Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 54 (Sreet)


__ADS_3

Hera yang baru saja menyaksikan kegilaan majikannya tertawa cengengesan.


“Hahaha... tuan muda bisa saja kalau bercanda, tapi nyonya hebat juga tak menangis sedikit pun.” Hera sangat terhibur dengan tontonan yang majikannya berikan secara gratis.


_____________________________________


Sesampainya ke meja makan, Zanjiil menurunkan Kissky.


Kissky yang baru saja mengikat janji dengan Zanjiil dengan cepat menuju rice cooker.


“Biar aku saja kak.” Kissky mengehentikan Winda yang ingin mengambil nasi untuk majikannya.


“Saya saja nyonya, karena ini adalah tugas saya.” ucap Winda, yang tak ingin dapat masalah, jika menyerahkan pekerjaannya pada orang lain.


“Aku saja, oke!” Kissky yang ingin memegang sendok nasi, di cegah oleh Winda.


“Saya saja nyonya.”


“Duduklah Win, biarkan Kissky yang melakukannya,” titah Zanjiil.


Atas perintah sang majikan, Winda pun mengizinkan Kissky untuk mengambil nasi sendiri.


Kissky pun melakukan tugasnya, layaknya seorang istri Sholeha.


Apa kau tipe orang yang harus di kasari baru bisa tunduk? batin Zanjiil.


Kissky yang telah selesai menata nasi serta lauk pauk di atas piring tersenyum pada Zanjiil.


“Silahkan kanda!!” ucap Kissky seraya membungkuk.


“Duduklah,” titah Zanjiil.


“Baik kanda.” Kissky yang ingin beranjak di hentikan oleh Zanjiil.


“Duduknya di sebalah ku, jangan di hadapan ku.”


Dasar buaya buntung! Banyak maunya! batin Kissky.


“Laksanakan kanda.” kemudian, Kissky pun duduk tepat di sebelah suaminya.

__ADS_1


“Apa kau enggak makan??” tanya zanjiil sebab Kissky belum mengambil nasinya.


“Aku akan kenyang, jika kanda kenyang,” sahut Kissky.


“Aku sangat terharu dengan perubahan drastis mu,” Zanjiil pun membelai rambut Kissky yang terurai. “Untuk itu kau akan ku maafkan meski pun tak ada kata maaf dari mulut mu pada ku.” kemudian Zanjiil mengambil nasi dan lauk dengan sendoknya.


“Makanlah!” Zanjiil mengarahkan sendoknya ke mulut Kissky.


“Terimakasih kanda, tapi... aku bisa makan sendiri,” ucap Kissky.


“Ayolah, nyawa mu yang hampir melayang tadi perlu kita berkati kembali!” Kissky yang ingin menghargai Zanjiil pun membuka mulutnya. Lalu lelaki tampan itu pun menyuapi istrinya.


“Apa kanda tak makan?”


“Kau saja.” Zanjiil terus menyuapi istrinya, hingga nasi di piringnya bersih tak bersisa. Selanjutnya ia pun memberi Kissky minum.


“Berapa lama ya reaksinya,” gumam Zanjiil.


“Reaksi apa maksud kanda?” tanya Kissky dengan wajah bingung.


“Racun yang sudah kau telan!”


Kissky langsung tersedak, ia yang panik ingin memasukkan jarinya ke dalam kerongkongannya agar memuntahkan yang baru saja ia makan.


“Hahaha... kena kau!” Zanjiil tertawa seraya menggenggam jemari Kissky yang akan di masukkan ke dalam mulut.


“Lepas! Aku ingin mengeluarkan apa yang ku makan tadi,” ujar Kissky dengan wajah panik.


“Aku hanya bercanda, hahaha!” Zanjiil tertawa cekikikan.


“Apa menurut mu itu lucu?!” mata Kissky memerah, ia yang pada puncaknya tak tahan lagi akan candaan yang Zanjiil lakukan.


Namun saat keduanya masih bersitegang, tiba-tiba 3 orang Art mendatangi keduanya dengan masing-masing membawa 4 tas belanjaan di tangan mereka masing-masing


“Ini barangnya tuan.” ucap Sinta, sang Art yang bertugas menangani ruang tamu.


“Letakkan di atas meja,” titah Zanjiil.


Lalu ketiga Art itu melakukan sesuai perintah Zanjiil.

__ADS_1


Setelah itu, para Art kembali mengerjakan pekerjaan mereka kembali.


“Ini Huwl, sebagai obat untuk nyawa mu yang hampir lepas dari raga mu tadi , semua barang bermerek, cenel, frada, jara, selin, tentunya lebih mahal dari yang Gibran berikan, ku minta kau membuang pemberiannya, jangan sampai aku melihatnya di lemari mu, apa kau mengerti!”


“Berikan saja semua ini pada pacar-pacar mu!” Kissky menolak pemberian Zanjiil.


“Kissky, kau jangan susah di atur...”


“Terserah aku, kau sendiri memangnya bagaimana, 2 kali mempermainkan nyawa ku, barusan aku tersedak, dan kau tertawa, apa yang di tangga tadi juga bercanda? Apa begitu menurut mu lucu? Ekstrim sekali permainan mu, kalau aku jatuh betulan bagaimana? Apa kau masih bisa tertawa?!” nafas Kissky terengah-engah karena emosi.


“Mana mungkin aku membiarkan mu mati, aku tak sejahat itu.” Zanjiil yang ingin menyentuh wajah Kissky, malah mendapat tepisan kasar .


Plak!


“Kenyataannya kau memang super jahat! Aku baru tahu, kau sesadis itu, melihat ku ketakutan kau malah senang. Kalau kau marah dengan sikap ku, harusnya kau kaji diri, jangan bisanya hanya menyuruh ku berubah, sedang kau saja asyik dengan perempuan lain!” Kissky yang tak ingin melihat wajah Zanjiil lebih lama bangkit dari duduknya.


“Bawa semuanya kalau kau ingin pergi,” ucap Zanjiil.


“Aku enggak mau! Dan aku juga enggak akan membuang barang pemberian tante Jenny!”


“Kissky!!!” Zanjiil bangkit dari duduknya, ia sungguh marah, sebab istrinya tak patuh padanya.


“Apa?!!” Kissky berkacak pinggang seraya mendongak.


“Kau tak dengar aku?!!”


“Tentu saja ku dengar! Tapi aku enggak mau!”


“Bernarkah?” mata Zanjiil membelalak pada Kissky yang tak mau turut.


“Apa?! Hah! Kali ini mau membunuh ku beneran? Ayo bunuh, kalau itu membuat mu senang!” Kissky mendorong tubuhnya pada Zanjiil. Ia yang melihat sebilah pisau pemotong buah pun langsung mengambilnya.


“Ini! Bunuh, lagi pula, aku juga sudah bosan hidup, kau dan semuanya sama saja! Tak ada yang mengerti perasaan ku, semua semau kalian!”


Lalu Zanjiil menerima pisau yang Kissky berikan.


Sreett...


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2