Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 151


__ADS_3

Adrian terjatuh di lantai saat Denis tiba-tiba menendangnya. Sandro, Arkan, Arsen, dan Rian tercengang tak menyangka bos mereka akan menendang Adrian.


Tak ada hujan atau angin Denis tiba-tiba saja menendangnya membuat ia syok. Adrian di bantu Arkan dan Sandro berdiri tapi matanya menatap Denis dengan marah.


"Apa maksudmu sialan?" tanya Adrian dengan emosi.


"Sekali lagi kamu berpikir jelek tentang aku maka aku tidak segan-segan mengeluarkan otak kecilmu itu" ancam Denis dengan suara dingin.


Glek.............


Adrian menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan Denis yang tidak main-main.


Pikirannya blank tidak bisa berpikir mendengar ucapan Denis dan melupakan dari mana Denis bisa mengetahui apa yang ia pikirkan.


"Kamu memang sahabat bangsat!" maki Adrian dengan kesal.


Adrian menghentakkan kakinya memperlihatkan protesnya kepada Denis karena tidak bisa membalas tendangan Denis barusan.


Ia pergi dengan kesal sambil menggerutu membuat semuanya disana tidak menyangka akan melihat sifat lain seorang Adrian Castel.


"Kamu jelek jika seperti itu" ejek Denis.


"Biarin!" balas Adrian dengan sinis.


"Benar yang dikatakan bos ka Adrian. Muka ka Adrian jelek kalau kayak gitu" timpal Arkan dengan wajah polos.


"Tutup mulutmu bocah!" hardik Adrian dengan suara tinggi.


Arkan mencebik bibirnya dengan kesal sambil menatap Arsen sinis. Keduanya saling menatap dengan tatapan sinis seperti sedang berkelahi satu sama lain lewat mata.


"Dimana orang itu?" tanya Denis dengan suara dingin saat di dalam lift.


"Lantai dua sedang bermain poker" jawab Adrian.


"Kamu akan kaget saat melihat siapa yang menjadi lawan main dia" tambahnya lagi dengan cepat.


"Memangnya siapa yang bermain dengan dia Adrian?" tanya Sandro yang sedari tadi diam.


"Kalian akan tahu nanti" jawab Adrian sambil tersenyum menyeringai.


Ting...............


Lift berhenti di lantai dua membuat mereka semua segera memakai topeng sebelum keluar dari dalam lift.


Adrian menatap Denis memberi isyarat lewat matanya memberitahu dimana posisi orang yang tadi ia suruh awasi.


"Berpencar" ucap Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap semuanya dengan serentak.


Saat Arkan akan keluar dari lift Denis berbalik menatapnya dengan tatapan dingin membuat langkahnya terhenti dan tak jadi keluar.


Ia menekan tombol 5 menuju ruangan Adrian sesuai perintah Denis tadi di markas. Sepanjang jalan bibirnya komat-kamit mengumpat Denis yang tidak mengijinkannya bertemu dengan Lewis Hamilton.


Sedangkan di lantai dua Denis menyesap wiski dengan tatapan tak pernah lepas dari meja nomor 4. Bibirnya tersenyum smirk di balik topeng melihat Lewis Hamilton yang tidak hanya bermain saja tapi ada sesuatu yang sedang mereka bahas.


Denis melirik Sandro dan Arsen memberi mereka isyarat untuk bergabung bermain dengan mereka. Saat keduanya sampai Lewis lalu berdiri sudah tidak ingin bermain lagi.


Lewis berjalan menuju ke arah Denis dan mengambil tempat di sofa yang berseberangan dengan Denis.


Matanya melirik Denis dari atas ke bawah dengan teliti memindai barang yang ada di tubuh Denis.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Biasanya orang yang menatap aku lebih dari 5 detik tidak akan ada lagi di dunia ini besok pagi" ucap Denis dengan suara dingin.


"Maaf jika aku membuat anda tidak nyaman. Aku hanya penasaran saja kenapa orang seperti anda tidak ikut bermain dan memilih duduk di sini" ucap Lewis sambil tersenyum lebar.


"Apa itu masalah buat anda" balas Denis dengan aura kekuasaan.


Dia bukan orang sembarang, batin Lewis.


Lewis merasa jika orang disampingnya ini bukanlah orang sembarang karena auranya seperti aura seorang penguasa. Ingin sekali ia melihat wajah di balik topeng itu tapi itu tidak mungkin.


"Jadi apa yang membuatmu datang kesini?" tanya Lewis basa-basi.


"Sama seperti tujuanmu kesini" jawab Denis dengan suara dingin.


"Hahahaha.............menarik" ucap Lewis sambil tertawa.


"Baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti anda tuan. Tapi alangkah baiknya tujuan anda kesini beda dengan tujuan saya karena tujuan saya sangat beresiko" tambahnya lagi dengan tatapan membunuh.


Denis menatapnya sambil tersenyum menyeringai meski tidak bisa dilihat oleh Lewis. Meskipun begitu Lewis tahu jika orang didepannya saat ini sedang tersenyum mengejek kepadanya.


"Riski Akbar. Aku tahu siapa yang membunuhnya dan dimana dia sekarang" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.


Mata Lewis Hamilton melotot kaget mendengar ucapan Denis yang mengatakan tujuannya datang ke sini.


Denis bangun sambil merapikan jasnya dan pergi meninggalkan Lewis. Melihat Denis sudah pergi dengan cepat Lewis bangkit berdiri dan menyusulnya.


Grep..................


"Siapa kamu?" tanya Rian menangkap tangan Lewis saat ingin menarik jas Denis.


"Beraninya tangan kotormu itu ingin menyentuh tubuh bosku" bentak Rian dengan suara tinggi.


Denis berbalik menatap keduanya dengan tatapan datar lalu kembali melanjutkan langkahnya pergi tidak perduli dengan mereka yang seperti akan berkelahi.


"Bos" panggil Sandro dan Arsen.


"Suruh Rian bereskan sialan itu sebelum kesabaran aku hilang" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos"


Lewis menatap kepergian Denis dengan tatapan yang sulit diartikan saat melihat ia berbicara dengan dua orang yang tadi bermain menggantikannya di meja poker.


Aku rasa ada sesuatu yang mencurigakan dari orang itu, batin Lewis dengan tatapan tajam.


~ Imperial Kingdom ~


Denis memilih pulang ke penthouse dan sampainya di penthouse ia segera ke lantai dua menuju kamar utama.


Saat masuk ke dalam kamar bibirnya tersenyum manis melihat wanita yang dicintainya sedang tertidur lelap di atas ranjang king sizenya.


Cup..............


Denis mencium bibir Leila sebelum membersihkan tubuhnya. Ia tadi menyuruh Leila untuk menginap di penthouse karena ia masih merindukannya.


30 Menit kemudian Denis keluar dari kamar mandi memakai handuk sepinggan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Kring..............


Pandangannya lalu tertuju ke atas nakas saat hpnya berdering ada panggilan masuk.

__ADS_1


Nama Rayen Baker tertera dilayar hp dan Denis yakin pasti Rayen menelponnya untuk menanyakan tentang kedua adiknya.


^^^"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^


"Dimana kedua adik aku?" tanya Rayen dengan suara tinggi dari seberang.


^^^"Aku sedang bersama Leila di penthouse kalau Arkan aku tidak tahu dia dimana" jawab Denis dengan santai.^^^


"Apa? Fu*k! Buat apa Leila berada di penthouse kamu sialan" maki Rayen dengan suara menggelegar.


^^^"Memangnya kenapa jika dia berada di penthouse aku?" tanya balik Denis.^^^


"Jika kamu macam-macam dengan adik aku maka aku tidak segan-segan membunuhmu" ancam Rayen memperingati Denis.


^^^"Ckk!! Aku bukan penjahat kelamin seperti kamu" sarkas Denis dengan sinis.^^^


"Siapa yang kamu sebut penjahat kelamin sialan" bentak Rayen dengan emosi dari seberang.


^^^"Kamu berengsek"^^^


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis mematikan panggilannya sepihak tidak perduli jika Rayen akan marah karena panggilannya ia putuskan.


Ia segera naik ke ranjang dan memeluk Leila degan erat menyusul Leila yang sudah pulas.


~ Mansion Lewis Hamilton ~


Brak............


Lewis membanting pintu mobilnya dengan kuat merasa sangat kesal karena tadi ia dipermalukan di kasino Deluxe.


Ia tidak menyangka jika orang yang tadi menghadangnya bisa mempermalukan dirinya didepan tamu kasino.


Bagaimana tidak tadi Rian sengaja berbicara dengan suara keras menjelekkan namanya membuat dia tidak bisa memberi pelajaran kepadanya karena banyak pasang mata yang sedang melihat mereka.


"Cari tahu siapa bajingan itu" titah Lewis dengan emosi.


"Baik bos" jawab Mike tangan kanan Lewis.


"Ah! Jangan lupa cari tahu orang yang tadi duduk di sampingku. Aku yakin dia berhubungan dengan hilangnya temanku Riski" ucap Lewis dengan tatapan berkilat tajam.


"Baik bos" ucap Mike dengan sopan.


"Oh ya bos, Austin Smith sudah mengetahui lokasi kita sekarang" tambahnya lagi.


"Hehehe! Biarkan saja dia tahu karena sudah waktunya aku muncul di hadapannya" ucap Lewis sambil terkekeh.


"Iya bos"


"Jangan lupa cari tahu dimana keberadaan Marco juga" titah Lewis.


"Baik bos"


Mike bergegas pergi dari hadapan Lewis untuk segera melakukan perintah Lewis karena ia tahu besok pagi semua informasi yang ia minta harus sudah ada.


"Aku akan membalas semua orang yang berani melukaimu Riski" ucap Lewis dengan tatapan membunuh.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.............

__ADS_1


__ADS_2