Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 170


__ADS_3

Setibanya di mansion, Alexandro segera keluar dari mobil setelah Justin membukakan pintu untuknya. Keningnya tiba-tiba mengerut melihat mobil Simon yang sudah terparkir disana dengan mobil dokter Matt.


Kenapa mobil dokter Matt ada disini? Bukannya hari ini tidak ada jadwal pemeriksaan istriku, batin Alexandro dengan penuh tanda tanya.


"Kek ayok kita masuk" ajak Simon mengagetkan Alexandro dari pemikirannya.


"Eh! Iya" balas Alexandro dengan kaget.


Keduanya segera masuk ke dalam mansion di ikuti Justin dari belakang. Sepanjang jalan kening Justin mengerut melihat sekeliling mansion tak mendapati pelayan disana.


Apa lagi saat mereka tiba tidak ada kepala pelayan yang menyambut mereka seperti biasanya.


Kenapa tidak ada pelayan dan kepala pelayan disini, batin Justin dengan penuh tanda tanya.


"Tuan" panggil Justin menghentikan langkah Alexandro dan Simon yang akan masuk ke ruang keluarga.


"Ada apa Justin?" tanya Alexandro berbalik menatapnya.


"Ada yang tidak beres di mansion saat ini" jawab Justin dengan suara dingin dan tegas.


Deg..............


Jantung Alexandro berdetak dengan cepat mendengar ucapan Justin, ia lalu melihat ke sekeliling mansion dan baru sadar jika sedari tadi tidak ada kepala pelayan dan pelayan yang selalu menyambut kedatangannya.


Simon yang mendengar ucapan uncle Justin segera menyuruh kakek Alexandro untuk tidak memikirkan hal tersebut tapi diabaikan Alexandro.


"Istriku" gumam Alexandro dengan panik dan cemas.


Alexandro bergegas pergi ingin menuju ke kamar utama miliknya, tapi seketika langkahnya terhenti saat sampai di ruang keluarga dan mendapati seseorang yang selama ini ingin sekali ia bertemu dengannya.


"Denis" ucap Alexandro dengan kaget.


Denis yang mendengar namanya di panggilan hanya diam saja tidak menjawab, malahan menatap orang didepannya dengan tatapan tajam dan dingin.


"Bagaimana bisa kamu masuk kesini?" tanya Alexandro dengan bingung.


"Jangan bilang" tunjuk Alexandro dengan mata melotot menebak keanehan di mansionnya seperti yang tadi ia pikirkan.


Denis tersenyum smirk seakan berkata kalau apa yang dipikirkan oleh Alexandro benar. Simon yang tahu apa maksud Denis bergegas berdiri di tengah keduanya tak ingin Alexandro sampai salah paham kepada Denis.


"Kakek tenang dulu ya" ucap Simon dengan cepat.


"Tenang kamu bilang! Dia masuk ke mansion aku seperti pencuri dan pasti dia sudah melenyapkan semua pelayan dan penjagaku!" bentak Alexandro dengan suara tinggi.


"Tidak seperti itu kek dan Denis tidak melakukan apa-apa kek" ucap Simon.


"Tidak melakukan apa-apa kamu bilang! Lalu bagaimana bisa dia duduk santai didalam mansion aku sialan!" hardik Alexandro dengan mata tajam.


"Dia masuk ke mansion aku seperti pencuri dan kamu pikir aku harus bereaksi seperti apa Simon" tambahnya lagi dengan suara tinggi


"Siapa yang anda bilang pencuri Mr. Alexandro Massimo yang terhormat!" bentak Amira yang baru keluar dari kamar utama di samping ruang keluarga.


"Kamu disini juga" tunjuk Alexandro dengan kaget melihat menantu yang tidak pernah ia akui.


"BERANINYA KAMU MENUNJUK MAMAKU PAK TUA!" bentak Denis dengan suara menggelegar.


Duar...............


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Bagai di sambar petir tubuh Alexandro menegang mendengar ucapan denis yang membentaknya. Bukan hanya itu saja tapi untuk pertama kali ada orang yang memanggilnya pak tua langsung.


Tidak hanya Alexandro yang kaget, tapi Simon dan Justin juga sampai dibuat kaget mendengar ucapan Denis barusan.


Rahang keduanya seperti ingin jatuh tak menyangka ternyata ada orang yang seberani itu membentak dan menghina seorang Alexandro Massimo, belum lagi ini Denis melakukan itu di mansion pribadi Alexandro.


"K.....amu" ucap Alexandro dengan terbata-nata dan tak tahu harus berbicara apa.


"Hentikan! ini bukan waktu yang tepat untuk berkelahi!" ucap Simon dengan suara tinggi.


"Ckk!!" decak Denis dengan kesal.


"Kakek aku mohon kakek duduk dulu karena ada hal penting yang harus aku sampaikan dan juga kamu Denis tahan emosimu" titah Simon dengan tegas.


"Siapa kamu berani memerintah aku?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Denis please kali ini saja" mohon Simon dengan wajah penuh harap.


"Nak ikuti saja ucapan Simon. Ingat ia ni bukan rumah kita" ajak Amira dengan suara lembut.


"Heemmm" deham Denis sambil mengangguk kepalanya.

__ADS_1


Phew.............


Simon membuang napas dengan lega melihat Denis yang mau diajak setelah Amira turun tangan.


"Apa kedatangan mereka ada hubungannya dengan kamu Simon?" tanya Alexandro dengan tatapan menyelidik.


"Iya kek" jawab Simon dengan jujur.


"Denis datang kesini dengan tante Amira karena ingin bertemu dengan nenek kek. Dan seharusnya kakek berterima kasih kepada mereka karena kedatangan mereka membuat suatu keberuntungan" tambahnya lagi dengan suara tegas.


"Keberuntungan?" tanya Alexandro dengan bingung.


"Nenek barusan sudah sadar dari komanya saat tante Amira dan Denis menjenguknya kek" jawab Simon sambil tersenyum lebar.


Deg............


Jantung Alexandro berdetak dengan cepat mendengar ucapan Simon. Dengan cepat ia pergi ke kamar utama untuk melihat apa yang dikatakan Simon benar atau tidak.


Sampainya didalam kamar ia berdiri mematung dengan air mata terus mengalir deras melihat senyuman istrinya yang sudah puluhan tahun tidak ia lihat.


"Daddy" panggil Linda dengan suara lembut.


Grep...........


Alexandro memeluk istrinya sambil menangis merasa bahagia karena setelah penantiannya selama ini akhirnya istrinya sadar juga.


"Aku mohon jangan pergi lagi mommy" ucap Alexandro dengan suara serak karena sedang menangis.


"Mommy kangen sama daddy" balas Linda dengan suara lembut.


"Daddy lebih kangen sama mommy" ucap Alexandro sambil tersenyum manis.


Leila dan dokter Matt yang melihat keduanya saling merindukan satu sama lain juga ikut tersenyum. Beberapa saat kemudian dokter Matt segera menjelaskan kondisi Linda.


Dimana kondisinya sudah pulih dan tinggal menjalani perawatan untuk memperkuat otot-ototnya yang sudah lama tidak digerakkan.


"Kamu siapa?" tanya Alexandro yang baru saja sadar kehadiran Leila disana.


"Dia istriku" jawab Denis dengan suara dingin saat membuka pintu.


Alexandro diam tidak bertanya lagi dan entah kenapa ia tidak tahu harus berbicara apa. Linda yang melihat Denis selalu saja tersenyum bahagia berpikir jika Denis adalah anaknya Demian yang telah pulang kembali.


"Demian" panggil Linda dengan suara lembut.


Deg.............


Bagaimana jika kamu tahu kalau anak kita Demian sudah meninggal Linda, batin Alexandro dengan cemas.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Hehehehe.............


Denis terkekeh membaca pikiran Alexandro dan hal itu membuat istrinya menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Leila dengan penasaran.


"Aku tidak apa-apa sayang" jawab Denis sambil mengecup bibir istrinya.


Mata Leila melotot memperingati suaminya yang tidak kenal tempat, apa lagi saat ini mereka tidak sendiri saja. Linda yang melihat keduanya seketika bingung karena setahunya Demian itu suami Amira tapi kenapa ia mencium perempuan lain.


Apa ada sesuatu yang aku lewatkan, batin Linda dengan bingung.


"Sudah berapa lama aku koma daddy?" tanya Linda dengan tatapan tajam menatap suaminya.


Glek.........


Alexandro menelan salivanya dengan susah mendengar pertanyaan sang istri. Ia sangat bingung harus menjawab apa karena takut membuat istrinya kembali drop.


"Nyonya sudah koma selama 30 tahun" jawab dokter Matt yang melihat tuannya diam saja.


"30 tahun" pekik Linda dengan kaget.


Alexandro menatap dokter Matt dengan tajam merasa kesal karena sudah menjawab pertanyaan istrinya. Sedangkan Linda pikirannya berkelana menghubungkan kejadian yang ia ingat sebelum koma dan jawaban dokter Matt barusan.


"Kamu anaknya Demian?" tanya Linda dengan kaget.


"Iya nenek. Aku anak papa Demian! Namaku Denis Arkana dan ini istriku Leila Rose Baker - Arkana" jawab Denis dengan suara tegas.


"Arkana" ucap Linda dengan syok.


"Iya nek itu marga papa aku"

__ADS_1


Tes................


Air mata Linda jatuh mendengar ucapan Denis dan terjawab sudah semua pemikirannya sedari tadi. Ia lalu menatap suaminya dengan tatapan tajam dan kecewa.


"Maafkan aku mommy" ucap Alexandro dengan rasa bersalah.


"Sebaiknya anda beritahu semua yang sudah terjadi selama 30 tahun terakhir ke nenek dengan jujur" ucap Denis dengan suara dingin.


Ia lalu mengajak istrinya keluar diikuti dokter Matt memberikan waktu kepada pasangan itu untuk menyelesaikan masalah di antara mereka.


"Nak" panggil Amira setelah melihat anak dan menantunya keluar dari kamar utama.


"Biarkan orang itu menjelaskan semua kepada nenek ma" ucap Denis.


"Iya nak tapi mama khawatir jika nenek kamu kembali drop" balas Amira dengan khawatir.


Denis diam tidak membalas ucapan mamanya karena yang dibilang mamanya benar. Mereka hanya menunggu saja yang apa yang terjadi selanjutnya.


Sedangkan Simon ia merasa sudah tidak punya urusan lagi disini dan berniat untuk pulang. Tapi sebelum ia pergi ia ditahan oleh adik iparnya yaitu Sandro.


"Ada apa?" tanya Simon.


"Aku rasa sudah waktunya aku memberitahu identitas aku ke orang tua kamu" jawab Sandro dengan suara tegas.


Simon memikirkan ucapan Sandro yang ada benarnya juga karena tidak mungkin mereka harus selamanya merahasiakan identitas Seila dan Sandro. Sebelum menjawab ia menatap Denis yang memberinya anggukan kepala untuk melakukan seperti yang ia pikirkan.


"Kalau ia begitu kita ke mansion orang tua ku sekarang" ucap Simon dengan suara tegas.


"Oke"


Sandro lalu pamit kepada Denis dan lainnya untuk di pergi bersama dengan kakak iparnya, tak lupa Denis menyuruhnya untuk menunggu mereka di hotel nanti.


~ Mansion Martinez ~


Simon dan Sandro keluar dari mobil setelah mobil berhenti di depan mansion keluarga Martinez. Keduanya saling melirik dan mengangguk kepala tanda untuk masuk.


"Siapkan mental kamu" bisik Simon.


"Ya aku tahu" balas Sandro dengan suara tegas.


Keduanya berjalan masuk ke dalam mansion diikuti Bram di belakang mereka. Para pelayan yang melihat kedatangan tuan muda mereka segera menyambut mereka.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"KAKAK" pekik Seina dengan suara melengking dari lantai dua saat melihat kedatangan mereka.


"Dimana sopan santun kamu Seina jangan membuat kakak marah!" bentak Simon dengan suara tinggi.


"Kenapa kakak bawa dia kesini? Dia itu anak buah sialan itu ka!" hardik Seina dengan suara tinggi sambil menunjuk Sandro.


Plak..............


Seketika bunyi tamparan menggema didalam sana membuat Seina kaget tak menyangka kakaknya akan menampar dia di depan Sandro.


"Sudah kakak peringatkan untuk tidak membuat kakak malu Seina" hardik Simon dengan suara menggelegar.


"Apa yang kamu lakukan ke adik kamu Simon!" bentak Reina dengan suara tinggi.


"Tanya ke anak manja mommy kenapa aku menamparnya" balas Simon dengan suara dingin.


"Mommy........hiks hiks hiks" adu Seina sambil menangis ke sang mommy.


Reina memeluk anaknya dan menenangkannya tapi matanya menatap Simon dengan tajam. Tak lama ia dibuat kaget melihat siapa yang berdiri di samping anaknya.


"Simon siapa yang mengijinkan anak buah sialan itu masuk ke sini?" tanya Reina dengan emosi.


"Aku mommy" jawab Simon dengan suara tegas.


"Apa kamu sudah gila Simon? Kamu tahu dia ini siapa dan beraninya kamu membawa dia ke mansion kita?" hardik Reina dengan suara tinggi.


"Cukup mommy! Dia itu tamu aku dan juga adik ipar aku" ucap Simon dengan suara tegas.


"Adik ipar? Apa maksudmu Simon?" tanya Reina dengan bingung.


Prok..........prok.........prok...........


Bunyi tepuk tangan dari lantai dua menggema didalam sana membuat mereka semua langsung menatap ke lantai dua.


Roy tersenyum menyeringai menatap putranya dengan tatapan tajam, membuat Simon menelan salivanya berkali-kali merasa sesuatu yang besar akan terjadi sebentar lagi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue.............


__ADS_2