
“Liza, apa kau dan Joe sudah pacaran?” tanya Zanjiil penuh selidik.
“Masih proses, kemarin aku ajak dia jalan, tapi ternyata dia ada acara lain.” wajah Liza nampak kecewa karena tak jadi kencan dengan Joe.
“Baguslah, sebaiknya kau perjuangkan Gibran, ku lihat dia sangat menyukai mu, tapi karena kau dekat dengan Joe, dia jadi ragu pada mu.” Zanjiil mempengaruhi Liza agar berubah haluan.
“Astaga Jiil, ternyata kau juga tahu, kalau Gibran menyukai ku?” Liza yang tak pernah suka pada Zanjiil perlahan mengubah cara pandangnya.
“Ya, aku juga setuju sih kalau kau pacaran dengan Gibran.” Kissky pun menguatkan pendapat Zanjiil.
“Kenapa begitu Ky?” Meski dua orang memberi dukungan pada Gibran, namun Liza perlu mengetahui alasannya.
“Karena dia orang baik, dan juga teman sekelasnya kita, dia tampan, dia jujur dan juga royal pada mu.” pujian yang begitu saja keluar dari mulut Kissky membuat Zanjiil salah paham. Ia berpikir, kalau istrinya sedang menyindirnya.
“Tapi aku enggak kalah baikkan darinya?” Kissky dan Liza sontak melihat ke arah Zanjiil.
“Lebin baik Gibran di banding kaulah!” ucap Liza.
“Kau benar, tapi...” Kissky menggenggam tangan Zanjiil. “Zanjiil jauh lebih nyaman.” pujian dari Kissky membuat Zanjiil salah tingkah dan serba salah.
“Untung di tempat umum.” gumam Zanjiil yang ingin menerkam Kissky jika itu di tempat lain.
_______________________________________
Lula yang berada di kelasnya melipat kedua tangannya di atas meja. Ia yang lelah pun meletakkan kepalanya di atas tangannya.
Sialan! Aku masih kepikiran pada si IQ 200, sebenarnya dia siapa? Apa dia yang menyuruh ku untuk membunuh kakeknya? batin Lula.
“Assalamu'alaikum.” ucap bu guru Ratih.
Sejenak Lula mengangkatnya kepalanya, lalu kembali meletakkannya di lipatan tangannya.
“Untuk apa, guru kelas VII ada disini?” gumam Lula.
“Hari ini, ibu datang untuk menggantikan pak Faiq ya anak-anak, karena kakek dari pak Faiq meninggal dunia.” kabar duka dari gurunya membuat Lula tercengang.
Ternyata dugaan ku benar, dasar! Tampangnya saja yang sok baik, batin Lula.
__________________________________________
Setelah pemakan Riza selesai, Kissky dan Zanjiil langsung pulang.
“Ky, aku mau ke kantor, karena ada meeting hari ini, kau pulanglah dengan pak Dimas,” ucap Zanjiil.
“Kenapa kami enggak mengantar mu kesana??”
“Tidak, aku ikut kalian hanya sampai perempatan lampu merah, setelah itu aku lanjut naik taksi.” Sebetulnya Kissky bisa saja mengantar suaminya. Namun Zanjiil takut jika istrinya akan kelelahan di jalan.
“Baiklah!” Kissky bersikap santai, walau dalam hatinya, ia sangat ingin ikut ke perusahaan untuk mengintip gaya suaminya saat mengikuti meeting yang biasa di lakukan orang dewasa.
Setelah sampai di perempatan lampu merah, Zanjiil mengusap puncak kepala Kissky.
__ADS_1
“Sampai rumah langsung makan, habis itu tidur siang.” sebelum turun dari mobil, Zanjiil mencium kening istrinya. “Titip istri ku ya pak.” ucap Zanjiil pada Dimas.
“Siap tuan muda.” Dimas tersenyum, begitu pula dengan Kissky.
Setelah Zanjiil turun, Dimas melajukan mobil membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.
Kissky yang tak pernah kemana pun berniat mengajak Dimas berbelanja.
“Pak, bisa antar aku ke mall XXX?”
“Maaf non, sesuai perintah tuan muda, kita langsung pulang ke rumah,” ucap Dimas.
Patuh banget sih pak Dimas, batin Kissky.
“Baiklah, tapi kalau aku minta izin pada Zanjiil boleh pak?”
“Kalau tuan muda memberi izin, saya akan mengantar nyonya,” terang Dimas.
“Baiklah, aku akan tanya padanya.” Kissky pun mengirim pesan pada suaminya.
Sayang, aku boleh ke mall XXX ya, ada baju yang ingin ku beli disana.✉️ Kissky.
Tidak boleh. ✉️ Zanjiil.
“Ya Tuhan, pada hal aku sudah bilang sayang, tapi sedikit pun dia enggak bergeming?” Kissky yang ingin sekali pergi ke mall itu terus membujuk suaminya.
Sebentar saja, nanti aku beli baju juga untuk mu. ✉️ Kissky.
“Astaghfirullah, suami macam apa sih dia? Aku ini bukan tawanan yang tak boleh kesana kemari!” Kissky yang kesal jadi marah-marah sendiri.
“Berarti kita pulangkan nyah?” ucap Dimas. Sontak Kissky memberi tatapan mata tajam pada supir pribadi suaminya itu.
Kissky yang ingin meredakan amarahnya menatap ke arah kaca pintu mobil yang ada di sebelahnya.
Ia pun mengernyitkan dahinya saat melihat Ahmad sedang bergandengan dengan wanita muda menuju hotel.
“Stop pak!” titah Kissky.
Citt!!
Dimas pun melakukan rem mendadak, tanpa izin Kissky keluar dalam mobil.
“Nyonya mau kemana?”
Kissky yang buru-buru tak menjawab pertanyaan Dimas.
Ia pun langsung menuju hotel bintang lima yang baru saja di masuki ayahnya.
Kissky dengan hati resah menuju resepsionis, deg!
Ternyata benar, Ahmad check in ke dalam kamar hotel.
__ADS_1
“Papa...” hatinya begitu sedih, saat mengingat ibunya yang selalu menunggu sang ayah pulang kerja setiap harinya.
Apa yang harus ku lakukan? Haruskah aku mengatakannya pada mama? Kissky benar-benar tak tahu, harus melakukan apa.
Ia pun memutuskan untuk pulang, karena ia tak sanggup saat melihat ayahnya bermesraan dengan wanita lain.
Bam!
Kissky yang kembali ke dalam mobil membuat Dimas bingung. Sebab wajah majikannya begitu pucat.
Tak lama, Kissky meneteskan air mata. Dimas makin di buat bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya.
“Nyonya, apa kau baik-baik saja?” pertanyaan Dimas di jawab dengan tangisan Kissky yang semakin pecah.
“Hiks.. huah!!!”
Apa nyonya menangis karena tak dapat izin ke mall? batin Dimas.
Dimas yang tak nyaman dengan isak tangis istri tuan mudanya. Memutuskan untuk mengirim pesan pada Zanjiil.
Gawat tuan, nyonya menangis histeris, ku rasa itu karena tuan tak mengizinkan nyonya ke mall. ✉️ Dimas.
______________________________________
Zanjiil yang membaca pesan itu merasa sedikit konyol.
“Masa dia menangis hanya karena itu?” Zanjiil yang penasaran pun langsung mendial nomor Dimas.
Halo, berikan pada Kissky pak. 📲 Zanjiil.
Dimas pun memberi telepon genggamnya pada Kissky. Namun Kissky yang sedang berduka tak mau menerimanya.
Maaf tuan, nyonya tak mau bicara. 📲 Dimas.
Suara tangisan Kissky yang kian kuat dapat di dengar oleh Zanjiil. Sontak lelaki tampan itu merasa bersalah.
Pak Dimas, antar dia ke mall. 📲 Zanjiil.
Baik tuan. 📲 Dimas.
Setelah itu Zanjiil memutus sambungan teleponnya dengan Dimas.
“Kenapa Kissky makin hari, makin cengeng??” Zanjiil tak habis pikir dengan perubahan drastis istrinya.
______________________________________
“Nonya, tolong berhenti menangis, tuan muda sudah memberi izin untuk ke mall.” Dimas berharap tangis majikannya mereda setelah ia membawanya ke mall.
“Aku enggak mau, tolong antar aku ke rumah orang tua ku saja.” Kissky yang iba pada July, tiba-tiba ingin pulang untuk menemani sang ibu tercinta.
“Tunggu dulu nyah, saya tanya tuan muda dulu boleh atau tidak, nanti kalau saya asal antar bisa bahaya lagi.” Dimas berpikir, alasan Kissky pulang ke rumah orang tuanya karena tak ingin bersama dengan Zanjiil lagi.
__ADS_1
...Bersambung......