Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
Ekstra Part 3


__ADS_3

Bi Eda yang melihat kepulangan tuan dan nyonya bergegas pergi ke dapur takut melihat kemarahan sang majikan.


Sedangkan Arkan ia sudah selesai memandikan putranya dan terlihat Aron sudah wangi dan tampan. Berbeda dengan Milan yang terus memeluk leher Rayen dengan mulut belepotan, tak mau melepas pelukannya.


"Kenapa belum mandi? Hem!" tanya Rayen dengan suara lembut kepada sang anak.


"Mau ama mommy" jawab Milan dengan suara cadel.


"Mommy lagi pergi sama grandma son jadi sama daddy aja saja ya" bujuk Rayen.


"No. Mau mommy" balas Milan dengan suara tegas.


Phew............


Rayen membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan sang anak yang sangat keras kepala. Bisa saja ia juga berlaku tegas kepada putranya, tapi ia berpikir untuk berbicara dengan lembut kepada putranya.


"Son" panggil Rayen dengan suara lembut.


"Heemm"


"Kamu tahukan kalau mommy tidak suka kotor"


"Ya i know dad" balas Milan dengan antusias saat membicarakan sang mommy.


"Kalau mommy lihat kamu yang kotor saat ini pasti sebentar mommy tidak mau mengendongmu. Lihat saja penampilanmu sangat kotor son" ucap Rayen dengan wajah di buat jijik melihat putranya.


Milan menatap dirinya sendiri sambil menunjuk bajunya yang kotor terkena lumpur tadi. Melihat putranya yang sudah termakan ucapannya membuat Rayen tersenyum tipis.


"Daddy aku mau andi" ucap Milan dengan wajah panik.


"Oke ayok kita mandi" ajak Rayen dengan senang.


Otak kecil Milan membayangkan jika mommynya tidak mau menggendongnya karena kotor dan hal itu membuatnya panik. Ia sangat dekat dengan mommynya karena sering memanjakannya dengan jajanan pinggir jalan.


Aku mau telul ulun, batin Milan dengan mulut ngeces membayangkan makanan tersebut.


Seperginya Rayen dan Milan ke kamar tamu bertepatan dengan Amira, Steven, Bianca, dan Claudia yang memasuki rumah.


Brugh.....................


Tas mahal Amira jatuh di lantai saat melihat rumahnya yang sangat berantakan, ia syok tidak bisa berkata apa-apa melihat keadaan dalam rumah yang seperti baru saja habis di terpa badai.


"Apa yang terjadi disini?" Steven dengan suara tinggi.


"Mommy. Daddy" ucap Zeus dengan mata melotot melihat kepulangan kedua orang tuanya.


"Apa barusan terjadi badai di sini?" tanya Claudia dan Bianca dengan serentak.


"MAMA" pekik Aron dengan suara menggelegar melihat sang mama.


Aron ingin menghampiri mamanya tapi dengan cepat Arkan langsung mengendong putranya, karena tidak mau kakinya terkena pecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Papa au mama" pekik Aron dengan suara tinggi sambil memberontak.


"Tenang dulu Aron. Biar papa yang antar kamu ke mama takutnya kaki kamu terkena pecahan kaca" ucap Arkan dengan suara tegas.


Aron mengerucut bibirnya menatap sang papa. Ia terus memberontak membuat Arkan sangat kesusahan, bergegas ia segera membawanya ke sang istri agar putranya jangan mengamuk.


"Anak mama udah wangi aja" ucap Bianca sambil mencium pipi Aron berkali-kali.


"Andi baleng papa ma" jelas Aron sambil tersenyum lebar.


"Kamu yang mandiin Aron mas?" tanya Bianca.


"Siapa lagi kalau bukan aku baby! Kamu kan tahu Aron tidak akan mau diurus sama Zeus selain aku, kamu, dan pengasuhnya" jawab Arkan.


"Terima kasih suamiku" ucap Bianca sambil mengecup pipi sang suami.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Arkan memeluk istrinya dan mengecup bibirnya tidak perduli mereka berada dimana saat ini. Claudia lalu mengedarkan pandangannya mencari suami dan anaknya tapi ia tidak melihat keduanya.


"Zeus dimana suami dan anak kakak?" tanya Claudia dengan cepat.


"Katakan apa yang terjadi disini Zeus" ucap Steven dengan suara lantang membuat Zeus yang hendak menjawab pertanyaan Claudia tidak jadi.


"Tanyakan saja sama ketiga bocah nakal itu dad" ucap Zeus dengan kesal.


"Maksudmu ini semua kerjaan Milan Zeus?" tanya Claudia.


"Bukan hanya Milan tapi Aron dan juga Kai ka" jawab Zeus.

__ADS_1


"Mas apa yang di bilang Zeus beneran?" tanya Bianca.


"Semua yang dibilang Zeus benar baby. Semua kekacauan ini ulah anak kita dan kedua kakak sepupunya" jawab Arkan dengan jujur.


"Apa" pekik Bianca dan Claudia dengan syok.


Arkan langsung menahan Bianca yang hendak jatuh merasa lunglai mendengar ucapan suaminya. Ia tidak menyangka putranya akan membuat kekacauan seperti ini.


"Pokoknya kalian harus bertanggung jawab membereskan semua kekacauan ini" ucap Amira dengan suara tegas.


"Pasti ma" ucap Arkan, Bianca, dan Claudia dengan serentak.


"Jangan lupa ganti semua perabot yang dipecahkan anak kalian" tambah Steven dengan tatapan tajam.


Ketiganya menggaruk kepala menjawab ucapan Steven. Kai yang merasa bosan memilih untuk pergi ke kamar papanya karena sudah mengantuk.


"Mau ke mana Kai?" tanya Zeus.


"Kamar papa" jawab Kai singkat.


Jangan lupakan wajah datar dan dinginnya membuat semua hanya bisa menghembuskan napas dengan kasar. Padahal Amira ingin memarahi cucunya itu, tapi ia urungkan karena sifatnya persis sama dengan putranya.


"Sebaiknya kalian segera bereskan ini semua sebelum kepala mama semakin sakit" keluh Amira sambil memijit kepalanya yang sakit.


"Sayang ayok kita ke taman saja biarkan mereka yang mengurus kekacauan disini" ajak Steven.


"Iya mas" balas Amira.


Lexi dan Zeus saling melirik saat mendengar ucapan sang daddy. Dengan cepat Zeus langsung menghadang kedua orang tuanya agar tidak ke taman samping.


"Uhm! Lebih baik mommy sama daddy pergi ke hotel untuk di pijat di spa hotel" usul Zeus.


"Untuk apa spa Zeus? Mommy hanya butuh istirahat saja tidak perlu harus dipijit di hotel segala" tolak Zeus.


"Tapi lebih bagus di hotel saja mom. Layanan mereka sangat bagus dan bisa membuat tubuh mommy kembali rileks" ucap Zeus dengan memaksa.


Stevan menatap putranya dengan menyelidik seakan tahu kalau ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Zeus.


"Apa yang kamu sembunyikan son?" tanya Steven dengan tatapan selidik.


"Tidak ada dad" jawab Zeus dengan cepat.


Zeus menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil memalingkan wajahnya tak mau melihat tatapan daddynya. Ia takut daddynya akan tahu kalau ia sedang berbohong.


Melihat gelagat sang anak, Steven yakin kalau ada sesuatunya yang disembunyikan putranya. Dengan cepat Steven bergegas pergi ke taman samping ingin mencari tahu apa yang disembunyikan anaknya.


"Kalian kenapa kelihatan panik kayak gitu?" tanya Rayen yang baru keluar dari kamar tamu.


"Mommy" pekik Milan dengan suara melengking sambil menjulurkan tangannya ke Claudia.


"Mommy kangen banget sama kamu son" ucap Claudia sambil mengendong putranya dns menciumnya.


Cup.....................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Rayen mengecup kening istrinya sambil memeluk pinggangnya dengan posesif. Sedangkan Arkan ia sedang ketakutan, karena yakin sebentar lagi mama Amira dan daddy Steven pasti akan mengamuk.


"KAISAR MILANO ARKANA! MILAN ENZO BAKER! ARON STEVANO BAKER!" teriak Steven dengan suara menggelegar dari arah taman.


"Mas kamu kenapa sih teriak-teriak?" tanya Amira yang menghampiri suaminya.


"YA TUHAN APA YANG TERJADI DENGAN APEL HIASKU" pekik Amira dengan suara melengking melihat tanaman kesayangannya sudah tak ada buah lagi.


Semua yang di dalam rumah bergegas keluar ke taman samping. Rayen, Bianca, dan Claudia sampai syok melihat kekacauan di luar sana yang lebih parah.


Ketiganya lemas tak bertenaga tak tahu harus berkata apa. Ketiganya yakin ini semua karena ulah anak-anak mereka.


"ANAK-ANAK KESAYANGANKU" teriak Steven histeris mengambil ikan-ikannya yang sudah mati.


"SIAPA? SIAPA YANG SUDAH MERUSAK APEL HIASKU?" tanya Amira dengan histeris.


Arkan melihat kakaknya dengan wajah sulit diartikan. Rayen sendiri langsung lemah tak bertenaga sudah tidak tahu harus berbicara apa.


Ingin marah sama putranya tapi apa daya ia tidak bisa melakukan hal itu. Apa lagi melihat Milan yang sudah tertidur pulas dalam gendongan sang istri, begitu pula dengan Aron yang juga sudah berlabuh ke alam mimpi.


Milan Enzo Baker apa kamu ingin membuat daddy bangkrut son, batin Rayen dengan syok.


Sore itu di rumah Amira dan Steven, hanya di penuhi suara Amira dan Steven yang marah melampiaskan kekesalan mereka. Tanaman dan peliharaan mereka yang selama di rawat dengan sepenuh hati, lenyap seketika karena ulah cucu-cucu mereka.


Denis yang baru saja datang dan melihat kekacauan di rumah sang mama hanya diam saja. Ia sudah tahu pelakunya yang tidak lain adalah putra dan keponakannya.

__ADS_1


"Wow! Apa disini baru saja di terpa angin topan?" tanya Sandro dengan kaget.


"Angin topan buatan lebih tepatnya" jawab Arsen sambil tersenyum menyeringai.


"Bos" panggil Arkan saat melihat kedatangan ketiganya.


"Dimana Kaisar?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Ada di kamar bos" jawab Arkan.


Sebelum pergi ke kamarnya, Denis menyuruh Sandro dan Arsen untuk membereskan semua kekacauan disana dan menganti apel hias mamanya.


Sedangkan untuk ikan koi peliharaan uncle Steven, ia serahkan kepada Arkan dan Rayen untuk bertanggung jawab.


Denis yang sudah berada didalam kamar, menghela panjang, melihat sang putra yang sudah tertidur pulas dengan memakai celana tidur saja.


Ia yakin pasti anaknya sudah mandi sebelum tidur seperti kebiasaannya yang tidak bisa tidur jika belum membersihkan tubuh.


Eeeuugghh...........


Lenguh Kai saat digendong Denis tapi tidak sampai terjaga. Ia memakaikan jasnya ke tubuh putranya lalu menggendongnya keluar dari kamar.


"Papa" panggil Kai dengan suara serak saat mereka menuruni tangga.


"Tidur kembali son. Kita akan pulang ke mansion" ucap Denis dengan suara lembut.


"Heemmm" deham Kai kembali terlelap.


Denis dengan santai melenggang pergi melewati semuanya yang sudah kembali berada di ruang keluarga. Amira dan Steven hanya bisa membuang napas dengan kasar melihat kelakuannya.


Apa lagi ia tidak berbicara apa-apa tentang perbuatan Kaisar. Meski begitu mereka tahu ia akan mengganti semua yang sudah di rusakan oleh Kai.


"Ma kami pamit pulang dulu ya" ucap Arkan sambil memamerkan giginya.


"Heemm! kalian harus ikut jika Aron ingin datang kesini" titah Steven dengan suara tegas.


"Oke daddy" balas Arkan dengan cepat.


"Kami juga pamit ya ma, dad. Besok Leo akan datang dan menganti semua ikan-ikan daddy dan juga perabotan dalam rumah" ucap Rayen.


"Iya nak. Kalian hati-hati ya" ucap Amira dengan suara lembut.


"Iya ma"


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Mereka semua lalu pamit pergi begitu pula dengan Zeus dan Lexi yang pamit keluar ingin menghibur diri. Apa lagi hari ini keduanya dibuat pusing dengan kelakuan ketiga bocah nakal itu.


"Sehari saja bersama 3 bocah itu sudah seperti ini. Apa lagi kalau sebulan" keluh Steven sambil memijit kepalanya yang sakit.


"Maka kita pasti akan pindah rumah mas! Hehehe" balas Amira sambil terkekeh.


"Ya kamu benar sayang" ucap Steven membenarkan ucapan istrinya.


Steven lalu mengajak sang istri ke kamar membiarkan anak buah Denis dan Rayen untuk membersihkan semua kekacauan di sana.


~ Mansion Utama Arkana ~


Leila menyambut kepulangan suami dan anaknya didepan pintu. Ia mencium keduanya sambil mengelus kepala sang anak yang sedang tertidur pulas.


"Nak ayok bangun dulu dan makan sayang" ucap Leila dengan suara lembut.


"Biarkan dia tidur sayang" ucap Denis.


"Jangan sayang. Ini sudah jam makan malam dan dia harus makan sayang" protes Leila.


"Baiklah sayang" ucap Denis dengan pasrah.


Kai yang merasa terganggu dalam tidurnya terpaksa harus bangun dan makan disuapi mamanya. Selesai makan ia kembali tertidur membuat kedua orang tuamu menggelengkan kepala mereka melihat tingkah sang anak.


Denis lalu mengendong Kai ke Kamarnya dan setelah itu ia kembali turun ke meja makan untuk makan malam bersama istrinya.


"Sikat gigi dulu sebelum tidur sayang" ucap Leila mengingatkan suaminya.


"Heemmm" deham Denis segera masuk ke dalam kamar mandi.


Leila menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya, matanya lalu tertuju ke arah kalender dimana menampilkan tanggal 27.


Deg....................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


__ADS_2