
Berkali-kali Amira menghubungi Denis tapi panggilannya tak diangkat, matanya lalu menatap ke arah dinding dan melihat sudah jam 02:00 dini hari.
Ia yakin Denis pasti sudah tertidur pulas sehingga tidak mengangkatnya.
“Amira kamu tidak boleh lemah karena kamu harus melindungi anakmu dari mereka” ucap Amira menguatkan dirinya sendiri.
Amira kembali melanjutkan tidurnya karena hari masih malam dan ia berharap, semoga keluarga suaminya tidak datang menemui mereka lagi setelah peringatan anaknya waktu itu.
Meski dalam hatinya Amira tahu kalau suatu hari mereka akan kembali menemui mereka lagi.
2 Hari kemudian
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat dan sudah 2 hari berlalu sejak Amira memimpikan Denis yang dibawa keluarga suaminya pergi darinya.
Masih dengan jelas di ingatan Amira kalau pagi itu Denis menelponnya, tapi ia mengatakan hanya merindukan anaknya malam itu sehingga menelponnya. Tanpa Denis sadari kalau sudah 2 hari mamanya jatuh sakit karena terlalu banyak pikiran.
“Nyonya apa sebaiknya bibi beritahu den Denis ya” ucap bi Eda sambil menaruh bubur didepan Amira di meja makan.
“Jangan bi. Aku tidak mau Denis kepikiran bi” ucap Amira sambil menggelengkan kepalanya.
“Tapi nya” ucap bi Eda yang langsung di potong Amira.
“Aku minta sama bibi jangan beritahu Denis ya” potong Amira dengan tatapan sayu.
“Baiklah nyonya” ucap bi Eda dengan pasrah mengikuti kemauan Amira.
Amira tersenyum manis meski wajahnya sangat pucat menatap bi Eda disampingnya. Ia lalu mulai memakan bubur buatan bi Eda meski rasanya hambar, karena lidahnya sudah 2 hari terasa pahit dan membuat napsu makan Amira menurun.
“Nyonya boleh saya bertanya?” tanya bi Eda dengan gugup.
“Iya bi mau tanya apa” jawab Amira dengan suara lembut.
“Dua hari yang lalu saya mendengar nyonya berteriak memanggil nama tuan muda tengah malam. Apa sakit nyonya berhubungan dengan mereka nya?” tanya bi Eda dengan penasaran.
“Bibi dengar semua pembicaraan kami dari awal kan?” tanya balik Amira.
“Iya nya. Maafkan bibi yang sudah lancang” jawab bi Eda sambil menunduk.
Phew………………
Amira membuang napasnya dengan kasar menatap bi Eda yang ternyata mendengar pembicaraan mereka dari awal waktu itu.
“Aku mohon sama bibi jangan pernah biarkan Denis mengetahui hal itu ya bi” pinta Amira dengan memohon.
“APA YANG TIDAK BOLEH AKU TAHU” ucap suara dingin menggelegar dari pintu masuk.
Deg……………..
Jantung Amira dan bi Eda berdetak dengan cepat saat mendengar suara yang sangat mereka kenali.
Keduanya berbalik menatap ke asal suara den seketika menegang melihat tatapan mata coklat tajam itu yang menatap mereka seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.
“De…..nis” lirih Amira dengan suara bergetar.
__ADS_1
Denis menatap keduanya bergantian meneliti raut wajah mereka dan seketika ia tersenyum menyeringai, karena keduanya sedang menutupi sesuatu darinya.
“Katakan apa yang mama sembunyikan dariku” ucap Denis dengan suara tegas dan dingin.
Glek…………….
Amira menelan salivanya dengan susah mendengar suara sang anak yang menyuruhnya untuk jujur. Aura Denis yang mengintimidasi membuat Amira gemetar ketakutan, karena tahu bagaimana sifat anaknya jika sedang dalam keadaan emosi.
“KATAKAN” hardik Denis dengan suara menggelegar.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Amira dan bi Eda tersentak dengan hardikan Denis barusan yang membuat keduanya saling melirik satu sama lain. Bi Eda mengangguk kepalanya memberi tahu agar jujur saja kepada Denis karena ia tidak mau Amira sampai mendapat amukan Denis.
“I…..tu” ucap Amira dengan gugup karena ketakutan.
“Bicara yang jelas ma” ucap Denis dengan suara tegas.
Phew………………
Amira membuang napasnya dengan kasar mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara jujur kepada anaknya tak perduli dengan resiko nanti.
“Sebenarnya ada sesuatu yang mama sembunyikan dari kamu nak” ucap Amira.
“Kedatangan keluarga papa kamu waktu itu sebenarnya ingin membawa kamu ke Italia dan memisahkan kamu dari mama nak” tambahnya lagi dengan jujur.
Prang…………….prang………………prang………………..
Amira bangun dari duduknya sambil menutup mata mendengar suara pecahan yang bergema didalam sana. Bi Eda yang baru pertama kali melihat Denis emosi seperti itu berdiri dengan gemetar ketakutan.
“Na…..k” panggil Amira dengan gugup.
“Kenapa? Kenapa mama tidak beritahu aku waktu itu? Kenapa mama sembunyikan hal ini dari aku ma?” tanya Denis dengan suara tinggi.
“Maaf nak” lirih Amira sambil menunduk ketakutan.
Bugh……….prang……………..
Denis memukul meja kaca didepannya dengan kedua tangannya, hingga hancur membuat Amira dan bi Eda berteriak ketakutan. Tak sampai disitu Denis kembali menghancurkan meja makan dan ruang tengah hingga ruangan itu seperti kapal pecah.
“Apa lagi yang mama sembunyikan dari aku?’ tanya Denis dengan suara dingin.
“Tidak ada nak…………hiks hiks hiks………….mama hanya menyembunyikan hal itu saja” jawab Amira sambil menangis.
“Apa mereka pernah datang lagi?” tanya Denis dengan tatapan tajam.
“Tidak pernah nak”
“Jika mereka datang segera beritahu aku” titah Denis dengan suara tegas.
“Iya nak”
Denis berlalu pergi dari rumah sang mama karena tidak ingin kembali emosi.
__ADS_1
Tadinya ia datang ke sana karena sudah beberapa hari tidak bertemu dengan mamanya, tapi tak di sangka ia akan mengetahui kabar ini mengenai maksud kedatangan keluarga papanya.
~ DA Corp ~
Sampainya di perusahaan Denis masuk ke dalam dengan wajah dingin dan aura membunuh membuat semua karyawannya bergetar ketakutan. Sandro yang baru saja keluar dari lift mendengar bosnya sudah datang seketika menghentikan langkahnya.
Tubuhnya bergidik ngeri merasa suasana disana terasa sangat mencekam, lalu pandangannya seketika tertuju kepada Denis yang berjalan dengan wajah dingin seperti es dan ia tahu kalau bosnya dalam suasana hati yang tidak bagus.
“Siapa yang sudah membuat mood bos pagi ini buruk sih” gumam Sandro dengan pelan.
Brugh……………
“Punya mata tidak sih kamu!” bentak Denis dengan suara tinggi menggelegar saat tubuhnya di tabrak seorang pegawai yang ingin mencari perhatiannya.
“Maafkan saya tuan. Saya tidak sengaja” ucap pegawai tersebut dengan suara menggoda.
“Tidak sengaja?” tanya Denis dengan suara geram.
Bugh…………….prang………………….
Semua pasang mata disana kaget melihat wanita tadi di tendang dengan kuat hingga membentur hiasan di sudut ruangan sampai pecah. Mulut Sandro tercengang melihat semuanya itu, tak menyangka jika Denis akan memukul perempuan seperti itu.
“Bubar semuanya!” bentak Rian dengan suara menggelegar didepan pintu masuk.
Semua karyawan bergegas membubarkan diri takut di marahi oleh Rian yang terkenal kejam dan tangan dingin selama ini. Apa lagi statusnya sebagai sekretaris presdir mereka membuat semua karyawan tak berani berkutik.
Sandro menatap Arsen memberi isyarat untuk mematikan cctv di sekitar sana tak ingin seorang pun tahu wajah asli presdir mereka. Rian dengan langkah tegap berjalan menghampiri Denis meski ia saat ini merasa sangat takut.
“Selamat datang Mr. D dan atas nama DA Corp saya minta maaf atas kelancangan pegawai kami” ucap Rian sambil berakting.
“Ckk!!” decak Denis dengan suara dingin.
“Silahkan ikut saya Mr.D” ucap Rian sambil membungkuk dan menunjukkan jalan menuju lift.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Arsen dan Sandro sudah berada didalam lift khusus Denis menunggu kedatangan Denis dan Rian. Tak berselang lama keduanya datang dengan aura Denis yang terasa sangat mengintimidasi.
Ketiganya saling melirik dan bertanya apa yang terjadi dengan bos mereka tapi tidak ada yang tahu. Denis sendiri mengepal kedua tangannya dengan erat mengingat ucapan mamanya tadi.
“Pecat perempuan pel***r tadi” ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.
“Baik bos” ucap Sandro.
Ting……………
Denis keluar dari dalam lift dan berjalan menuju ruangannya dengan langkah tegap dan tatapan tajam seakan ingin membunuh seseorang saat ini juga.
Sandro dan Arsen lalu masuk bersama Denis ke ruangannya meninggalkan Rian yang harus mengambil laporan untuk diberikan kepada Denis.
Brak……………..prang…………………
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
To be continue…………….