Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 132


__ADS_3

Suara teriakan Abraham Kein bergema didalam sana saat Denis menarik kul*t pipi kirinya hingga isi dalamnya terlihat dengan jelas.


Kepala rutan dan bawahannya seketika muntah tak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Denis barusan. Baru kali ini mereka melihat orang yang tak berperasaan seperti Denis.


Sadis!


Itulah kata yang mereka sematkan kepada Denis, apa lagi kepribadiannya yang tertutup dan isu-isu tentang kekejamannya itu bukanlah hanya gosip tapi memang fakta.


Berbeda dengan Thomas yang sudah terbiasa melihat kekejaman sang bos yang berdiri santai di belakang Denis.


Menurutnya ini belum seberapa dan hanya permulaan saja. Jika mereka melihat kekejaman Denis saat memberi pelajaran kepada Kenzo ia yakin mereka akan pingsan saat itu juga.


"M.......onster" ucap Abraham dengan terbata-bata.


"Yes that is me!" (ya itulah aku) ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Where is he?" (dimana dia) tanyanya lagi dengan tatapan tajam.


Glek..............


Abraham Kein menelan salivanya dengan susah mendengar pertanyaan Denis yang singkat tapi mengandung arti yang sangat dalam dari tatapannya.


Jika kamu tidak menjawab maka aku akan menguluti seluruh tubuhmu dalam keadaaan hidup. Itulah makna yang ia tangkap dari tatapan Denis.


"Terakhir kali aku mendengar dia berada di Caracas, Venezuela" ucap Abraham dengan cepat.


Ia tidak perduli jika ia akan dibunuh oleh Lewis Hamilton mafia yang selama ini ia bekerja sama karena sudah memberitahu keberadaannya.


Menurutnya orang didepan saat ini lebih berbahaya dari pada Lewis, karena Denis bukanlah orang yang berpikir dua kali apa lagi memberi kesempatan kedua kepada musuh-musuhnya.


Denis tersenyum smirk menatap Abraham Kein yang akhirnya berbicara juga. Ia pikir akan membutuhkan lama mendapat jawabannya tapi ternyata sangat cepat.


"Hancurkan jari-jari tangan dan kakinya" ucap Denis dengan suara dingin.


"Apa maksudmu? Bukannya aku sudah mengatakan yang kamu mau?" tanya Abraham dengan suara tinggi.


"Apa aku berjanji akan melepasmu jika kamu menjawab..........hehehehe?" tanya Denis sambil terkekeh.


"Keparat kamu Denis Arkana! Berengsek!" maki Abraham dengan suara tinggi.


Bugh................


Satu tendangan mendarat tepat di rahangnya dari Thomas merasa sangat marah mendengar bosnya yang dimaki.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" ucap Denis sambil menatap kepala rutan dengan tatapan tajam.


"Iya presdir Denis saya tahu" jawab kepala rutan dengan cepat.


Denis dan Thomas segera pergi dari sana meninggalkan Abraham Kein didalam sana. Saat keduanya keluar mereka bisa mendengar suara pukulan bersamaan jeritan kesakitan didalam sana.


"Bos tadi bos Arsen mengirim pesan menanyakan keberadaan bos" lapor Denis.


"Heeemmmm" deham Denis dengan suara dingin.


"Kemana kita akan pergi bos?" tanya Thomas.


"DA Bank" jawab Denis dengan suara dingin.


"Baik bos"


Sopir segera melajukan mobil Denis menuju ke DA Bank entah apa yang akan mereka lakukan disana hanya Denis saja yang tahu.


~ Pasar Tradisional Merdeka ~


Ara berbalik ke belakang merasa ada yang mengikutinya sedari tadi. Entah kenapa saat masuk ke dalam pasar firasatnya mengatakan jika ia sedang dalam bahaya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ia melihat sekeliling seperti mencari kebutuhan lainnya yang ia perlukan tapi ternyata ia hanya ingin melihat apa benar firasatnya atau tidak.


Benar ada mengikuti aku, batin Ara dengan takut saat menangkap keberadaan 2 orang yang aneh berdiri tak jauh darinya.


Ara cepat-cepatt mengambil hpnya dan menghubungi Ando untuk memberitahunya.


"Halo sayang" ucap Ando dari sebrang dan terdengar suara Ari juga disana.

__ADS_1


^^^"Ma.......s" ucap Ara dengan terbata-bata merasa takut.^^^


"Ada apa sayang? Kamu kenapa Ara? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ando dengan panik dari seberang.


^^^"Ada yang mengikuti aku saat ini mas" jawab Ara dengan suara bergetar.^^^


"Apa! Dimana kamu sekarang?" tanya Ando dengan suara dingin.


^^^"Aku berada di pasar tradisional Merdeka mas" jawab Ara dengan cepat.^^^


"Kamu tunggu mas disana dan jangan pernah pergi dari situ sebelum mas sampai! Jauhi juga tempat sepi dan pura-pura kamu sedang mencari belanjaan dan tetap berada di tampat ramai sayang" perintah Ando dengan suara tegas.


^^^"Iya mas"^^^


"Jangan matikan panggilan kamu sayang"


^^^"Baik mas"^^^


Ara lalu melakukan seperti apa yang disuruh calon suaminya. Sedangkan Ando yang diseberang sana bergegas menyusul calon istrinya karena tidak mau ia kenapa-napa.


20 Menit kemudian


Mata Ara menyipit melihat dua laki-laki aneh yang terus mengikutinya sedari tadi. Ia hanya berharap agar Ando segera datang karena tidak mau sampai kenapa-napa.


"Sayang kamu segera keluar dari pasar dan bawa motormu menuju ke gang di belakang pasar" ucap Ando dari seberang.


^^^"Tapi aku takut mas"^^^


"Percaya sama mas! Kamu akan baik-baik saja sayang"


^^^"Baiklah mas"^^^


Ara segera keluar dari pasar dan mengendarai motornya menuju tempat yang disuruh Ando. Kedua orang yang melihat kemana Ara pergi tersenyum smirk karena mangsa mereka memuluskan rencana mereka.


Cekiit...............


Ara mengerem motornya dengan cepat saat ada motor yang tiba-tiba menghadang jalannya. Beruntung ia cepat mengerem motornya sebelum menabrak motor didepannya.


"Siapa kalian? Kenapa kalian menghalangi jalanku?" tanya Ara dengan suara tinggi.


"Singkirkan motor kalian sebelum aku menabraknya berengsek!" bentak Ara.


"Ucapanmu itu sangat manis sayang, ingin sekali aku mencium bibir seksimu itu" ucap Toni sambil menjilat bibirnya dengan penuh napsu.


"Bro cepat bawa dia sebelum ada yang melihat" ucap temannya yang bernama Semi.


"Kucing manis lebih baik kamu ikut sama abang sebelum abang memakai kekerasaan" ucap Toni dengan senyum menyeringai.


"Cuih..........dalam mimpimu bangsat!" maki Ara sambil meludahi tepat di wajah Toni.


"Perempuan ja**ng! Beraninya kamu meludahiku sialan!" bentak Toni dengan wajah sangar.


Dor.............


Timah panas tiba-tiba bersarang di kepala Toni saat ia ingin menghampiri Ara untuk memberinya pelajaran karena sudah meludahinya.


"Siapa itu? Keluar kamu bajingan" teriak Semi segera mengeluarkan pistolnya dan berbalik ke belakang melihat siapa yang telah menembak temannya.


Dor...............aarrgghh..........


Semi berteriak kesakitan saat tangannya di tembak sehingga pistol yang ia pegang jatuh ke tanah. Baru saja ia ingin menunduk mengambil pistolnya tiba-tiba keningnya terasa dingin.


Matanya terangkat melihat siapa yang menodongkan pistol di keningnya dan kaget melihat sosok Ando yang berdiri dengan tatapan tajam seakan ingin menelannya hidup-hidup.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Ma.........s" panggil Ara dengan terbata-bata merasa syok melihat semua itu.


"Beraninya kalian ingin menculik calon istriku" bentak Ando dengan suara tinggi.


"Ampun! Aku hanya disuruh saja" pinta Semi dengan memohon.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Ando dengan suara dingin.


"Bos Marco" jawab Semi dengan cepat.

__ADS_1


"Hehehehe.........jadi asisten manusia licik itu ya" balas Ando sambil terkekeh.


"Untuk apa kalian ingin menculik calon istriku?" tanya Ando dengan suara dingin.


"Aku tidak tahu. Kami hanya diperintah untuk membawa dia karena bos menginginkannya" jawab Semi dengan jujur.


Rahang Ando mengeras tahu maksud ucapan Semi yang sebenarnya. Giginya gemeletuk dengan tatapan berkilat tajam menatap Semi dengan tatapan membunuh.


Dor.....................


Ara menutup telinganya melihat apa yang dilakukan oleh Ando barusan. Tubuhnya bergetar hebat karena syok melihat kejadian seperti ini.


"Sayang" panggil Ando dengan suara lembut.


"Jan........gan men.....dekat" ucap Ara dengan terbata-bata.


Grep............


Ando menarik tangan Ara dengan kuat hingga jatuh dalam pelukannya. Ia tidak perduli dengan ucapan Ara yang menyuruhnya untuk tidak mendekat karena menurutnya mau sekarang atau nanti sama saja.


"Jangan takut sayang. Aku tidak akan membunuhmu" ucap Ando yang tahu isi pikiran Ara.


"Kamu membunuh mereka" ucap Ara yang mulai tenang.


"Ya karena kalau tidak kita yang akan dibunuh mereka sayang" balas Ando sambil mencium keningnya.


Ando lalu menelpon Jason untuk datang ke sana memintanya mengurus kedua mayat itu. Apa lagi ia juga akan memberitahu Jason mengenai apa yang sebenarnya terjadi kepada Kenzo dan geng mereka.


Tak lupa ia juga menelpon Sandro memberitahu apa yang terjadi barusan.


~ BakerTech ~


"Fu*k you Riski" maki Sandro setelah mendapat telpon dari Ando.


Ia tidak menyangka jika Riski Akbar berani menyuruh anak buahnya untuk menculik adiknya Ara. Ia yakin pasti Riski Akbar ingin meniduri adiknya lagi.


Ia melihat jam sudah menunjukan pukul 14:00 siang dan ia berniat untuk pulang melihat adiknya karena ia yakin Ara pasti syok.


Apa lagi tadi Ando memberitahu jika ia menembak kedua orang itu tepat di depan Ara.


"Alin datang ke ruanganku" panggil Sandro lewat interkom.


Tok..............tok..........tok..........


"Masuk" ucap Sandro saat mendengar ketukan pintu.


"Tuan manggil saya" ucap Alin setelah berada didalam ruangan Sandro.


"Ya. Apa masih ada meeting lagi nanti?" tanya Sandro.


"Tidak ada tuan Sandro" jawab Alin.


"Kalau begitu semua laporan yang masuk hari ini kamu sortir memang dan taruh nanti di ruanganku. Besok baru aku periksa karena aku akan pulang awal hari ini" titah Sandro.


"Baik tuan"


Sandro lalu mengambil tas kerjanya dan berlalu pergi setelah memberi tahu Alin apa yang harus ia lakukan.


~ Kediaman Sandro ~


Sandro memarkirkan mobilnya didepan rumah dan bergegas masuk ke dalam ingin melihat kondisi sang Ara.


"Kamu sudah pulang nak?" tanya Mega yang hendak keluar bersama Ari cucunya.


"Dimana Ara Bu?" tanya balik Sandro.


"Ada di kamar bersama Ando" jawab Mega.


Sandro segera menuju ke kamar Ara dan saat ia hendak masuk ke dalam ia menghentikan langkahnya mendengar pembicaraan keduanya.


Deg.............


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue...............

__ADS_1


__ADS_2