Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 181


__ADS_3

Bunyi tembakan kembali bergema didalam hutan, tapi bukan dari Denis melainkan dari Sandro. Ia melepaskan 2 tembakan ke arah tangan Dante saat melihat gerakan tangannya yang ingin menembak Denis.


"Beraninya kamu menganggu kesenanganku!" bentak Denis dengan tatapan membunuh.


"Maaf bos" ucap Sandro sambil menunduk merasa takut dengan tatapan dari sang bos.


Denis menghampiri Dante yang meringis kesakitan sambil merangkak ke depan. Melihat hal itu Denis tersenyum menyeringai melihat musuhnya yang terlihat seperti anjing ketakutan.


"Mau kabur dari aku?" tanya Denis sambil memegang kaki Dante sehingga ia tidak bisa merangkak lagi.


"Lepas sialan! Beraninya kamu bermain curang dengan lawanmu!" hardik Dante sambil tersenyum mengejek.


"Ah! Curang ya? Aku tidak menyangka seorang mafia terkenal seperti kamu ternyata sangat takut dengan anak kecil seperti aku" balas Denis sambil tersenyum smirk.


"Bajingan! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Dante dengan emosi.


"Coba saja. Aku sangat menantikannya" balas Denis dengan tatapan mengejek melihat tangan dan kaki Dante yang terus mengeluarkan darah.


"Bangsat kamu Denis Arkan" hardik Dante dengan suara menggelegar.


Sret.............sret...........sret............


Denis menusuk pisau lipat kesayangannya di tubuh Dante berkali-kali membuat Dante berteriak kesakitan.


Mendengar suara jeritan Dante yang seperti musik indah, Denis tertawa dan terus bermain dengan tubuh Dante. Melihat bosnya yang sedang menikmati permainannya Sandro diam saja sambil melihat keadaan sekitar.


"Polisi sedang menuju kesini dude karena ada a


laporan warga yang mendengar suara tembakan" ucap Arsen lewat earpiece.


^^^"Sial!"^^^


"Beritahu bos untuk segera pergi dari sana"


^^^"Suruh Thomas temui kami di hutan bagian timur. Kamu bereskan semua kekacauan disana"^^^


"Heemmm"


Sandro melangkah maju menghampiri Denis yang sedang asyik bermain di tubuh Dante dengan pisau lipatnya. Ia menelan salivanya berkali-kali merasa takut karena harus menganggu kegiatan sang bos.


"Bos" panggil Sandro dengan suara dingin.


"Apa kamu sudah bosan hidup sialan!" bentak Denis dengan suara dingin.


"Ma.....af bos. Tapi kata Arsen polisi sedang menuju kesini" ucap Sandro dengan gugup.


"Sialan!" umpat Denis dengan kesal.


"Bawa dia ke markas karena aku belum puas bermain dengannya" ucapnya lagi dengan suara dingin.


"Baik bos" jawab Sandro dengan cepat.


Sandro lalu mengangkat tubuh Dante yang bersimbah darah. Tak lupa menyuruh anak buahnya untuk membersihkan darah Dante yang berceceran didalam hutan dan menghilangkan semua jejak mereka.


30 Menit kemudian


Setelah kepergian Denis dan rombongannya tiba-tiba ada 4 mobil polisi yang datang di sana. Mereka mendapat laporan dari warga yang tinggal tak jauh dari sana jika ada terdengar bunyi tembakan yang sangat banyak.


"Komandan" panggil Angga saat detektif Gilang keluar dari mobilnya.


"Bagaimana?" tanya detektif Gilang dengan suara dingin.


"Kami sudah menyusuri semua lokasi tapi tidak ada yang mencurigakan dan tidak menemukan apapun disini komandan" jawab Angga menjelaskan.


"Cctv di sekitar sini?" tanya detektif Gialng lagi.


"Tidak ada cctv di sin ia bos dan untuk di jalan utama cctv sedang dal perbaikan komandan" jawab Angga dengan cepat.


Tak berselang lama Riki datang menghampiri keduanya dan melaporkan hasil penelusuran mereka di dalam hutan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Tidak ada apa-apa didalam hutan komandan. Bahkan kami tidak menemukan satu pun peluru disana" lapor Riski.


"Apa kamu sudah menyusuri semua tempat?" tanya detektif Gilang dengan selidik.


"Kami sudah menyusuri seluruh hutan sebanyak 3 kali komandan tapi tidak ada yang mencurigakan" jawab Riki dengan suara tegas.


"Berarti laporan masyarakat salah dong?" tanya Angga.


"Aku tidak tahu. Tapi dari keterangan orang yang menelpon ke kantor, ia berkata kalau mereka semua mendengar dengan jelas suara tembakan yang sangat banyak dari sini hutan" jawab Riki menjelaskan.


"Kalau ada baku tembak disini berarti harus ada peluru yang berceceran disini. Tapi kenapa tidak ada apa-apa disini?" tanya Angga dengan bingung.


"Mungkin saja warga salah mendengar" tebak Riki.


Detektif Gilang yang sedari tadi diam dan melihat ke sekeliling, lalu berjalan maju menuju satu pohon yang tak jauh dari mereka.


Tangannya meraba pohon tersebut dan mendapati lubang yang terlihat aneh. Bibirnya tersenyum menyeringai mengetahui lubang apa itu.


"Menarik" ucap detektif Gilang sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


"Apa yang menarik komandan?" tanya Angga dan Riki dengan serentak.


"Mereka sudah membersihkan tempat ini sebelum kita sampai" jawab detektif Gialng dengan suara dingin.


"Hah! Jadi menang benar terjadi baku tembak disini tadi komandan" tebak Angga dengan kaget.


"Heemm"


"Tapi siapa mereka?" tanya Riki dengan penasaran.


"Yang pasti dia orang yang sangat berkuasa dan pintar" jawab detektif Gialng dengan suara tegas memikirkan nama seseorang diotaknya.


Denis Arkan aku tahu itu kamu, batin detektif Gialng dengan yakin.


~ Markas Black Demon ~


Aaarrrgghhh...............


Suara jeritan kesakitan Dante bergema didalam sana dimana ia sedang diikat dengan rantai berbentuk huruf X, tak lupa menerima permainan pisau Danis yang sangat mengerikan.


"Bagaiman rasanya?" tanya Denis sambil tersenyum lebar.


"B.......unuh s.....aja aku" lirih Dante dengan suara pelan merasa sangat kesakitan.


"Sayangnya kematian terlalu mudah untukmu! Hehehehe" balas Denis sambil terkekeh.


Crash............crash..........crash...........


Aaarrgghh...............


Jeritan kesakitan Dante kembali bergema didalam ruang interogasi saat Denis mencambuknya. Darahnya mengalir dengan deras didalam sana dengan isi da**ng tubuhnya yang berceceran terkena mata pisau kecil di ujung cambuk.


Arkan dan Mark yang melihat kekejaman Denis sampai muntah merasa mual. Meski mereka sudah berulang kali melihat kekejaman sang bos tapi mereka belum terbiasa.


Tak.........tak.............tak...........


Semua pandangan langsung tertuju ke asal suara dimana itu adalah Max yang datang bersama Pablo.


"Untuk apa kamu membawa pak tua ini kesini berengsek!" bentak Sandro dengan suara tinggi.


"Ini perintah bos tadi saat tiba di markas" balas Max dengan suara dingin.


Duar...............


Tubuh Pablo menegang saat matanya dibuka karena tadi di tutup kain hitam saat ia dijemput di mansionnya.


Ia syok melihat apa yang dilakukan Denis didepan sana, mengingatkannya dengan kekejaman sang sahabat saat menyiksa musuhnya.


Denis berdecak kesal saat melihat Dante yang kembali pingsan karena mengeluarkan darah yang sangat banyak.


"Bangunkan dia" titah Denis dengan suara dingin sambil berlalu duduk di kursi khusus untuknya.


Byur...............


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Mata Dante seketika terbuka dari pingsannya saat tubuhnya disiram air dingin oleh Jeky. Pablo kaget melihat orang yang terikat didepan sana adalah Dante Constanzo, karena tadi tubuhnya dipenuhi darah jadi ia tidak bisa mengenalinya.


"Dante Constanzo" pekik Pablo dengan kaget.


Mata Dante lalu tertuju ke asal suara dan seperti Pablo ia juga kaget melihat musuh lama perkumpulan mereka yang berdiri didepannya saat ini.


"Pablo Ulrico! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Dante dengan penuh kebencian.


"Ingin membunuhku. Apa kamu tidak sadar kondisimu saat ini bajingan!" bentak Pablo dengan tatapan penuh kebencian.


"Sepertinya kalian punya sejarah yang lumayan bagus" ucap Danis sambil tersenyum menyeringai.


"Jadi kamu sudah bertemu anak Demian rupanya! Hahaha" tawa Dante menggelegar didalam sana.


"Aku tidak menyangka ternyata kamu sudah selangkah didepan kami. Aku yakin kamu sudah menceritakan semua tentang kami kepada anaknya" tambahnya lagi sambil tersenyum smirk.


"Ya aku sudah menceritakan semuanya. Bahkan aku juga memberitahu penyebab kematian sahabat aku yang kalian racuni sialan!" hardik Pablo dengan tatapan membunuh.


Hahahahaha...............


Tawa Dante menggelegar didalam sana membuat Pablo menatapnya dengan penuh kebencian sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


"Menurutku kematian Demian memang pantas karena dia itu si pengkhianat didalam perkumpulan kita" ucap Dante dengan suara tinggi.


"Dia bukan pengkhianat tapi kalian anj**g! Kalian tidak menyukainya karena kekayaan dan kekuasaan yang ia miliki makanya kalian menjebaknya sialan!" maki Pablo dengan suara tinggi.


Urat lehernya sampai terlihat tak terima nama sahabatnya diejek. Ia tahu dengan jelas bagaimana sahabatnya difitnah dan dijebak oleh anggota perkumpulannya sendiri.


Dor................aaarrggh...........


Jeritan Dante kembali bergema saat Denis menembaknya tepat di mata kiri. Matanya menatap Denis dengan penuh kebencian dan amarah.


"Kalian tidak akan selamat karena susah menangkap aku sialan!" teriak Dante dengan emosi.


"Lihat saja anak buahku akan membalas semua perbuatan kalian. Meski aku hari ini mati tapi mereka akan tetap membalas dendam kematian aku" tambahnya lagi dengan suara tinggi.

__ADS_1


"Oh maksudmu anak buahmu yang ini" ucap Danis sambil menunjuk ke arah proyektor.


"SIALAN KAMU DENIS ARKANA. AKU AKAN MEMBUNUHMU BANGSAT!" teriak Dante kesetanan. melihat markasnya yang sudah rata dengan tanah.


Bukan hanya markasnya di Indonesia saja tapi di Italia dan Amerika sudah dibom oleh anak buah Denis. Tawa Denis pecah melihat musuhnya yang sudah tidak berkutik lagi karena kehilangan semuanya.


"Sandro" panggil Denis dengan suara dingin.


"Iya bos" jawab Sandro dengan cepat.


"Kamu tahu dimana keluarga dia kan?" tanya Denis sambil tersenyum penuh arti melihat Dante.


"Apa yang mau kamu lakukan? Jangan sentuh keluargaku sialan!" teriak Dante dengan panik.


"Aku tahu dimana mereka berada bos" jawab Sandro sambil tersenyum menyeringai.


"Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" ucap Denis sambil menatap Sandro dengan tatapan tajam.


"Aku tahu bos"


Sandro segera pergi untuk melakukan perintah Denis mengenai kelaurga Dante. Sedangkan Dante ia berteriak sepeti orang gila untuk tidak menyakiti keluarganya.


"Bunuh dia dan kirim ke Martinez sialan itu" titah Denis dengan suara dignin.


"Apa aku boleh membalaskan dendam kematian istriku kepada dia Denis?" tanya Pablo.


"Heemmm" deham Denis mengangguk kepalanya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Pablo lalu maju dan memukul Dante melampiaskan semua amarah dan dendam dalam hatinya. Melihat hal itu Denis segera pergi karena sudah tidak mood lagi.


"Bos nyonya menelpon" ucap Arsen menyodorkan hp Denis.


Dengan cepat Denis menerimanya dan langsung menjawab panggilannya. Tapi saat melewati Arkan dan Mark wajahnya menghitam tak suka dengan warna rambut keduanya yang membuat matanya sakit.


"Arsen beri mereka pelajaran" titah Denis sambil menunjuk keduanya.


"Baik bos" ucap Arsen sambil tersenyum menyeringai.


Hah....................


Keduanya melongo tak mengerti dengan jalan pikiran Denis yang menyuruh Arsen untuk memberi keduanya pelajaran.


^^^"Halo sayang" ucap Denis dengan suara lembut.^^^


"Sayang kamu dimana? Kenapa belum pulang?" tanya Leila dengan suara lembut dari sebrang.


^^^"Aku ada di markas sayang. Sebentar lagi aku pulang sayang" jawab Denis dengan cepat.^^^


"Kamu tidak kenapa-napa kan sayang?" tanya Leila dengan cemas karena tahu jika suaminya ke markas berarti ada sesuatu yang terjadi.


^^^"Tidak sayang. Aku akan pulang sekarang"^^^


"Baiklah sayang. Hati-hati sayang"


^^^"Heemmm"^^^


Denis lalu mematikan panggilannya sepihak dan segera masuk ke dalam mobil tidak membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.


Entah bagaimana reaksi Leila nanti jika melihat tubuh suaminya yang penuh dengan darah saat ini. Denis tersenyum penuh arti ingin melihat reaksi istrinya.


~ D&A Resto ~


Waktu sudah menunjukkan pukul 01:00 dini hari tapi lampu di dalam dapur restoran masih saja menyala. Ternyata didalam sana ada Amira, Anisa, Amir, dan pak Roni yang sedang menyiapkan semua bahan untuk acara penting besok.


Kebetulan restoran mereka mendapat tawaran untuk menyiapkan hidangan pesta pernikahan salah satu selebriti tanah air di Hotel Rose.


"Apa semuanya sudah beres?" tanya Amira.


"Sudah nyonya" jawab ketiganya dengan serentak.


"Kalau begitu kalian boleh istirahat di kamar karyawan karena ini sudah larut malam. Belum lagi kita harus bangun pagi-pagi sekali besok untuk menyiapkan semua hidangan" titah ria dengan suara lembut.


"Baik nyonya" jawab ketiganya dengan serentak.


Mereka lalu bergegas pergi untuk tidur, tampa Amira tahu jika di laur sana ada 2 orang berbaju hitam sedang mengawasi restorannya.


^^^"Ibunya malam ini menginap di restorannya bos" ucap salah satu orang berbaju hitam itu lewat telpon.^^^


"........."


^^^"Pengawalannya sangat ketat bos. Mereka selalu stand by 24 jam bos"^^^


"........."


^^^"Baik bos"^^^


Kedua orang itu lalu pergi dari sana dengan cepat sebelum pengawal Amira menyadari kehadiran mereka disana, setelah melapor pengintaian mereka selama beberapa hari kepada bos mereka.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue................


__ADS_2