
Amira langsung mendorong Steven hingga pelukan mereka terlepas. Ia menatap anaknya dengan takut karena melihat apa yang mereka pelukan barusan.
"Denis" panggil Amira dengan suara pelan.
"Mama belum lupa kan apa yang aku katakan waktu itu" ucap Denis dengan suara dingin.
"Denis jangan marah sama mama kamu. Ini semua salah om karena sudah memaksa memeluk mamamu" ucap Steven dengan cepat.
Ia tidak mau Amira sampai di marahi oleh Denis karena memang ia yang salah. Seandainya tadi ia bisa menahan diri pasti ini semua tidak akan terjadi.
"Diam kamu sialan! Aku tidak bicara dengan kamu!" bentak Denis dengan suara tinggi.
"Bos tenangkan dirimu. Orang-orang bisa mendengar suara bos" ucap Sandro memberitahu karena mereka saat ini masih dalam area ballroom hotel.
"Ckk!!" decak Denis dengan kesal.
"Nak" panggil Amira dengan suara pelan.
"Mama sudah melupakan papa" balas Denis dengan tatapan kecewa.
"Tidak nak..........hiks hiks hiks...........dengerin dulu penjelasan mama nak........hiks hiks hiks" ucap Amira sambil menangis.
"Cukup ma. Kita bicarakan setelah ini di kamar istriku" ucap Denis dengan suara tegas.
"Nak..........hiks hiks hiks" panggil Amira sambil memegang tangan putranya.
"Suruh Andre antar mama aku ke kamar istriku" titah Denis dengan suara dingin.
"Baik bos" ucap Sandro.
Denis berlalu pergi dari sana sambil menahan emosinya agar tidak kelepasan. Ia berjalan menuju sang istri karena hanya Leila saja yang bisa meredakan emosinya saat ini.
"Amira" ucap Steven merasa sedih melihat Amira yang sedang menangis.
"Puas kamu! Puas kamu sudah buat hubungan aku dan anak aku seperti ini!" bentak Amira dengan emosi.
"Maafkan aku Amira. Aku mengaku salah tapi aku melakukan itu semua karena aku mencintaimu Amira" ucap Steven dengan jujur.
Deg.............
Jantung Amira berdetak dengan cepat mendengar ucapan Steven yang mengatakan cinta padanya. Air matanya terus mengalir tidak tahu harus melakukan apa karena saat ini ia sangat bingung.
"Pergi kamu........ hiks hiks hiks.........aku mohon jangan membuat hubungan aku dan anakku seperti ini........hiks hiks hiks" lirih Amira sambil menangis histeris.
"Amira aku tidak berniat membuat hubunganmu dan Denis jadi seperti ini. Aku mohon jangan menyuruhku untuk pergi dari kamu Amira" ucap Steven dengan mata berkaca-kaca.
"Baiklah! Kalau begitu biar aku yang pergi" ucap Amira dengan suara tegas.
"Amira" ucap Steven dengan lirih.
"Nyonya" panggil Andre pengawal pribadi Amira.
Amira dan Steven menoleh melihat siapa yang memanggilnya. Melihat Andre pengawalnya dengan cepat Amira segera pergi di kawal oleh Andre meninggalkan Steven dengan perasaan hancur disana.
Aku tidak akan melepaskan kamu Amira. Samapi mati pun aku tidak akan pernah menyerah, batin Steven penuh tekad.
Jika saja Pablo melihat Steven saat ini, pasti ia akan kaget karena untuk pertama kalinya Steven berbicara dengan suara lembut dan tidak irit bicara seperti biasanya.
Tak jauh berbeda dengan kondisi Steven dan Amira, saat ini di taman hotel Arsen sedang beradu mulut dengan Geby yang terus memaksanya untuk meninggalkannya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Ka aku mohon tolong tinggalkan aku sendiri ka" lirih Geby dengan tak bertenaga.
"Tidak! Aku tidak akan pergi dari sini" balas Arsen dengan suara tegas.
Phew............
Geby membuang napasnya dengan kasar tak tahu harus berkata apa lagi kepada Arsen. Ia tidak mau lagi bertemu dengan Arsen karena itu akan membuatnya susah untuk melupakan Arsen.
Ka apa sih sebenarnya mau kamu, batin Geby menatap Arsen dengan tatapan sendu.
Geby membelakangi Arsen karena air matanya akan jatuh. Ia tidak mau sampai Arsen melihatnya menangis, padahal tanpa ia sadari ternyata Arsen tahu kalau ia akan menangis.
Maafkan aku yang baru menyadari perasaan aku Geby, batin Arsen dengan sedih.
Ia tidak tahu harus berbuat apa karena ia bukanlah laki-laki romantis. Apa lagi ia belum pernah berpacaran selama ini.
Ayok Arsen berpikir jangan diam saja, batin Arsen merutuk kebodohannya.
Grep................
Geby kaget saat Arsen tiba-tiba memeluknya dari belakang. Air matanya yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga dengan deras.
"Aku mencintaimu Geby Ulrico" bisik Arsen dengan suara lembut.
Hiks..........hiks..........hiks.........hiks.........
Tangis Geby semakin pecah mendengar pengakuan Arsen barusan. Ada rasa bahagia di hatinya mendengar pernyataan cinta dari orang yang ia sukai selama ini.
__ADS_1
Ternyata perasaannya terbalas tapi ia juga mengingat kalau Arsen sudah di jodohkan. Ia tidak tahu harus senang atau sedih di waktu bersamaan.
Arsen membalik tubuh Geby dan memeluknya dengan erat. Ia membiarkan Geby menangis dalam pelukannya sambil mengelus punggung Geby dengan lembut.
Tak jauh dari mereka ternyata Pablo dan Gio melihat apa yang sedang terjadi dengan keduanya. Pablo menatap Arsen dengan emosi merasa marah melihat putrinya menangis karena Arsen.
"Bangsat! Beraninya bocah itu membuat putriku menangis!" bentak Pablo dengan emosi.
"Jangan ganggu mereka daddy" ucap Gio sambil menahan tangan Pablo yang hendak menghampiri keduanya.
"Apa maksudmu Gio? Apa kamu akan diam saja melihat adikmu menangis karena bcah sialan itu?" tanya Pablo dengan suara tinggi.
"Bocah sialan yang daddy maksud adalah orang yang di cintai adikku" jawab Gio dengan suara tegas.
"Apa" ucap Pablo dengan kaget.
Otaknya tiba-tiba blank tak bisa berpikir apa-apa saat mendengar ucapan putranya. Gio menatap daddynya sambil mengangguk kepala memberitahu kalau apa yang ia katakan barusan adalah benar.
"Sejak kapan?" tanya Pablo dengan suara dingin.
"Sejak daddy mengenalkan keduanya" jawab Gio dengan jujur.
"Sialan" umpat Pablo sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Ia tidak menyangka kalau ia adalah orang yang berperan besar dalam hal ini. Dia adalah orang yang mengenalkan keduanya waktu itu dan ia tidak menyangka karena pertemuan itu putrinya akan menyukai Arsen.
Aku tidak menyangka putriku akan menyukai orang yang lebih tua darinya. Apa lagi umur mereka berbeda 10 tahun, batin Pablo dengan gusar.
"10 tahun perbandingan umur mereka Gio" keluh Pablo sambil memijit keningnya yang tiba-tiba sakit.
"Cinta tidak memandang umur dad" balas Gio dengan suara dingin.
"Hah! Bicara sama kamu tidak ada gunanya" keluh Pablo memilih masuk kembali ke dalam ballroom.
Gio acuh saja melihat daddynya karena ia tidak mau ambil pusing. Ia tidak mau memikirkan hal yang bikin kepalanya sakit, karena saat ini ia sudah pusing dengan urusan perusahaan dan markas.
Kakak akan mendukungmu dek jika Arsen adalah kebahagiaan kamu dek, batin Gio dengan tulus.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
1 Jam kemudian
Geby menunduk sambil meremas kedua tangannya merasa sangat malu karena sudah membuat jas Arsen basah.
Rasanya ia ingin hilang saja karena tak bisa melihat wajah Arsen. Meski Arsen biasa saja tapi tidak dengan Geby yang merasa sudah melakukan kesalahan.
"Maaf untuk apa?" tanya Arsen dengan suara dingin.
"Itu jas ka Arsen" jawab Geby sambil menunjuk jas yang dipakai Arsen.
"Oh" balas Arsen singkat.
Dengan santai Arsen membuka jasnya dan melempar ke dalam tong sampah. Mata Geby melotot melihat apa yang dilakukan Arsen barusan, ia tidak menyangka Arsen akan membuang jasnya karena dia.
Segitu jijiknya ka Arsen sama aku ya, batin Geby dengan sedih.
"Aku akan mengganti jas ka Arsen dengan yang baru" ucap Geby dengan suara bergetar.
"Ganti?" tanya Arsen dengan bingung.
"Aku tahu kakak jijik sama aku makanya ka Arsen buang jas itu" jawab Geby.
Phew...........
Arsen membuang napasnya deham kasar mendengar ucapan Geby yang sudah salah paham kepadanya.
"Baiklah kalau kamu ingin mengantinya" ucap Arsen.
"Berapa harga jas ka Arsen?" tanya Geby.
"Aku tidak mau ganti dengan uang atau jas yang baru" jawab Arsen membuat Geby menatapnya dengan bingung.
"Lalu aku harus ganti dengan apa ka?" tanya Geby.
"Kamu" jawab Arsen singkat.
"Eh! Aku" ucap Geby dengan kaget sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Heemmm" deham Arsen sambil mengangguk kepalanya.
"Tapi aku bukan makanan atau barang ka. Masa ka Arsen minta aku sebagai gantinya" ucap Geby dengan bingung.
"Yang bilang kamu makanan atau barang siapa?" tanya Arsen.
"Lah terus maksud ka Arsen apa coba. Kan ka Arsen mintanya aku sebagai gantinya jadi otomatis aku bakal di jadikan makanan atau pajangan kan ka" jawab Geby dengan cepat.
Tuk..........
"Ka Arsen" pekik Geby dengan kesal saat Arsen menjentiknya di kening dengan kuat.
__ADS_1
"Jangan terlalu banyak nonton drama yang tidak jelas lagi biar otakmu tidak bodoh" ketus Arsen dengan sinis.
"Ckk!! Suka-suka aku dong ka! Memangnya kakak siapanya aku buat ngelarang aku" balas Geby sinis.
"Mulai sekarang kamu jadi pacar aku dan aku tidak menerima penolakan" ucap Arsen dengan suara tegas tak mau bantahan.
Hah...............
Geby melongo mendengar ucapan Arsen yang memaksanya untuk menjadi pacarnya.
"Ini bukan pernyataan cinta tapi pemaksaan" ketus Geby sambil memanyunkan bibirnya kesal.
"Sama saja baby. Intinya kamu jadi pacar aku! Hehehehe" ucap Arsen sambil terkekeh.
"Siapa bilang aku mau jadi pacar ka Arsen" sarkas Geby dengan mata melotot.
Cup..............
Arsen mencium bibir Geby membuat pemiliknya kaget bukan main. Tubuhnya seketika lemas tak bertenaga merasakan bibir hangat Arsen yang hanya menempel di bibirnya.
"Ciuman pertama aku" ucap Geby dengan kaget.
"Itu juga ciuman pertama aku baby" bisik Arsen sambil memeluk pinggang Geby dengan erat.
Arsen kembali mempertemukan bibir mereka, melihat Geby hanya diam saja ia semakin memperdalam ciumannya membuat Geby syok tak bisa berbuat apa-apa.
"Manis" ucap Arsen setelah ciuman. keduanya terlepas.
"Ka Arsen" ucap Geby dengan syok.
"Aku mencintaimu Geby Ulrico" ucap Arsen sambil tersenyum manis.
"Aku juga ka" balas Geby dengan malu-malu.
"Omong yang jelas baby" bisik Arsen.
"Aku juga cinta sama ka Arsen" balas Geby dengan wajah merona.
"Iya baby girl"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Malam itu Arsen dan Geby sangat bahagia karena sudah mengutarakan perasaan masing-masing.
Geby tidak perduli lagi dengan perjodohan Arsen waktu itu karena saat ini ia sangat bahagia memikirkan Arsen yang juga memiliki perasaan yang sama dengannya.
Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa pesta pernikahan Rayen dan Claudia sudah selesai dari 1 jam yang lalu.
Saat ini Denis baru saja membersihkan diri dan keluar hanya memakai bathrobe. Bibirnya terangkat melihat sang istri yang sudah tertidur pulas di atas ranjang.
"Mimpi indah istriku" bisik Denis sambil mencium kening Leila dan bibirnya.
Denis lalu beranjak keluar dari kamar karena ingin menemui sang mama yang sedari tadi menunggunya di ruang tamu dalam kamar prisedent suit.
"Denis" panggil Amira dengan gugup.
"Keluar" ucap Denis dengan suara dingin menatap Andre.
"Baik bos" balas Andre sambil membungkuk dan keluar.
Amira duduk dengan tidak tenang merasa tatapan putranya yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Sedangkan Denis sendiri ia berpangku kaki sambil bersedekap tangan di dada menatap sang mama.
"Mama tahu apa kesalahan mama?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Mama tahu nak. Tapi mama berani sumpah kalau mama tidak melakukan apa-apa dengan uncle Steven nak" jawab Amira dengan jujur.
"Mama mencintainya?" tanya Denis to the ponit.
Amira diam tidak menjawab pertanyaan Denis karena ia bingung, jika ia menjawab ya pasti ia akan merasa sangat bersalah. Jika ia menjawab tidak berarti ia membohongi perasaannya sendiri.
"T.....Idak" lirih Amira dengan suara pelan sambil menunduk.
"Aku bukan anak kemarin ma. Apa mama pikir aku bakal percaya gitu aja sama ucapan mama barusan?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Denis" panggil Amira dengan mata berkaca-kaca.
"Mama sudah melupakan papa kan. Aku kasihan sama papa ma" balas Denis dengan tatapan penuh kekecewaan.
"Hiks hiks hiks............Denis dengerin dulu penjelasan mama nak........hiks hiks" ucap Amira sambil menangis.
"Kalau begitu jelaskan" tegas Denis dengan tatapan tajam.
"Sampai mati pun papa kamu tidak akan pernah digantikan oleh siapapun dalam hati mama nak. Papa kamu adalah cinta pertama mama dan hanya ada nama papa kamu di hati mama nak" papar Amira menjelaskan dengan suara tegas.
"Berarti papa bukan cinta terakhir mama" ucap Denis dengan suara dingin.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..............
__ADS_1