
Liza mengambil handphonenya untuk terlihat sibuk. Tak lama gadis malang itu bangkit dari lantai, perlahan melewati Liza yang berdiri di dekat pintu.
Astaga, bau sekali! batin Liza, namun ia bersikap biasa saja, untuk menghindari masalah.
Setelah gadis tak di ketahui namanya itu pergi, Liza menghela nafas panjang. Kissky yang baru keluar dari bilik toilet pun melihat kesana kemari.
“Kemana gadis yang tadi!” tanya Kissky celingak-celinguk.
“Dia sudah pergi.” jawab Liza seraya membasuh hidungnya ke wastafel, karena ia merasa bau gadis tadi masih menempel di hidungnya.
“Sebenarnya aku merasa kasihan padanya, tapi apa boleh buat, gadis-gadis yang tadi sangat menyeramkan,” ujar Kissky yang membasuh tangannya juga di wastafel.
“Kau benar, lebih baik tak usah ikut campur, sepertinya mereka pawang rusuhnya sekolah ini.” setelah keduanya selesai, mereka pun keluar dari toilet.
Saat itu, koridor sekolah yang mereka lewati sudah sepi, di tambah cuaca yang mendung menambah kesan horor di hari yang masih siang itu, mereka pun buru-buru menuruni anak tangga untuk mencapai lantai 1.
Bruk!!
Seketika kaki kedua gadis yang akan memijak tanah itu terhenti, saat mereka melihat tepat di hadapan mereka, sosok tubuh bersimbah darah.
“Akhhh!!!” teriakan keduanya pun pecah, tubuh mereka bergetar, tak sanggup untuk melangkah sejengkal pun.
“Ba-bagaimana ini?” ucap Liza dengan suara terbata-bata.
“Enggak tahu! Tapi... sepertinya dia masih bernafas,” ujar Kissky.
“Jangan sentuh.” Liza melarang Kissky yang ingin memeriksa lebih lanjut.
“Aku hanya ingin memastikan.” saat Kissky melihat lebih dekat, ia baru menyadari, kalau siswi tersebut adalah gadis malang yang berada di toilet tadi.
“Jangan Ky!” Liza menarik tangan Kissky, agar menjauh dari gadis yang sedang meregang nyawa tersebut.
“Kita harus lapor kepala pihak sekolah, minta bantuan, dia gadis yang dapat perundungan di toilet tadi.” Kissky yang prihatin ingin membantu gadis itu.
“Kau benar!” Liza setuju akan pemikiran Kissky.
“Kau tunggu disini biar aku yang pergi!”
“Enak saja, aku ikut! Aku takut disini bersamanya.” Liza yang tak ingin di tinggal sendiri memilih ikut dengan Kissky.
Keduanya pun bergegas menuju ruang guru, sesampainya, mereka pun menceritakan apa yang mereka lihat pada seorang guru bernama Lisa, yang sedang menjaga meja piket saat itu.
“Tolong bu, ada yang terjun bebas di depan gedung kelas X!” ucap Liza.
“Iya bu, gadis itu masih bernafas, tolong segera di atasi, kasihan bu!” timpal Kissky.
__ADS_1
“Apa kalian sudah telepon ambulance?” tanya Lisa.
“Belum bu,” jawab keduanya.
“Baiklah, ayo kita kesana!” mereka bertiga pun kembali ke tempat kejadian seraya menghubungi ambulance dan pihak berwajib.
Setelah sampai ke gedung X, Kissky dan Liza melihat satu sama lain.
“Mana siswi yang kalian bilang bunuh diri?” tanya Lisa dengan netra melihat kesana kemari.
“Tadi disini bu!” ucap Kissky dengan pasti.
“Betul bu, tadi dia tengkurap disini!” Liza pun menyakinkan gurunya.
“Kalau benar, mana? Sisa darah saja tak ada disini, kalian ngerjain ibu ya?! Benar-benar enggak lucu! Malah ibu sudah telepon ambulance dan polisi lagi! Kalian berdua harus mempertanggung jawabkan kekacauan yang kalian buat, karena pastinya, pak kepala sekolah akan tahu berita ini!” terang sang guru.
Mereka yang yakin 100%, jika mereka tak salah lihat pun bersikukuh dengan apa yang mereka saksikan.
“Sumpah bu, saya enggak bohong, untuk apa kami melakukan hal yang enggak berguna begitu!” ucap Kissky.
“Ya benar, kita juga masih anak baru, mana berani kita cari gara-gara bu.” Liza menyakinkan gurunya, namun karena tak ada bukti di tempat kejadian perkara, sang guru pun tak percaya.
“Kita sama-sama lihat, tak ada apapun disini! Ayo! Kalian ikut ibu ke kantor guru!” Lisa menggiring 2 siswinya menuju kantor guru.
Sesampainya mereka, ternyata ambulance dan mobil polisi sudah ada disana, begitu pula dengan Toriq.
“Saya pak,” sahut Lisa.
“Dengan laporan ada yang bunuh diri?” wajah Toriq begitu meragu akan laporan tersebut.
“Sebelumnya saya mohon maaf pak, informasi itu saya dapatkan dari kedua siswi kita, namun saat saya periksa langsung, tak ada apapun disana,” terang Lisa.
Baik Kissky dan Liza menundukkan kepala karena takut.
“Kalian lagi?” Toriq yang masih hapal dengan wajah keduanya pun geleng-geleng kepala.
“Apa benar dengan apa yang kalian laporkan?” tanya sang polisi.
“Benar pak,” jawab Kissky.
“Iya pak, kita sangat yakin, kalau yang baru saja kami lihat itu nyata,” terang Liza.
“Baiklah, ayo kita periksa langsung.” karena sudah berada disana, sang polisi pun memutuskan untuk memeriksa langsung.
“Baik pak, mari saya antar.” Toriq dan Liza mendampingi penyelidikan yang di lakukan oleh sang polisi.
__ADS_1
Saat mereka telah di tempat kejadian kembali, polisi tersebut melihat dengan seksama, tempat terjatuhnya siswi tersebut, namun anehnya, ia pun berpendapat sama, tak ada tanda-tanda seseorang disana.
“Nihil, apa ada cctv disini pak?” tanya sang polisi.
“Maaf pak, kebetulan cctv untuk halaman gedung ini sedang rusak.” ungkap Toriq.
“Benarkah?” sang polisi tak percaya begitu saja.
“Kalau kurang yakin, boleh di periksa langsung.” Toriq bersama sang polisi menuju ruang monitor area seluruh area sekolah.
Dan ternyata benar, cctv di tempat itu sedang tidak berfungsi.
Karena tak menemukan kejanggalan apapun, akhirnya polisi itu meninggalkan sekolah Tunas Bangsa.
Kissky yang masih berada dalam kantor guru bersama Lisa pun di datangi oleh Toriq.
“Saya tidak akan banyak bicara, cukup dengan kalian bertiga tutup mulut, jangan sampai kejadian ini bocor pada siapapun, terlebih, yang kalian utarakan hanya cerita palsu, jangan sampai citra sekolah ini tercoreng, akibat kalian bertiga!! Kalau sampai, kalian macam-macam, tidak mengindahkan peringatan dari saya, maka kalian bertiga, akan saya keluarkan, serta di blacklist dari ke sekolah mana pun!” Toriq yang telah berjuang mati-matian membangun sekolahnya, hingga jadi standar Internasional seperti saat ini, tak ingin hancur begitu saja, hanya karena 3 orang yang tak penting dalam hidupnya.
Ancaman Toriq membuat ketiganya takut, mereka pun berjanji akan menjaga rahasia itu sampai mereka tiada.
Setelah urusan Kissky dan Liza selesai, mereka pun di izinkan untuk pulang.
Liza yang memeriksa handphonenya pun mendapati supirnya telah memanggil nomornya sebanyak 30 kali.
“Ya Tuhan, Ky! Ayo cepat, kasihan supir ku sudah menunggu lama,” ucap Liza.
“Ah, baik!” Kissky mengikuti Liza yang setengah berlari menuju gerbang.
Setelah mereka telah sampai, Liza langsung masuk ke dalam mobilnya.
“Eh, mobil jemputan mu mana?” tanya Liza, karena ia tak melihat mobil lain selain miliknya.
“Aku enggak tahu, apa mungkin sudah pulang?” ujar Kissky.
“Sudah, ikut dengan ku saja, akan ku antar.” Jujur Kissky ingin menerima tawaran sahabatnya, namun karena ia takut Liza tahu ia tinggal bersama Zanjiil, ia pun menolak dengan halus.
“Aku naik taski saja!”
“Ayolah! Kau sadar, kita baru mengalami sial tadi? Kau dan aku tahu itu nyata, mungkin saja jasadnya di sembunyikan atau lainnya...”
“Ssttt!!” Kissky menghentikan Liza yang terlalu lancar berbicara.
Sontak gadis cantik itu pun menyumpal mulutnya.
Mati aku, semoga pak Roy tak curiga, batinnya.
__ADS_1
“Pokoknya ikut dengan ku saja, kita sambil latihan naskah drama yang di berikan pada kita tadi.” Liza pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
...Bersambung......