Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 90


__ADS_3

Denis pergi dari sana karena ingin mengunjungi markas Black Damon di Amerika meninggalkan Bimo dan Arkan disana. Arkan menelan salivanya dengan susah melihat tatapan Bimo yang terlihat sangat menakutkan lain dari biasanya.


“Kamu dengar itu bocah!" ucap Bimo dengan tatapan tajam.


"Sebaiknya kamu jangan gagal lagi kali ini! Jika tidak aku akan menaruh tubuhmu di atas brankar operasi lalu mengeluarkan semua organ tubuhmu dan menjualnya!” ancam Bimo dengan suara tegas dan tak ada kebohongan sama sekali.


Arkan mengangguk kepala menjawab ucapan Bimo lalu mengambil napas sebanyak-banyaknya sebelum memulai latihannya kembali. Bimo mengambil tempat di samping Arkan lalu mulai menghitung push up yang dilakukan oleh Arkan.


~ Markas A Black Damon ~


Riki dan lainnya menyambut kedatangan Denis disana, yang datang untuk melihat markasnya disini dan memantau pekerjaan anak buahnya yang sudah mulai beroperasi malam ini.


“Berapa anak buah kita yang berada disini?” tanya Denis dengan suara dingin sambil melihat sekeliling markas.


“Saat ini ada 100 anak buah kita disini dan itu termasuk dengan pengawal bos” jawab Riki dengan suara dingin.


“Jangan dimasukan pengawalku” balas Denis dengan suara dingin dengan tatapan tajam menatap Riki.


“Iya bos. Berarti anak buah kita saat ini ada 70 bos” ucap Riki setelah mengurangi jumlah pengawal Denis.


“Semua disini bisa berbahasa Inggris?” tanya Denis.


“Bisa bos” jawab Riki.


“Apa kamu ingin tinggal disini?” tanya Denis sambil berbalik menatap Riki dengan tajam.


“Ehh! Maksudnya bos?” tanya balik Riki dengan bingung.


“Kamu yang akan pegang markas disini” jawab Denis dengan suara tegas.


“Aku siap bos” balas Riki dengan suara tegas.


“Suruh Max kirim 600 anak buahku kesini. Sebelum itu tes kemampuan bahasa Inggris mereka” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos. Bos apa kita akan membangun ruangan produksi senjata juga disini?” tanya Riki.


“No. Markas disini hanya akan mendistribusikannya saja dan kamu tahu apa yang harus kamu lakukan selama pengiriman” jawab Denis dengan suara dingin.


“Aku tahu bos, tapi kita harus melakukan kerja sama dengan pihak pelabuhan disini dan itu tidak mudah karena semua wilayah pelabuhan di sini sudah di kuasai oleh kelompok mafia terbesar disini” papar Riki menjelaskan.


“Dimana anak buahmu yang menyamar?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Saat ini dia berada di hotel Venue di kamar president suit 3” jawab Riki melihat GPS Lala anak buahnya.


“Heemmmm” deham Denis.


Denis segera mengambil hpnya dan menelpon direktur Steven, tidak perduli jika waktu sudah menunjukkan pukul 02:00 dini hari dan pada panggilan kedua panggilannya sudah di jawab oleh direktur Steven.


“Halo presdir” ucap direktur Steven dari seberang.


^^^“Kamu sudah membuat janji temu dengan pihak Smith Company?” tanya Denis to the point.^^^


“Sudah presdir dan besok kita akan bertemu jam 10:00 pagi dengan pihak mereka di Smith Company” jawab direktur Steven dengan cepat.


^^^“Heemmm! Siapkan semua berkas proyek pertama kita untuk dipaparkan besok ke mereka” titah Denis dengan suara tegas.^^^


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Sebelum direktur Steven menjawab perintahnya, Denis sudah mematikan panggilannya sepihak karena sudah tak ada lagi yang ingin ia sampaikan.


~ Smith Company ~


Tepat pukul 09:50 pagi Denis dan rombongannya tiba di Smith Company yang langsung di sambut oleh Kenneth, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Austin yang sudah menunggu kedatangan Denis di ruang meeting.


Ceklek………………..


Saat pintu meeting dibuka Austin tersenyum lebar berdiri menyambut kedatangan Denis tapi hanya dibalas tatapan datar dan dingin dari seorang Denis.


“Selamat datang di perusahaanku presdir Denis” ucap Austin sambil mengulurkan tangannya.


“Ya dan aku tidak sangka seorang Austin Smith akan menyambut tamunya” balas Denis dengan suara dingin sambil menjabat uluran tangan Austin.


Hahahahahaha…………………..


Tawa Austin seketika pecah didalam ruang meeting mendengar ucapan Denis yang benar adanya, karena selama ini dia tidak pernah menyambut rekan kerjanya malahan ia yang akan disambut.


“Aku suka dengan orang yang berbicara jujur seperti anda presdir Denis” ucap Austin dengan suara tegas.

__ADS_1


“Heeemmmm”


Keduanya lalu memulai meeting dengan kerja sama mereka dan perusahaan Denis yang juga memaparkan proposal rencana proyek mereka yang pertama di Amerika.


“Aku tidak tahu jika DA Corp ternyata sudah membangun cabangnya di Amerika” ucap Austin.


“Aku yakin mata-mata anda sudah memberitahu perihal perusahaanku direktur Smith” balas Denis sambil tersenyum smirk.


“Ah! Aku sudah ketahuan ya” ucap Austin sambil tersenyum lebar.


“Semoga anda suka dengan hadiah dariku” ucap Denis dengan tatapan tajam.


Seketika senyum di wajah Austin memudar hanya ada wajah dingin dan datar seperti Denis, membuat Kenneth asisten sekaligus tangan kanannya kaget tak menyangka orang seperti Denis bisa membuat wajah asli di balik topeng bosnya terungkap.


“Semuanya keluar karena aku ingin bicara dengan presdir Denis secara pribadi” titah Austin dengan suara tegas.


“Tidak boleh ada yang keluar. Jika ada yang berani keluar dari ruangan ini dia tidak akan bernapas lagi di dunia ini” potong Denis dengan suara dingin.


Glek………………….


Arkan, Bimo, direktur Steven, Riki, sekretaris Austin bernama Cintya, dan Kenneth menelan saliva mereka merasakan aura dari kedua orang yang sedang saling menatap dengan tatapan tajam dan membunuh membuat mereka semua disana bergidik ngeri.


Kenapa aku selalu merasa takut dengan aura bos, batin Arkan.


Ternyata presdir Denis bukan sembarang orang dan aku yakin tebakan bos selama ini tidak salah, batin Kenneth.


Sepertinya aku sudah tahu maksud sebenarnya kedatangan bos, batin Riki yang mulai paham ke arah mana pembicaraan mereka.


“Я уверен, что ваши люди не знают о вашей истинной личности, президент Денис" (aku yakin orang-orang anda tidak tahu mengenai jati diri anda yang sebenarnya presdir Denis) ucap Austin dengan suara dingin dalam bahasa Rusia.


“Они все знают! Я думаю, это твоя секретарша не знает о твоей личности, директор Остин." (mereka semua tahu! Menurutku sekretaris anda yang tidak tahu mengenai identitas anda direktur Smith) balas Denis.


Austin tersenyum smirk tak menyangka jika Denis ternyata bisa berbahasa Rusia dan seperti yang Denis katakan barusan itu benar, karena sekretarisnya Cintya tidak mengetahui identitasnya yang sebenarnya selama ini.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Так может ли он выбраться из этой комнаты?" (jadi apa dia bisa keluar dari ruangan ini?) tanya Austin.


"Heeemmm" deham Denis sambil mengangguk kepalanya memberikan jawaban iya.


"Tapi direktur kata presdir Denis tadi" ucap Cintya dengan takut mengingat ucapan Denis tadi.


"Kamu akan baik-baik saja" balas Austin yang tahu apa yang dipikirkan Cintya.


"Baik direktur" jawab Cintya sambil berlalu pergi dari sana.


Melihat Cintya sudah pergi dari sana Austin lalu menatap Denis dengan tajam, karena ia yakin kedatangan Denis kali ini kesini bukan hanya untuk membahas proyek perusahaannya saja.


“Direktur Steven kamu bisa kembali ke perusahaan dan memulai proyek itu” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik presdir” jawab direktur Steven sambil membungkuk dan pergi dari sana.


“Aku tidak menyangka ternyata kamu seorang mafia juga” ucap Austin sambil tersenyum smirk.


“Bukannya anda sudah menebak dari awal pertemuan kita” balas Denis dengan suara dingin.


“Tidak usah formal lagi karena aku yakin kita akan terus menjalin kerja sama selamanya” ucap Austin dengan suara tegas.


“Jangan terlalu dini mengambil kesimpulan karena kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di masa depan”


“Ya aku tahu tapi feelingku mengatakan seperti itu dan tidak pernah salah” balas Austin dengan suara tegas.


Denis hanya diam saja sambil menatap Austin dengan tajam tak mengatakan satu kata pun. Aura mengintimidasi sangat terasa didalam sana, membuat semua anak buah mereka merinding takut merasakan aura kekuasaan didalam sana.


“Katakan apa tujuanmu yang sebenarnya?” tanya Austin dengan suara dingin.


“Mafia Crown” jawab Denis dengan suara dingin.


“Aku ingin kamu mengijinkan kapal muatanku masuk melalui pelabuhan kalian” tambahnya lagi.


“Hahahaha! Aku yakin kamu sudah mengetahui semua informasi mengenai kelompokku” tebak Austin sambil tertawa.


“Menurutmu?” tanya Denis sambil tersenyum smirk.


Brak………………..


Austin mengebrak meja dengan kuat membuat semuanya kaget, tapi tidak dengan Denis yang duduk sambil berpangku kaki menatapnya dengan santai seakan tidak ada beban sama sekali.

__ADS_1


“BERANINYA KAMU MENYELIDIKI KELOMPOKKU SIALAN!” bentak Austin dengan suara menggelegar.


Dor…………………


Seketika bunyi tembakan membuat Austin dan Kenneth kaget tak menyangka saat peluru melaju disamping telinga Austin saat Riki tiba-tiba menembaknya. Arkan dan Bimo sampai syok tak menyangka Riki akan melakukan hal tersebut.


“Kamu berani menembak bosku sialan!” bentak Kenneth sambil menodongkan pistol ke arah Denis dan Riki.


“Karena bosmu sudah membentak bosku dan siapa saja yang membentak bos kami harus dilenyapkan” ucap Riki dengan suara dingin dan tegas.


Denis tersenyum mengejek menatap Austin yang tidak menyangka akan mendapat tembakan seperti itu dan baru kali ini ada yang berani menembaknya didepannya, apa lagi sekarang mereka berada di wilayahnya.


“Kamu membuat aku semakin penasaran ingin mengetahui siapa kamu sebenarnya Denis Arkana” ucap Austin sambil tersenyum menyeringai.


“Jadi bagaimana dengan permintaan aku tadi?” tanya Denis.


“Apa yang akan aku dapatkan nanti?” tanya balik Austin.


“Sama seperti permintaan aku karena aku akan membantu kamu masuk ke pasar Asia terlebih Indonesia” jawab Denis dengan cepat.


“Bagaimana jika aku ingin jalur khusus untuk bisnis gelapku?” tanya Austin dengan cepat.


“Aku rasa kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan disana dan tidak butuh bantuanku lagi” jawab Denis sambil tersenyum menyeringai.


“Baiklah deal” ucap Austin dengan suara tegas.


“Deal” balas Denis dengan suara tak kalah tegas.


Keduanya lalu berjabat tangan sebagai tanda dimulainya kerja sama mereka di dunia bawah untuk bisnis mereka masing-masing. Meskipun bisnis mereka bertentangan, tapi tidak membuat keduanya untuk melewatkan kesempatan yang tidak akan datang dua kali.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Setelah membahas semua kerja sama mereka Denis bergegas pergi dari sana menuju ke perusahaan cabangnya di Amerika yang diberi nama Miracle Company.


~ Zues Club ~


Kenzo dan Ando masuk ke dalam club tanpa melalui pemerikasaan dari petugas keamanan, karena sudah mengenal keduanya. Saat masuk ke dalam Kenzo melirik ke arah lantai dua dimana ia bisa melihat Riski Akbar yang juga berada disana bersama gengnya.


“Kamu sudah melakukannya?” tanya Kenzo dengan suara dingin.


“Sudah tuan” jawab Ando dengan suara tak kalah dingin.


“Bagus. Aku sudah tidak sabar ingin melihat pertunjukan menarik sebentar lagi” ucap Kenzo sambil tersenyum menyeringai.


“Apa tuan mau ke ruang VIP?” tanya Ando.


“No. Kita disini saja” jawab Kenzo dengan ketus.


“Baik tuan”


Tak lama berselang Kenzo menatap beberapa orang polisi yang masuk ke dalam club dan berjalan menuju ke lantai dua tempat ruang VIP Riski Akbar berada. Bibirnya tersenyum lebar melihat Riski Akbar yang ditangkap oleh diatas sana.


Hahahaha……………..


Tawa Kenzo pecah bersamaan bunyi musik DJ yang sangat memekikkan telinga di sana saat matanya bertatapan dengan Riski, membuat Riski Akbar menatapnya dengan tatapan membunuh setelah mengetahui jika ini semua rencananya.


“Itu balasan aku buat bisnis aku yang kamu gagalkan berengsek” ucap Kenzo tanpa bersuara hanya gerakan bibirnya yang bergerak.


Riski Akbar yang sedang ditahan diatas sana menatap Kenzo dengan emosi membaca gerakan bibirnya barusan. Rahangnya mengeras ingin sekali memukul wajah sialan itu yang berani melaporkannya ke polisi dengan tuntutan pencabulan anak di bawah umur.


Tunggu pembalasanku Kenzo Arjuna, batin Riski Akbar yang diseret pergi dari sana.


Riski Akbar menatap Marco tangan kanannya untuk menelpon pengacaranya untuk segera pergi ke kantor polisi dan membebaskannya dari tuduhan polisi. Marco yang mengerti isyarat bosnya mengangguk kepala menjawab Riski.


Setelah kepergian polisi dan Riski Akbar dari sana Kenzo lalu masuk ke dalam ruang VIP untuk merayakan kejadian tadi, tak lupa menghubungi kekasihnya Alexa untuk kesana. Sedangkan Ando ia berjaga didepan pintu yang ditempati oleh Kenzo bersama anak buahnya.


Sandro, batin Ando yang kaget melihat keberadaan Sandro disana.


“Kalian jaga tuan! Jika ada sesuatu yang terjadi segera laporkan kepadaku karena aku ingin ke toilet” titah Ando dengan suara dingin.


“Baik bos”


Ando bergegas pergi mengikuti Sandro yang menuju ke lantai tiga untuk membicarakan mengenai anaknya dan meminta untuk di ijinkan bertemu dengan sang anak.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue……………………

__ADS_1


__ADS_2