Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 190


__ADS_3

Jantung Roy berdetak dengan cepat saat kepala pelayan membuka kotak hitam yang tadi ia bawa. Meta keduanya seakan ingin keluar dari tempatnya melihat isi kotak tersebut.


Kepala pelayan menoleh ke samping menahan rasa mual melihat isi kepala Alan Draw yang berhamburan keluar, apa lagi di keningnya ada peluru yang tertancap disana.


Brak..............


Roy menggebrak meja kerjanya dengan kuat melampiaskan emosinya. Melihat mata Alan Draw yang masih melotot ia tahu kalau Alan mati saat di tembak di kepala.


"Tuan Sepertinya ada sepucuk surat didalam" ucap kepala pelayan yang sempat melihat kertas di bagian ujung.


Roy segera mengambil kertas tersebut dan menyuruh kepala pelayan keluar, tak lupa membawa kotak tersebut dan melakukan seperti biasa yaitu memusnahkan kotak itu beserta isinya.


"DENIS ARKANA" hardik Roy dengan suara menggelegar saat membaca surat tersebut.


Selamat menikmati hadiah dariku pak tua. Sebaiknya kalian persiapkan diri kalian karena sebentar di lagi aku akan membalas semua perbuatan kalian. Ah! Jangan lupa beritahu si sialan Massimo itu kalau aku juga mengirim hadiah untukku.


Denis Arkana


Roy meremas surat tersebut dengan erat hingga buku-buku tangannya terlihat. Ia tidak menyangka kalau Martin Massimo akan bertindak bodoh dan tidak berpikir lebih dahulu.


"Berengsek kamu Martin Massimo" teriak Roy dengan suara menggelegar didalam sana.


Ceklek..............


"Daddy kenapa?" tanya Simon dengan suara dingin masuk ke dalam ruang kerja sang daddy.


"Beraninya kamu masuk tidak mengetuk pintu!" bentak Roy dengan suara tinggi.


"Aku sudah mengetuknya tapi tidak ada jawaban jadi aku masuk saja. Lagian daddy mikir apa sih sampai tidak mendengar ketukan pintu?" tanya Simon dengan kesal.


"Ckk!! Kenapa kamu mencari daddy?" tanya balik Roy sambil berdecak.


"Aku ingin memberitahu kalau besok aku akan berangkat ke Amerika untuk memantau proyek pembangunan hotel kita disana jadi meeting dengan Archile Company, daddy yang akan pergi" jawab Simon dengan cepat.


"Heemmm"


Simon segera keluar dari sana tidak berbicara lagi. Saat masuk ke kamarnya ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi daddynya tadi, ia tahu kalau pasti saat ini daddynya ingin memukul seseorang melampiaskan emosinya.


"Daddy sih sudah salah mencari lawan" ucap Simon sbil tersenyum menyeringai.


Simon menatap kepergian daddynya dari jendela kamar dan ia yakin pasti daddynya akan pergi ke pertemuan rahasia, yang selama ini dia daddynya sembunyikan dari mereka.


~ Markas Nine Cloud ~


Brak...................


Roy membuka pintu pertemuan dengan kasar mengagetkan mereka semua didalam sana. Ia lalu menuju ke arah Martin dengan tatapan emosi seakan ingin menelannya hidup-hidup.


Bugh..............brugh...............


Roy menendang Martin dengan kuat hingga ia terjungkal ke belakang bersama kursi yang ia duduki. Semuanya seketika berdiri melihat apa yang dilakukan ketua mereka.


"Apa maksudmu Roy Martinez? Beraninya kamu menendang aku sialan?" tanya Martin dengan emosi.


"Kamu tanya kenapa sialan? Gara-gara Otok bodohmu itu kita harus kehilangan Alan Draw bangsat!" bentak Roy dengan suara menggelegar.


"Apa!" pekik semuanya dengan kaget.


"Apa maksud anda Mr. Massimo? Bukannya Mr. Draw saat ini sedang bersembunyi di pulau pribadinya?" tanya William dengan cepat.


"Tanya si bodoh itu! Apa yang sudah dia lakukan!" hardik Roy dengan tatapan membunuh sambil menunjuk Martin.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Martin bangun sambil menahan sakit di perutnya akibat tendangan Roy barusan. Ia menatap Roy dengan tatapan permusuhan tidak perduli dengan hubungan mereka selama ini.


"Kamu menyalahkan aku karena kematian si bodoh itu sialan!" bentak Martin dengan suara tinggi.


Dor................aaarrggh.............


Bunyi tembakan dan suara jeritan kesakitan bergema didalam sana saat Roy melepas tembakannya ke paha kiri Martin.


"Kurang ajar kamu Roy Martinez! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Martin dengan suara tinggi.


Martin berjalan menghampiri Roy Martinez sambil menahan sakit ingin memberinya pelajaran. Belum juga ia berhasil memukul Roy tapi malah ia yang dihajar balik Roy.


Bugh...........bugh.............bugh...........


Roy menghajar Martin dengan brutal tidak memberinya kesempatan untuk membalas atau mengelak dari pukulannya.


Darah bercucuran dari wajah Martin membuat seisi ruangan di penuhi bau anyir yang sangat kuat. Roy mengambil sapu tangannya dan mengelap darah Martin di tangannya sambil menatap Martin dengan tajam di lantai.


Napas Martin naik turun menahan rasa sakit yang amat sakit didalam tubuhnya. Sedangkan yang lainnya hanya diam saja tak berniat membantu atau memisahkan keduanya.

__ADS_1


"Ini akibatnya karena sudah bertindak bodoh sialan!" bentak Roy dengan suara dingin.


"Bisa anda jelaskan ini semua Mr. Martinez?" tanya Yuri dengan suara tegas.


"Alan Draw sudah mati ditangan Denis Arkana dan ia mengirim kepala Mr. Draw ke mansion aku serta sebuah surat" jawab Roy dengan suara tegas.


"Surat?" tanya William dengan sebelah alis terangkat.


Roy lalu memberikan surat dari Denis kepada William sehingga mereka bisa membacanya. Mereka kaget melihat isi surat itu apa lagi tulisan didalam surat itu menggunakan darah asli.


"Berengsek!" hardik William dengan emosi.


"Ckk!! Anda memang sangat bodoh Mr. Massimo" cibir Yuri dengan tatapan sinis.


Martin mengepal kedua tangannya dengan erat merasa marah dan kesal mendengar cibiran Yuri barusan.


Awas saja kalian! Jika aku sudah mendapatkan harta si Demian maka aku akan membunuh kalian semua, batin Martin dengan penuh dendam.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sanchez George yang sedari tadi diam.


"Sebaiknya kita jangan melakukan apapun saat ini. Aku tidak ingin mengambil resiko salah satu dari kita kehilangan nyawanya" jawab Henry memberi usul.


"Ya aku setuju dengan Mr. Ignasio tapi menurutku akan ada seseorang yang bakal menyusul ketiga teman kita" tambah Yuri sambil melirik ke arah Martin.


Semua mata langsung menatap ke arah Martin dan membenarkan ucapan Yuri didalam hati.


"Berengsek!" desis Martin dengan kesal saat mendapat tatapan seperti itu.


"Kita tunggu keadaan tenang baru kita bergerak dengan rencana kita. Lagian kita harus menyingkirkan Pablo terlebih dahulu sebelum dia membuka mulut di media" ucap Roy dengan suara tegas.


"Ya aku setuju" ucap semua dengan serentak kecuali Martin.


Mereka lalu bergegas pergi dari sana meninggalkan Roy dan Martin didalam sana. Sebelum pergi Roy menyuruh anak buah Martin untuk membawa Martin ke rumah sakit.


~ Smith Corp ~


Austin Smith tersenyum membaca informasi mengenai Denis dari Rayen tentang apa yang ia lakukan kepada anggota Nine Cloud.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Kamu memang sangat licik dan hebat sepeti rumor selama ini Denis" ucap Austin sambil tersenyum smirk.


"Bagaimana kerja sama kita dengan kelompok mafia Denis yang berada di sini?" tanya Austin dengan tatapan tajam.


"Beritahu semua anak buah kita untuk tidak mencari masalah dengan kelompok mafia Denis" titah Austin dengan suara tegas.


"Baik bos"


"Jangan lupa malam nanti kamu pantau barang kita yang masuk. Suruh mereka memeriksa kesehatan barang baru sebelum dilelang" ucap Austin dengan tegas.


"Baik bos akan saya lakukan"


"Kapan Rayen akan kesini?" tanya Austin lagi.


"Presdir Baker akan kesini 4 hari lagi bos" jawab Kenneth.


"Kosongkan jadwal aku dihari itu"


"Baik bos"


~ Mansion Denis Arkana ~


Saat ini Denis sedang menatap sahabatnya dengan tatapan tajam karena sudah menganggu waktunya bersama sang istri.


"Pulang sana aku tidak sudi melihat wajah jelekmu itu" usir Denis dengan suara dingin.


"Ckk!! Kamu itu memang sahabat kurang ajar!" sarkas Adrian dengan kesal.


"Aku tidak mengundangmu kesini jadi lebih baik kamu pulang sana"


"Sayang jangan gitu dong. Lagian dia itu kan tamu sayang" ucap Leila tak enak hati.


"Wah saudara ipar memang yang terbaik. Tidak seperti gunung es itu" puji Adrian sambil menatap Denis dengan sinis.


Brugh.................


"Kamu memang keterlaluan Denis Arkana" pekik Adrian dengan suara tinggi.


Bagaimana tidak Denis melempar kotak tisu hingga mengenai keningnya. Sedangkan Leila ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang suami.


"Pulang atau kamu tidur bersama Sera dan Seno" ucap Denis sambil tersenyum smirk.


"Ya ya ya aku akan pulang tapi setelah aku berbicara denganmu" ketus Adrian dengan kesal.

__ADS_1


Leila lalu beranjak pergi dari sana tak mau menganggu keduanya karena ia yakin ini pembicaraan rahasia. Meskipun begitu Denis pasti akan memberitahunya nanti.


"Katakan" titah Denis dengan suara dingin dan datar.


"Lusa akan diadakan rapat pemegang saham di kantor papa dan aku butuh suaramu untuk mendukung aku menjadi direktur utama" ucap Adrian to the point.


"Lalu bagaimana dengan karir kamu?" tanya Denis.


"Aku akan berhenti dari dunia entertainment sebelum anak siluman itu dan perempuan siluman itu mengambil semua aset aku dan kendali atas perusahaan" jawab Adrian dengan suara tegas.


"Aku akan membantumu tapi bukannya papa kamu masih menjabat sebagai direktur utama"


"Ya memang benar. Tapi kamu jangan lupa kalau kakek aku adalah komisaris tertinggi dan kakek sendiri yang berencana ingin mengantikan papa. Karena selama ini kakek sudah lelah dengan kedua siluman itu yang menghambur-hamburkan uang perusahaan" papar Adrian menjelaskan dengan emosi.


"Heemm! Beritahu kakek kamu kalau aku akan berada di pihak kamu"


"Thank's dude"


"Heemmm"


"Oh ya ada satu lagi yang ingin aku berikan ke kamu" ucap Adrian ambil mengambil bolpoin dan memberikannya ke Denis.


Denis menerimanya dengan kening berkerut tidak paham dengan maksud Adrian. Melihat hal itu Adrian segera menyuruhnya untuk menekan tombol kecil di sampingnya.


"Bangsat!" maki Denis dengan emosi mendengar isi rekaman yang diberikan Adrian.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya dude" ucap Adrian dengan santai berlalu pergi.


Prang...................


Leila yang baru keluar dari dalam kamar kaget bukan main mendengar bunyi pecahan dari lantai satu.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ia berlari turun ke lantai satu ingin melihat apa yang terjadi dengan suaminya, karena hanya suaminya yang bisa menghancurkan barang didalam mansion.


Leila menutup mulut syok melihat meja kaca di ruang keluarga sudah hancur dilantai. Matanya lalu tertuju ke arah sang suami yang sedang berdiri dengan wajah merah padam.


"Pak Tio suruh semuanya keluar dan jangan biarkan siapapun masuk" titah Leila dengan suara tegas.


"Baik nyonya"


Melihat semua pelayan sudah keluar, dengan langkah pelan Leila mendekati suaminya dan memeluknya dari belakang.


"Tenangkan dirimu sayang" ucap Leila dengan suara lembut.


Denis berbalik dan langsung memeluk sang istri mencari ketenangan didalam pelukannya. Napasnya naik turun menandakan saat ini ia sangat emosi.


Leila sendiri mengelus punggung suaminya dengan lembut memberitahunya kalau semua akan baik-baik saja.


"Kamu kenapa sayang? Cerita sama aku sayang" ucap Leila dengan suara lembut.


"Aku benci keluarga mommy kamu sayang" jawab Denis dengan suara dingin.


"Loh memangnya kenapa sayang?" tanya Leial dengan bingung.


Pasalnya sang suami belum pernah bertemu dengan keluarga sang mommy, lalu bagaimana bisa ia bilang kalau membenci mereka.


Tak berkata apa-apa Denis lalu memperdengarkan rekaman yang diberikan Adrian tadi.


Isi rekaman


"Apa kamu yakin akan menemui Leila?" tanya seorang pria didalam rekaman tersebut.


"Ya. Besok aku akan menemuinya dan membicarakan tentang pembagian harta peninggalan kedua orang tuanya. Lagian mommynya kakak aku jadi aku berhak dong dapat sebagain harta mereka" ucap seorang perempuan yang Leila tahu adalah tante kandungnya.


"Bagus sayang. Jangan lupa dengan rencana kita ya"


"Pasti dong sayang. Aku akan membuat dia cerai dari suaminya dan menikahkan dia dengan klien kamu itu sesuai kesepakatan kita"


"Good. Aku sudah tidak sabar sayang"


"Aku juga sayang karena dengan begitu kita akan memiliki uang yang sangat banyak"


Hahahahaha


Leila syok mendengar rekaman tersebut dan seketika tubuh terasa lemas dan hampir jatuh. Beruntung suaminya menahannya sehingga tidak sampai jatuh.


"Mereka ingin menjual aku sayang" ucap Leila dengan mata berkaca-kaca.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.................

__ADS_1


__ADS_2