Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 264


__ADS_3

Hana bergegas pergi dari sana tak mau anak buah Denis mengetahui keberadaannya. Tanpa ia sadari kalau Jeky dan lainnya sudah mengetahui keberadaannya.


Jeky mengangguk kepala menatap Kris yang menjadi gigolo Hana, tak lain dia adalah mata-mata Denis sekaligus anak buah Black Devil.


Tadi Kris memberi kode kepada Jeky saat Hardin menabrak mbok Erna. Ia langsung berakting seakan mereka tidak mengenal Hardin, padahal mereka sudah mengetahui siapa dia.


^^^"Bos Arsen nenek tua itu berada hi hotel ini juga" ucap Jeky lewat earpiece di telinganya.^^^


"Perketat penjagaan nyonya dan tuan muda jangan sampai mereka kenapa-napa" titah Arsen dengan suara dingin dari seberang.


^^^"Baik bos Arsen"^^^


"Ikuti terus nenek tua itu dan suruh mata-mata kita untuk terus mengirim kabar tentangnya"


^^^"Siap bos Arsen" ucap Jeky.^^^


Ia segera mengirim kabar kepada Kris dengan pesan kode agar tidak dicurigai. Jeky lalu bergegas mengawal Leila dan Kai dengan ketat di lounge hotel.


Sedangkan di lantai 20 Denis mengepal kedua tangannya di bawa meja dengan erat, setelah mendengar bisikan Arsen barusan.


"Selesaikan ini dalam 20 menit" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" jawab Arsen.


Arsen lalu melirik Luwiq menunjuk jam sambil mengangkat dua jarinya memberi isyarat kepadanya. Luwiq yang mengerti isyarat Arsen mengangguk kepalanya tanya paham.


"Kalau begitu tak perlu membuang waktu saya persilahkan presdir Denis Arkana untuk memberikan sepatah kata untuk kita semua" ucap Luwiq dengan sopan.


Prok.........prok.........prok...........


Bunyi tepuk tangan keluarga dari 30 korban jiwa karyawan Galaxy Corp yang meninggal beberapa hari yang lalu menggema didalam ruangan private.


Denis menatap semua anggota keluarga korban ledakan dengan tatapan datar dan dingin. Suasana seketika menjadi hening apa lagi aura mengintimidasi Denis yang menyeruak didalam sana.


"Perkenalkan saya Denis Arkana presdir DA Corp sekaligus Galaxy Corp. Sebelumnya saya ingin menyampaikan turut berdukacita untuk seluruh anggota keluarga dari 30 korban yang tak lain karyawan saya sendiri, semoga keluarga yang ditinggalkan mendapat penghiburan dan ketabahan" ucap Denis dengan suara lantang dan tegas.


"Seperti yang sudah disampaikan oleh direktur Luwiq kalau saya pribadi, akan menanggung semua pendidikan bagai anak-anak korban hingga ke jenjang tertinggi dan setelah mereka menyelesaikan studi, mereka bisa bekerja di seluruh cabang DA Corp sesuai kualifikasi pendidikan mereka" ucapnya lagi dengan suara lantang.


Prok.............prok..........prok............


Riuh tepuk tangan bergema saat mendengar ucapan Denis. Para anggota keluarga korban merasa sangat senang mendengar ucapan Denis barusan, tak henti-hentinya mereka mengucapkan terima kasih.


Denis lalu mengakhiri sambutannya karena tidak ada lagi yang ingin ia sampaikan. Semua yang ia inginkan sudah di lakukan oleh direktur Luwiq yang mengurus semua ini.


Ia lalu pamit pergi setelah 20 menit berada disana dan tidak ikut jamuan makan. Pikiran Denis tidak tenang memikirkan istri dan anaknya yang tidak bersama-sama dengan dia.


"Berengsek" umpat Denis dengan emosi saat di dalam lift.


Arsen memberitahu semua yang terjadi saat mereka berada di ruang pertemuan. Beruntung anak buahnya berhentikan dengan cepat bergerak, jadi nenek tua itu tidak melakukan sesuatu kepada istri dan anaknya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Siapkan mobil" titah Denis setelah lift sampai di lantai 1.


"Baik bos" ucap Arsen sambil berkutat dengan suara dingin.


Langkah panjang Denis semakin cepat ingin menemui istri dan anaknya. Ia takut ada sesuatu yang terjadi kepada mereka, karena saat ini situasi tidak aman di luar sana.


"Papa" pekik Kai dengan suara melengking melihat papanya dari pintu masuk lounge hotel.


Kai berlari menuju papanya dengan kaki kecilnya, mata Denis sempat melirik ke arah barat mendapati anak buahnya yang meringkus seseorang yang mencurigakan.


Sialan, batin Denis dengan emosi saat melihat sniper yang di pegang oleh orang itu.


Hap...............


Kaisar tertawa gembira saat sudah berada dalam gendongan papanya. Ia lalu bercerita dengan heboh tentang apa yang ia lakukan barusan.

__ADS_1


"Sayang kamu sudah selesai pertemuannya?" tanya Leila dengan suara lembut.


"Heemmm" deham Denis sambil menarik pinggang istrinya masuk ke dalam pelukannya.


Cup............


Denis mengecup kening Leila dengan lembut membuat Kai yang melihat hal itu tak mau kalah mengecup kening sang mama.


Ketiganya tertawa bahagia membuat semua pengunjung hotel yang melihat mereka merasa sangat gemas dan kagum melihat keharmonisan keluarga itu.


~ Mansion Utama Massimo ~


Alexandro membuang napasnya dengan kasar membaca pesan yang dikirim Arsen beberapa waktu yang lalu.


"Dimana Marcel?" tanya Alexandro dengan suara dingin.


"Tuan muda Marcel sedang berpesta bersama temannya di club tuan" jawab Justin.


"Hah! Anak sama daddynya kelakuannya sama saja" ketus Alexandro dengan kesal.


"Apa mau saya jemput tuan muda Marcel tuan?" tanya Justin.


"Tidak usah. Biarkan dia melakukan semua yang ingin dia lakukan" jawab Alexandro dengan suara dingin.


"Baik tuan"


"Bekukan semua kartu kredit semua cucuku" titah Alexandro dengan suara tegas.


"Anda yakin tuan?" tanya Justin.


"Heemmm! Biar semua cucuku merasakan bagaimana susahnya mencari uang. Mulai detik ini jangan berikan mereka uang sepeserpun jika mereka minta" jawab Alexandro.


"Baik tuan"


"Lalu kedua anak aku?" tanya Alexandro mengingat kedua anaknya yang sudah lama tak pernah kesini.


Brak...................


Alexandro menggebrak meja mendengar penjelasan Justin mengenai putrinya Laura. Mata coklatnya berkilat tajam dengan rahang yang mengeras menandakan ia sangat emosi.


"Blokir semua kartu kredit Laura dan Martin" titah Alexandro dengan emosi.


"Lalu bagaimana dengan suami dan istri mereka tuan?" tanya Justin dengan cepat.


"Blokir juga" jawab Alexandro dengan suara tegas.


"Mereka pikir aku tidak tahu apa yang mereka lakukan selama ini dibelakang pasangan mereka" ucap Alexandro sambil tersenyum menyeringai.


Justin diam tidak berkata apa-apa, meski dalam hatinya sedang mencibir kelakuan kedua anak Alexandro dan menantunya yang tidak puas dengan pasangan masing-masing.


Kelakuan mereka sudah sepeti binatang saja, batin Justin tak habis pikir.


~ Kingdom Apartment ~


Prang.....................


Denis membanting iPad milik Arsen hingga hancur berserakan di lantai. Seperti biasa Arsen diam saja dan mengeluarkan iPad yang lain dari tasnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Lakukan hal yang sama kepada putri haramnya seperti yang ia rencanakan kepada putraku" ucap Denis dengan tatapan membunuh.


"Apa bos yakin? Putrinya tidak mengetahui tentang kelakuan mommynya bos" ucap Arsen tak setuju.


"Lakukan saja. Lagian putrinya juga seorang mucikari yang sudah banyak menjual gadis-gadis polos ke pria hidung belang. Bahkan dia tegas menipu anak-anak yatim untuk di ambil organ mereka" ucap Denis dengan santai.


"Dari mana bos tahu?" tanya Arsen dengan kaget.

__ADS_1


"Cih! Bodoh" cibir Denis.


"Maafkan aku bos" ucap Arsen tak membantah lagi.


"Kirim jenazah dan sniper itu ke nenek tua itu dan tulis nama aku didalam paketnya" titah Denis sambil tersenyum smirk.


"Baik bos"


Arsen lalu keluar dari ruang kerja Denis karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan. Denis lalu menatap kota New York dari kaca jendela, menerawang jauh apa yang akan ia lakukan untuk ke depannya.


Aku tidak akan membiarkan satu orang pun mengusik keluargaku, batin Denis dengan tatapan berkilat tajam.


~ Grace Hotel ~


Ahh................


Suara desa**n bergema didalam kamar hotel menandakan kedua pasangan yang sedang memadu kasih di atas ranjang telah mencapai puncak.


Kris menjatuhkan tubuhnya di samping Hana merasa sangat puas sudah mencapai hasratnya. Meski Hana sudah berumur tapi tubuhnya seperti perempuan berumur 30 tahun dan masih sangat nikmat.


"Ini bayaran kamu baby" ucap Hana sambil menyodorkan sebuah cek kepada Kris.


"Terima kasih tante. Kapan saja tante butuh pelayananku hubungi aku ya cantik" ucap Kris sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Pasti baby" balas Hana mengecup bibir Kris.


Kris bergegas memakai pakaiannya dan pergi dari sana, sebelum itu dia sudah menaruh alat pelacak di kalung Hana agar mereka bisa terus memantau keberadaannya.


Tak terasa waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan kini Hana sedang bersiap untuk bertemu mafia asal Argentina.


"Nyonya" panggil Hardin sambil menunduk karena Hana saat ini hanya memakai lingerie transparan.


Hana dengan santai membuka lingerie hingga tubuhnya polos. Ia berjalan dengan santai seperti tak ada beban memakai baju di hadapan Hardin.


"Apa kamu sudah menghubungi mafia itu?" tanya Hana dengan tatapan tajam menatap Hardin lewat cermin.


"Sudah nyonya. Mereka meminta kita yang pergi menemui mereka di tempat mereka karena mereka tidak ingin kedatangan mereka di ketahui FBI" jawab Hardin.


"Baiklah"


"Nyonya tadi pagi ada paket dari tuan muda untuk nyonya"


"Paket apa?" tanya Hana dengan penasaran.


"Saya tidak tahu nyonya" jawab Hardin.


"Bawa paketnya ke sini" titah Hana dengan cepat merasa sangat penasaran.


"Baik nyonya"


Hardin bergegas keluar dan menyuruh anak buahnya untuk membawa paket yang di kirim Marcel ke dalam kamar.


Kening Hana mengerut melihat paket berukuran agak besar yang di kirim oleh putranya. Ia penasaran apa yang di kirim oleh putranya karena ia tidak meminta di kirim barang.


Aaarrgghhh...............


Teriak Hana menjerit melihat isi paket tersebut. Tubuhnya sampai terjatuh di lantai seakan tak bertenaga karena isi paket tersebut adalah mayat putrinya yang selama ini ia sembunyikan.


"Nyonya ada suratnya" ucap Hardin mengambil sepucuk surut di atas mayat.


Dengan gemetar Hana membuka surat tersebut karena masih. Wajahnya seketika merah padam membaca isi surat tersebut.


"DENIS ARKANA AKU AKAN MEMBUNUHMU SIALAN" teriak Hana menjerit penuh emosi bercampur dengan kebencian.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue................

__ADS_1


__ADS_2