
“Papa bukan orang sebaik itu Ky, jadi maaf saja kalau papa akan tetap membunuh mu dan juga ayah mu!” saat Basuki mengarahkan senjatanya, Lula masuk ke dalam ruangan.
“Papa ngapain sih?” tanya Lula seraya menggaruk kepalanya.
Kissky yang melihat adiknya langsung berdiri dan mendekat.
“Lula, tolong bantu kakak, kakak belum mau mati La! Hiks...” Kissky meminta tolong pada adik iparnya.
“Ini murni keluarga mu yang salah kak, bukankah di sekolah juga begitu? Kalau kita nakal akan di hukum pak guru? cuma... memang tak seberat yang disini.” kehadiran Lula ternyata bukan untuk membantu kakaknya lepas dari maut.
“Lula... hiks...” Kissky menangis histeris, saat ia ingin melarikan diri, ia tak dapat meninggalkan ayahnya sendirian disana.
Dan jika ia pun tega, ada 4 penjaga yang berdiri di pintu masuk ruang bedah.
Apa yang harus ku lakukan? Apa Zanjiil juga sama seperti mereka? batin Kissky.
“Sudah kak, sebaiknya kakak duduk di sebelah om Ahmad, kalau takut lebih baik tutup mata saja, tenang saja, enggak akan sakit kak,” ucap Lula.
“Jangan La, aku enggak mau!” Kissky sangat takut pada adik ipar dan ayah mertuanya.
Namun Lula yang menanggapi semua itu merasa biasa saja.
Kemudian Lula menuntun tangan Kissky kembali ke Ahmad.
“Lula, aku mohon jangan La! Hiks... aku belum mau mati La!!” Kissky tak hentinya memohon.
Pluk!
pluk!
Namun Lula yang merasa kakak iparnya berisik memberi pukulan di kepala dan perut Kissky.
Hoek!!
“Akh!! Sakit!!” Fi meringis kesakitan.
Tenaga Lula yang kuat membuat Kissky terhuyung dan muntah.
Lula yang perkasa pun mengangkat tubuh Kissky dan mendudukkannya di sebelah Ahmad.
“Tenang sedikit dong kak, jangan bikin kesal!” Lula memarahi kakak iparnya.
Kissky yang mendapat serangan panas dari Lula tak bisa duduk dengan benar, ia pun tak mampu untuk berdiri kembali.
“Pa, di tembak sekarangkan?” Lula mengeluarkan senjata yang ada di kantung bajunya.
“Bukan kau yang melakukannya,” ucap Basuki.
“Lalu siapa pa?” tanya Lula.
“Abang mu.” Basuki pun menunggu ke datangan anaknya.
“Hah? Mana mungkin abang mau pa,
sudahlah bunuh saja!” tangan Lula yang gatal ingin segera menghabisi nyawa Kissky dan Ahmad.
“Sabar...” Basuki punya alasan kenapa menunggu putranya.
__ADS_1
🏵️
Zanjiil yang baru sampai segera turun tanpa mematikan mesin motornya terlebih dahulu.
Ia yang buru-buru masuk ke dalam rumah tanpa melihat apa yang dia pijak.
Bam!
Zanjiil yang gagah terpeleset di bekas air pelan Hera.
“Eh hehehe... hati-hati dong tuan, hahaha...” Hera menertawakan Zanjiil.
Lalu Zanjiil bangkit dari lantai. ”Hera, apa kau bawa senjata?” Zanjiil yang tak membawa senjata meminjam milik Hera.
“Ada nih?!” Hera mengeluarkan senjata api yang ia taruh di saku depan clemeknya.
“Aku pinjam!” kemudian Zanjiil mengambil senjata api milik Hera tanpa persetujuan Artnya tersebut.
Selanjutnya Zanjiil menuju basement, karena hatinya merasa kuat, jika istrinya ada disana.
🏵️
“Lula, tolong potong lidah Ahmad! Ada yang pesan lidah buat makanan ikan piranha nya.” Basuki meminta bantuan putrinya.
“Oke pa!” Lula yang suka aktivitas potong memotong langsung membawa pisau belati tajam warisan leluhurnya ke hadapan Kissky dan Ahmad.
“Pa, harusnya pasung kakak juga dong! Nanti malah bikin repot dia.” ucap Lula yang malas main jambak-jambakan dengan Kissky.
“Tak perlu, bisa apa wanita macam dia!” Basuki meremehkan menantunya yang lemah.
“Oh iya, papa benar juga.” Kemudian Lula mulai membuka mulut Ahmad. Ahmad pun sebisanya menutup mulutnya. Karena ia tak siap bila kehilangan indera pengecapnya.
“Silahkan!!” Basuki pun memberi izin.
Saat Lula fokus pada Ahmad, Kissky diam-diam menyembunyikan pecahan kaca yang cukup besar yang ia dapat dari lantai yang belum di bersihkan.
Ketika ujung pisau Lula yang jahil ingin menyayat bibir Ahmad. Kissky membuka matanya.
“Akhh!!!” Jlub! Kissky menghantam kaca tersebut ke pipi kiri Lula.
Zraarr!!!
Sontak wajah mulus gadis itu bercucuran darah.
Kissky yang merasa ada kesempatan, bangkit dari duduknya. Dan mulai berlari ke arah pintu, dengan tetap membawa kaca di tangannya.
Lula yang tahu Kissky takkan lolos, membiarkan kakak iparnya pergi begitu saja. Begitu pula dengan Basuki.
Kissky yang sudah sampai di pintu menodongkan kaca yang ada di tangannya pada ke empat ajudan yabg berjaga di pintu keluar.
“Menyingkir kalian!” pekik Kissky.
Namun para ajudan berbadan besar itu tak bergeming. Mereka tetap pada posisi mereka masing-masing.
“Akh!!!” dan dari dalam, Ahmad menjerit kesakitan, sebab Lula telah berhasil memotong lidahnya.
Kissky yang mendengar itu pun bergidik ngeri, ia tak dapat membayangkan jika itu adalah teriakannya.
__ADS_1
🏵️
Zanjiil yang akan menuju basement mendapat banyak kesulitan, sebab ia harus bertarung dengan para penjaga.
“Jangan halangi jalan ku!” Zanjiil yang harus menghadapi banyak pengawal dengan level profesional membuat Zanjiil kewalahan.
Di tambah Dimas yang tak kunjung datang membuat Zanjiil semakin kesulitan.
“Hera!! Hera!” Zanjiil memanggil nama artnya.
Hera yang pendengarannya seperti ngengat, langsung menuju Zanjiil.
“Siap tuan!”
“Bantu aku menghadapi mereka, aku harus ke basement!” ucap Zanjiil seraya memberi dan menghindari pukulan dari para penjaga ayahnya.
“Baik tuan.” Hera yang tak dapat informasi atau perintah apapun dari Lula dan Basuki sebelumnya dengan mudah menyetujui permintaan Zanjiil.
Hera yang bagai singa lapar, takkan ragu untuk mencabik dan membunuh siapapun yang menjadi lawannya.
Ia pun bergabung bersama Zanjiil untuk menghabisi 7 orang penjaga yang ada di hadapan mereka.
Hera yang menghadapi bagiannya membuat lawannya menjerit. Dirinya yang senior di dunia mafia membuat ia dan Zanjiil dapat mengimbangi kekuatan ke tujuh penjaga itu.
Duar!
Duar!
Duar!
Dari belakang Hera dan Zanjiil Dimas datang. Sang supir yang berhasil membuat tumbang ke tujuh penjaga itu memudahkan langkah Zanjiil untuk menuju istrinya.
“Maaf, saya terlambat tuan!” ucap Dimas dengan suara terengah-engah.
“Tidak apa-apa! Ayo!” Zanjiil, Hera dan Dimas segera menuju basement.
Zanjiil juga mengembalikan senjata Hera sebab Dimas telah membawa senjata api miliknya.
“Hera! Tembak siapapun kecuali Kissky!” Zanjiil yang merasa keluarganya sudah tidak bisa di kondisikan lagi, berniat untuk meruntuhkan segala yang telah di bangun oleh keluarganya.
“Hehehe!!! Siap tuan!” ketiganya pun berlari dengan cepat menuju basement.
Maafkan aku papa, Lula, kita semua sudah tak sejalan, aku juga ingin taubat, aku ingin hidup tenang, batin Zanjiil.
Sesampainya mereka, empat ajudan pun menghadang mereka.
Para ajudan itu juga memegang senjata mereka masing-masing.
“Tahan Hera.” ucap Zanjiil dengan suara yang pelan.
Karena koridor yang sempit akan membuat mereka semua mati konyol bila saling melepas peluru.
“Aku mengerti tuan,” ucap Hera.
“Menyingkirlah kalian! Karena kami ada urusan di dalam,” titah Zanjiil.
Lalu salah satu penjaga memberitahu Basuki tentang kedatangan Zanjiil.
__ADS_1
...Bersambung......