............
Suara jeritan Lexi bergema didalam sana saat Denis memot**g semua jari tangannya. Rio, anak buahnya, dan anak buah Lexi syok melihat aksi kejam seorang King Black Damon.
Baru kali ini mereka melihat langsung aksi kejam pemimpin mafia Black Damon yang terkenal misterius dan kejam.
Sret...............
Kembali semuanya di buat syok melihat aksi brutal Denis yang menggu***i kulit wajah Lexi. Bukan hanya wajah saja tapi seluruh badannya di kuluti.
Bau anyir darah menyeruak didalam sana membuat beberapa pasukan Rio dan Lexi muntah karena tak kuat mencium bau tersebut.
Lexi menatap Denis dengan lemah sudah tidak bertenaga lagi. Matanya perlahan-lahan tertutup menandakan ia sudah tidak bernyawa lagi.
"Ckk!! Padahal aku belum puas bermain" decak Denis dengan kesal.
"Bos" panggil Jeki sambil memberikan handuk kepada Denis.
Denis mengambilnya dan mengelap tangan dan pisaunya yang terkena darah Lexi. Mata tajamnya melihat sekeliling dengan dingin membuat semuanya gemetar ketakutan.
Hehehehe...................
Rio tersentak saat matanya bertatapan dengan Denis yang sedang terkekeh. Jantungnya berdetak dengan cepat memikirkan nasibnya setelah ini.
Dia bukan manusia tapi monster berdarah dingin, batin Rio sambil menelan saliva berkali-kali.
"Bos what we muat doing with them?" (bos apa yang harus kita lakukan dengan mereka) tanya Arkan sambil menunjuk anak buah Lexi.
Denis menatap ke arah yang ditunjuk Arkan dan tersenyum smirk melihat mereka semua yang gemetar sambil menunduk tak berani mengangkat kepala.
"Kill them all" (bunuh mereka semua) titah Denis dengan suara dingin dan datar.
"Ok bos" ucap Arkan sambil tersenyum menyeringai.
"King kami mohon ampun. Kami hanya disuruh oleh tuan Lexi King" pinta salah satu dari mereka.
"Benar King. Kami mohon ampuni nyawa kami King" tambah salah satu lagi.
"Kalian juga ikut mencuri barang bos kami jadi kalian jangan harap akan bebas begitu saja" bentak Jeki dengan suara tinggi.
"Berisik" ucap Denis sambil menoleh ke arah pasukan Lexi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arkan tersenyum lebar melihat musuh mereka yang seketika diam saat Denis berbicara. Ia lalu mengambil pistolnya dan memainkan didepan mereka membuat mereka semakin ketakutan.
Dor..............dor.............dor............
Bunyi tembakan bersahutan didalam sana saat Arkan dengan santai menembak mereka semua satu persatu tepat di dada mereka.
"Misi selesai" ucap Arkan dengan sombong.
Jeki dan lainnya hanya menggelengkan kepala mereka melihat kelakuan Arkan yang tidak pernah berubah dari dulu.
__ADS_1
Denis segera pergi dari sana karena ia sudah memberi pelajaran kepada orang yang sudah mencuri barang miliknya.
Brugh..............
Rio terjatuh di lantai merasa kedua kakinya terasa sangat lemas setelah kepergian Denis.
Melihat hal itu Arkan terkekeh tak menyangka melihat ketua geng Gajah yang berwajah sangar dan bertato seluruh badan duduk di lantai dengan tubuh tak bertenaga lagi.
"Kali ini kamu selamat om. Untung saja kamu belum membeli senjata bos kami" ucap Arkan sambil tersenyum lebar.
Arkan dan lainnya segera pergi dari sana karena sudah tidak ada urusan lagi disini. Rio lalu dibantu anak buahnya untuk pergi dari sana dan sampai di luar ia kaget melihat markasnya yang sudah hangus terbakar.
"Kalian memang tidak membunuh aku tapi mematikan usaha aku" ucap Rio dengan senyum kecut.
Denis dan pasukannya saat itu juga berangkat pulang kembali ke Indonesia tepat jam 06:00 pagi.
~ Roma, Italia ~
Simon menatap adiknya Seila yang terus menangis didalam kamar saat para pelayan sibuk mengepak seluruh barangnya.
Malam nanti ia akan dikirim ke Singapura lebih dulu dan 3 hari lagi ia akan menikah dengan uncle Hito disana.
"Tuan muda" ucap para pelayan yang melihat Simon berdiri didepan pintu.
"Kalian keluar" ucap Simon dengan suara dingin.
"Tapi tuan muda kami..." ucap pelayan yang langsung di potong Simon.
"Aku bilang keluar" bentak Simon dengan suara tinggi.
"Baik tuan muda"
Setelah melihat para pelayan sudah keluar Simon lalu duduk di samping adiknya Seila yang sedang menangis di atas ranjang.
"Dek" panggil Simon dengan suara lembut.
"Hiks hiks hiks..........aku tidak mau dijodohkan dengan uncle Hito ka........hiks hiks hiks" lirih Seila dengan tangis terdengar pilu.
"Kamu tenangkan diri kamu dek" ucap Simon sambil memeluk Seila.
"Sudah jangan menangis lagi dek. Kakak berjanji kamu tidak akan menikah dengan uncle Hito" ucap Simon sambil menghapus air mata Seila.
"Maksud kakak?" tanya Seila dengan bingung.
Simon lalu membisikan rencananya kepada Seila dimana ia juga memberitahu Seila kalau ia sudah meminta bantuan kepada Denis untuk menolong adiknya.
"Beneran ka?" tanya Seila dengan wajah bahagia.
"Iya dek. Kakak minta kamu bersikap seperti biasa dan terlihat tertekan supaya daddy tidak curiga" jawab Simon.
"Baiklah ka"
"Sampai disana besoknya kamu akan di jemput oleh anak buah Denis. Dia yang akan menjaga kamu disana dan menjauhkan kamu dari daddy dek"
"Tapi kalau daddy tahu bagaimana ka"
"Itu urusan kakak. Kakak hanya ingin kamu menjalani hidupmu sesuai keinginan kamu dan jika suatu saat kamu menemukan orang yang kamu cintai maka pertahankan dia dan jangan pernah lepaskan dia jika ada masalah" nasihat Simon.
"Baik ka. Terima kasih" ucap Seila dengan tulus.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Simon kemabli memeluk adiknya dan berharap adiknya akan bahagia di luar sana.
Denis aku percayakan adik aku kepadamu. Tolong jaga dan lindungi adik aku, batin Simon.
~ Mansion Denis Arkana ~
Denis memilih tidak masuk perusahaan karena ia sangat lelah hari ini dan sudah mengirim pesan kepada kekasihnya untuk datang kesini.
Ting...............
Simon Martinez
"Malam ini Seila akan di kirim ke Singapura ke tempat calon suaminya dan akan menikah 3 hari lagi"
^^^"Heemmm"^^^
__ADS_1
"Aku mohon bantuanmu Denis"
^^^"Ya. Jangan lupa dengan syarat aku"^^^
"Ya aku tahu"
Denis tidak membalas pesan Simon lagi da segera menelpon Sandro.
"Halo bos" ucap Sandro dari seberang.
^^^"Pulang dari perusahan kamu datang ke mansion"^^^
Denis segera mematikan panggilannya sepihak tidak menunggu jawaban dari Sandro dari seberang. Ia lalu menaruh hpnya di atas meja dan segera naik ke ranjang dengan memakai boxer saja.
Ceklek..........
Mata Denis tertuju ke arah pintu saat mendengar pintunya di buka. Bibirnya tersenyum manis melihat sosok yang sedari tadi ia tunggu.
"Sayang" ucap Leila dengan suara lembut.
Denis mengerakkan tangannya untuk mendekat. Saat Leila sudah berada di sampingnya dengan cepat ia menariknya sehingga jatuh dalam pelukannya.
"Sayang" pekik Leila dengan mata melotot tajam merasa kesal.
"Temani aku tidur sayang" ucap Denis sambil membenamkan kepalanya di leher sang kekasih.
"Tapi sayang" ucap Leila yang langsung di potong Denis.
"Aku sangat lelah sayang" lirih Denis dengan tatapan lembut menatap Leila.
Leila tak membantah lagi saat melihat wajah kekasihnya yang terlihat sangat lelah. Apa lagi tadi ia juga sempat mendengar dari sang adik jika mereka dari kemarin belum tidur sampai pagi ini.
Ia tersenyum manis dan mengangguk kepalanya sambil mengelus kepala Denis dengan sangat lembut. Perlahan-lahan mata Denis mulai tertutup merasakan usapan lembut di kepalanya yang terasa sangat menenangkan.
"Mimpi indah sayang" ucap Leila dengan suara lembut.
Cup.............
Bibir Leila terangkat saat ia mencium kening Denis saat melihat Denis sudah pulas.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan tepat pukul 15:00 sore barulah Denis membuka matanya. Saat membuka mata ia tersenyum manis melihat wajah cantik Leila yang juga ikut terlelap.
Keduanya tertidur dari pagi hingga sore sampai melewatkan makan siang. Denis bangun perlahan-lahan tak ingin membuat Leila terbangun dan segera bergegas menuju kamar mandi.
Selesai membersihkan diri ia memakai pakaian kasual dan menyuruh pak Liam membawakan makanan buat dia dan Leila.
Sebelum itu Denis membangunkan Leila untuk membersihkan diri sebelum mereka menikmati makanan yang bawa pak Liam.
Keduanya keluar dari kamar tepat pukul 17:00 dan memilih duduk di balkon untuk menikmati sunset sebentar lagi.
"Bos" panggil Sandro yang baru datang.
"Ka Sandro" ucap Leila yang melihat kedatangan Sandro.
"Selamat sore nona Leila"
"Iya selamat sore ka Sandro"
Leila lalu memilih jalan-jalan ke taman karena ia tahu Sandro dan Denis akan membahas pekerjaan.
"Besok kamu pergi ke Singapura" ucap Denis dengan suara dingin.
"Buat apa bos?" tanya Sandro dengan bingung.
Denis memberikan hpnya yang berisi pesan Simon kepada Sandro. Matanya berkilat tajam membaca pesan tersebut hingga urat-uratnya kelihatan menandakan ia sangat emosi.
"Bangsat!" maki Sandro dengan suara tinggi.
"Malam ini juga aku akan Kesana bos" ucapnya lagi dengan suara dingin.
"Terserah. Kamu intai siapa dia dan cari tahu apa tujuan pak tua itu menikahkan putrinya dengan dia" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue.............
__ADS_1