
Tak berselang lama akhirnya mobil yang di tumpangi Sandro beserta keluarganya tiba di depan mansion Simon Martinez.
Sandro lalu keluar melihat sekelilingnya aman barulah dia menyuruh istri dan anaknya turun. Meski nama Roy Martinez susah cacat di publik tapi masih banyak pelayat dari rekan kerja mereka yang datang melayat.
Mereka datang melayat bukan karena Roy Martinez tapi karena Simon Martinez yang selama ini selalu menghendel setiap meeting dan urusan kerja sama dengan mereka dengan jujur.
"Ayok kita masuk honey" ajak Sandro sambil memeluk pinggang istrinya dengan posesif.
"Iya mas" ucap Seila sambil tersenyum manis.
Sandro menatap putranya Denzo yang sedang melihat sekeliling karena ada banyak orang disana dengan pakaian hitam.
"Berikan Denzo kepadaku honey" bisik Sandro.
Seila tak membantah ucapan suaminya dan segera memberikan putra mereka ke suaminya. Sandro melakukan hal itu karena tahu istrinya pasti akan drop saat melihat jenazah *********daddy******nya***.
Aku harap kamu kuat honey, batin Sandro sambil membuang napasnya dengan kasar.
Sampainya di ruang tengah air mata Seila sudah mengalir deras melihat peti mati didepan sana. Apa lagi didepan peti mati ****daddynya**** terdapat banyak bunga Krisan yang di bawah pelayat saat memberi penghormatan terakhir.
"Daddy...........hiks hiks hiks" ucap Seila sambil menangis mengagetkan keluarga yang tak tahu kedatangannya.
"Seila" pekik Seina dan ****************mommy***************nya* kaget saat berbalik ke belakang.
Simon yang melihat adiknya datang segera memeluknya. Tangisan Seila pecah didalam pelukan sang kakak sambil menatap nanar ke arah peti mati daddynya.
"Ayok beri penghormatan terkahir untuk daddy" ajak Simon.
Saat keduanya akan menuju ke peti mati tiba-tiba Riana dan Seina memeluknya sambil menangis histeris. Mereka lupa kalau selama ini mereka sudah menghina Seina dan ikut ambil bagian saat perjodohan Seila waktu itu.
"Aku turut berduka cita" ucap Sandro dengan wajah datar dan dingin.
"Ckk!! Kamu tidak perlu berpura-pura di depanku sialan" decak Simon dengan tatapan sinis.
"Well aku hanya ingin berbuat sopan kepada mertuaku untuk terakhir kali" balas Sandro sambil tersenyum menyeringai.
"Ya ya terserah kamu saja" sarkas Simon sambil memutar malas matanya.
Matanya lalu tertuju ke bayi montok didalam gendongan Sandro yang terlihat sangat mengemaskan. Dengan cepat Simon langsung mengambil bayi itu dari gendongan Sandro, beruntung Denzo tidak menangis saat diambil Simon.
"Keponakan uncle makin tampan aja" ucap Simon sambil mencium pipi Denzo dengan gemas.
Denzo tertawa geli merasa janggut Simon yang mengenai wajahnya. Banyak pasang mata yang menatap gemas melihat keduanya.
"Kamu temani Seila karena aku yakin dia akan syok setelah melihat jasad daddy" titah Simon memberi isyarat lewat mata ke arah Seila yang sudah melepas pelukannya dengan mommy dan kembarannya.
"Heeemmm" deham Sandoe.
Sandro lalu menghampiri istrinya membuat Riana dan Seina kaget melihat kedatangan Sandro. Mata keduanya menatap Sandro dengan tatapan kebencian karena Sandro adalah orang kepercayaan Denis.
"Untuk apa kamu kesini sialan! Siapa yang mengijinkan kamu masuk!" bentak Riana dengan suara tinggi sambil menunjuk Sandro.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Beruntung saat ini didalam ruang tengah hanya ada keluarga besar Martinez dan keluarga sang mommy jika tidak ia akan sangat malu.
"Kakak kenapa biarkan manusia rendahan ini masuk?" tanya Seina dengan emosi.
"DIAM!" bentak Simon dengan suara tinggi.
Oek............oek........oek...........
Denzo menangis dalam gendongan Simon saat mendengar bentakan Simon tadi. Dengan cepat Simon segera menimbang Denzo sehingga bayi itu terdiam.
"Siapa dia Simon?" tanya Riana yang tak mengenali Denzo.
"Keponakan aku. Dia anak Seila mommy" jawab Simon dengan suara tegas.
"Anak" pekik Riana dan Seina dengan kaget.
Seila tak memperdulikan mommy dan kembarannya dan segera menuju ke peti mati daddynya ditemani Sandro. Sampainya disana ia membekap mulut melihat kondisi jasad daddynya yang hancur.
__ADS_1
Bahkan wajah Roy hancur sampai tidak bisa dikenali lagi. Matanya lalu memindai jasad Roy dan semakin histeris melihat kedua tangan dan kakinya yang terpisah dari tubuhnya.
Seila hampir saja terjatuh ke belakang beruntung Sandro menahannya sehingga ia tidak sempat jatuh. Tubuhnya seketika terasa lemas dan tak bertenaga lagi setelah melihat kondisi mayat daddynya.
Hiks.........hiks........hiks...........hiks.........
Seila menangis histeris didalam pelukan suaminya, Sandro sendiri mengelus punggung istrinya dengan sangat lembut. Matanya tertuju ke arah Roy dengan tatapan datar dan dingin.
Tak ada rasa sedih sama sekali karena kehilangan daddy mertuanya. Bahkan ia merasa senang karena akhirnya musuh terbesar sang bos sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Beruntung mayat pak tua itu dipakaikan baju jika tidak istriku akan pingsan melihat tubuh daddynya yang tercabik-cabik, batin Sandro dengan lega.
"Kamu anak miskin pergi sekarang juga dari kediamanku!" bentak Riana dengan tatapan berkilat emosi.
"Mommy bisa tidak jangan buat keributan didepan mayat daddy. Dia ini suami aku mom" sarkas Seila dengan tak kalah emosi.
"Kamu bela sialan ini dari pada mommy kamu Seila?" tanya Rian dnwhan mata melotot.
"Iya karena dia suamiku. Apa mommy tidak malu dilihat semua orang saat ini, apa lagi saat ini kita dalam suasana duka mom" ucap Seila dengan memohon.
"Sampai kapanpun mommy tidak mengakui dia sebagai menantu mommy! Apa kamu tidak tahu kalau dia terlibat dengan orang yang sudah membunuh daddy kamu Seila!" bentak Riana dengan suara menggelegar.
"MOMMY" hardik Simon dengan suara tinggi.
Matanya berkilat tajam tak suka mendengar ucapan sang mommy. Simon lalu memberikan Denzo ke Bram dan membawanya ke luar.
"Ingat mommy saat ini kita sedang berduka jadi aku mohon mommy jangan buat keributan" ucap Simon dengan suara tegas memperingati sang mommy.
Riana berlalu dari hadapan kedua anaknya dengan perasaan dongkol. Meski ia sedang sedih karena kehilangan suaminya tapi dalam hatinya menaruh rasa dendam kepada Denis begitu juga semua orang yang terhubung dengan Denis.
Seila yang masih penasaran dengan ucapan sang mommy menahan semua itu untuk bertanya ke suaminya karena sudah waktunya mereka menuju ke pemakaman.
Prosesi pemakaman Roy Martinez akhirnya berakhir. Saat di pemakaman ada beberapa wartawan yang mengambil jalannya Pemakaman dan juga meminta keterangan dari pihak keluarga tentang kematian Roy Martinez.
Beruntung Simon sudah memberitahu Bram untuk memberikan pernyataan resmi tentang kematian daddynya, karena ia tidak mau publik tahu tentang penyebab kematian sang daddy.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Setelah dari tempat pemakaman Sandro mambawa keluarganya menuju hotel Hilton untuk beristirahat disana.
Bukan tanpa alasan ia tidak pulang ke mansion kakak iparnya, karena disana pasti hanya akan ada keributan saja antar dia dan mommy mertuanya.
"Kamu segera bersihkan diri biar aku yang membersihkan Denzo honey" ucap Sandro dengan suara lembut.
"Iya mas" jawab Seila tak membantah.
Sandro lalu mengelap tubuh sang anak tak lupa mengganti pakaiannya. Selesai ia segera melepas kemejanya dan mengambil hp untuk menghubungi Denis.
^^^"Halo bos"^^^
"Heemmm"
^^^"Sepetinya mommy mertuaku menaruh dendam. kepada bos karena susah menghabisi pak tua itu bos" ucap Sandro menjelaskan.^^^
"Biarkan saja. Lagian aku yakin Simon Martinez akan mengurusnya" ucap Denis dengan santai.
^^^"Iya bos"^^^
"Beritahu istrimu tentang apa yang tejadi dengan daddynya sebelum dia mendengar dari orang lain" titah Denis dengan aura dingin dari seberang.
^^^"Ya aku berpikir seperti itu juga bos"^^^
Denis lalu mematikan panggilannya sepihak tak membalas ucapan Sandro. Ia lalu menaruh kembali hpnya diatas meja sambil menarik napas dalam melihat ke arah kamar mandi.
Apapun konsekuensinya aku harus mengatakan semua dengan jujur kepada istriku, batin Sandro dengan suara tegas.
~ Siberia, Rusia ~
Awalnya Denis dan rombongannya akan pergi ke Venezuela tapi tenyata mereka malah pergi ke Siberia, Rusia.
Selama 8 jam lebih diatas pesawat akhirnya mereka tiba di Siberia, Rusia. Beruntung Arsen melacak keberadaan harta karun Demian Arkana yang ternyata berada di Siberia, Rusia.
__ADS_1
"Bos semuanya sudah siap" lapor Arsen sambil memberikan syal kepada Denis.
Saat ini udaranya sangat dingin karena salju yang terus saja turun. Ia harus memastikan keamanan Denis dan juga kesehatannya selama berada disini.
"Ke penginapan yang ada air panas" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos"
Denis memilih pergi ke penginapan untuk berendam di air panas bersama seluruh pengawalnya sebelum mereka menuju ke lokasi harta Karun papanya.
~ Penginapan Imperial Land ~
Salah satu penginapan mewah yang berada di Siberia dengan fasilitas pemandian air panas karena daerahnya tepat berada didekat kaki gunung yang mengeluarkan sumber air panas.
"Bagaimana bos?" tanya Arsen saat mereka masuk ke dalam kamar yang akan ditempati Denis.
"Lumayan" ucap Denis dengan suara dingin sambil memperhatikan sekeliling kamar.
Sebelum masuk tadi anak buahnya sudah mengecek kamar tersebut apa ada alat perekam atau kamera tersembunyi. Beruntung tidak ada jika tidak Denis akan menghancurkan tempat itu saat ini juga.
"Aku memesan kamar yang mempunyai kolam pemandian air panas privat untuk bos" ucap Arsen menjelaskan saat Denis membuka pakaiannya.
"Heemmm"
Arsen segera beranjak pergi dari sana tak lupa mengecek makanan untuk Denis didepan pintu kamar Denis sebelum di bawa masuk.
Selesai mengecek semua kebutuhan sang bos Arsen segera beranjak pergi ke kamar yang akan ia tempati tepat di samping kamar Denis.
Sampainya di kamar ia menyuruh anak buahnya untuk pergi lebih dahulu ke lokasi harta Karun tuan besar, sebelum besok mereka pergi.
Denis yang berada di kamarnya juga tak lupa mengirim pesan kepada sang istri jika saat ini ia sudah berada di Siberia.
Ia tidak ingin menjelaskan lebih rinci tentang apa yang ia lakukan karena tidak mau istrinya berpikir keras.
~ Lokasi Harta Kurun ~
Besoknya Denis menaiki mobil mewah merek SUV bersama Arsen dan semua anak buahnya. Mereka memakai 10 mobil menuju ke lokasi harta Karun papanya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sampainya di tempat tujuan Denis keluar dari mobil setelah Arsen membukakan pintu untuknya. Mereka langsung disambut 10 anak buah Denis yang sudah lebih datang ke sana.
"Bos" ucap 10 orang itu serentak sambil menunduk saat Denis sampai.
"Bagaimana?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Di sekitar sini tidak ada musuh atau apapun dan tempat ini jauh dari lokasi pemukiman warga bos Arsen" jawab Mark menjelaskan.
"Apa kamu sudah mengecek kondisi didalam?" tanya Arsen lagi.
"Sudah bos. Bangunannya memang terlihat tua tapi didalam sana semua kayunya sangat kokoh dan kuat bos. Ada jalan masuk menuju ke bawah tanah dan kami sudah mengecek ke sana dan tidak menemukan jebakan atau apapun bos Arsen"
"Heemmm" deham Arsen sambil membayangkan struktur bangunan didepannya.
Ia lalu mengambil iPad yang selalu ia bawa dan mulai melihat struktur bangunan lewat 4 dimensi. Tak lupa bertanya kepada Mark tentang struktur bangunan setelah ia mengecek.
"Benar bos Arsen struktur bangunan sama persis dengan ini. Di bagian sini ada pintu baju dengan ketebalan 50 mm dan tidak bisa dihancurkan dengan bom bos" ucap Mark menjelaskan sambil menunjuk lokasi pintu baja.
Denis melirik Arsen sambil mengangguk kepalanya sebagai isyarat untuk menyuruh mereka bersiap masuk.
Arsen memerintah 20 orang anak buahnya bersama 10 orang anak buah mereka yang semalam datang lebih dulu untuk masuk ke dalam sana.
Mark berada di barisan depan bersama 5 temannya diikuti Arsen, Arkan, lalu Denis dan dibelakangnya ada Thomas dan anak buahnya yang lain.
"Lewat sini bos" ucap Mark berdiri tepat di di bagian tengah bangunan.
Krek...................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...................
__ADS_1