Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 187


__ADS_3

Sampainya didalam kamar Simon segera mengunci pintu kamarnya lalu mengambil hpnya dan menelpon Sandro.


"Halo ka" ucap Sandro dari seberang.


^^^"Bagaimana kabar kalian dan kandungan Seila?" tanya Simon to the point.^^^


"Kami baik-baik saja ka. Kandung istriku juga baik-baik saja dan sudah masuk bulan ketiga" jawab Sandro dengan cepat.


^^^"Baguslah"^^^


"Heemmm"


^^^"Jaga diri kalian disana karena daddy semakin menjadi disini. Apa lagi barusan daddy menerima paket yang kalian kirim"^^^


"Ah! Jadi paket itu sudah sampai ya! Hehehehe" ucap Sandro sambil terkekeh.


^^^"Ya dan itu membuat daddy melampiaskan emosinya didalam ruang kerja"^^^


Hehehehe.................


Simon bisa mendengar jelas kekehan Sandro yang terdengar seperti mengejek daddynya dari seberang.


^^^"Beritahu Denis kalau daddy pasti akan mengirim pasukan elitenya kali ini" ucap Simon dengan suara tegas.^^^


"Memang seperti apa sih pasukan elite pak tua itu?" tanya Simon dengan penasaran.


^^^"Pak tua itu daddy mertuamu sialan!" hardik Simon dengan kesal.^^^


"Aku tidak perduli. Bukannya istriku sudah tidak menganggap dia sebagai daddynya lagi? Jadi buat apa aku harus menghormatinya?" tanya Sandro dengan ketus.


^^^"Suma-suka kamu saja Sandro" ketus Simon.^^^


"Heemmm! Tapi kamu belum menjawab pertanyaan aku kakak ipar"


^^^"Pasukan elite milik daddy adalah mantan tentara dan agen rahasia yang mengkhianati negera mereka" papar Simon menjelaskan.^^^


"Heemmm! Menarik"


^^^"Aku akan kirim data sebagian dari mereka yang aku tahu lewat email nanti"^^^


"Oke"


^^^"Jaga diri kalian semua disana Sandro terlebih adik dan calon ponakan aku" ucap Sandro dengan suara tegas.^^^


"Jangan khawatir aku akan menjaga keduanya dengan hidupku"


^^^"Ya aku percayakan mereka kepadamu"^^^


"Ya"


Simon lalu mematikan panggilannya sepihak dan segera membersihkan diri sebelum mengirim email berisi informasi mengenai pasukan elit milik daddynya.


~ Mansion tua Massimo ~


Plak..........plak..........plak.......plak...........


4 Tamparan bergema di samping mansion membuat semua orang kaget tak menyangka Alexandro akan menampar Martin sebanyak itu.


Bahakan Linda yang berada disana sampai menutup mulut melihat apa yang dilakuan suami. Meskipun begitu ia tidak mau membela atau menahan suaminya melakukan hal itu, karena menurutnya anaknya pantas mendapatkannya.


"Jadi kamu ingin membunuh anak kakakmu sendiri Martin!" bentak Alexandro dengan suara menggelegar.


"Kalau iya kenapa daddy? Bukannya daddy tidak menyukai dia apa lagi dia terlahir dari rahim perempuan miskin" teriak Martin dengan suara menggelegar.


"MARTIN MASSIMO!" bentak Linda dengan suara tinggi tak menyukai ucapan putranya.


"Kenapa mommy? Apa karena dia anak Demian jadi mommy membelanya?" tanya Martin sambil tersenyum sinis.


"Ya kamu benar. Denis adalah cucu mommy dan sampai kapanpun tidak akan berubah sama seperti anak-anak kamu dan anak-anak Laura" jawab Linda dengan suara tegas.


Hahahaha................


Tawa Martin menggelegar disana membuat Alexandro dan Linda menatapnya dengan bingung.


"Sampai kapanpun dia bukan bagian dari keluarga Massimo dan aku berjanji akan membunuhnya beserta perempuan miskin itu dengan tanganku sendiri!" bentak Martin dengan emosi.


"BERHENTI KAMU MARTIN. DADDY BELUM SELESAI BICARA! MARTIN MASSIMO" panggil Alexandro dengan suara menggelegar.


Seperti angin lalu Martin tidak menggubris panggilan daddynya dan terus melangkah pergi dari mansion orang tuanya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Phew...............


Alexandro membuang napasnya dengan kasar mengontrol emosinya saat ini. Linda yang melihat suaminya sangat emosi memegang tangannya dengan lembut.

__ADS_1


Meski ia masih marah dengan suaminya tentang anaknya Demian tapi ia pikir mau sampai kapan ia harus marah, lagian semuanya sudah terjadi dan tidak bisa kembali seperti semula lagi.


"Tenangkan diri kamu dad. Ingat darah tinggi kamu" ucap Linda dengan suara lembut.


"Ya aku tahu mom. Tapi aku sangat kepikiran dengan apa yang dibilang Martin tadi. Aku merasa gagal mendidik anak-anakku" lirih Alexandro dengan sedih.


Grep..............


Linda memeluk suaminya dengan sangat erat sambil mengelus punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya.


"Jangan berbicara sepeti itu dad. Kamu adalah daddy dan suami yang terbaik selama ini" ucap Linda dengan suara lembut dan penuh kasih sayang.


"Meski kamu pernah melakukan kesalahan tapi jadikan itu sebagai pelajaran agar kamu tidak melakukan kesalahan yang sama lagi dad" tambahnya lagi.


"Iya mom. Dad paham" balas Alexandro sambil tersenyum manis.


Setelah melihat suaminya sudah tenang ia lalu mengajaknya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan, serta melakukan terapi untuk otot-ototnya.


Tekad aku sudah bulat. Aku harus menulis ulang surat wasiatku, batin Alexandro dengan penuh keyakinan.


~ Jakarta, Indonesia ~


Pagi ini dunia maya baik dari dalam negeri dan luar negeri digegerkan dengan berita mengenai kecurangan AD Company yang selama ini sudah menipu publik dan merugikan banyak pihak.


Bagaimana tidak, data kecurangan mereka dalam memanipulasi pajak selama 10 tahun terakhir beredar luas di dunia maya.


Bukan itu saja tapi pembuangan limbah pabrik perusahaan yang selama ini mereka lakukan ternyata sudah membuat begitu banyak masyarakat mati, karena limbah dari pabrik mereka mengalir ke dalam saluran air warga sehingga terkontaminasi.


~ DA Corp ~


Hahahahaha................


Tawa Denis menggelegar didalam ruangannya saat menonton berita tentang perusahaan Alan Draw.


Ia yakin pasti saat ini Alan Draw sangat emosi melihat berita tersebut. Apa lagi mereka baru saja selesai meeting bersama direktur Steven di perusahaannya.


"Dimana sialan itu sekarang?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Dia berada di hotel Venus bos" jawab Sandro.


"Arsen" ucap Denis dengan suara dingin.


Arsen yang tahu maksud Denis segera berkutat dengan iPadnya dan selang 5 menit kemudian ia menaruh laptop Denis didepannya dengan video cctv didalam kamar Alan Draw saat ini.


Mata coklat tajamnya menatap cctv didalam kamar Alan Draw sambil tersenyum smirk. Apa lagi saat ini kamar itu sudah seperti kapal pecah.


"Baik bos" ucap Arsen dengan suara dingin.


Tak berselang lama Alan Draw terlihat sedang menerima hp dari Sandy asistennya yang memberitahu apa panggilan masuk dari direktur Steven.


Nb : Ini percakapan di kamar Alan Draw lewat cctv


^^^"Halo direktur Kaito"^^^


"..........."


^^^"Oh anda tenang saja berita itu tidak benar dan akan segera hilang"^^^


"..........."


^^^"Tidak direktur Kaito. Aku jamin itu semua hanya hoax"^^^


".........."


^^^"Anda tidak bisa mengambil keputusan sepihak seperti itu direktur Kaito. Bukannya kita baru saja melakukan meeting membahas rencana proyek besar kita direktur Kaito"^^^


"..........."


^^^"Apa maksud anda direktur Kaito? Anda tidak bisa memutuskan kontrak kerja sama kita sepihak!"^^^


"..........."


^^^"Berengsek anda direktur Kaito. Beraninya anda mempermainkan aku sialan!"^^^


^^^"Halo. Halo"^^^


Aaarrrgghhh............prang..............


"Sialan kamu Denis Arkana! Aku akan membuat perhitungan dengan kamu anak sialan!" teriak Alan Draw dengan emosi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis tersenyum seperti monster saat menonton rekaman cctv Alan Draw yang ingin membuat perhitungan dengannya.


"Bos apa yang akan kita lakukan kepadanya?" tanya Sandro.

__ADS_1


"Kita lihat dulu pergerakannya saat ini. Jika dia ingin bermain-main denganku maka aku akan melayaninya" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai.


"Bos GPS nyonya bergerak keluar dari mansion" ucap Arsen yang melihat notifikasi GPS Leila.


"Apa maksudmu?" tanya Denis dengan wajah emosi.


"Ini bos nyonya keluar dari mansion barusan" jawab Arsen ambil menunjukkan pergerakan GPS Leila di iPadnya.


"Sandro kamu gantikan Rian selama dia cuti dan Arsen kamu cari tahu siapa yang berada dengan istriku saat ini" titah Denis dengan aura membunuh.


"Baik bos" ucap keduanya dengan serentak.


Sandro bergegas keluar dari ruangan Denis menuju meja Rian. Sedangkan Arsen ia tetap bersama dengan Denis didalam sana, meski berkali-kali ia menelan salivanya dengan susah merasakan aura Denis.


Denis segera menelpon istrinya tapi lagi-lagi panggilannya tidak dijawab. Sampai panggilan ketiga barulah ia menjawabnya.


"Halo sayang"


^^^"Kemana kamu pergi sayang?" tanya Denis dengan suara dingin dan serak.^^^


"Maaf sayang aku tidak sempat memberitahumu. Barusan pak Jordi menelpon aku kalau ka Rayen sejak pagi sakit dan memuntahkan semua makanan yang ia makan sayang" jawab Leila menjelaskan dengan suara bergetar karena cemas.


^^^"Phew! Lain kali hubungi aku baru keluar sayang. Aku tidak mau kamu kenapa-napa sayang" ucap Denis sambil membuang napasnya dengan kasar.^^^


"Maafkan aku sayang.........hiks hiks hiks........aku sangat mencemaskan ka Rayen makanya tidak sempat meminta ijin sayang.......hiks hiks hiks" ucap Leila sambil menangis.


^^^"Heemmm! Lain kali jangan diulangi sayang"^^^


"Ia sayang"


^^^"Tunggu aku disana jangan pulang sendiri sayang. Pulang diri perusahaan aku akan menjemputmu sayang"^^^


"Baik sayang"


Denis lalu mematikan panggilannya sepihak karena sudah mendengar kabar dari sang istri.


Ia lalu menyuruh Arsen untuk memberitahu pengawal istrinya untuk menjaga istrinya tidak boleh ada luka satupun di tubuhnya.


2 Bulan kemudian


Sudah dua bulan berlalu dengan sangat cepat dan selama itu tidak ada tanda-tanda orang bayaran atau suruhan Roy Martinez yang menyerang Denis.


Meskipun begitu Denis tetap selalu siaga dan menyuruh anak buahnya untuk membereskan sesuatu jika ada yang mencurigakan.


Seperti saat ini Denis tengah berada di dalam penthouse bersama istrinya setelah menghabiskan malam panas disana.


Melihat istrinya sudah pulas karena kelelahan, ia lalu memakai bathrobe dan mengambil hpnya yang berbunyi sedari tadi.


Keningnya mengerut melihat nama Nenek disana. Ia dengan cepat menjawab panggilan tersebut.


^^^"Halo nek"^^^


"Halo cucuku" ucap Linda dengan suara suara lembut dari seberang.


^^^"Iya nek. Tumben nenek menelpon aku tengah malam?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^


"Maafkan nenek jika menganggu tidurmu tapi ada sesuatu yang ingi dibicarakan oleh kakekmu Denis" jawab Linda dengan sesal dari seberang.


^^^"Cih! Aku tidak ingin berbicara dengannya nek" decih Denis dengan suara dingin.^^^


"Denis nenek mohon kali ini saja cucuku" pinta Linda dengan memohon dari seberang.


^^^"5 menit tidak lebih" ucap Denis dengan suara dingin.^^^


"Terima kasih cucuku" ucap Linda dengan senang.


^^^"Heemmmm"^^^


"Halo Denis" ucap Alexandro dari seberang.


^^^"Ada apa?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^


"Kakek cuma mau beritahu jika besok kamu harus hati-hati karena kakak mendapat kabar dari asisten kakek kalau Martin sedang merencanakan sesuatu untuk kamu, Leila, dan mama kamu besok" jawab Alexandro dengan suara tegas.


^^^"Heemmmm"^^^


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis lalu mematikan panggilannya sepihak tidak mau berbicara lagi dengan Alexandro. Meski ia menerima sang nenek tapi ia tidak akan pernah menerima Alexandro dan keluarga Massimo yang lainnya.


"Jadi kalian akhirnya bergerak juga ya" ucap Denis dengan tatapan seperti monster berdarah dingin.


Denis segera mengirim pesan kepada Max untuk memperketat penjagaan sang mama mulai malam ini juga. Beruntung besok adalah hari minggu jadi ia sendiri yang akan melindungi istrinya.


"Aku sudah tidak sabar ingin melihat apa yang akan mereka lakukan besok! Hehehehe" ucap Denis sambil terkekeh.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.............


__ADS_2