
Rian bergegas turun ke lantai 40 kantor tim Perencanaan & Strategi DA Corp dengan wajah merah padam menandakan saat ini dia sangat emosi.
Mata tajamnya menatap lurus ke depan seakan ingin menerkam siapapun yang berani mengganggunya saat ini.
Sedangkan didalam ruangan presdir, Denis tersenyum menyeringai melihat cctv didalam lift dimana ia dengan jelas melihat bagaimana emosinya Rian saat ini.
Hal tersebut membuat direktur Steven bergidik ngeri dan berkali-kali menelan salivanya dengan takut.
Sedari tadi dari ruangannya ia sudah takut jika melakukan kesalahan, karena ia di panggil langsung oleh tangan kanan presdir mereka yang tidak pernah berbicara dengan mereka langsung dan biasanya akan di wakili oleh Rian sekertaris direktur.
Apa aku berbuat kesalahan, batin Steven menerka.
“Kamu tahu kenapa kamu di panggil kesini?” tanya Denis membuyarkan lamunan Steven.
“Saya tidak tahu presdir” jawab Steven dengan suara tegas sambil meremas kedua tangannya karena gugup.
Sandro menggelengkan kepalanya melihat hal itu karena yang ia lihat suara dan wajah Steven menunjukkan raut tegas dan tidak gentar, tapi berbeda dengan tangan dan kakinya yang sedang gemetaran.
Ckk!! Dasar penakut, batin Sandro mencemooh.
“Ada berapa banyak proyek yang kita kerjakan saat ini dengan perusahaan milik tuan besar Regans?” tanya Denis dengan suara dingin.
“Minggu lalu tepat kontrak kerja sama kita berakhir dengan Regans Company presdir. Kemarin dulu direktur utama Regans Company William Regans mengirim proposal kerja sama untuk proyek pembangunan jembatan di kota K yang sedang di tinjau oleh tim analisis presdir” papar Steven menjelaskan.
“Mulai sekarang DA Corp tidak menjalin kerja sama dengan Regans Company dalam proyek apapun lagi” titah Denis dengan suara tegas.
“Lalu bagaimana dengan proposal yang mereka kirim kemarin dulu presdir?” tanya Steven dengan cepat.
“Apa kamu bodoh!” hardik Sandro dengan suara tinggi.
“Maafkan saya tuan Sandro”
“Presdir sudah memberi perintah menolak semuanya. Itu berarti tidak ada kerja sama lagi dengan perusahaan mereka mulai sekarang. Apa anda sudah mengerti direktur Steven Kaito?” tanya Sandro dengan suara tegas dan lantang.
“Maafkan kebodohan saya presdir” ucap Steven sambil membungkuk.
“Pantau proyek kita di Singapura” titah Denis dengan suara dingin.
“Baik presdir”
“Sandro kamu dan direktur Steven yang akan meninjau proyek itu lagi dan usahakan bulan depan proyek itu sudah selesai” ucap Denis memberi perintah.
“Rencananya aku akan berangkat minggu depan bos” ucap Sandro.
“Lusa. Kalian berdua berangkat lusa karena aku tidak mau tikus-tikus itu kembali berulah” ucap Denis dengan suara tegas.
“Baik bos. Presdir” ucap keduanya serentak.
“Oh iya presdir, di bawah direktur Victory Company masih menunggu untuk bertemu denganku presdir” ucap Steven memberitahu kedatangan direktur perusahaan yang Denis buat bangkrut dalam 2 jam.
“Ckk!! Mau apa lagi mereka datang” ketus Sandro dengan sinis.
“Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan?” tanya Denis dengan tatapan tajam.
“Tahu presdir” jawab Steven dengan sopan.
“Pergi” usir Denis dengan suara dingin.
“Baik presdir. Saya pamit dulu” ucap Steven membungkuk hormat dan berlalu keluar.
Melihat direktur utama Steven Kaito sudah keluar dari ruangannya Denis lalu menatap Sandro dengan tajam karena ada beberapa hal yang harus mereka bahas saat ini.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
1 Minggu kemudian
Tak terasa waktu sudah berlalu dengan sangat cepat dan sudah 1 minggu berlalu dengan cepat sejak Denis kembali masuk kantor. Saat ini Denis sedang sarapan di rumah sang mama karena ia akan mengantar mamanya ke restoran miliknya.
“Ma mulai sekarang jangan kirim makan siang lagi buat Denis ma” ucap Denis setelah menghabiskan sarapannya dan menikmati kopi hitam tanpa gula kesukaannya.
“Kenapa nak? Apa makanan mama tidak sesuai selera kamu?” tanya Amira dengan cepat.
“Makanan mama sangat enak dan sesuai selera aku tapi mulai hari ini aku akan sibuk dengan pekerjaan aku dan akan lebih banyak makan di luar karena ada beberapa meeting yang jamnya tepat waktu makan siang ma” papar Denis menjelaskan dengan suara lembut.
“Oh gitu ya nak”
“Iya ma. Jadi dari pada makanannya mubasir lebih baik mama jangan kirim makan siang dan nanti Denis akan beritahu jika Denis ingin makan makanan mama”
“Baiklah nak mama ngerti. Tapi ingat jangan lewatkan jam makan siang ya nak” ucap Amira dengan suara lembut.
“Iya ma”
Selesai sarapan keduanya segera pergi ke restoran sang mama baru habis itu Denis pergi ke perusahaan.
~ D&A Resto ~
Amira menatap kepergian sang anak dengan tatapan lembut saat turun dari mobil dan tanpa ia sadari ternyata seorang berbaju hitam yang sedang menatapnya dengan Denis sejak mereka datang dengan saksama.
Orang itu lalu mengambil hpnya dan menelpon orang diseberang sana dan pada panggilan ketiga barulah panggilannya di jawab.
^^^“Halo tuan”^^^
“Katakan” ucap orang dari seberang dengan suara berwibawa.
^^^“Nyonya Amira sudah mulai kembali bekerja di restorannya hari ini tuan” lapor orang tadi.^^^
“Pantau terus Amira dan laporkan kepadaku jika ia keluar karena siang nanti aku akan ke sana”
Orang itu segera menaruh kembali hpnya setelah melihat panggilannya sudah dimatikan dari sana. Tatapan matanya tak pernah lepas dari restoran milik Amira karena harus memantau Amira sampai tuannya datang siang nanti.
Sedangkan didalam restoran Amira merasa bersyukur karena semua karyawannya menyambut kedatangannya pagi ini dengan kejutan.
“Terima kasih semuanya” ucap Amira sambil tersenyum tulus.
“Sama-sama nyonya” ucap semuanya dengan serentak.
“Karena aku baru sembuh maka hari ini restoran kita akan tutup jam 19:00 malam dan kalian akan mendapat bonus khusus dari aku” ucap Amira dengan suara lantang.
Yeayy…………
Prok…………….prok…………….prok…………prok………..
“Terima kasih nyonya” ucap pak Roni sous chef.
“Terima kasih banyak nyonya” ucap karyawannya yang lain.
Mereka semua sangat gembira karena hari ini mereka akan tutup lebih awal dan juga mendapat bonus dari pemilik restoran. Amira segera menyuruh mereka untuk mulai bekerja karena sebentar lagi restoran mereka akan dibuka.
“Keysa jam makan siang nanti kamu berikan laporan keuangan restoran selama saya tidak masuk ya” ucap Amira sambil masuk ke dalam ruangannya.
“Baik nyonya”
“Oh ya mulai hari ini tidak usah mengirim makan siang lagi untuk anakku” ucap Amira dengan cepat memberi tahu Keysa.
“Kenapa nyonya?” tanya Keysa dengan cepat.
Amira tersenyum tak membalas pertanyaan Keysa karena menurutnya tak penting harus memberitahu alasannya. Saat Amira sudah menutup pintu kerjanya raut muka Keysa berubah drastis dari yang tadinya ceria menjadi datar dan kebingungan.
__ADS_1
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Apa maksud nyonya? Kenapa tidak mengantar makan siang lagi buat tuan muda?” tanya Keysa dengan suara pelan.
Pikirannya berkelana memikirkan berbagai kemungkinan yang terjadi, sehingga membuat dia tidak konsen bekerja hari ini dan melakukan kesalahan saat membuat laporan hari ini.
Tok………….tok……………..tok……………..
“Ya masuk” ucap Amira dengan suara lembut dari dalam ruang kerjanya.
“Nyonya ini laporan yang nyonya minta tadi pagi” ucap Keysa dengan wajah datar.
“Taruh saja di atas meja Keysa”
Keysa menaruh laporan sesuai ucapan Amira barusan dan saat Amira menatap Keysa ia mengerutkan keningnya melihat wajah Keysa yang siang ini tampak berbeda dari tadi pagi.
“Keysa apa kamu sakit?” tanya Amira.
“Tidak nyonya” jawab Keysa dengan singkat dan tegas.
“Apa kamu ada masalah?” tanya Amira lagi yang semakin yakin ada sesuatu yang terjadi.
“Tidak ada nyonya” jawab Keysa dengan suara dingin.
“Oh baiklah. Kamu sudah makan siang belum Keysa kalau belum…” ucap Amira yang tiba-tiba dipotong Keysa.
“Saya akan makan siang dengan rekan kerja yang lain nyonya. Kalau tidak ada yang nyonya butuhkan saya permisi” ucap Keysa sambil berlalu pergi tak menunggu balasan Amira.
Amira tercengang melihat sifat Keysa yang untuk pertama kalinya memotong ucapannya dan pergi begitu saja sebelum ia menyuruhnya pergi. Kening Amira mengerut memikirkan apa yang terjadi dengan Keysa membuat dia tak tenang.
“Ada apa dengan anak itu? Apa dia lagi ada masalah sama keluarganya?” tanya Amira dengan penasaran.
Sedangkan Keysa yang sudah keluar dari ruangan Amira bergegas ke kamar mandi untuk meredam emosinya, karena hari ini tidak bisa melihat Denis meski sepintas saja seperti hari biasanya.
Sial! Kenapa aku jadi bete dan emosi gini sih karena tidak bisa melihat tuan muda, batin Keysa sambil menatap dirinya lewat cermin dan mengepal kedua tangannya meredam emosi dalam hatinya.
Phew……………
Keysa membuang napas dengan kasar setelah berhasil mengontrol emosinya meski wajahnya masih terlihat suntuk dan kesal.
Tanpa semua orang tahu ternyata selama ini Keysa sudah menaruh hati kepada Denis, itu dimulai saat ia masih bekerja sebagai pelayan di warung makan tante Amira di rumah mereka.
Sejak saat itu diam-diam Keysa selalu mencuri-curi pandang menatap Denis, hanya untuk membuat dia semakin rajin bekerja dan tidak akan pernah bosan seharian meski harus bekerja keras intinya ia sudah bisa melihat wajah Denis hari itu.
Tring……………..
Bunyi lonceng didepan pintu masuk restoran berbunyi menandakan ada tamu yang baru saja masuk atau tamu yang hendak keluar dari restoran.
“Selamat datang tuan. Boleh tahu untuk berapa orang tuan?” tanya pelayan di pintu masuk dengan sopan.
“Kami ingin ruang VIP” ucap seorang pria yang berbicara dengan kaku.
Dilihat dari aksennya berbicara bahasa Indonesia yang kaku, menandakan ia bukan orang Indonesia meski ia lancar berbahasa Indonesia.
“Mari ikut saya tuan” ucap pelayan tersebut sambil memimpin jalan menuju lantai 2 untuk ke ruangan VIP.
Ketiga orang itu lalu mengikuti pelayan tadi sambil menatap sekeliling melihat interior restoran dan bangunan restoran yang unik dan nyaman, membuat siapa saja akan betah berlama-lama disana dan tidak bosan.
Pilihan model arsitekturnya sangat bagus, batin seorang pria tua sambil mengangguk kepalanya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue………………
__ADS_1