
Hati Ahmad kian tak tenang mendengar apa yang di katakan menantunya.
“Itu tak mungkin terjadi, karena apa yang di katakan Kissky semuanya bohong.” Ahmad memilih menutupi perbuatannya.
“Kita lihat saja nanti, yang rugikan papa sendiri, bukan aku atau yang lainnya.” kata-kata Zanjiil semakin membuat Ahmad bergidik ngeri.
“Papa akan ingat apa yang kau katakan, oh ya, Kissky mana? Apa dia sudah tidur?” Ahmad mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Ya, dia sudah tidur, papa istirahatlah.”
“Oke, kembalilah ke kamar mu nak.” setelah itu Ahmad pergi menuju kamarnya.
“Rea sialan! Kenapa dia harus membongkar semuanya? Pada hal aku sudah mengatakan berulang kali untuk tidak berbicara atau mengusik keluarga ku, Kissky juga untuk apa cerita pada Zanjiil. Kalau sampai Zanjiil mengadu pada Basuki, bisa jadi masalah besar.” Ahmad menjadi pusing sendiri dengan ulahnya.
_______________________________________
Pukul 18:00 waktu London, Pinkan yang mengetahui jadwal meeting suaminya, mengambil kesempatan untuk menemui Esra di kamarnya.
Tok tok tok! Ibu dua anak dengan stylist elegan mendatangi madunya.
Ceklek!
Esra yang berpikir itu pelayan hotel membuka pintu kamarnya.
“Yes?” namun saat ia melihat, ternyata itu adalah Pinkan, matanya seketika membelalak. Senyum di bibirnya mendadak hilang.
“Kau rupanya?” ucap Esra tanpa rasa takut, sebab ia merasa aman karena mendapat pembelaan dari Basuki.
“Mau bicara di dalam, atau di luar?” Pinkan memberikan pilihan pada madunya.
“Di dalam.” Esra memilih di kamar, agar Pinkan melihat barang-barang Basuki yang ada disana, dengan begitu hati Pinkan akan semakin sakit.
“Silahkan masuk.” Esra membuka pintu lebar untuk Pinkan. Lalu Esra menutup pintu kamarnya, dan mengikuti Pinkan masuk ke dalam kamar yang memiliki fasilitas lengkap.
Hati Pinkan sungguh tak kuat, saat melihat barang-barang suaminya terdapat dimana-mana dalam kamar itu.
“Silahkan duduk, maaf ya, kalau berantakan, karena petugas hotel baru datang pagi, dan kami baru selesai bercinta, tak enak kalau menyuruh mereka membersihkan bekas benih suami ku.” Esra yang merasa lebih tinggi derajatnya, dengan mudah berkata apapun pada Pinksn yang seorang istri sah.
“Enak ya, menikmati bekas orang lain, enak juga memakan hasil jiripayah orang lain, tanpa melakukan apapun.” di balik sikap tenang Pinkan, ia menyimpan sejuta amarah yang ingin segera ia salurkan.
“Karena mencari nafkah itu tugas suami, dan istri tinggal menikmati. Tapi, suami ku tak berkata kalau dia akan membawa mu kemari, apa kau diam-diam mengikuti kami dari Indonesia? Astaga, ternyata kau stalker juga ya, tapi enggak heran sih, karena itukan memang tugas kalian, para pekerja kriminal.” meski ia memakan uang haram, namun Esra tetap menganggap salah atas pekerjaannya suaminya.
“Ternyata kau lebih bodoh dari apa yang ku pikirkan, tapi yang membuat aku heran, ayah dari anak-anak ku, menyukainya janda miskin seperti mu, yang menginginkan harta orang lain di berikan pada anak mu, yang tak memiliki darah Rabbani, lucu, sangat lucu! Hahaha...” Pinkan tertawa getir.
__ADS_1
“Apa ada masalah dengan semua itu? Selagi suami ku mau memberikan apa yang ku minta? Kau jangan marah, kalau suami ku sangat menyayangi ku dan juga anak ku. Pernikahan dengan mu bukanlah keinginannya, namun aku adalah pilihannya, jadi kalau kau sudah sadar dimana posisi mu di hatinya, sebaiknya kau, meninggalnya, hiduplah dengan bebas bersama orang yang mau mencintai mu.” kata-kata Esra begitu merendahkan Pinkan.
Pinkan yang tak bisa menjaga sisi elegannya lagi melakukan tindakan ekstrim pertamanya.
“Ku yakin kau tahu aku dan keluarga ku siapa, tapi kau seenaknya meremehkan ku.” Pinkan mengeluarkan pisau dari dalam tasnya.
Esra yang mengira itu hanya gertakan semata, malah semakin menjadi-jadi.
“Kau pikir aku takut? Kalau aku terluka sedikit, maka suami ku, akan menghabisi mu!”
Pinkan yang pada puncaknya, bangkit dari duduknya. Kemudian Ia mencengkram kuat dagu Esra.
“Dia pun akan ku habisi, kalau berani membela mu!” pekik Pinkan.
“Hahaha... lalukan apa yang kau mau! Jangan menyesal, jika setelah ini kau akan menjadi makanan anjing liar!” meski hatinya takut, namun Esra berlagak berani.
“Oke!” Pinkan tanpa pikir dua kali mengarahkan pisaunya ke wajah Esra.
Melihat sorot mata serius dari Pinkan membuat Esra makin takut.
“Hentikan!” Esra yang ingin bangkit di tahan oleh Pinkan.
“Bergerak sedikit, pisau keramat ini akan menggorok leher mu!” Pinkan tak pernah main-main dengan apa yang ia ucapkan.
“Menyingkir kau! Ku beri mau kesempatan untuk pergi, sebelum suami ku datang, aku juga takkan mengatakan padanya, kalau kau membuntuti kami.” Esra memberi penawaran pada istri sah Basuki.
Sreett!!
“Akhh!! Sakit!!” Esra berteriak kencang. Karena Pinkan menyayat pipi kanannya sepanjang 10 cm.
“Kau memang cocok di perlakukan kasar!” ucap Pinkan.
Esra yang ingin membela diri mendapat ancaman dari Pinkan.
“Bergerak lagi, ku potong betulan leher mu! Jadi kalau masih mau hidup, diam, biarkan aku mengukir wajah mu.” suara tenang namun mencekam dari Pinkan membuat Esra ketakutan setengah mati.
Ia yang tak ingin habis di tangan Pinkan menggunakan kekuatannya untuk mendorong tubuh Pinkan berada tepat di hadapannya.
“Akhh!! Laknat!” teriak Esra.
Bruk!!
Teknik tanpa perhitungan dari Esra gagal total, sebab ia lupa di belakang Pinkan berdiri ada meja kaca yang mampu menahan beban 100 kg.
__ADS_1
Esra yang akan lari mendapat satu tendangan dari Pinkan yang tepat mengenai perutnya.
Buk!
“Makanya, ku sebut kau bodoh! Karena otak mu tak bisa bekerja dengan tepat!” Pinkan yang marah dengan cepat bangkit dan menyayat kembali wajah Esra.
Sreett!!
Sreett!!
Sreett!!
Mata pisau tajam itu membuat hujan darah di wajah madunya.
“Sakit!! Sakit!!” Esra memegang wajahnya yang bersimbah darah.
4 sayatan dengan masing-masing dua di kiri dan kanan membuat darah segar Esra mengucur deras.
“Akhhh!! Tolong!! Tolong!!!” Esra berteriak histeris, namun karena ruangannya itu kedap suara, tak ada yang dapat mendengar penderitaan yang ia alami.
“Telepon suami mu, aku mau lihat, apa reaksinya!” Pinkan memberi handphonenya pada Esra, yang ternyata Sedang mendial nomor Basuki.
Halo, ada apa ma? 📲 Basuki.
“Bicaralah, selagi aku masih berbaik hati,” ucap Pinkan.
Ha-halo sayang. 📲 Esra.
Mendengar suara istri mudanya, Basuki langsung dapat menebak situasi yang telah terjadi.
Bersabarlah, aku akan kesana. 📲 Basuki.
Basuki yang takut, jika Pinkan akan menghabisi Esra dengan cepat menuju kamar hotelnya.
Sedang Pinkan sudah mempersiapkan senjata api mematikan di dalam tasnya, apabila Basuki akan membunuhnya.
“Kembalikan handphone ku! Dan jangan menangis!” Pinkan mengambil kasar handphonenya dari tangan Esra.
Esra sendiri menyumpal mulutnya, agar Pinkan tak terdengar suara tangisnya.
“Ku pikir nyali mu sudah lebih besar dari yang dulu, tapi Ternyata aku salah, kau masih saja, Esra, si bodoh yang hanya bisa mengandalkan tubuhnya untuk bertahan hidup.” seketika posisi terbalik, kini Pinkan yang menghina Esra.
...Bersambung......
__ADS_1