
Pinkan yang sudah mantap ingin berpisah tak mau memberi Basuki kesempatan kedua.
“Basuki, ku yakin kau sudah lihat tanda tangan ku di berkas cerai itu, harusnya kau bahagia, karena tak ada yang menghalangi mu untuk bersamanya. Basuki, aku telah menutup hati pada mu, jadi ku mohon, kau untuk sadar diri, ingat-ingat apa yang kau lalukan. Kau!” Pinkan menunjuk wajah Basuki.
“Bertahun-tahun telah mengabaikan nafkah batin ku, meski pun aku bodoh dalam agama, tapi... aku masih ingat betul apa kata tetua, kalau kau dan aku tak berhubungan selama 3 bulan, maka aku berhak meminta cerai padamu,” terang Pinkan.
Gitu enggak sih? batin Pinkan. Karena ia pun tak yakin dengan yang ia katakan
Lalu Basuki mengangkat surat cerai yang Pinkan berikan padanya.
Sreeekkk! Srekkk sreeekk!
Basuki merobek-robek surat tersebut. “Di keluarga ku tak ada kata cerai.”
“Hum! Ini egoisnya laki-laki, tidak mau pisah, tapi tak mau lepas dari yang lain, serakah, mau dua-duanya!” Pinkan tertawa getir.
Seketika Basuki menjadi bungkam, ia tak tahu harus memutuskan apa, satu sisi ia mencintai Esra, di sisi lain ia tak ingin berpisah dengan Pinkan.
“Sudahlah, tunggu saja surat panggilan dari pengadilan, paling-paling kalau kau tak datang, hakim akan memutuskan yang terbaik, sebaiknya kau pulang sekarang, pasti istri muda mu menunggu mu di rumah.” selanjutnya Pinkan berdiri dari duduknya, kemudian menuju pintu.
“Jalan keluarnya sebelah sini,” ucap Pinkan.
Basuki yang tak punya alasan untuk tetap disana bangkit dari duduknya. Kemudian ia pun keluar dari rumah Pinkan.
“Sampai jumpa.” ucap Pinkan sebelum menutup pintu rumahnya.
Bam!
Basuki pun memijat pelipisnya yang terasa sakit, ia tak menyangka, kali itu tak dapat membujuk Pinkan.
Ketika ia menuju mobilnya, tiba-tiba handphonenya berdering.
Saat ia mengambil handphonenya dari sakunya, ternyata yang mendial nomornya adalah sang istri kedua.
Halo. 📲 Basuki.
Halo sayang, nanti sepulang dari kantor langsung ke rumah ya, aku akan memasak makanan favorit mu. 📲 Esra.
Baiklah. 📲 Basuki.
Setelah itu, Basuki mematikan teleponnya. Selanjutnya ia pun masuk ke dalam mobilnya.
“Apa ini adalah jalan takdir kami? Apa Esra yang menjadi pelabuhan terakhir ku?” Basuki mencengkram kuat setir mobilnya.
______________________________________
Lula yang bolos sekolah hari itu mendial nomor neneknya yang berada di kota N.
Halo nek. 📲 Lula.
Halo, kenapa kau menelepon di jam belajar Lula! 📲 Berli.
Sang nenek ternyata tahu kenakalan Lula selama ini.
__ADS_1
Aku pusing nek. 📲 Lula.
Apa yang kau pusingkan? Memangnya tanggungan mu sudah ada? 📲 Berli.
Bukan begitu nek, ini soal mama dan papa. 📲 Lula.
Ada apa dengan orang tua mu? Apa mereka memarahi mu setiap hari? 📲 Berli.
Bukan nek, tapi... mama dan papa berencana akan cerai. 📲 Lula.
Lula pun menceritakan keretakan rumah tangga ibu dan ayahnya.
Apa? Jadi si Basuki masih bersama dengan wanita itu? Dan mereka juga sudah menikah lagi? 📲 Berli.
Sang nenek sungguh tak percaya, pada hal dulu Basuki sudah di marahi habis-habisan.
Makanya nek, aku dan abang merasa sedih, apa nenek tidak bisa membantu untuk membereskan masalah mama dan papa? 📲 Lula.
Baiklah, nenek akan berangkat sekarang juga, kau dimana sekarang?! 📲 Berli.
Di asrama nek. 📲 Lula.
Pulanglah, nanti nenek temannya siapa kalau kau tak ada? 📲 Berli.
Oke nek! Nenek naik apa kemari? 📲 Lula.
Pesawat, katakan pada Zanjiil jemput nenek dengan helikopter di Bandara. 📲 Berli.
Dia akan di sekolah sampai sore, nanti ku suruh pak Seno saja. 📲 Lula.
Oke nek. 📲 Lula.
Setelah sambungan telepon terputus, Lula merasa sedikit lega. Sebab ia memiliki harapan untuk keutuhan keluarganya.
____________________________________
Saat jam istirahat, Kissky dan Liza menuju kantin.
Kissky yang takut sahabatnya ambruk lagi dengan sigap menggenggam tangan Liza.
“Ada apa?” tanya Liza.
“Aku takut kau pingsan, nanti malah buat masalah lagi,” ujar Kissky.
“Aku sudah sehat tahu.” saat keduanya adu mulut tiba-tiba Joe ada di antara mereka.
“Lepaskan tangan mu dari kekasih ku!” suara marah Joe membuat Kissky mengernyitkan dahinya.
“Ya ampun, baru punya pacar gajah, posesifnya minta ampun!” Kissky pun menghempaskan tangan Liza.
“Kissky, jangan marah pada Joe, dia begitu karena sayang pada ku.” ujar Liza, kemudian Liza menggandeng tangan Joe.
“Dasar! Dua jomblo sama-sama ketemu ya gini hasilnya.” Kissky yang sakit mata akan kemesraan keduanya memilih pergi terlebih dahulu.
__ADS_1
“Apa dia iri?” tanya Joe dengan polosnya.
“Kurasa tidak,” sahut Liza.
Selanjutnya keduanya pun menyusul Kissky ke kantin.
________________________________________
Zanjiil yang berada di ruang praktik, menghabiskan waktunya dengan melukis wajah sang ibu.
Ia yang di didik keras sejak kecil, tak dapat dengan mudah memperlihatkan perasaan sayangnya pada sang ibu.
Pada hal, Zanjiil selalu ingin seperti teman-temannya, yaitu di perhatikan orang tua.
“Mama...” meski ia telah menikah dan juga seorang pembunuh, namun sifat kanak-kanaknya sering kali muncul.
_________________________________________
Sore harinya, Zanjiil dan Kissky yang telah pulang ke rumah terkejut saat melihat Berli Rabbani dan Musa Rabbani duduk di atas sofa.
“Kakek... nenek...” Zanjiil pun dapat menebak, jika kedatangan kakek dan nenek berkat undangan Lula.
Pasti dia yang mengadu pada nenek, batin Zanjiil.
Lalu Kissky menjabat kedua kakek dan nenek mertuanya.
“Apa kabar kek nek?” sapa Kissky.
“Kami baik nak, kau bagaimana dengan Zanjiil?” tanya Berli.
“Lancar nek.” Kissky tersenyum malu.
Ketika giliran Zanjiil yang ingin menjabat kakek neneknya, tiba-tiba Berli berdiri lalu menjewer telinga Zanjiil.
“Awas ya! Kalau kau menyakiti istri mu! Kau jangan ikuti jejak papa mu yang sesat itu!!”
“Aduh nek, sakit! Kenapa jadi aku yang kena getahnya?” Zanjiil tak terima jika dirinya disamakan dengan sang ayah.
“Heh! Jangan banyak bantah kau ya! Lula sudah cerita, kalau kau pernah selingkuh dengan yang namanya Luna!” Berli pun melepas telinga cucunya.
“Itukan masa lalu, lagi pula dia pacar ku sebelum aku menikah.” Zanjiil memberi pembelaan pada dirinya.
“Jangan banyak alasan kau! Tinggalkan mantan kalau sudah menikah, ini malah kau bawa ke rumah ini! Dasar anak nakal!” saat Zanjiil mendapat amukan, Kissky dan Lula malah tertawa terbahak-bahak.
“Nenek! Hentikan, aku ini sudah menikah, tapi kenapa masih di perlakukan seperti anak kecil?” Zanjiil merasa keberatan dengan tindakan memalukan neneknya.
“Tapi kau belum dewasa, sama seperti papa mu! Dia malah mengulang kesalahan yang sama, menikahi wanita yang tidak nenek sukai, lagi pula sudah ada mama mu yang cerdas dan rajin,” Berli begitu bangga pada menantunya.
Kissky yang tahu sifat ayah mertuanya sama dengan ayah angkatnya merasa kasihan pada Lula dan Zanjiil.
Takdir macam apa ini? Batin Kissky.
“Sekarang, mama dan papa mu akan cerai, pada hal nenek baru saja meninggalkan kota ini, berharap kalian semua berguna, nyatanya semua makin rumit kalian buat!” Berli sungguh murka kali itu.
__ADS_1
...Bersambung......