Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 180


__ADS_3

Dante mengebrak meja didepannya dengan kuat merasa sangat emosi mengingat bisnisnya yang terakhir kali di hancurkan oleh Rayen.


Beruntung bunyi musik DJ sangat kencang sehingga tidak ada yang mendengar apa yang barusan Dante lakukan. Tapi tidak dengan detektif Gilang yang melihat apa yang barusan dilakukan oleh Dante.


Keningnya mengerut melihat Dante yang sedang berbicara dengan Rayen Baker. Dan dari raut wajah keduanya, sepertinya mereka dalam suasana tegang karena keduanya saling mengeluarkan aura permusuhan.


Sepertinya dia musuh presdir Rayen Baker, batin detektif Gilang.


Deg............


Jantungnya berdetak dengan cepat saat matanya bertatapan dengan Rayen barusan. Apa lagi melihat gerakan bibirnya yang mengatakan sesuatu.


Pergi dari sini sekarang jika kamu masih ingin hidup


Itulah kata yang berhasil ia rangkai dari gerakan bibir Rayen barusan. Tidak menunggu lama ia bergegas pergi dari sana seperti yang ucapan Rayen.


Bibir Rayen terangkat melihat detektif Gilang yang sudah pergi dari club Zeus setelah memahami isyarat yang ia berikan lewat gerakan bibirnya.


Rayen menatap Leo mengangguk kepala memberinya isyarat untuk mengirim beberapa anak buahnya mengawal detektif Gilang hingga ia sampai ke rumahnya.


"Aku akan membalas kamu suatu saat bangsat!" bentak Dante dengan tatapan penuh kebencian.


"Aku tunggu" balas Rayen dengan santai sambil berpangku kaki.


Kedua tangan Dante mengepal dengan kuat ingin sekali menghajar Rayen musuh bebuyutannya itu sampai dia mati. Tapi ia harus tahan karena saat ini ia berada di wilayah kekuasaan Rayen.


Aku berjanji akan membalaskan dendam aku kepada kamu suatu hari nanti Rayen Baker, batin Dante dengan penuh kebencian.


Ting...............


Dante mengambil hpnya saat ada bunyi pesan masuk. Matanya seakan ingin keluar membaca pesan dari Luca mengenai mangsa mereka yang sudah tidak ada lagi didalam club.


"Kamu" tunjuk Dante dengan suara tinggi menebak siapa dalang dari gagalnya rencana mereka malam ini.


"Hehehehe! Bagaimana hadiah sambutan dariku?" tanya Rayen sambil terkekeh.


"Berengsek! Aku akan membunuhmu sialan!" bentak Dante sambil menodongkan senjata didepan wajah Rayen.


"Jika aku jadi kamu aku tidak akan melakukan hal itu" ucap Leo yang juga menodongkan pistol tepat di belakang kepala Dante.


"Sial!" umpat Dante melupakan dimana ia berada saat ini.


Hehehehe..............


"Jadi apa tujuanmu datang ke Indonesia?" tanya Rayen dengan suara dingin.


"Menurutmu?" tanya balik Dante yang kembali bersikap acuh.


"Balas dendam kepadaku" jawab Rayen dengan suara dingin.


"Itu kamu sudah tahu kenapa harus ditanya lagi?" tanya Dante sambil tersenyum menyeringai.


"Feeling aku mengatakan jika itu bukan itu saja tujuan kamu datang kesini" jawab Rayen sambil tersenyum penuh arti.


Dante diam tidak membalas ucapan Rayen karena memang apa yang dibilang Rayen barusan adalah benar.


"Oh ya adik aku sudah menikah dan menemukan kebahagiaannya" ucap Rayen sambil tersenyum lebar.


Rayen tersenyum menyeringai melihat ekspresi wajah Dante yang berubah. Ia lalu memberi isyarat kepada Leo untuk membiarkan Dante pergi karena ia sudah berhasil mengetahui apa tujuannya kesini.


"Aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan rumah tangga adikku" ucap Rayen dengan tatapan berkilat tajam menatap kepergian Dante.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Dante menarik napas lega karena Rayen membiarkannya pergi, meski ia tahu pasti ia akan dibuntuti oleh anak buah Rayen.


"Bos" panggil Alex tangan kanannya.


"Awasi anak buah sialan itu! Jangan sampai dia mengetahui lokasi markas aku" titah Dante dengan suara tegas.


"Baik bos"


Keduanya lalu masuk ke dalam mobil diikuti 2 mobil pengawal. Sampai di pertigaan mobil mereka tiba-tiba diikuti oleh 3 mobil hitam, dimana mobil itu adalah milik Luca dan anak buahnya.


"Berhenti didepan" titah Dante kepada sopir.


Cekiit............


Mobil Dante dan pengawalnya berhenti di jalan sepi diikuti oleh mobil milik Luca. Tak berselang lama Luca keluar dikuti Sandy asistennya menghampiri mobil Dante.


"Apa yang kamu lakukan sampai kita kehilangan detektif sialan itu berengsek!" hardik Luca dengan emosi.


Grep.......................


"Lepaskan aku berengsek! Apa yang kamu lakukan sialan!" bentak Luca dengan emosi.


Dante mencengkram leher Luca seakan ingin mematahkannya membuat wajah Luca merah padam karena kesulitan bernapas.


"Le.....pas!" ucap Luca dengan napas satu-satu.


"Aku peringatkan kamu sialan! Jangan membentak aku jika tidak ingin nyawamu hilang!" tegas Dante memperingatinya.


Luca memukul tangan Dante agar cengkramannya terlepas. Dante lalu melepaskan cengkeramnya saat melihat wajah Luca yang kesulitan bernapas.

__ADS_1


Hosh...........hosh...........hosh..............


Napas Luca tersengal-sengal setelah cengkeramannya Dente terlepas. Ia menatap Dante dengan tatapan membunuh merasa sangat emosi, sedangkan yang ditatap biasa saja dan mengambil rokok lalu menghisapnya.


"Sialan!" umpat Luca dengan kesal.


"Rayen Baker orang yang menggagalkan rencana kita tadi" ucap Dante.


"Jangan bilang kalian bertemu di club tadi" tebak Luca.


"Heeemmm" deham Dante sambil mengangguk kepalanya menjawab iya.


"Sial!" sarkas Luca dengan kesal.


"Sepertinya kita tidak perlu bersembunyi lagi karena kedatangan kita sudah diketahui mereka. Aku yakin Denis Arkana juga sudah mengetahui hal ini" ucap Dante sambil menghembuskan asap rokok.


"Kalau begitu mulai sekarang kita akan lawan mereka terang-terangan" ucap Luca


"Ya. Beritahu Alan Draw untuk berhati-hati karena bisa saja saat ini dia sudah masuk ke dalam perangkap Denis" balas Dante dengan suara dingin.


"Kita bicarakan ini besok malam di markas kamu"


"Oke"


Luca bergegas keluar dari mobil Dante dan berlalu pergi dari sana. Sedangkan Dante ia segera menyuruh anak buahnya untuk pergi ke markas.


~ Pemakaman Harapan ~


Denis keluar dengan wajah menghitam dan aura membunuh dari dalam pemakaman, membuat semuanya bergidik ngeri merasakan auranya yang terasa sangat menakutkan.


Arsen dan Sandro saling melirik untuk tidak bertanya apa-apa kepada sang bos, jika mereka masih sayang dengan nyawa mereka.


Kenapa aura bos semakin hari semakin mengerikan ya, batin Sandro dengan gugup.


Semoga malam ini cepat berlalu, batin Arsen penuh harap.


Denis masuk ke dalam mobil diikuti Sandro dan sang sopir. Selama di perjalanan tidak ada seorangpun yang mengeluarkan suara dan hanya ada keheningan didalam sana.


Sandro dan sopir Denis berkali-kali menelan saliva mereka dengan susah merasakan aura Denis yang sepeti monster kelaparan dari kursi belakang.


Cekiit.................


Tiba-tiba saja sopir Denis mengerem mendadak membuat ban mobil berdecit memekikkan suara yang amat keras.


"Berengsek apa kamu ia ingin membunuh kita semua sialan!" bentak Sandro kepada sang sopir.


"Maaf.....kan saya bos Sandro. Tapi mobil itu hampir saja menabrak kita jika saya kita mengerem" ucap sang sopir dengan ketakutan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Sandro bergedik ngeri melihat sang bos yang menatapnya dengan tatapan dingin dan membunuh tidak mengatakan satu kata pun.


"Aku akan turun mengeceknya bos" ucap Sandro memilih keluar karena tidak sanggup merasakan aura mengintimidasi sang bos didalam mobil.


Sedangkan sang sopir hanya bisa pasrah dengan tubuh gemetar merasakan aura sang bos yang sangat menakutkan dari belakang.


"Apa yang terjadi?" tanya Sandro dengan suara dingin.


"Anak buahku sedang mengeceknya bos Arsen" jawab Thomas sambil menunjuk ke arah depan.


Sandro melihat ada tiga anak buah mereka yang sedang beradu mulut dengan beberapa orang berbaju hitam.


"Suruh semuanya bersiaga" ucap Sandro dengan suara tegas merasa akan ada sesuatu yang terjadi.


Sedangkan orang didalam mobil yang hendak menabrak mobil Denis tadi, berdecak kesal merasa emosi karena belum kelar juga Maslah diluar sana.


"Suruh mereka habisi saja jika mereka tidak terima" hardik Dante dengan suara tinggi.


"Baik bos" jawab Alex segera berlalu memerintah anak buah mereka lewat earpiece.


Ya ternyata mobil yang hampir menabrak mobil Denis adalah mobil Dante yang melaju dengan kecepatan tinggi.


Denis yang berada didalam mobil seketika tersenyum menyeringai melihat gelagat mencurigakan dari pihak Dante.


"Sepertinya malam ini aku akan bersenang-senang" ucap Denis sambil tersenyum smirk.


Glek............


Sang sopir menelan salivanya dengan susah mendengar ucapan psan sang bos barusan. Entah kenapa ia merasa jika sebentar lagi akan terjadi perkelahian besar-besaran disana.


Dor..........................


Aaaarrghhh.....................


Bunyi tembakan bersamaan dengan jeritan kesakitan dari pihak Dante bergema mengagetkan mereka semua yang berada diluar.


Semuanya seketika menatap ke arah suara tembakan ingin melihat siapa yang menembak barusan dan ternyata itu adalah Denis. Dante yang berada didalam mobil juga kaget melihat siapa yang sedang berada didepan saat ini.


"Denis Arkana" ucap Dante dengan syok.


"Bos apa yang harus kita lakukan?" tanya Alex.


"Serang dia dan jangan lupa dapatkan darahnya. Apapun yang terjadi kalian harus dapat darahnya" jawab Dante dengan suara dingin merasa senang karena Denis muncul sendiri didepannya.

__ADS_1


"Baik bos" jawab Alex dengan cepat.


Alex berlalu keluar dan segera menyuruh anak buahnya untuk menyerang balik pihak dari Denis. Tak mau kalah Sandro juga menyuruh anak buah mereka untuk menyerang pihak Dante.


Dor............dor.............dor...........dor..........


Aaaarrghhh...................aarrgghh...............


Bunyi tembakan bersahutan disana dengan suara jeritan kesakitan bergema dari pihak Dante. Denis berjalan dengan santai sambil menembak pihak musuh tepat di kepala mereka.


"Mundur" teriak Dante saat melihat anak buahnya banyak yang mati.


"Jangan biarkan satu pun lolos" titah Denis dengan suara menggelegar.


"Baik bos" jawab semua anak buahnya dengan serentak.


Dor...........dor............dor.........dor...........


Pihak Denis terus menembak pihak Dante tidak membiarkan mereka membalas tembakan mereka. Dante dan anak buahnya berjalan mundur mencari perlindungan agar tidak terkena serangan peluru dari pihak Denis.


"Bos sebaiknya anda pergi dari sini" ucap Alex.


"Heemmmm"


Dante berlari menuju ke arah hutan dilindungi oleh Alex dan anak buahnya. Melihat hal itu Denis pun segera menyusulnya bersam dengan Sandro.


"Bocah kamu tangani disini" ucap Sandro.


"Oke" balas Arsen.


Arsen dan Thomas menembak pihak musuh dengan brutal tak memberi mereka kesempatan untuk membalas semua tembakan mereka.


Alex yang sudah terpojok memilih ingin kabur tapi niatnya ternyata terbaca oleh Arsen.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Mau kabur? Heem!" tanya Arsen sambil tersenyum smirk.


"Sial!" umpat Alex dengan kesal karena tak bisa kabur.


Bugh............bugh...........bugh..........bugh.......


Alex melayangkan pukulan ke Arsen tapi berhasil dielak oleh Arsen. Ia tahu jika Alex sudah kehabisan peluru dan memilih untuk berkelahi dengan Alex agar seimbang.


"Pukulan kamu seperti banci saja" ejek Arsen.


"Bangsat! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Alex dengan emosi.


Hiaaa...........


Bugh............bugh.........bugh..........bugh...........


Alex menyerang Arsen dengan brutal tapi berhasil di tangkis oleh Arsen. Tak mau kalah Arsen pun membalas pukulan dan tendangan Alex dengan cepat.


Bugh.............brugh.............


Alex terpental ke belakang saat Arsen menendangnya tepat di ulu hati. Ia meringis kesakitan di tanah karena tendangan Arsen yang sangat kuat.


Krek................aaarrggh..............


Jeritan kesakitan Alex bergema saat kaki kanannya di patahkan Arsen. Wajahnya seketika pucat merasakan sakit yang amat luar biasa.


"A........mpun. A.....ku mohon am.....puni aku" pinta Alex dengan terbata-bata.


"Segitu saja kemampuan kamu" ejek Arsen.


"Aku akan berikan apapun yang kamu mau. Tapi tolong lepaskan aku" ucap Alex dengan cepat ingin bernegosiasi.


"Hehehehe! Sayangnya aku tidak membutuhkan apa-apa dari kamu" balas Arsen sambil terkekeh.


Bugh............bugh..........bugh...........


Arsen menendang kepala Arsen berkali-kali hingga berdarah dan hancur. Seperti monster kelaparan ia terus menendang Alex hingga merenggang nyawa.


Thomas dan lainnya yang melihat aksi Arsen menelan salivanya dengan susah menonton aksi Arsen yang jarang sekali mereka lihat.


"Bos Arsen mengerikan juga" gumam Thomas dengan suara pelan.


Sedangkan didalam hutan saat ini Dante berlari tak tentu arah seperti dikejar hantu. Ia terus melihat ke belakang dan merasa ketakutan melihat Denis dan Sandro yang semakin dekat.


Dor..................brugh..................


Dante terjatuh di tanah saat kakinya terkena timah panas. Ia berbalik melihat siapa yang menembaknya dan ternyata itu adalah Denis yang sedang tersenyum menyeringai menatapnya.


"Mau kabur Dante Constanzo?" tanya Denis dengan. suara dingin.


"Fu*k!" maki Dante dengan emosi.


Dor..............dor................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue..............

__ADS_1


__ADS_2