Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 138


__ADS_3

Simon berteriak kesetanan saat keluar dari ruangan daddynya. Dadanya naik turun tak habis pikir dengan pikiran daddynya yang ingin menjodohkan adiknya dengan pria seusia daddynya.


"Aku tidak akan membiarkan daddy menghancurkan masa depan kedua adik aku" ucap Simon dengan emosi.


Ia segera pergi dari sana membuat sekertaris Roy menatap putra direktur mereka sekaligus wakil direktur di Martinez Company dengan heran.


"Tidak ayah, anak semuanya sangat menakutkan jika sedang marah" gumam sekertaris Roy dengan suara pelan.


Setelah kepergian Simon tak berapa lama Justin Massimo tiba ingin bertemu dengan Roy. Sekertaris Roy segera memberitahu kedatangan rekan kerja mereka kepada Roy.


"Aku kira kamu akan lama disana" ucap Justin saat masuk ke dalam ruangan Roy.


"Kamu tidak akan percaya apa yang aku alami disana" balas Roy sambil tersenyum sinis.


"Kalau begitu ceritakan kepadaku" ucap Justin sambil tersenyum smirk.


Roy lalu menceritakan semua yang terjadi kepadanya dan keluarganya saat berada di Indonesia. Ia juga menceritakan perlakuan Denis kepada putrinya Seina.


"Dia memang keturunan kakak aku Demian" ucap Justin sambil tersenyum penuh arti.


"Ya kamu benar. Aku pikir dia hidup dengan perempuan miskin itu jadi sifatnya pasti sama seperti perempuan itu tapi siapa sangka ternyata sifat keras kepala dan arogan Demian lebih dominan dalam tubuh anak sialan itu!" papar Roy dengan tatapan penuh kebencian saat menyebut nama Denis.


"Jadi apa kamu sudah menyiapkan rencana balas dendam untuk anak sialan itu?" tanya Justin sambil tersenyum smirk.


Roy menatap Justin sambil tersenyum menyeringai membuat Justin semakin tersenyum lebar karena tahu jika Roy sudah menyiapkan rencana balas dendam untuk keponakannya.


"Kamu memang tidak pernah berubah Roy Martinez! Masih licik seperti dulu!" ucap Justin.


"Dunia ini keras Justin! Hanya orang kuatlah yang bisa bertahan di dunia ini" balas Roy dengan sombong.


"Ya kamu benar"


"Lalu kapan kamu akan mulai rencanamu?" tanya Justin.


"Kamu tunggu saja kabarnya"


"Oke. Tapi ingat jangan sampai membunuhnya karena kita masih butuh dia jika ingin mendapat uang milik Demian" ucap Justin memperingatinya.


"Ya aku tahu" balas Roy dengan suara dingin.


Ternyata Justin dan Roy bekerja sama ingin mengambil uang peninggalan Demian yang ia simpan sejak masih di bangku kuliah.


Uang itu hanya bisa di cairkan saat ia berumur 35 tahun tapi sayangnya dia meninggal sebelum berumur 35 tahun. Setelah kematiannya uang tersebut hanya bisa di ambil oleh anak kandungnya.


Oleh sebab itu keluarga Massimo sangat ingin mendapatkan uang tersebut sehingga bekerja sama dengan Roy.


1 Minggu kemudian


~ Jakarta, Indonesia ~


Hari ini adalah hari pernikahan Ando dan Ara yang diselenggarakan di Baker Hotel.


Sandro saat ini sedang berbicara dengan rekan kerja Denis yang diundang ke acara tersebut. Denis sendiri sedari tadi berdiri bersama dengan kekasihnya menemaninya bertemu rekan kerjanya.


"Sayang aku ke tempat Arkan ya" bisik Leila.


"Kenapa?" tanya balik Denis dengan suara lembut.


"Kaki aku sakit karena terlalu lama berdiri sayang" jawab Leila dengan suara pelan.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis tak berbicara lagi dan segera membawa Leila ke kursi yang disiapkan untuk mereka. Ia tidak perduli dengan rekan kerjanya yang sedang berbicara dengannya karena menurutnya Leila lebih penting.


"Apa kamu mau makan sayang?" tanya Denis dengan suara lembut.


"Aku belum terlalu lapar sayang" jawab Leila.


Denis lalu meminta pelayan membawa segelas jus jeruk untuk Leila dan juga cemilan. Sedangkan ia menikmati segelas anggur yang disiapkan Sandro untuknya.


"Bos ada sesuatu yang ingin aku beritahu" bisik Arsen.


"Arkan" panggil Denis dengan suara dingin.


"Iya bos" jawab Arkan yang sedang berbincang dengan sepupu Sandro.


"Temani kakakmu dan jangan pernah pergi dari sisinya" titah Denis dengan suara tegas.


"Loh kamu mau kemana sayang?" tanya Leila dengan cepat.


"Ada yang harus aku bahas dengan Arsen sayang" jawab Denis dengan suara lembut.


Cup............


Denis mengecup bibir Leila sebelum pergi bersama Arsen. Sedangkan Arkan ia segera mengambil tempat di samping kakaknya seperti perintah Denis tadi.


"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin saat tiba di taman hotel.


"Ada beberapa pengikut direktur Abraham yang ingin menurunkan posisi nona Leila dari kursi jabatan bos" jawab Arsen sambil memberikan iPad kepada Denis.


Denis menerima iPad tersebut dan menonton cctv yang merekam percakapan 3 orang di tangga darurat.


"Besok bos" jawab Arsen.


"Ikuti saja rencana mereka besok" titah Denis.


"Apa tidak apa-apa bos?" tanya Arsen tak setuju.


"Aku ingin lihat sampai ia mana mereka akan berusaha menjatuhkan Leila. Bukannya ini waktu yang tepat untuk mengetahui siapa saja yang menjadi musuh didalam perusahaan kekasihku" papar Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Baiklah bos kalau begitu aku akan memantau mereka saja" ucap Arsen yang paham maksud Denis.


"Bagaimana dengan pak tua itu?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Dia sedang merencanakan sesuatu dengan adik tuan besar bos. Entah apa yang mereka rencanakan aku belum mendapat informasinya bos" jawab Arsen.


"Suruh mata-mata kita pergi dari sana tidak usah mematainya lagi" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos"


"Ah! Kamu cari tahu mengenai keberadaan enek aku saat ini dan bagaimana keadaannya" ucap Denis dengan tatapan tajam.


"Apa bos akan menerima keluarga Massimo?" tanya Arsen dengan penasaran.


"Hanya nenek aku saja karena aku ingat dulu papa sering bercerita tentang nenek yang selalu melindungi papa dan nenek adalah orang yang menantang sialan itu mengusir papa" jawab Denis dengan emosi mengingat masa lalu papanya.


"Baik bos aku akan segera mencari tahu" balas Arsen dengan suara dingin.


Keduanya kembali masuk ke dalam ballroom hotel untuk mengikuti acara pernikahan Ara dan Ando. Padahal lusa Ando akan di panggil pihak kepolisian untuk di interogasi.

__ADS_1


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan hari sudah berganti. Seperti pembicaraan Arsen dan Denis semalam tentang pengikut direktur Abraham, jika hari ini mereka akan membuat kekacauan di BakerTech.


~ BakerTech ~


Leila kaget bukan main saat Alin masuk ke dalam ruangannya dan memberitahu tentang rapat eksekutif yang akan diadakan besok.


"Dalam hal apa mereka mengadakan rapat eksekutif besok Alin?" tanya Leila dengan penasaran.


"Saya tidak tahu presdir. Tapi menurut rumor yang beredar di grup perusahaan jika rapat besok akan membahas kinerja presdir yang melanggar etiket perusahaan" jawab Alin menjelaskan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Apa! Memangnya apa yang aku lakukan selama ini sehingga mereka mengadakan rapat eksekutif" pekik Leila dengan emosi.


"Jadi apa yang harus saya lakukan presdir?" tanya Alin dengan khawatir.


"Tetap siapkan rapat besok nanti. Aku akan menghendel rapat besok dan ingin mencari tahu sendiri siapa yang berani melakukan ini semua kepadaku" jawab Leila dengan suara tegas.


"Baik presdir"


Alin segera bergegas keluar dan segera mengurus persiapan untuk rapat besok. Sedangkan Leila ia segera menelpon kekasihnya untuk memberitahu hal ini.


"Halo sayang" ucap Denis dari sebrang.


^^^"Sayang apa kamu sudah mendengar kabar yang terjadi di perusahan saat ini?" tanya Leila.^^^


"Ya aku sudah dengar sayang" jawab Denis.


^^^"Aku tidak sak habis pikir mereka bisa mengadakan rapat eksekutif hanya untuk membahas etiket aku yang merusak citra perusahaan" keluh Leila dengan kesal.^^^


"Jangan terlalu di pikirkan sayang. Kamu cukup besok datang dan ikuti alurnya saja biarkan aku yang mengurus semuanya" papar Denis menjelaskan.


^^^"Apa maksudmu sayang? Apa yang kamu rencanakan?" tanya Leila dengan cepat.^^^


"Kamu akan tahu besok sayang" jawab Denis sambil terkekeh.


^^^"Baiklah sayang"^^^


Leila segera menyimpan kembali hpnya setelah panggilannya di matikan sepihak oleh Denis. Entah kenapa ia tidak merasa tidak takut lagi setelah mendengar ucapan Denis barusan.


~ DA Corp ~


Denis menatap Arsen dan Sandro didepannya dengan tatapan dingin dan tajam membuat keduanya menelan saliva mereka dengan susah.


"Kamu sudah dapat lokasi sialan itu?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Sudah bos" jawab Arsen.


"Aku mau mereka sudah berada di Indonesia sebelum rapat dimulai" titah Denis dengan suara tegas.


"Baik bos" jawab Arsen segera berkutat dengan iPadnya.


Denis tersenyum menyeringai memikirkan orang yang tadi ia perintahkan untuk bawa ke sini besok dan ia yakin pasti orang tersebut akan sangat marah.


Ini akibatnya karena susah membuat kekasihku kesulitan, batin Denis sambil tersenyum penuh arti.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..............

__ADS_1


__ADS_2