
Pinkan memutar mata malas, ”Pertanyaannya, apa urusan mu?” ucap Pinkan.
“Memang tak ada, tapi rasanya aneh, melihat mu jalan dengan bocah di bawah umur.” entah mengapa, Basuki tak menyukai pacar Pinkan.
“Ehm, bukankah kau sendiri yang bilang, mengizinkan ku dengan siapapun? Lagi pula, aku tak selera dengan lelaki tua, kalau dapat terong muda, untuk apa yang sudah usang? Lagu pula aku ingin saat aku bangun tidu bisa melihat yang bening, bukan yang keriput!”
“Sadar umur kau ma, dan dia suka pada mu bukan karena cinta, melainkan uang mu,” terang Basuki.
“Tidak masalah, aku punya banyak uang, untuk apa aku banting tulang tiap hari kalau tak bisa menyenangkan diriku sendiri? Lagi pula, aku juga bingung, harta ku yang banyak mau di buang kemana, dan satu lagi, kau dan aku berbeda Basuki, kau suka janda, aku suka perjaka, andaikan dia hanya ingin harta ku, tidak apa-apa, akan ku beri, yang penting dia ada di sisi ku sampai akhir hayat ku. Kan enak, nanti kalau aku sudah tua, ada pemuda gagah yang merawat ku, coba bayangkan, kalau pendamping kedua ku kakek-kakek yang sama tuanya dengan ku, apa enggak repot tuh? Saat aku butuh di pijat, dia juga minta di pijat!” Pinkan tertawa lepas setelah mengatakan isi hatinya pada Basuki.
“Kau benar ma, kalau memang itu membuat mu bahagia, lanjutkan.” Basuki tak menghalangi hubungan istrinya lagi.
“Oh iya, jangan panggil aku mama, rasanya, um... agak aneh, karena ku dengar kau tak mencintai ku sedari awal kita menikah sampai sekarang, kau sebut aku mama, kesannya kau seperti anak ku, hahahaha!! Dan...” tiba-tiba wajah Pinkan jadi serius.
“Jika kau ikhlas melihat ku dengan yang lain, aku juga ikhlas menerima cerai darimu.”
Deg! Jantung Basuki berdetak dengan kencang, saat Pinkan yang mencintainya selama ini meminta berpisah.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau katakan?” mata Basuki membelalak sempurna.
“Tentu, karena ku rasa di antara kita sudah tak ada lagi kecocokan, jadi... untuk apa kita bertahan? Walau di keluarga besar mu tak ada kata dan istilah cerai, tapi hubungan kita yang sekarang, hanya akan menambah dosa Basuki. Aku sadar, aku yang salah, untuk itu ku bebaskan kau dengan wanita itu, ku tunggu talak atau dokumen cerai darimu, karena jujur saja, setelah masa Iddah, aku akan menyusul mu, memiliki pasangan baru.” Pinkan tersenyum lebar.
Deg! Deg! Deg!
Basuki mengepal tangannya, ia sangat emosi dengan keberanian istrinya.
“Pinkan!”
“Basuki!” teriak Pinkan seraya menodongkan senjata apinya ke kening Basuki.
“Pilihan mu hanya dua, menceraikan atau di ceraikan, kalau dalam tiga hari kau tak juga memberi keputusan, tunggu surat cerai dariku. Sungguh! Aku tak suka dan telah menutup hati pada lelaki tua dan keriput seperti mu!” pekik Pinkan.
Setelah itu, Pinkan memasukkan kembali pistolnya ke dalam tasnya. Kemudian ia melangkah menuju kamarnya.
Basuki yang mendapat permintaan dadakan dari istrinya terperangah.
Fokusnya jadi buyar, ia tak dapat berkonsentrasi dengan benar, ia yang seorang pemimpin keluarga malah di perlakukan rendah oleh tulang rusuknya.
Pinkan yang telah berada di kamarnya menutup pintu rapat-rapat.
Kemudian ia duduk di pinggir ranjang dengan perasaan sakit.
__ADS_1
Meski ia yang meminta cerai, namun sejujurnya hatinya tak siap, bila itu terjadi.
Namun ia yang tak di hargai, harus mengangkat derajatnya sendiri.
Terlalu bodoh dan terlihat mengemis, bila ia yang telah di khianati oleh sang suami dengan orang yang sama di masa lalu.
“Takkan ada kesempatan kedua, tak ku biarkan orang lain menyakiti hatiku lagi, dan ku pastikan kau akan menyesal, karena aku akan membagi dua perusahaan.” ia yang sama saja dengan wanita pada umumnya, meras sedih dan terpukul, namun dirinya yang seorang mafia harus tetap terlihat tegar.
Pinkan juga anti sedih di hadapan orang lain, karena menurutnya, tak ada satu orang pun yang bisa mengobati hatinya selain dirinya sendiri.
_____________________________________
Di sekolah Kissky yang sedang duduk di bangkunya merasa bingung saat melihat Liza datang dengan langkah terpingkal-pingkal.
“Hei, kau kenapa?” Kissky menjadi khawatir, terlebih saat ia melihat wajah Liza begitu pucat.
“Tidak apa-apa, aku hanya kurang tidur saja,” ucap Liza.
“Yang benar kau? Kalau kurang sehat, lebih baik kau ke UKS,” ujar Kissky.
“Sudah, enggak usah heboh, aku baik-baik saja.” Liza yang tak siap memberitahu Kissky hal yang sebenarnya, memilih untuk menyembunyikan apa yang telah ia lalui bersama Joe.
“Kau mau ku pijak ya!” pekik Liza.
Di tengah percakapan mereka, tiba-tiba bel sekolah berbunyi.
Tet... tet...
Lisa yang hari itu masuk pagi, sayangnya tepat waktu.
Kehadiran guru teladan itu di sambut muram oleh siswa dan siswi XA Seni. Sebab kebanyakan dari mereka takut pelajaran berhitung tersebut.
“Loh, Kissky, Zanjiil, Liza kalian masih hidup?” perkataan Lisa membuat anggota kelas tertawa.
“Ehm, Ibu enggak mau tahu ya, apapun masalah kalian bertiga, yang jelas, kalau tak mengumpul tugas, silahkan membersihkan ruang praktik seni.”
Sikap tegas Lisa membuat Ketiganya tak bisa melakukan pembelaan.
Kissky yang duduk di belakang Liza, menepuk punggung sahabatnya itu.
“Hei, kau libur juga kemarin?” tanya Kissky.
__ADS_1
“Iya, hehehe.” Liza tertawa canggung.
“Baguslah, setidaknya aku tak berdua membersihkan ruang praktik dengan Zanjiil,” ujar Kissky.
“Iya, aku juga senang, tak melakukannya sendirian, tapi... kenapa kau dan Zanjiil bisa bolos bersamaan?” Liza baru sadar akan hal itu.
“Kita liburan bersama.” Kissky yang tak ingin berbohong langsung jujur pada sahabatnya.
“Apa??!!”
“Hei-hei! Sedang apa kalian, cepat keluar dari kelas!” Lisa mendesak ketiga siswanya untuk segera menjalankan hukuman yang ia berikan.
Kemudian Kissky, Zanjiil dan Liza bangkit dari kursinya masing-masing. Selanjutnya mereka menuju ruang praktik bersamaan.
Selama perjalanan menuju ruang praktik, Liza yang masih penasaran dengan Kissky dan Zanjiil, memperjelas perkataan Kissky saat di kelas tadi.
“Betul kalian libur bersama?”
“Iya.” sahut Kissky.
“Untuk apa kau memberitahunya?” ucap Zanjiil.
“Tidak masalah,” ujar Kissky.
“Nanti dia sebarkan pada orang-orang lagi.” Zanjiil tak percaya pada Liza yang bermulut besar.
“Apa sih kau! Aku ini sahabatnya, jadi tak ada salahnya kalau aku tahu apa saja yang terjadi pada hidupnya!” lagi-lagi, Liza dan Zanjiil bertengkar.
“Kalian berdua kenapa sih? Jangan bertengkar terus, malu tahu!” Kissky menegur sahabat dan suaminya.
“Dia sendiri tak jujur padamu, soal cara berjalannya.” Zanjiil yang punya segudang pengalaman tahu apa yang terjadi pada Liza.
Sontak Liza merasa gugup, “Terserah aku dong!” pekik Liza.
“Zanjiil, hargai privasi Liza, kalau dia belum siap cerita tak apa-apa, jangan di paksa.” ucap Kissky.
“Dengar Kissky Jiil! Nanti kalau sudah waktunya pasti aku kasih tahu,” tanpa sengaja Liza malah keceplosan.
“Memangnya ada rahasia apa Za?” tanya Kissky penuh selidik.
...Bersambung......
__ADS_1