Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 93


__ADS_3

Sampainya di rumah sakit Medika Arsen dan Sandro segera bergegas menuju ruang operasi setelah mendapat pesan posisi Leila dari anak buah mereka yang sudah berjaga disana.


Ting………………….


Keduanya keluar dari dalam lift setelah sampai di lantai satu dimana ruangan operasi berada di lantai satu.


Bunyi langkah kaki yang sangat banyak bergema di lorong rumah sakit membuat Amira, Maya, Amir, dan pak Toni yang berdiri didepan ruangan operasi langsung menatap ke arah suara.


Maya langsung berdiri dari duduknya saat melihat kedua bos besar mereka di markas yang datang dengan wajah datar dan dingin. Ia menelan salivanya dengan susah merasa jika sesuatu yang buruk akan segera tejadi kepadanya.


Sampainya mereka didepan ruang operasi hal pertama yang dilakukan oleh Sandro adalah menghampiri Maya hingga keduanya saling berhadapan.


Plak……………….plak……………….


“Nak Sandro apa yang kamu lakukan” pekik Amira syok dengan suara tinggi melihat apa yang dilakukan oleh Sandro.


Bagaimana tidak, tak ada angin atau hujan tiba-tiba saja Sandro datang dan langsung menampar Maya dua kali dengan kuat. Amir yang baru pertama kali melihat Sandro dari dekat bergetar, ketakutan memikirkan nasibnya setelah tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kamu itu bodyguard nona Leila tapi kenapa kamu tidak berada di sampingnya saat kejadian itu terjadi berengsek!” bentak Sandro dengan suara tinggi.


“Pak mohon harap tenang ini di rumah sakit” tegur salah satu suster yang berada tak jauh dari sana.


Sandro menatap suster tersebut dengan tatapan tajam seolah memberitahunya untuk tidak ikut campur dengan apa yang ia lakukan saat ini.


“Maafkan keteledoran saya bos Sandro” ucap Maya dengan suara tegas.


“Maaf kamu bilang! Apa maafmu bisa memutar kembali waktu supaya kejadian tadi tidak terjadi?” tanya Sandro dengan emosi.


Maya bungkam tidak bisa menjawab karena ucapan Sandro barusan memang benar, jika ia tidak bisa mengulang waktu supaya nona Leila tidak sampai mengalami hal seperti itu.


“Kamu itu bodyguard nona Leila bukan


pelayan disana dan tugas utama kamu itu menjaga keselamatan nona Leila sialan!”


bentak Sandro dengan suara menggelegar.


“Ma…..afkan saya bos Sandro” ucap Maya dengan terbata-bata ketakutan.


Bugh…………………bugh……………..bugh……………


“Sandro hentikan! Hentikan” teriak Amira dengan panik saat Sandro memukul Maya dengan brutal.


Sandro tidak menggubris ucapan tante Amira dan terus menghajar Maya karena keteledorannya tidak menjaga Leila hingga hal itu bisa terjadi. Arsen yang melihat tante Amira ingin maju memisahkan keduanya dengan cepat maju memisahkan mereka.


Bugh………..


Arsen menendang Sandro dari belakang hingga terpental ke depan, membuat semuanya kaget tak menyangka jika Arsen akan melakukan hal itu.


“Bangsat! Kamu bernai menendang aku bocah empat mata!” hardik Sandro dengan tatapan tajam menatap Arsen.


Arsen tak menjawab ucapan Sandro hanya memberi isyarat ke belakang, jika saat ini ia sedang ditatap oleh semuanya yang berada disana dan menjadi pusat perhatian karena keributan yang dilakukan oleh Sandro.


“Ckk!! Sialan” umpat Sandro dengan kesal.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Sandro segera bangun sambil merapikan jas mahalnya dengan santai tak perduli dengan keadaan Maya yang sudah sekarat di lantai. Amir berdiri mematung melihat kekejaman Sandro yang menghajar Maya, tak pandang jenis kelamin jika yang ia pukul itu adalah seorang perempuan.


Apa aku akan dihajar seperti itu nanti, batin Amir dengan takut.


“Bawa dia ke markas” titah Arsen kepada anak buahnya sambil menunjuk Maya.


“Baik bos”


“Jangan bawa dia kesana. Biarkan dia di rawat dulu di sini” potong Amira dengan suara tegas.


Anak buah Arsen menatapnya meminta jawaban apa yang harus mereka lakukan karena yang berbicara saat ini adalah nyonya besar mereka. Arsen mengangguk kepalanya memberi isyarat untuk mengikuti apa yang diucapkan oleh tante Amira barusan.


Setelah Maya dibawa pergi dari sana dengan emosi Amira menghampiri Sandro tak suka dengan apa yang ia lakukan barusan.


Plak……………..


Suara tamparan kembali bergema disana saat Amira menampar Sandro, merasa sangat emosi dan marah dengan apa yang dilakukan oleh Sandro kepada Maya. Sedangkan Sandro ia hanya biasa saja mendapat tamparan itu tak marah atau apapun.

__ADS_1


“Kamu itu sudah keterlaluan nak Sandro! Ini bukan kesalahan Maya kenapa kamu harus menghajarnya!” bentak Amira dengan suara tinggi.


“Karena dia itu bodyguard nona Leila dan dia pantas mendapatkan semua itu karena sudah lalai dengan tugasnya nyonya” balas Sandro dengan suara dingin.


“Dia itu perempuan nak Sandro! Perempuan” hardik Amira.


“Saya tahu nyonya tapi tetap ia harus dihukum. Apa nyonya tidak berpikir apa yang akan terjadi kepada kami saat bos mengetahui hal ini?” tanya Sandro dengan suara tegas.


Deg………………


Jantung Amira berdetak dengan cepat mendengar ucapan Sandro dan ia baru sadar jika pasti Sandro dan lainnya akan mendapat hukuman dari anaknya jika ia mengetahui hal ini.


“Apa yang dialami oleh nona Leila bukan masalah sepele nyonya karena disini banyak nyawa yang akan terancam” ucap Arsen dengan suara dingin.


“Apa Denis sudah tahu mengenai ini semua?” tanya Amira dengan cepat.


“Nomor bos tidak aktif dari kemarin nyonya” jawab Arsen.


“Kalau begitu jangan beritahu Denis mengenai hal ini” usul Amira.


“Hehehehe! Meski kita tidak memberitahu bos tapi bos tetap akan mengetahuinya nyonya” ucap Sandro sambil terkekeh.


“Nyonya apa bisa beritahu apa yang sebenarnya terjadi tadi?” tanya Arsen dengan suara dingin.


Amira menatap Arsen dan segera menceritakan apa yang ia dengar tadi dari Keysa, tak lupa juga Amir memberitahu apa sebenarnya terjadi tadi dengan jujur tidak ada yang ditutupi.


“Apa kamu yakin ada yang mencekal kakimu?” tanya Sandro dengan selidik.


“Yakin tuan! Karena tidak mungkin saya mencelakai diri saya sendiri apa lagi sampai menjatuhkan box makanan yang sudah kami siapkan sejak subuh tuan” jawan Amir dengan suara tegas.


“Siapa saja yang berada di dekatmu?” tanya Arsen.


“Nona Leila dan bu Keysa tuan” jawab Amir.


Arsen dan Sandro saling melirik saat mendengar nama Keysa dan mereka tahu jika ini pasti ada hubungannya dengan Keysa.


Ceklek………….


Tak lama pintu ruang operasi terbuka dan keluarlah dokter Tiara dari dalam membuat semuanya langsung menghampirinya.


“Saya dok” jawab Amira dengan cepat.


“Keadaan pasien sudah jauh lebih baik. Luka di kepala pasien harus mendapat 17 jahitan karena sangat dalam. Kalau boleh tahu bagaimana bisa pasien terluka sehingga mendapatkan luka sebesar itu?” tanya dokter Tiara.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Tadi kaki saya dicekal seseorang saat mengangkat dus makanan keluar dari tenda dan tak sengaja menabrak nona Leila hingga jatuh di tanah dok. Saya tidak sempat melihat apa kepala nona Leila terbentur batu atau benda tajam karena saya sudah sangat panik melihat darah yang keluar dari kepala nona Leila sangat banyak dok” jawab Amir menjelaskan.


“Sepertinya luka di kepala nona Leila bukan disebabkan karena jatuh atau terbentur batu” ucap dokter Tiara.


“Maksud dokter apa?” tanya Sandro dengan cepat.


“Dari luka di kepala pasien itu bukan karena terkena batu saat jatuh karena luka di samping kepalanya itu sangat panjang dan dalam seperti luka bekas sayatan pisau” jawab dokter Tiara menjelaskan.


“Jadi maksud dokter ada orang yang sengaja melukai Leila dengan pisau begitu dok?” tanya Amira dengan kaget.


“Saya belum bisa mengambil kesimpulan nyonya karena dari penjelasan pak ini tadi, kemungkinan besar tidak ada menyerang pasien saat mereka semua memegang dus makanan dengan kedua tangan pasien” jawab dokter Tiara.


Semuanya diam memikirkan penjelasan dokter Tiara mengenai luka yang didapat oleh Leila, bagaimana bisa Leila bisa terluka seperti itu hanya karena terjatuh saat Amir menabraknya.


“Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat dan anda semua bisa melihatnya disana” ucap dokter Tiara mengagetkan semuanya dari pemikirannya.


“Baik dok” jawab Arsen mewakili.


Tak berselang lama brankar Leila didorong keluar oleh perawat menuju kamar VVIP yang sudah dipesan oleh Sandro. Arsen sendiri segera menyuruh pak Toni untuk pulang untuk menyuruh pak Jordi datang membawa keperluan Leila selama di rumah sakit.


“Tuan” panggil Amir dengan suara pelan.


“Heeemm” deham Arsen dengan suara dingin.


“Apa saya akan di laporkan ke polisi karena sudah menabrak nona Leila tuan?” tanya Amir dengan suara bergetar.


“Menurutmu?” tanya balik Arsen.

__ADS_1


“Saya siap menerima hukumannya tuan karena saya tahu ini kesalahan saya sudah menabrak nona Leila tuan” jawab Amir dengan suara tegas.


“Baguslah” ucap Arsen dengan suara dingin.


Amir menunduk memainkan kedua tangannya memikirkan nasib keluarganya di rumah jika ia harus masuk penjara, karena dia adalah tulang punggung dalam keluarga.


Maafin aku yah, bu, batin Amir dengan sedih.


“Tenang saja kamu tidak akan masuk penjara” ucap Sandro dengan suara tegas.


“Ehh! Maksud tuan?” tanya Amir dengan kaget sambil menatap Sandro.


“Ckk!! Apa kamu itu bodoh? Bukannya kamu tadi sudah mendengar ucapan dokter mengenai luka nona Leila dan kami berterima kasih karena kamu sudah bertanggung jawab membawa nona Leila ke rumah sakit dan tidak lari dari perbuatanmu” ucap Sandro dengan ketus.


“Jadi saya tidak akan dipenjara tuan?” tanya Amir dengan senang.


“Ya” jawab Sandro dengan suara dingin.


Senyum di bibir Amir seketika merekah mendengar ucapan Sandro barusan yang mengatakan jika ia tidak akan dilaporkan ke polisi.


Ting………………


Arsen membaca pesan di hpnya dari anak buahnya dan seketika matanya melotot kaget melihat isi pesan disana.


“F**k” maki Arsen dengan suara tinggi mengagetkan mereka semua yang berada didalam ruangan rawat Leila.


“Kamu kenapa bocah?” tanya Sandro dengan bingung melihat wajah emosi Arsen.


“Kamu temani nyonya menjaga nona Leila sampai kami datang” tunjuk Arsen kepada Amir dengan tatapan tajam.


“Ba….ik t…..uan” jawab Amir dengan gugup.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Arsen segera berlalu keluar diikuti oleh Sandro dan saat hendak masuk ke lift mereka berpapasan dengan Leo yang baru saja datang. Tak berkata apa-apa Arsen menyeret Leo untuk pergi bersama mereka karena ada hal penting yang ingin ia sampaikan.


“Hey sialan! Kamu mau bawa aku kemana berengsek!” bentak Leo saat didorong masuk ke dalam mobil milik Sandro.


“DIAM!” bentak Arsen dengan suara tinggi.


Leo seketika diam melihat tatapan tajam Arsen yang sangat menakutkan dan tidak bertanya lagi. Sandro segera melajukan mobil Arsen pergi dari sana menuju markas mereka karena anak buahnya berada disana.


~ New York, Amerika ~


Denis meminum wine ditangannya dengan sekali teguk merasa tak tenang sedari tadi entah apa yang sedang terjadi ia tidak tahu.


“Bos tidak bisa tidur lagi?” tanya Bimo.


“Kamu tahu jawabannya” jawab Denis dengan suara dingin.


“Sepertinya nona Leila memang obat yang dicari bos selama ini” balas Bimo.


“Jantung aku sedari tadi terasa sakit dan berdetak lebih cepat dari biasanya” ucap Denis membuat Bimo kaget.


“Biar aku periksa sekarang bos” ucap Bimo segera berlari turun ke lantai satu menuju ruangannya di markas Black Damon mengambil peralatan kesehatan.


Tak berapa lama Bimo kembali datang dan segera memeriksa keadaan Denis, tapi ia mengerutkan keningnya saat tak mendapati penyakit apapun di tubuh Denis.


“Tubuh bos baik-baik saja dan semuanya aman” ucap Bimo dengan bingung.


“Are you sure?” (apa kamu yakin) tanya Denis dengan suara dingin.


“Aku sangat yakin bos” jawab Bimo dengan suara tegas.


Denis diam dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi kepadanya dan tiba-tiba ia merasa sangat merindukan Leila sekaligus khawatir kepadanya.


“Panggil Mark kesini sekarang” titah Denis dengan suara tinggi.


“Baik bos” ucap Bimo segera keluar melakukan perintah Denis.


Mata coklat tajam milik Denis berkilat tajam merasa ada sesuatu yang terjadi kepada kekasihnya. Ingin menghubunginya tapi ia saat ini sedang dalam misi penting dan tidak ingin sampai musuh di dunia bawah mengetahui identitasnya dan orang terdekatnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue…………………


__ADS_2