Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 158


__ADS_3

"BERANINYA KAMU MELUKAI MAMAKU SIALAN" bentak Denis dengan suara menggelegar.


Bugh..........bugh.........bugh..........


Denis menendang Lewis dengan kuat membuat isi tubuhnya berceceran di tanah. Anak buah Denis yang sudah berhasil melumpuhkan semua anak buah Lewis bergidik ngeri melihat kekejaman bos mereka.


"Bos kalian sadis juga ya" ucap Rayen bergidik ngeri melihat kekejaman Denis.


"Ini belum seberapa. Sebentar lagi kamu akan lihat sisi kejam yang sebenarnya dari bos kami" balas Arsen sambil tersenyum menyeringai.


Rayen mengangkat alisnya sebelah bertanya-tanya apa maksud ucapan Arsen barusan. Arsen yang melihat tatapan Rayen tersenyum smirk membuat Rayen semakin dibuat penasaran.


Lewis saat ini sudah pasrah jika dia harus mati hari ini. Ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa dengan keadaan tubuhnya yang sudah tidak seperti dulu lagi.


"B.........u.......nuh sa.......ja aku" ucap Lewis dengan suara lemah sudah tak bertenaga lagi.


"Kematian terlalu mudah untukmu" ucap Denis sambil tersenyum menyeringai.


Grep................


Denis menarik rambut Lewis dan menyeretnya seperti menyeret binatang di tanah membuat Lewis semakin berteriak kesakitan karena luka-lukanya semakin terbuka.


"Ja.......ngan! A.....ku mohon jang....an" pinta Lewis dengan terbata-bata melihat apa yang di pegang Denis.


Denis tersenyum lebar seperti iblis melihat musuhnya yang memohon kepadanya. Tubuh Lewis semakin bergetar melihat Denis yang mengayunkan hamar 5 KG di tangan kanannya dengan santai.


"Ayok kita berpesta........hehehehe" ucap Denis sambil terkekeh.


"J.......angan! Am......Puni a.......ku" lirih Lewis dengan terbata-bata.


"Sudah tidak ada pengampunan untukmu berengsek!" bentak Denis dengan suara menggelegar.


Bugh...............aarrgghh...........


Jeritan kesakitan Lewis bergema di sana saat Denis memukul kedua kakinya dengan hamar berkali-kali, hingga membuat kedua kakinya hancur.


Aaarrgghh.................


Jeritan kesakitan Lewis kembali bergema saat Denis memukul dadanya dengan hamar. Saking kuatnya pukulan Denis membuat Lewis sampai batuk berdarah.


Jlep..........


Denis menancapkan pisaunya tepat di jantung Lewis membuat sang empunya melotot kaget menatapnya.


"Ini balasan buat orang yang sudah mengusik mamaku" ucap Denis sambil tersenyum smirk.


"I.......blis" ucap Lewis dengan terbata-bata sambil menghembuskan napas terakhir.


"Bakar dia bersama markasnya" titah Denis dengan suara dingin sambil menatap Lewis dengan datar.


"Baik bos" jawab Arsen dengan cepat.


Denis lalu masuk ke dalam ruangan yang ditempati sang mama. Ia lalu mengendong mamanya keluar dari sana dengan tatapan membunuh.


Ia masih sangat emosi saat melihat tubuh sang mama yang penuh luka dan memar. Apa lagi pipinya yang sampai lebam dan ia yakin Lewis pasti menampar mamanya berkali-kali.


"Fu*k!" maki Denis dengan emosi.


"Denis" panggil Amira dengan suara lemah saat mendengar makian sang anak.


"Mama sudah aman" bisik Denis dengan suara lembut.


"Hiks hiks hiks........terima kasih nak........hiks hiks hiks........mama tadi takut jika tadi kamu datang terlambat pasti mama akan di perkosa mereka.......hiks hiks hiks" adu Amira sambil menangis histeris.


Duar.................


Tubuh Denis bagai disambar petir mendengar ucapan sang mama barusan. Wajahnya semakin menghitam dengan tatapan penuh amarah ingin rasanya mencabik-cabik orang yang berniat melakukan hal itu kepada sang mama.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Siapa ma?' tanya Denis dengan suara berat menahan emosinya.


"Anak buah orang itu nak" jawab Amira.


Denis mengedarkan pandangannya ke sekeliling markas Lewis mencari anak buah Lewis yang masih hidup tapi tidak ada.


"Bakar mereka semua hingga menjadi abu bersama markas mereka" hardik Denis dengan suara menggelegar.


"Baik bos" ucap anak buah Denis dengan serentak.


Denis berlalu pergi dengan langkah panjang disusul Rayen menuju helikopternya. Arsen yang tahu mereka hendak kemana segera mengirim pesan ke Bimo untuk bersiaga menunggu kedatangan mereka.


~ Markas Black Demon ~


Sampainya di markas Amira segera di bawa ke ruang kesehatan oleh Bimo. Denis yang sangat mencemaskan sang mama yang tadi pingsan dalam perjalanan kesini tidak melepas tangan mamanya sedikit pun.


"Denis biarkan dokter menangani mamamu" ucap Rayen yang melihat Bimo merasa gugup berada di dekatnya.


"Urus urusanmu sendiri!" sarkas Denis dengan tatapan tajam.


"Oke" ucap Rayen mengalah tak mau membuat Denis marah.


Ia memilih keluar untuk berbincang bersama dengan Arsen tentang markas Denis dan juga ingin tahu apa yang dilakukan oleh kelompok Denis.


Sedangkan didalam ruang kesehatan Bimo dan para perawat gemetar keringat dingin merasa gugup dengan keberadaan bos mereka.


"Bagaimana keadaan mamaku?" tanya Denis dengan khawatir.


"Nyonya hanya mengalami luka luar dan lebam bos. Tidak ada luka dalam dalam tubuh nyonya" jawab Bimo dengan suara tegas.


"Berikan obat terbaikmu untuk menghilangkan rasa sakit di tubuh mamaku" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" jawab Bimo dengan patuh.


"Syukurlah" ucap keduanya dengan serentak.


Kring...............


Rayen merogoh hpnya didalam saku celana saat hpnya berbunyi tanda ada panggilan masuk. Melihat nama Leila Adikku ia segera menjawab panggilan tersebut.


^^^"Halo dek" ucap Rayen dengan suara lembut.^^^


"Halo ka. Kakak lagi dimana?" tanya Leila dengan suara sangat lembut dari seberang.


^^^"Ada di markas kekasihmu dek" jawab Rayen.^^^


"Hah! Kok bisa Kakak ada disana?" tanya Leila dengan kaget.


^^^"Ya ampun dek. Ya bisalah! Kakak disini karena kami baru saja selesai menyelamatkan tante Amira Leila" jawab Rayen dengan kesal.^^^


"Mama udah ditemukan ka? Bagaimana keadaan mama ka? Apa mama dan Denis baik-baik saja kak?" tanya Leila dengan panik.


^^^"Ckk!! Leila apa kamu tidak ingin menanyakan tentang kakakmu yang paling ganteng ini" decak Rayen dengan kesal.^^^


"Aku tidak tanya tentang kabar kakak karena aku yakin kakak baik-baik saja. Buktinya kakak sedang berbicara dengan aku sekarang" balas Leila dengan santai.


^^^"Dasar adik laknat kamu dek" ketus Rayen dengan kesal.^^^


"Terserah. Gimana keadaan Denis ka?" tanya Leila tak mau ambil pusing dengan kata-kata Rayen yang sangat ketus.


^^^"Denis baik-baik saja. Tapi Tante Amira yang tidak baik-baik saja" jawab Rayen.^^^


"Apa mama terluka parah ka?" tanya Leila dengan suara tinggi dari seberang.


Rayen sampai menjauhkan. hpnya dari telinga karena telinganya sangat sakit mendengar suara sang adik yang sangat berisik dari seberang sana.

__ADS_1


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


^^^"Apa kamu mau buat kakakmu ini tuli Leila" hardik Rayen dengan kesal.^^^


"Ka bagaimana keadaan mama sekarang?" tanya Leila tak menggubris ucapan Rayen.


Phew.............


Rayen membuang napasnya dengan kasar menahan rasa kesalnya mendengar sang adik yang tidak menggubris ucapannya barusan.


^^^"Tante Amira lagi di rawat di ruang kesehatan sekarang dek"^^^


Rayen mematikan panggilannya sepihak tak menunggu balasan Leila. Ia tidak ingin terus kesal karena harus membalas setiap pertanyaan adiknya yang tidak akan pernah habis.


~ Kediaman Baker ~


Leila menggerutu kesal karena lagi-lagi panggilannya di matikan sepihak oleh sang kakak. Padahal ia masih ingin menanyakan keadaan mama Amira.


"Ka Leila jelek kalau kayak gitu" ejek Arkan sambil terkekeh.


"Biarin!" ketus Leila dengan kesal.


Keduanya diam sibuk dengan pemikiran masing-masing. Leila yang sangat mengkhawatirkan mama Amira segera menoleh ke Arkan.


"Dek kita ke markas kalian sekarang ya" ajak Leila.


"Hah! Ka Leila tidak lagi sakit kan?" tanya Arkan dengan kaget.


"Kakak sehat walafiat dek. Ayok kita ke sana sekarang" ajak Leila memaksa.


"Buat apa ka? Jangan macam-macam deh ka! Apa lagi ka Rayen menyuruh kita tidak boleh kemana-mana ka!" tegas Arkan memperingati Leila.


"Kakak itu khawatir sama mama Amira dek. Apa lagi saat ini mama Amira sedang di rawat di ruang kesehatan di markas kalian" papar Leila menjelaskan maksud ia mengajak Arkan pergi ke sana.


"Apa mama di ruang kesehatan sekarang ka!" pekik Arkan dengan kaget.


"Iya dek. Makanya ayok kita ke sana sekarang" ucap Leila sambil mengangguk kepalanya.


"Kalau begitu ayok kita ke sana sekarang ka" ucap Arkan dengan cemas.


Keduanya segera bergegas pergi ke markas Black Damon di kawal anak buah Denis dengan sangat ketat.


~ Markas Black Damon ~


Sampainya disana keduanya bergegas masuk ke dalam markas dan segera menuju ke ruang kesehatan.


"Kalian!" pekik Rayen dengan kaget melihat kedatangan kedua adiknya.


"Ka dimana mama Amira?" tanya Leila dengan panik dan cemas.


"Ada di dalam sana" ucap Rayen menunjuk ruangan di depannya.


"Tunggu dulu siapa yang mengijinkan kalian kesini" ucapnya lagi tapi tidak dihiraukan oleh Leila yang sudah berlalu menuju ruangan kesehatan.


"Arkan" ucap Rayen dengan suara dingin membuat langkah kaki Arkan terhenti saat ingin menyusul Leila.


"Ka Rayen" ucap Arkan sambil tertawa memamerkan giginya dengan wajah tak bersalah.


"Ikut kakak" ucap Rayen dengan suara tegas.


Mau tak mau Arkan pergi mengikuti kakaknya karena tak ingin mendapat hukuman. Sedangkan didalam ruang kesehatan Leila menutup mulut mendengar suara tangisan kekasih.


Aku yakin kamu pasti menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi kepada mama sayang, batin Leila dengan sedih.


Grep......................


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...

__ADS_1


To be continue...............


__ADS_2