
Siapa sih yang sudah membangunkan sisi monster milik bos, batin Sandro dengan penasaran.
Aku rasa tidak lama lagi akan ada pertempuran besar-besar, batin Arsen yakin.
Aura ka Denis sangat mengerikan bahkan lebih mengerikan dari punya ka Rayen, batin Arkan sambil melirik sang kakak.
Meski kita sama-sama mafia tapi aku akui aura si Denis sangat mengerikan, batin Rayen.
Denis tersenyum menyeringai membaca semua pikiran mereka dan ia sudah tidak sabar ingin menunggu kiriman pembunuh bayaran Roy Martinez.
Ting..............
Bunyi pesan masuk mengalihkan pandangan Denis dari keempatnya ke hpnya di depannya dan ternyata itu adalah pesan dari Simon Martinez.
Simon Martinez
"Apa kamu yang mengirim kepala Dante Constanzo ke mansion kami"
^^^"Menurutmu?" tanya balik Denis.^^^
"Aku yakin itu kamu"
^^^"Heemmm"^^^
"Kamu harus hati-hati karena pasti daddy aku tidak akan diam saja"
^^^"Ya"^^^
"Oh ya tadi aku menjenguk nenek Linda di mansion dan nenek sangat merindukan kamu dan tante Amira"
^^^"Beritahu nenek aku tidak bisa ke sana saat ini"^^^
"Lebih baik kamu menelpon nenek Linda dan langsung memberitahunya. Siapa tahu itu bisa mengurangi rasa rindunya"
^^^"Heemmmm"^^^
"Siapa yang kamu maksud tadi?" tanya Rayen.
"I don't know" jawab Denis santai.
"Lalu bagaimana bisa kamu bilang kalau akan ada tamu yang akan datang?" tanya Rayen dengan bingung.
"Cuma feeling saja" jawab Denis dengan santai.
"Hah! Kamu memang gila!" sarkas Rayen dengan kesal.
"KAKAK" pekik Arkan dengan sorot mata tajam tak terima Denis dikatai gila.
"Kenapa bocah? Kamu mau bela dia?" tanya Rayen dengan sinis.
"Pasti dong. Karena bos Denis adalah bos aku" jawab Arkan dengan suara tegas.
"Aku ini kakakmu bodoh" hardik Rayen dengan suara tinggi.
"Lalu?" tanya Arkan dengan santai.
Bugh.............
"Ka Rayen menyebalkan!" hardik Arkan saat kepalanya dipukul oleh sang kakak.
"Jangan pernah mengatai bos kami gila Rayen karena kami tidak terima bos dikatai gila meski kamu itu kakak dari nyonya kami" ucap Sandro memperingati Rayen dengan suara tegas.
"Kalian memang sudah tidak waras!" ketus Rayen dengan tatapan sinis.
"Untuk kami bos kami adalah segalanya karena tanpa bos, kami tidak akan ada hingga detik ini" balas Arsen dengan tatapan berkilat tajam.
"Ya ya ya maaf sudah mengatai bos tercinta kalian" ucap Rayen memilih damai.
Denis tersenyum mengejek menatap Rayen membuat dia mengumpat Denis didalam hati karena tahu Denis sedang mengejeknya.
Tak berkata apa-apa Denis melangkah pergi dari ruang kerjanya membuat semua mata menatapnya dengan bingung.
Denis yang sudah berada di luar segera masuk ke dalam kamar dan bergegas naik ke ranjang menyusul istrinya yang sudah nyenyak dibawah selimut.
2 Jam kemudian
__ADS_1
Rayen sedari tadi berdecak kesal menunggu Denis yang tak kembali juga. Padahal sudah dua jam Denis pergi tapi tak ada tanda-tanda Denis kembali.
"Kemana sih Denis?" tanya Rayen dengan kesal.
"Iya mana bos lama banget lagi" tambah Arkan dengan wajah menggerutu.
"Lebih baik kita keluar mencari bos" ucap Sandro segera pergi.
Keempatnya bergegas keluar dari ruang kerja Denis dan sampai di luar suasana mansion sudah gelap. Rayen melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 00:00 pagi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Saat sampai di lantai satu mereka bertemu dengan pak Tio yang hendak keluar menuju paviliun belakang setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Pak Tio dimana bos?" tanya Sandro mewakili mereka semua.
"Tuan sudah tidur dari 2 jam yang lalu tuan Sandro" jawab pak Tio dengan sopan.
"APA!" pekik keempatnya dengan suara melengking.
"Berengsek! Tuan rumah sialan!" sarkas Rayen dengan kesal.
"Ah! Tau gitu aku udah pulang dari tadi" keluh Arkan dengan bibir mengerucut.
Rayen dan Arkan bergegas pergi dari sana diikuti Sandro dan Arsen. Pak Tio hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat keempatnya yang menunggu sang tuan selama 2 jam.
1 Minggu kemudian
Tak terasa sudah 1 Minggu berlalu sejak Rayen, Arkan, Arsen, dan Sandro di buat kesal oleh Denis yang meninggalkan mereka menunggu selama 2 jam didalam ruang kerjanya.
Mulai dari situ mereka berempat bertekad untuk bertanya kepada Denis jika pergi ke mansionnya dan terulang lagi hal seperti itu.
~ Rose Hotel ~
Hari ini mereka semua sedang menghadiri acara pernikahan Rian dan Annisa yang digelar di hotel Rose milik Leila.
Sedari tadi Denis tidak melepaskan tangannya dari pinggang sang istri yang menemaninya berbincang dengan rekan kerja mereka yang diundang.
"Ternyata ka Rian cepat juga" ucap Arkan.
Keduanya sedari tadi menjadi sorotan para tamu karena berpenampilan seperti boyband Korea. Apa lagi rambut mereka yang berwarna sangat terang.
"Mereka seperti pelangi berjalan saja" ucap Sandro tak habis pikir.
"Ya aku setuju" balas Arsen.
"Lalu kapan giliran kamu menikah bocah?" tanya Sandro.
"Aku tidak tahu. Lagian aku belum menemukan yang cocok" jawab Arsen dengan jujur.
"Semoga kamu segera menyusul si kulkas itu" ucap Sandro sambil tersenyum menyeringai.
"Mas" ucap Seila dengan mata melotot memperingati suaminya.
"Bercanda sayang. Ingat jangan terlalu marah-marah nanti bayinya juga ikutan marah baby" ucap Sandro sambil mengelus perut sang istri yang sudah mulai buncit.
Ya saat ini Seila tengah mengandung 3 bulan dan hal itu sukses membuat Sandro kalang kabut selama kehamilan sang istri.
Bagaimana tidak moodnya selalu berubah-ubah membuat Sandro harus ekstra sabar dan mengalah demi anak dan istrinya.
Dasar suami takut istri, batin Arsen sambil mencibir.
Leila lalu bergabung bersama dengan ibu dari Arsen, Sandro, sang mama mertua bersama teman arisan Amira.
Ando adik ipar Sandro yang baru keluar dari kamar mandi menangkap seseorang yang bertingkah aneh di sudut ballroom. Ia memperhatikan orang tersebut dan mengikuti arah pandangannya yang menuju ke arah meja Leila.
Perlahan-lahan Ando mengendap menghampirinya dengan langkah pelan. Sampainya dibelakang orang itu ia kaget melihat pistol dengan peredam suara di tangan orang itu.
"Sebaiknya kamu ikut aku dengan sukarela sebelum peluru ini menembus kepalamu" bisik Ando yang menodongkan pistol tepat di kepala orang itu.
Orang itu diam tapi Ando yang tahu apa yang sedang dipikirkan orang tersebut langsung merebut pistolnya.
"Jangan macam-macam karena jika kamu mencoba bunuh diri atau melakukan sesuatu maka keluargamu yang akan menggantikan hukuman kamu" bisik Ando kembali dengan suara tegas.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
__ADS_1
Keduanya lalu menuju ke kamar mandi yang tak jauh dari sana. Setelah keduanya masuk ke dalam toilet dengan cepat Ando melumpuhkannya dan mengikat tangannya dengan dasi yang ia pakai tadi.
Ando lalu mengambil hpnya dan menelpon Sandro dan beruntung pada panggilan 2 langsung dijawab.
"Halo"
^^^"Datang ke kamar mandi di sudut ballroom karena ada penyusup" ucap Ando to the point.^^^
"Apa! Aku segera kesana" ucap Sandro dengan suara dingin.
Ando lalu mematikan panggilannya sepihak menunggu Sandro kesini. Sebelum Sandro sampai ia segera menggeledah tubuh orang itu mencari identitasnya tapi tidak ada dan hanya satu telpon. genggam jadul.
"Siapa yang mengirim kamu?" tanya Ando dengan saura dignin.
Orang itu tersenyum smirk menatap Ando tak menjawab pertanyaannya. Melihat hal itu Ando yakin jika orang itu tidak akan buka mulut.
"Kita lihat saja sampai kapan kamu akan tutup mulut" ucap Ando sambil tersenyum menyeringai.
Brak...............
Bunyi pintu kamar mandi yang dibuka dengan kuat mengagetkan keduanya. Tak lama Sandro masuk bersama Arsen dengan tatapan membunuh.
"Apa yang terjadi?" tanya Arsen dengan suara dingin sambil menatap orang tersebut.
"Saat keluar dari kamar mandi aku melihat dia bertingkah mencurigakan jadi aku mendekatinya. Tapi ternyata dia sedang mengawasi meja yang ditempati nyonya Arkana dan juga dia membawa ini" jawab Ando menjelaskan sambil memperlihatkan sebuah pistol.
"Berengsek! Beraninya kamu ingin menembak nyonya" hardik Sandro dengan emosi.
Bugh..........bugh..........bugh..........bugh.........
Sandro memukul orang itu dengan brutal merasa sangat marah. Sedangkan Arsen ia segera mengirim pesan ke bos untuk segera pergi dari sini dan juga menyuruh Mark untuk melacak identitas orang itu.
Denis yang membaca pesan dari Arsen seketika mengeluarkan aura membunuh yang sangat mengintimidasi. Beruntung para tamu sudah banyak yang pulang dan hanya tersisa keluarga besar dari pengantin.
"Presdir" panggil Rian yang tahu ada sesuatu yang sedang terjadi.
"Kamu nikmati pernikahan kalian dan aku beri kalian libur selama 1 minggu untuk bulan madu" ucap Denis dengan suara dingin.
"Terima kasih presdir" ucap Rian dengan tulus.
"Ada apa Denis?" tanya Rayen yang baru saja datang.
"Ada penyusup. Kita pulang sekarang" jawab Denis dengan tatapan tajam.
"Oke" ucap Rayen dengan suara tak kalah dingin.
Denis lalu mengajak istri dan mamanya untuk pulang saat itu juga. Ia akan membawa keduanya menginap di mansionnya malam ini sebelum Arsen memberikan informasi lengkap mengenai kejadian barusan.
Mata Denis berkilat tajam seakan ingin membunuh siapapun saat ini yang berani mengusiknya. Ia ingat pertemuannya dengan Pablo seminggu yang lalu di restoran sang mama.
#Flashback On
"Kamu harus menjaga istri dan mama kamu dengan ketat mulai sekarang" ucap Pablo.
"Heemmm"
"Dalam seminggu ke depan kamu akan mendapat pembunuh bayaran yang akan terus berdatangan. Aku sangat tahu bagaimana otak licik sialan itu jika sudah emosi" ucap Pablo menjelaskan.
"Aku akan dengan senang hati menyambut mereka" balas Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Hati-hati Denis karena mereka itu sangat licik. Untuk kedua orangnya yang masih berada di Indonesia serahkan pada om biar om yang mengurus mereka" pinta Pablo dengan suara tegas.
"Oke"
"Selalu hubungi om jika kamu butuh sesuatu"
#Flashback Off
Denis mengambil hpnya dan mengirim pesan ke Pablo untuk menemuinya di mansionnya sekarang karena ada yang ingin ia tanyakan.
Duar..............duar................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue................
__ADS_1