Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 204


__ADS_3

Pablo dan Vito menatap Steven dengan mata melotot, dimana Steven ingin bertemu dengan Denis Arkana.


Bukan hanya Pablo dan Vito yang kaget tapi Geby dan Gio juga kaget. Mereka tak menyangka orang yang dibawa daddy mereka ternyata ingin bertemu dengan ka Denis.


"Ka buat apa om itu ingin menemui ka Denis?" tanya Geby penasaran.


"Kakak tidak tahu" jawab Gio singkat.


"Apa dia itu musuh ka Denis?" tanya Geby lagi.


"Kita dengar saja pembicaraan mereka" ucap Gio dengan suara dingin.


Geby tak bertanya lagi dan kembali menonton cctv di ruang keluarga dari laptop. Sedangkan di ruang keluarga Pablo sedang memikirkan apa tujuan Steven ingin bertemu dengan Denis dan sejak kapan dia mengetahui Denis.


"Untuk apa kamu ingin menemuinya?" tanya Pablo dengan suara dingin dan tatapan tajam.


"Kamu akan tahu nanti. Yang pasti aku datang dengan damai tidak ingin mencari masalah" jawab Steven dengan suara tegas.


"Aku tidak bisa membawamu menemuinya karena aku harus memberitahunya dulu" ucap Pablo dengan suara ingin.


"Aku rasa kamu sudah tahu bagaimana susahnya untuk bertemu dengan seorang Denis Arkana" tambahnya lagi.


"Oleh karena itu aku menemuimu" balas Steven sambil tersenyum menyeringai.


"Heemmm! Baiklah aku akan memberitahunya jika dia mengijinkan kita langsung ke sana" ucap Pablo dengan suara tegas.


"Heeemmm"


Steven duduk berpangku kaki sambil mengambil rokok dan menghisapnya, tidak perduli dengan mata Vito yang melotot seakan memberitahunya untuk tidak merokok didalam mansion.


"Jangan merokok didalam mansion dude karena putriku tidak menyukai baju rokok" ucap Pablo seakan tahu apa yang ingin dikatakan Vito.


"Heeemm" deham Steven sambil mematikan rokoknya.


Vito lalu pergi entah kemana dan kembali dengan semprotan pengharum ruangan. Dengan santai ia menyemprotkan pengharum ruangan tidak perduli keberadaan Steven dan Pablo.


"Vito kamu bisa melakukannya nanti" protes Pablo dengan kesal.


"Maaf tuan saya hanya takut jika nona muda tiba-tiba saja datang" ucap Vito dengan santai.


"Ckk!!" decak Pablo dengan kesal.


"Jika dia anak buahku maka detik ini juga dia hanya tinggal nama saja" ucap Steven sambil tersenyum menyeringai menatap Vito.


"Tapi sayangnya saya anak buah tuan Pablo Ulrico" balas Vito dengan tatapan sinis.


"Ya itu suatu keberuntungan buatmu"


"Terima kasih atas pujiannya"


Pablo hanya menggelengkan kepalanya melihat keduanya yang berdebat lewat ucapan dan tatapan mereka.


Ia tidak mau ambil pusing dengan tingkah mereka dan kembali ke tujuan awalnya untuk menghubungi Denis.


Pablo menelpon Denis sampai panggilan keempat tapi tidak ada jawaban sama sekali. Ia lalu mengirim pesan kepada Denis untuk menghubunginya jika membaca pesan ini.


"Dia tidak angkat. Lebih baik ayok kita makan malam saja" aja Pablo.


"Heeemmm"


~ Imperial Kingdom ~


Adam Rasyid dan keluarganya sudah seminggu menginap di apartemen Imperial Kingdom yang dibeli Onur selama mereka di Indonesia.


Saat ini mereka semua sedang membahas tentang teror yang terus mereka dapat seminggu ini. Bahkan malam ini mereka kembali di teror dengan bangkai tikus dan bunga putih lambang kematian dalam kotak.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Siapa sih yang meneror kita?" tanya Salim dengan emosi.


"Mommy yakin ini kerjaan si Denis sialan itu" ucap Emira dengan emosi.


"Aku setuju sama mommy. Apa lagi disini dia adalah orang yang sangat membenci kita" tambah Liliana.


"Jangan mengambil kesimpulan sendiri sebelum ada bukti. Bukannya Rayen Baker waktu itu yang memukulmu" ucap Onur dengan suara dingin.


"Ah! Benar ka aku lupa tentang sialan itu juga" ucap Liliana.


"Begitu juga dengan Adrian Castel yang menampar Liliana di rumah sakit ka" tambah Onur.


"Daddy rasa mereka semua satu dan otak di balik ini semua yaitu Denis Arkana" ucap Adam dengan suara tegas.


"Kalau begitu sudah pasti ini semua dari Denis Arkana kan dad" ucap Emira sambil menatap suaminya dengan tatapan tajam.


"Heeemm" deham Adam sambil mengangguk kepalanya.


"Bangsat! Aku akan membunuh sialan itu" umpat Liliana dengan emosi.

__ADS_1


Mereka semua diam dengan pemikiran masing-masing memikirkan teror tersebut dan bagaimana cara membalas mereka.


Liliana beranjak dari sana menuju kamarnya karena ingin menghubungi Roy Martinez. Sampai didalam kamar ia segera menghubungi Roy.


"Halo" ucap Roy dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Aku tahu om pasti sudah mengetahui apa yang terjadi sama aku" ucap Liliana dengan ketus.^^^


"Ya om sudah tahu dan itu semua karena kebodohanmu" sarkas Roy dengan suara tinggi dari seberang.


^^^"Ckk! Ini semua bukan salah aku om! Lebih baik om bantu aku memikirkan cara untuk membalas Denis sialan itu dengan istrinya" hardik Liliana dengan suara tinggi.^^^


Tidak ada jawaban dari seberang membuat Liliana ingin memaki Roy Martinez karena mengacuhkannya.


Sialan pak tua! Dia pikir dia siapa beraninya mengacuhkanku, batin Liliana dengan kesal.


^^^"Halo om. Om masih disana kan" ucap Liliana dengan tak sabar.^^^


"Ya" balas Roy dengan singkat.


^^^"Jadi bagaimana om?" tanya Liliana dengan cepat.^^^


"Kamu pergi minta maaf kepada Leila terlebih dahulu buat dia berteman dengan kamu dan setelah itu kamu bisa dengan mudah membalas rasa sakitmu" usul Roy.


^^^"Tapi kalau dia tidak mau memaafkan ku bagaimana om?" tanya Liliana.^^^


"Sebelum mencoba kamu tidak akan tahu hasilnya. Ingat saat pergi menemuinya sebaiknya kamu betul-betul tulus minta maaf karena Denis bukan orang yang mudah ditipu dan dia sangat peka" jawab Roy dengan suara tegas.


^^^"Baiklah om aku akan mencobanya"^^^


"Heemm! Sebaiknya kamu jangan bertindak bodoh kali ini jika tidak mau berakhir di perut buaya peliharaan Denis" ucap Roy memperingatinya.


^^^"Oke om"^^^


Liliana bergidik ngeri mendengar ucapan Roy tentang buaya Denis. Ia berpikir jika kali ini ia tidak akan bertindak ceroboh atau gegabah karena ini menyangkut hidup dan matinya.


Ia bergegas keluar menemui keluarganya dan memberitahukan ide Roy tadi. Semua keluarganya menyetujui ide Liliana karena berpikir dengan begitu mereka akan mudah untuk menghancurkan Leila dan Denis.


2 Hari kemudian


Selama 2 hari Denis tidak pergi ke perusahaan atau kemana-mana karena mengurus istrinya yang tidak mau menjauh darinya.


Bahkan hpnya ia tidak pernah mengecek karena jika ada yang mencarinya mereka akan menemuinya di mansion.


~ D&A Resto ~


"Katanya mau makan sayang?" tanya Denis dengan suara lembut melihat istrinya tidak menyentuh makanan didepannya sejak 10 menit lalu.


"Aku tidak mau lagi sayang" jawab Leila dengan singkat.


"Kenapa?" tanya Denis lagi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Leila menunduk seakan sedang memikirkan sesuatu, melihat istrinya yang ragu ingin mengatakan sesuatu Denis segera mengangkat dagunya sehingga mata mereka bertemu.


"Katakan saja apa yang kamu mau sayang" ucap Denis sambil mengelus pipi Leila dengan lembut.


"Aku mau makan kalau kamu yang memasak" ucap Leila dengan takut.


"Yakin sayang?" tanya Denis dengan tatapan sulit diartikan.


"Heemmm" deham Leila sambil mengangguk kepalanya dengan semangat.


Denis tersenyum tipis memikirkan apa yang harus ia lakukan pasalnya ia tidak bisa masak. Tapi demi istrinya yang sedang ngidam ia akan melakukan apapun untuk keduanya.


"Kamu tunggu disini ya sayang. Nanti aku suruh Anisa mengantar kue black forest untukmu sambil menunggu aku masak" ucap Denis dengan suara lembut.


"Iya sayang"


Denis segera berlalu pergi dengan kening berkerut keluar dari ruang VIP 1. Tak berselang lama setelah kepergian Denis, Anisa masuk membawa kue black forest untuknya.


Sampai di dapur restoran Denis melihat sang mama yang juga ada disana. Ia lalu memberitahu namanya tentang keinginan istrinya.


"Kalau begitu kamu buat saja yang simpel dan gampang nak" usul Amira.


"Tapi mama ajari ya" ucap Denis.


"Iya nak"


Amira lalu menyuruh pak Roni menyiapkan bahan-bahan untuk membuat nasi goreng dan omlet.


Dengan fokus Denis mendengar semua arahan sang mama. Setelah paham Denis segera memasak untuk istrinya, sedangkan Amira kembali sibuk membuat masakan pesanan pelanggan.


1 Jam kemudian


Leila yang sudah bosan menunggu suaminya memilih untuk menghampiri suaminya di dapur. Sampai di dapur ia kaget melihat dapur yang sangat berantakan dan kotor.

__ADS_1


Sedangkan mama mertuanya sedang memijit kepalanya melihat kondisi dapur yang sangat berantakan.


"Pak Roni jangan terima lagi pelanggan" titah Amira dengan suara tegas.


"Baik nyonya" jawab pak Roni.


"Ma ini kenapa bisa seperti ini?" tanya Leiala.


"Tanyakan saja pada suamimu nak. Mama sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kepala mama rasanya mau pecah melihat ulah suamimu itu" jawab Amira ambil memijit kepalanya yang berdenyut.


Leila tak bertanya lagi karena tahu mama mertua sedang kesal. Ia lalu menghampiri suaminya dan menggelengkan kepalanya melihat suaminya yang sedang memarahi pelayan dan koki.


"Sayang cukup" tegas Leila.


Denis berbalik melihat istrinya dan tersenyum tanpa beban. Wajan gosong, telur gosong yang sangat banyak disana membuat kepala Leiala seketika berdenyut sakit.


"Apa kamu sudah selesai masak sayang?" tanya Leila dengan tatapan tajam.


"Ini lagi sementara sayang. Aku mau buat omlet buat kamu dan nasi goreng tapi dari tadi telurnya selalu gosong sayang" jawab Denis dengan santai.


Aku tidak akan menyuruh suamiku masak lagi mulai detik ini, batin Leila.


Denis tersenyum lebar membaca pikiran sang istri, ia memang jago di dunia bisnis dan dunia gelap tapi tidak jago dalam dapur.


Leila membawa suaminya pergi dari sana dan menyuruh pak Roni dan pelayan untuk membersihkan kekacauan yang dibuat suaminya.


"Kamu harus memberikan bonus kepada semua pelayan dan koki hari ini karena sudah membereskan kekacauan yang kamu lakukan sayang" ucap Leila dengan tatapan tajam.


"Iya sayang" ucap Denis tak protes.


"Lalu bagaimana dengan makanan yang kamu mau aku masakin sayang?" tanya Denis dengan cepat.


"Baby kita sudah tidak mau lagi. Memangnya papa mau beri baby kita telur gosong tadi" ketus Leila dengan kesal.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Hehehehe.............


Denis terkekeh menatap istrinya yang menatapnya dengan tatapan tajam. Ia memeluk sang istri dengan erat sambil mengelus kepalanya dengan lembut.


"Maaf ya sayang karena tidak bisa membuat makanan untukmu dan baby" ucap Denis dengan suara lembut.


"Tidak apa-apa sayang tapi sebagai gantinya aku mau makan ikan bakar sambil menikmati pemandangan laut di pinggir pantai sayang" ucap Leiala dengan cepat.


"Ayok kita ke sana" ajak Denis tidak mau membuat istrinya kelaparan lagi.


Keduanya segera pergi dari sana tak lupa menyuruh Sandro untuk memberikan bonus kepada semua pekerja restoran mamanya.


Baru saja Denis dan Leila pergi dari restoran, bertepatan dengan mobil Pablo yang memasuki halaman parkir restoran.


"Buat apa kita kesini?" tanya Steven dengan suara dingin.


"Ya makanlah om. Memangnya ke restoran mau ngapain!" ketus Geby.


"Geby" ucap Pablo memperingati putrinya karena berbicara kasar.


Geby mencebik kesal dengan bibir manyun melihat daddynya. Ia segera pergi dari parkiran sambil menghentak kakinya memberitahu kalau ia sedang kesal.


Brugh..............


"Geby" pekik Pablo dengan kaget saat melihat putrinya terjatuh di tanah karena bertabrakan dengan seseorang.


"Kalau jalan itu lihat-lihat bocah!" bentak Salim Rasyid yang baru keluar dari restoran dengan kesal.


"Sayang kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Pablo dengan cemas sambil membantu putrinya berdiri.


"Pantat aku sakit daddy" adu Geby.


Pablo menatap orang yang sudah membuat putrinya kesakitan dengan tatapan membunuh. Salim sendiri juga membalas tatapan Pablo tidak takut sama sekali, apa lagi ia datang dengan pengawalnya.


"Apa lihat-lihat pak tua?" tanya Salim dengan ketus.


"Berengsek! Aku akan membunuhmu anak muda karena sudah membuat putriku kesakitan!" bentak Pablo dengan emosi.


Eeheeemm..............


Deham Steven mengagetkan keduanya yang sedang bersih tegang. Salim kaget menatap Steven karena mengenalinya, tak berkata apa-apa Salim segera pergi dari sana tidak mau mencari masalah dengan Steven.


Baru saja Salim ingin menghampiri mobilnya tiba-tiba ia menabrak seseorang karena tidak memperhatikan jalan.


"Berengsek! Apa kamu tidak punya mata bangsat!" bentak Salim dengan emosi.


Bugh...................brak...............


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..................

__ADS_1


__ADS_2