Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 127


__ADS_3

Amira mencium kening Leila dengan sangat lembut membuat Denis tersenyum bahagia melihat kedua orang yang dicintainya saling menyayangi satu sama lain, apa lagi mereka terlihat sudah seperti anak dan ibu saja.


“Ma ayok kita keluar biarkan Leila beristirahat” ajak Denis dengan suara lembut.


“Mama masih ingin menemani Leila disini nak” bantah Amira dengan raut wajah cemas.


“Lebih baik mama buatkan makanan buat Leila saja biar nanti saat dia sadar dia langsung makan karena harus minum obat ma” usul Denis.


“Ya benar juga ucapanmu nak” seru Amira dan berlalu keluar dengan tergesa-gesa.


“Usulanmu boleh juga dude dan aku yakin kamu melakukan itu untuk membuat mamamu tidak terlalu kepikiran dengan Leila kan” tebak Adrian.


“Ya” jawab Denis dengan singkat.


“Kamu memang pintar dude” puji Adrian sambil mengangkat kedua jempolnya.


“Karena otak aku bekerja tidak seperti punya kamu” balas Denis dengan wajah datar dan dingin.


“Sahabat sialan kamu Denis!” teriak Adrian dengan emosi.


Seketika mata coklat tajam Denis menatapnya dengan tatapan membunuh memperingatinya untuk tidak ribut karena kekasihnya sedang tidur. Adrian membuang mukanya ke samping dengan bibir komat-kamit mengumpat Denis didalam hati tak berani berbicara langsung saat mendapat tatapan mata Denis yang seakan ingin membunuhnya.


Keduanya lalu keluar dari dalam kamar sang mama dan segera naik ke lantai dua menuju ruang santai di atas sana tidak memperdulikan keberadaan Seina dan Simon yang sedari tadi menatap mereka dengan penasaran saat mereka keluar.


Sedangkan Seila ia memilih membantu tante Amira didapur karena ingin belajar masak sekaligus mengasah kemampuan memasaknya yang masih sangat awam.


“Dude siapa gadis dibawah?” tanya Adrian setelah keduanya sampai di balkon lantai dua.


“Kamu  tertarik?” tanya balik Denis dengan alis sebelah terangkat.


“Ckk!! Mana mungkin aku tertarik dengan perempuan munafik seperti itu! Aku tidak sudi!” jawab Adrian dengan suara melengking menolak dengan tegas.


“Hehehehe…………ternyata kamu menyadarinya” ucap Denis sambil terkekeh.


“Hey kamu pikir aku ini bodoh apa! Aku ini seorang aktor terkenal yang sudah sangat hafal betul dengan setiap karakter orang jadi mudah saja bagiku menebak sifat orang dalam sekali lihat saja!” protes Adrian dengan sombong.


“Kalau begitu kamu tahu dong sifat aku?” tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.


“Kamu tidak termasuk karena kamu itu memang manusia yang tidak bisa ditebak sifat aslinya tapi yang aku tahu kamu itu posesif, keras kepala, peka, arogan, dan kejam” jawab Adrian dengan jujur.


Denis tersenyum menyeringai mendengar ucapan Adrian yang sangat tepat sekali mengenai pribadinya selama ini.


Tak berselang lama Simon datang menemui keduanya ingin menjalin pertemanan dengan mereka tapi ternyata ia dibuat malu sendiri karena hanya Adrian yang membalas ucapannya meskipun singkat sedankang Denis ia hanya diam saja tak berbicara satu kata pun.


~ Markas Geng Ular Cobra ~


Tak terasa malam pun datang dan tepat pukul 20:00 Max dan anak buahnya sudah mengepung markas geng Ular Cobra. Arkan sedari tadi tersenyum lebar sudah tidak sabar ingin menghancurkan markas kebangaan manusia sialan itu.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Ka Max kapan sih kita mulai menyerang mereka?\ Aku sudah tidak sabar lagi” bisik Arkan dengan wajah cemberut.


“Sedikit lagi! Tunggu bos Arsen selesai membajak cctv di sekitar sini barulah kita bergerak” balas Max dengan suara dingin.


“Cih!! Dari tadi bilangnya sedikit lagi sedikit lagi, tapi sudah hampir 30 menit kita belum bergerak juga” decih Arkan


dengan kesal.


“Max jahit mulut bocah sialan itu sebelum aku semakin emosi” ucap Arsen  dengan suara dingin lewat earpiece.


Max menatap Arkan memberinya isyarat untuk diam dan tidak mengeluh sebelum dia melakukan apa yang disuruh Arsen dari seberang sana. Arkan komat-kamit memaki Arsen dalam hati membuat semua anggota Black Devil menahan tawa mereka yang hampir pecah melihat sifat Arkan yang seperti anak kecil.


Max menggelengkan kepalanya tak mau ambil pusing dengan apa yang dilakukan Arkan karena menurutnya itu tidak penting. Lagian ia juga tidak ingin berurusan dengan bocah berisik seperti Arkan yang sangat sudah diatur.


30 Menit kemudian


Arkan sedari tadi sudah seperti cacing kepanasan membuat Max berkali-kali menegurnya dan memperingatinya untuk tidak membuat ulah. Selang 30 menit akhirnya wajah cemberut Arkan seketika menjadi ceria setelah mendengar ucapan Sandro dari markas utama.


“Hancurkan mereka semua” pekik Arkan dengan suara melengking.


Max menepuk keningnya melihat kelakuan Arkan dan beruntung tidak ada musuh yang mendengar ucapan Arkan barusan. Ia lalu memberi isyarat kepada semua anak buahnya untuk mulai menyerang markas geng Ular Cobra.


Dor………………dor………………..dor…………..


Bunyi tembakan diikuti ledakan bergema disana beruntung markas geng Ular Cobra jauh dari pemukiman warga membuat pasukan Black Devil dengan leluasa memakai bahan peledak sebanyak mungkin.


“Ada musuh! Ada musuh! Ada musuh!” teriak salah satu anggota geng Ular Cobra dengan kencang memberitahu teman-temannya.


Baru saja mereka akan mengambil senjata mereka tapi terlambat karena Max dan anak buahnya sudah menembak kaki mereka agar tidak kemana-mana dan juga mereka tidak boleh membunuh musuh mereka sesuai perintah Sandro di markas tadi.


“Kumpulkan semua musuh didepan markas dan ikat mereka” titah Max dengan suara tegas.


“Bak bos” ucap semua anak buahnya dengan serentak.


Dor………………dor………………dor……………dor………………


Bunyi tembakan bergema didalam sana dari pihak Black Devil yang melumpuhkan pihak geng Ular Cobra. Sedangkan Arkan saat ini ia seperti kambing yang terlepas dari kandang menembak musuhnya dan menghancurkan seisi markas.


Bocah itu sangat menyusahkan, batin Max sambil membuang napas dengan kasar.


Ia sangat kesal harus membawa Arkan ikut dalam misi ini dan ia berjanji ini terakhir kali ia membawa Arkan ikut dalam misi penyerangan.


Setelah beberapa saat akhirnya semua anggota geng Ular Cobra berhasil dilumpuhkan dan saat ini sedang diikat didepan markas. Mereka semua bergetar melihat musuh mereka kali ini yang sangat misterius karena memakai topeng tapi seketika mereka dibuat kaget melihat  bendera dari pihak musuh.


“Black Devil” ucap mereka semua dengan syok.

__ADS_1


Mereka tak menyangka jika musuh mereka kali ini adalah mafia Black Devil yang terkenal sangat kejam dan misterius didunia bawah. Max yang melihat musuh-musuhnya gemetar saat melihat bendera kebesaran mereka tersenyum menyeringai.


“Bakar semua isi dalam markas dan jangan lupa pasang bom di setiap sudut markas” titah Max dengan suara dingin.


“Baik bos” ucap semua anak buahnya dengan serentak.


Duar……………………duar………….duar…………..


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Bunyi ledakan besar bergema disana membuat tanah disekitar sana juga ikut bergetar karena ledakan barusan. Arkan tersenyum puas melihat kobaran api besar dan tak berselang lama bangunan itu sudah rata dengan tanah tidak menyisakan apapun.


Selesai dengan misi mereka pasukan Black Devil segera pergi meninggalkan lokasi itu tidak perduli dengan anggota geng Ular Cobra yang terluka karena menurut mereka tidak penting, lagian mereka sudah berbalas kasih tidak membunuh mereka saat menyerang markas mereka.


Malam itu juga semua perkumpulan geng didunia atas hingga dunia bawah di buat kaget mendengar geng Ular Cobra yang sudah tidak ada lagi karena diserang mafia Black Devil. Hal itu membuat semua kelompok mafia di seluruh dunia semakin penasaran dengan kelompok mafia yang sangat misterius itu.


~ Zeus Club ~


Arsen menyesap minumannya perlahan didalam ruang VIP di club Zeus menunggu kedatangan detektif Gilang sesuai janji mereka tadi setelah ia menyelesaikan pekerjaannya di markas utama tadi.


Ceklek…………..


Pandangan Arsen tertuju ke arah pintu saat mendengar suara pintu yang terbuka. Wajah datar dan dinginnya menatap detektif Gilang yang baru sampai tapi hanya beberapa saat saja dan segera mengalihkan pandangannya ke lantai dansa di bawah sana.


“You late” (kamu terlambat) ucap Arsen dengan suara dingin.


“Maaf tadi aku masih menyelesaikan urusanku di rumah sakit sebelum datang kesini” ucap detektif Gilang dengan rasa bersalah.


“Waktuku sangat berharga” ucap Arsen sambil menatap tajam detektif Gilang.


“Maaf ini kesalahanku” ucap detektif Gilang dengan sopan.


Ia tahu dengan ucapan Arsen barusan adalah sindirin keras untuknya yang mengatakan untuk tidak membuang waktunya yang berharga karena harus menunggunya.


“Katakan ada apa anda ingin bertemu denganku detektif Gilang?” tanya Arsen to the point dengan wajah datar dan dingin menatapnya.


 “Ini mengenai Kenzo Arjuna” jawab detektif Gilang dengan suara tegas.


“Ckk!! Aku rasa aku sudah memberikan bukti yang selama ini anda cari kan detektif Gilang!” decih Arsen sambil tersenyum menyeringai.


“Ya aku tahu. Masalahnya kamu memberikan bukti itu tepat bersamaan dengan skandalnya” ucap detektif Gilang sambil menatap Arsen dengan intens.


Hahahahaha…………………


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue…………….

__ADS_1


__ADS_2