
Meski udara malam ini sangat dingin, apa lagi posisi Denis dan seluruh anak buahnya berada di dekat pantai didalam hutan terlarang tidak membuat mereka merasa dingin.
Denis dan pasukannya sedang berdiri di atas bukit melihat mansion milik Barnabas Mukito yang terletak di bawah sana, tepat di pinggir pantai.
"Bos seperti biasa penjagaannya sangat ketat di bawah sana" lapor Arsen setelah mendapat laporan dari anak buahnya yang mengintai di bawah sana.
"How much?" (berapa banyak) tanya Denis dengan suara dingin.
"100 lebih orang bos" jawab Arsen.
"Apa wanita tua itu masih bermain juga dengannya?" tanya Denis sambil tersenyum smirk.
"Masih bos. Mereka berdua belum keluar dari kamar sejak dia datang kesini bos" jawab Arsen sambil berkutat dengan iPadnya.
"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Tahu bos" balas Arsen tersenyum smirk.
"Sean bawa dua bajingan itu ke hadapanku" titah Denis.
"Baik bos" jawab Sean sambil berlalu pergi bersama anak buahnya yang berjumlah 50 orang.
Arsen, Denis, Tom, dan pengawal Denis yang lainnya berdiri di atas bukit, sambil menatap teman-teman mereka yang menyerang kediaman Barnabas Mukito dengan brutal di bawah sana.
"Aku pikir bos akan berburu dengan mereka" ucap Arsen.
"Aku lebih suka menunggu mangsaku datang dengan sendirinya" balas Denis sambil tersenyum menyeringai.
Arsen mengangkat alisnya merasa bingung dengan ucapan sang bos barusan. Ia merangkai ucapan Denis barusan mencari artinya tapi ia tidak menemukan jawabannya.
Maksud bos apa sih, batin Arsen dengan penasaran.
Denis tersenyum penuh arti membaca apa yang ada di pikiran Arsen barusan. Ia kembali bersedekap tangan di dada menatap kekacauan di bawah sana, apa lagi ada terlihat api yang mulai menyebar di sebagian mansion.
Dor..........dor...........dor...............
Duar................
Suara tembakan dan ledakan semakin bersahutan di bawah sana, beruntung mansion Barnabas jauh dari hunian warga dan berada di seberang hutan terlarang yang jarang di datangi oleh pengunjung.
Sedangkan di dalam mansion Barnabas keduanya dikagetkan dengan bunyi ledakan dan tembakan di luar sana.
"Berengsek! Siapa yang berani mengusikku!" bentak Barnabas dengan emosi.
"Sial! Hey Barnabas jika sesuatu terjadi kepadaku aku tidak akan memaafkannya sialan" hardik Hana sambil menunjuk wajah Barnabas.
Bruk................
"Jangan memancing emosiku Hana" ancam Barnabas menepis tangan Hana dengan kuat.
"Berengsek kamu Barnabas! Sialan kamu jahanam!" bentak Hana dengan emosi.
"Tutup mulutmu Hana. Sebaiknya kamu berpikir untuk keluar dengan selamat dari sini dari pada marah-marah kepadaku!" bentak Barnabas dengan emosi.
Rahang Hana mengeras menatap Barnabas, tapi ia juga membenarkan ucapannya karena apa yang di bilangnya memang benar.
Aku harus pergi dari sini secepatnya sebelum musuh sialan ini membunuhku, batin Hana.
Setelah memakai pakaiannya Hana bergegas keluar dari sana diikuti Barnabas. Baru saja keduanya turun ke bawah mereka langsung dikagetkan dengan kedua asisten merak masing-masing.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Nyonya. Bos" panggil Hardin dan Saul dengan serentak.
"Apa yang terjadi di luar sana?" tanya Barnabas dengan emosi.
"Kita tiba-tiba di serang oleh musuh bertopeng dari segala penjuru bos" jawab Saul.
"Cepat kita pergi dari sini" pekik Barnabas dengan suara tinggi.
"Ckk!! Kamu memang mafia pengecut" decak Hana dengan tatapan mengejek.
"Jaga ucapanmu perempuan sialan sebelum aku merobek mulut manismu itu" ancam Barnabas dengan emosi.
Hana mencebik bibirnya dan pergi dari sana tidak mau berurusan lagi dengan Barnabas. Meski nanti ia akan kembali menagih janjinya yang akan membantu dia membalaskan dendam kepada Barnabas.
__ADS_1
"Bos sebaiknya kita juga pergi sekarang" ucap Saul.
"Heemmm" dengan Barnabas.
Keduanya segera pergi menuju ruang kerjanya di lantai dua. Sampai disana mereka segera masuk ke ruangan rahasia Barnabas di balik rak buku.
"Berengsek! Siapa sih yang menyerang aku kali ini!" bentak Barnabas dengan emosi setelah keluar di pintu belakang mansion lewat ruang bawah tanah rahasia.
Matanya berkilat emosi melihat mansionnya yang sudah di lahap api dan ia yakin semua anak buahnya sudah mati disana.
"Apa ada anak buah kita yang masih hidup disana?" tanya Barnabas.
"Saya tidak tahu bos" jawab Saul.
"Sialan! Aku pasti akan membalas orang yang sudah berani membakar mansion dan menghabisi anak buahku" ucap Barnabas dengan emosi.
"Kalau begitu lakukan sekarang saja" ucap Denis dengan suara dingin.
Barnabas dan Saul seketika kaget saat mendengar suara di belakang mereka. Saat mereka berbalik keduanya kaget banyak sekali orang bertopeng.
"Siapa kalian?" tanya Barnabas dengan bingung.
"Bos merea semua bertopeng" bisik Saul.
"Kalian" tunjuk Barnabas dengan emosi.
Ia baru ingat jika orang yang menyerang mansionnya adalah orang bertopeng. Suatu kebetulan yang tak disangkanya, ia akan bertemu dengan cepat orang yang ingin ia bunuh.
"Tadi katanya kamu ingin membunuh orang yang sudah membakar mansion dan menghabisi anak buahmu" ucap Arsen sambil tersenyum menyeringai.
"Kenapa kamu tidak melakukannya sekarang" tambahnya lagi dengan sinis.
Barnabas mengepal kedua tangannya dengan kuat menahan emosi. Apa lagi saat ini posisinya hanya berdua saja dengan Barnabas.
"Bos apa kita langsung saja atau mau bermain dulu dengan mereka?" tanya Arsen.
"Menurutmu?" tanya Denis menatap Tom.
"Sepertinya seru kalau kita bermain dulu dengan mereka baru kita habisi bos" jawab Tom sambil tersenyum penuh arti.
Barnabas dan Saul diam sambil melirik sekitar mencari cara untuk melarikan diri dari sana. Denis yang melihat gelagat mereka ingin kabur lalu memberi isyarat kepada Arsen untuk berdiri mengelilingi keduanya.
Sial, batin Barnabas dengan kesal.
Tak...........tak..........tak.............
Bunyi langkah kaki yang terdengar sepeti orang berlari terdengar dari arah Utara. Arsen memberi isyarat kepada anak buah mereka untuk melihat siapa yang datang.
"Kenapa kamu menyerang aku? Apa salah aku kepadamu?" tanya Barnabas.
"Tanyakan saja pada teman tidurmu barusan" jawab Denis dengan suara dingin.
"Hana" gumam Barnabas dengan suara pelan.
Keningnya mengerut mendengar ucapan Denis tentang Hana. Ia berpikir dengan keras apa yang ia lakukan dengan Hana sehingga mengusik orang didepannya.
"Denis Arkana" ucap Barnabas dengan nata melotot.
Dor................
Bunyi tembakan bergema disana membuat Saul berdiri mematung melihat Barnabas yang sudah tidak bernyawa lagi di tanah.
Matanya melirik peluru yang tepat berada di kepala Barnabas dengan banyak darah yang mengucur. Tak berselang lama anak buah Denis datang dengan membawa Hana dan Hardin.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Dimana kalian menemukan mereka?" tanya Arsen.
"Saat mereka hendak kabur dari arah barat mansion bos Arsen" jawab Sean.
"Siapa kalian? Lepaskan aku berengsek!" bentak Hana berteriak dengan emosi.
Plak..............plak.............
Dua tamparan mengenai disana membuat Hana syok tak menyangka akan mendapat tamparan dari Arsen.
__ADS_1
"Sebaiknya kamu diam saja nenek tua sebelum aku menjahit mulut kotormu itu" ancam Arsen dengan tatapan membunuh.
"Tolong lepaskan aku? Bukannya aku tidak ada masalah dengan kalian?" tanya Hana dengan memohon.
"Siapa bilang kamu tidak ada masalah dengan kami?" tanya balik Denis dengan suara dignin.
"Siapa kamu?Apa kamu tahu aku ini menantu dari orang terkaya ke empat di dunia" hardik Hana dengan sombong.
"Ckk!! Sombong sekali nenek tua" decak Arsen dengan kesal.
Denis lalu membuka topeng wajahnya membuat ketiganya melotot kaget melihat sosok didepan mereka.
"Berengsek! Aku akan membunuhmu sialan!" teriak Hana dengan emosi.
Sret..........sret.........sret.............
Aaarghhh...............
Jeritan Hana bergema saat Denis menusuk Hana dengan pisau berkali-kali di tubuhnya. Apa lagi ia juga mengoyak bekas tusukan membuat Hana semakin berteriak kesakitan.
"Berengsek kamu Denis Arkana. Aku akan membunuhmu anak kurang ajar!" bentak Hana dengan emosi.
Crash.....................
"Kalau begitu lakukan di kehidupan lain" ucap Denis setelah menebas kepada Hana.
Ia tidak mau bermain terlalu lama dengan Hana karena sangat benci kepadanya. Hardin dan Saul bergidik ngeri melihat apa yang dilakukan oleh Denis barusan.
"Dia monster" gumam Saul dengan pelan.
"Bos bagaimana dengan mereka?" tanya Arsen menunjuk Hardin dan Saul.
"Mereka sudah melihat jati diriku" ucap Denis dengan suara dingin.
"Oke bos aku tahu apa yang harus aku lakukan" balas Arsen yang mengerti maksud Denis.
Denis segera pergi dari sana meninggalkan Arsen bersama Hardin dan Saul disana. Suara tembakan dan jeritan bergema memenuhi telinga Denis.
Ia tersenyum smirk tak menyangka Arsen akan mengerti maksudnya barusan. Ia tidak bisa membiarkan keduanya hidup karena bisa saja suatu saat akan menjadi bumerang bagi keluarganya.
~ Mansion Utama Massimo ~
Phew.................
Alexandro membuang napas dengan kasar setelah melihat video yang dikirim Arsen barusan. Itu adalah video detik-detik Hana merenggang nyawa di tangan cucunya sendiri begitu pula video panasnya.
"Sepertinya ini hukuman untuk aku karena kesalahan aku di masa lalu" ucap Alexandro sambil menatap langit-langit.
Justin diam saja tak membalas ucapan Alexandro karena memang apa yang di bilangnya benar. Ini semua adalah karma untuknya karena apa yang telah ia lakukan selama ini.
"Justin bawa pulang jasad Hana untuk di makamkan di sini" titah Alexandro.
"Apa anda yakin tuan?" tanya Justin.
"Ya aku yakin. Biar bagaimanapun dia adalah mommy Marcel dan masih istri sah Martin jadi sudah seharusnya jenazahnya di makamkan disini saja" jawab Alexandro menjelaskan.
Prang..................
Linda berdiri mematung didepan pintu saat mendengar ucapan sang suami. Bukan hanya Linda saja tapi Marcel juga di buat syok mendengar pembicaraan kakeknya.
"Kakek bercandakan?" tanya Marcel dengan syok.
"Itu semua benar. Mommy kamu sudah tiada dan sebentar lagi jenazahnya akan di kirim kesini" jawab Alexandro dengan jujur.
"Tidak! Kakek pasti bohong kan? Tidak mungkin mommy pergi meninggalkan kami" teriak Martin dengan suara menggelegar.
"Marcel tenangkan dirimu nak" ucap Linda dengan suara lembut.
"Jangan sentuh aku!" bentak Marcel dengan suara tinggi tak disangka ia bahkan mendorong sang nenek..
"Linda" pekik Alexandro dengan kaget.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...............
__ADS_1