
Tawa Arsen seketika pecah didalam sana mendengar ucapan detektif Gilang barusan. Ia sudah tahu jika kedatangan detektif Gilang pasti bersangkutan dengan masalah Kenzo.
"Aku tahu anda pasti berpikir jika aku adalah orang yang menyebarkan semua skandal Kenzo" tebak Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Tepat sekali tebakan anda tuan muda Sanjaya" balas detektif Gilang.
Arsen tersenyum menyeringai menatap detektif Gilang membuat lawannya semakin di buat penasaran dengan apa yang sedang dipikirkan olehnya.
"Menurut anda apa jawabannya?" tanya Arsen membuat lawannya semakin bingung.
"Aku tidak punya waktu untuk bermain tebak-tebakan dengan anda tuan muda Sanjaya! Sebaiknya anda katakan saja jawabannya!" jawab detektif Gilang dengan suara tegas.
"Aku tidak tahu siapa yang menyebarkan skandal dia" jawab Arsen dengan suara dingin dan tatapan tajam.
Detektif Gilang menatap Arsen dengan intens mencoba menelisik ke dalam matanya mencari kebohongan dari ucapan Arsen tapi tidak ia temukan.
Pasalnya bukan dia yang menyebarkan skandal Sandro melainkan Mark yang ia perintahkan jadi anggap saja bukan dia pelakunya.
"Lalu apa anda tahu siapa yang menyebarkan ya?" tanya detektif Gilang dengan cepat.
"Seorang Kenzo Arjuna bukan hanya CEO di BakerTech saja tapi juga seorang pengedar narkoba terbesar di Asia. Aku yakin dia mempunyai banyak musuh di luar sana yang menginginkannya jatuh" jawab Arsen dengan suara dingin.
Detektif Gilang memikirkan ucapan Arsen yang ada benarnya juga dan bisa saja ini ulah musuh Kenzo.
"Ah! Aku mau beritahu jika Kenzo adalah bos dari geng Ular Cobra" ucap Arsen.
"Apa" pekik detektif Gilang dengan mata melotot mendengar informasi yang diucapkan Arsen barusan.
Arsen tersenyum tipis melihat wajah kaget orang didepannya dan ia yakin pulang dari sini detektif Gilang akan mengupas tuntas kasus Kenzo hingga ke akar-akarnya.
Melihat ia sudah tidak punya kepentingan lagi disana Arsen memilih pergi karena ia masih punya hal yang harus ia kerjakan setelah pulang dari sini.
~ Kediaman Sandro ~
Ando memilih pulang ke rumah tunangannya karena sudah merindukan kedua orang yang dicintainya, karena selama seminggu ini ia tidak bisa menemui mereka.
"Mas kamu sakit?" tanya Ara dengan khawatir melihat wajah Ando pucat.
"Aku hanya lelah saja sayang. Sudah beberapa hari aku hanya tidur beberapa jam saja" ucap Ando sambil bersandar di perut Ara dan memeluknya.
"Apa pekerjaanmu sudah selesai mas? Kamu harus menjaga kesehatanmu mas" ucap Ara sambil mengelus kepala tunangannya dengan lembut.
"Heemmm" deham Ando sambil menutup mata merasakan usapan lembut wanita yang dicintainya.
"Kalau begitu ayok kamu tidur sekarang mas. Aku tidak mau kamu sampai jatuh sakit"
"Temani aku tidur yang" pinta Ando sambil menatap Ara dengan sendu.
"Tapi mas, aku takut ka Sandro marah nanti" ucap Ara yang tidak ingin kakaknya sampai marah jika ketahuan mereka tidur bersama sebelum menikah.
Ando diam membenarkan ucapan tunangannya karena saat ini mereka belum halal padahal Minggu depan mereka akan melangsungkan pernikahan.
Keduanya diam sambil berpelukan di taman samping tak menyadari jika sedari tadi Sandro mendengarkan pembicaraan keduanya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Saat melihat keduanya akan masuk ke dalam rumah dengan cepat Sandro bersembunyi di samping tembok tak ingin keduanya melihat kehadirannya.
Melihat Ando dan Ara sudah masuk ke dalam kamar masing-masing ia segera keluar dari persembunyiannya dan menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
"Kakak udah pulang?" tanya Ara yang keluar untuk mengambil air minum.
"Apa Ando sudah tidur?" tanya balik Sandro.
"Iya barusan ka" jawab Ara.
"Heemmm! Malam ini aku mau tidur dengan Ari kamu temani Ando saja karena hari ini ia sangat membutuhkan sandaran" ucap Sandro dengan suara tegas sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Eehh.............
Ara kaget mendengar ucapan kakaknya yang tak sadar mengijinkannya untuk menemani calon suaminya malam ini.
Dengan langkah tergesa-gesa Ara segera masuk ke dalam kamar Ando membuat Ando yang hendak tidur menatapnya dengan bingung.
"Ada apa sayang?" tanya Ando dengan bingung.
"Uhmmm.......malam ini aku tidur disini mas" jawab Ara dengan malu-malu.
Wajah Ando seketika ceria seperti baru mendapat hadiah. Dengan cepat ia menarik Ara ke atas ranjang dan membenamkan kepalanya di dada Ara sambil memeluknya dengan erat.
~ Rumah Arkana ~
Waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari tapi Denis masih berkutat di ruang kerjanya memeriksa laporan perusahaan dan markas yang dikirim Arsen dan Sandro tadi.
Seperti malam biasanya, malam ini ia kembali tidak bisa tidur dan karena tidak ingin mengkonsumsi obat pil tidur dan memilih mengerjakan pekerjaannya.
Sedangkan didalam kamar Amira, perlahan-lahan mata Leila terbuka setelah sadar dari pingsannya tadi jam 19:00 malam dan kembali tidur setelah meminum obat.
Tenggorokannya yang terasa kering membuat dia bangun dan ingin minum, tapi saat melihat air di atas nakas sudah habis ia perlahan-lahan bangun tidak ingin membangunkan tante Amira yang terlihat sangat pulas.
Leila keluar dengan tertatih-tatih menuju dapur untuk mengambil minum karena sangat haus.
Sampainya di dapur ia lalu menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya hingga tandas. Denis yang hendak mengambil minum juga mengerinyitkan keningnya melihat kekasihnya di dapur jam segini.
Grep.................
Hampir saja Leila berteriak karena kaget tiba-tiba dipeluk dari belakang tapi beruntung Denis dengan cepat membekap mulutnya.
"Sayang kamu mau buat aku jantungan" hardik Leila dengan mata melotot tajam.
"Hehehehe...............itu tidak mungkin sayang" ucap Denis sambil terkekeh.
"Kenapa bangun.......heemmm?" tanya Denis menyeludupkan kepalanya di leher Leila.
"Kamu belum tidur sayang?" tanya Leila sambil mengelus tangan Denis dengan lembut.
"Susah sayang" jawab Denis dengan singkat.
"Tidak bisa tidur lagi?" tanya Leila sambil mendongak ke samping melihat kekasihnya.
Denis mengangguk kepalanya sebagai jawaban membuat Leila tak habis pikir dengan keadaan kekasihnya. Denis hanya bisa tidur jika ia menemaninya.
"Ayok aku temani sayang" ajak Leila tak mau kekasihnya sampai jatuh sakit.
Denis lalu mengendong Leila dengan sekali hentakan membuat Leila reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Denis.
Sampainya didalam kamar Denis segera membuka kimono dan memakai boxer saja seperti biasa jika ia tidur.
Leila mengelus kepala Denis dengan lembut membuat mata Denis perlahan-lahan mulai tertutup merasa sangat nyaman.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Waktu pun berlalu dengan cepat dan tanpa terasa bulan sudah berganti dengan matahari menandakan hari telah pagi.
Leila yang bangun lebih dulu membuka matanya perlahan yang langsung di sambut wajah tampan kekasihnya.
Aku tidak menyangka akan mempunyai kekasih setampan kamu sayang, batin Leila dengan malu-malu.
Cup............
Ia mengecup bibir Denis sekilas lalu memindahkan tangannya dan bangun perlahan-lahan tidak ingin sampai Denis terbangun.
Leila keluar dari kamar Denis dan segera menuju ke kamar Amira untuk membersihkan diri. selesai membersihkan diri ia keluar ingin menemui Tante Amira untuk menjelaskan dimana ia tidur semalam.
"Selamat pagi mama, bi Eda" sapa Leila dengan suara lembut.
__ADS_1
"Pagi sayang kamu sudah bangun" balas Amira.
"Pagi juga non" ucap bi Eda.
"Iya ma. Maaf ma tadi malam aku tidur di kamar Denis ma" ucap Leila sambil menunduk.
"Iya sayang tidak apa-apa. Apa Denis bisa tidur lelap nak?" tanya Amira.
"Iya ma. Entah kenapa Denis akan tertidur pulas jika aku memeluknya ma" ucap Leila dengan bingung.
"Yang benar kamu nak. Denis tidak terbangun saat bersama kamu?" tanya Amira dengan kaget.
"Iya ma" jawab Leila.
"Syukurlah jika kebiasaan tidur Denis perlahan-lahan bisa berubah nak. Itu semua berkat kamu sayang"
"Ah! Mama bisa aja" ucap Leila tersipu malu.
"Selamat pagi" ucap Clara menginterupsi ketiganya.
"Selamat pagi Clara. Ah! Leila kenalin ini tante Clara istri dari sahabat papanya Denis nak" ucap Amira memperkenalkan Leila kepada Clara.
"Halo tante. Salam kenal aku Leila Baker" ucap Leila sambil menjulurkan tangannya.
"Tante Clara. Namanya cantik seperti orangnya" puji Clara sambil menyambut uluran tangan Leila.
"Ah! Tante bisa aja" ucap Leila dengan malu-malu.
"Loh benar kan ucapan aku jeng" ucap Clara meminta Amira mendukungnya.
"Benar jeng" jawab Amira sambil tersenyum manis.
"Tante juga cantik kok" puji Leila sambil tersenyum manis.
Ketiganya lalu bercanda gurau di dapur dan tak lama Clara memperkenalkan Leila dengan keluarganya yang sudah bangun.
"Oh Leila ini bukannya presdir di BakerTech ya?" tanya Roy yang mendengar nama belakang Leila.
"Benar om. Saya mengantikan posisi kakak saya saja saat ini karena dia sedang sakit" jawab Leila dengan suara lembut.
"Wah kalau aku kirim proposal kerja sama ke perusahaan kamu bisa dong Leila?" tanya Simon mulai mendekati Leila.
"Bisa kok. Kirim saja proposal anda tuan muda Martinez" jawab Leila dengan sopan.
"Simon. Call me Simon don't Mr. Martinez" ( panggil aku Simon jangan Mr.Martinez) balas Simon dengan cepat.
"Baiklah Simon"
Sedangkan Seina sedari tadi mengepal kedua tangannya di bawah meja makan merasa tak suka melihat Leila yang menjadi pusat perhatian.
"Mommy dia siapanya tante Amira sih?" tanya Seina berbisik.
"Mommy tidak tahu sayang" bisik Clara.
"Coba mommy tanya ke aunty Amira karena aku tidak ingin dia menjadi penghalang perjodohan aku dan ka Denis ma" bisik Seina dengan perasaan cemas.
Clara mengangguk kepalanya menjawab ucapan putri pertamanya dan saat melihat Amira sudah datang ia segera bertanya.
"Jeng Amira jadi Leila ini keluarga jeng atau bagaimana?" tanya Clara dengan penasaran.
"Dia sudah aku anggap seperti anakku sendiri jeng" jawab Amira yang tidak ingin mengatakan jika Leila adalah kekasih Denis.
"Oh jadi dia anak angkat jeng ya"
Amira tersenyum saja tak membalas ucapan Clara barusan. sedangkan Leila ia tersenyum manis menatap semuanya tapi dalam hati sedang bertanya alasan Tante Amira tak mengatakan siapa dia sebenarnya.
🌼 🌼 🌼 🌼 🌼
__ADS_1
To be continue................