
Netra guru killer itu pun membelalak sempurna, ia tak menduga, jika skenario hidup Kissky yang telah ia susun rapi kacau balau dengan sekejap.
“Bicara apa kau anak nakal! Ibu enggak mengerti dengan apa yang kau katakan!” meski sudah ketahuan dengan berbagai bukti kuat, Riza masih mengelak dan tak mengakuinya.
“Oh ya? Kalau ibu enggak mengurus semua kekacauan yang terjadi, maka aku akan memberi pelajaran pada mu bu! Aku akan mencari tahu, siapa sebenarnya dirimu! Aku juga akan menyelidiki terkait maling di kelas!” Zanjiil tak main-main pada Riza kali itu.
“Jangan mengada-ngada kau! Lakukan apapun yang mau kau lakukan!” meski takut setengah mati, Riza tetap tak menurunkan egonya.
“Baik! Sebagai tanda kenang-kenangan dari ku!” Zanjiil mengeluarkan sebilah pisau lipat berbahan stainless steel dimensi, berdiameter 14,9 cm dari saku bagian dalam jaketnya. “Akan ku iris jari mu!”
“Jangan!” pekik Riza.
“Teriaklah, maka akan ku katakan pada semua orang atas apa yang kau lakukan bu, aku juga akan mengangkut mu ke kantor polisi! Kau pikir aku tak bisa melakukanya?” Zanjiil tertawa menyeringai bagai psikopat yang haus, akan menghabisi nyawa korbannya.
“Enggak! Dasar gila!” ketika Riza ingin melarikan diri, Zanjiil menangkap tangannya.
“Kau harus mengingat ku selamanya bu!” tenaga Zanjiil yang super kuat, membuat Riza tak dapat kemana pun.
Suasana perumahan elit yang sibuk dengan urusannya masing-masing, membuat suasana jalanan begitu sepi. Riza yang ingin berteriak berpikir dua kali, sebab dirinya tak siap masuk jeruji besi.
Seekkk!!
Tanpa ragu, Zanjiil mengiris telunjuk Riza dengan pisau tajam kesayangannya.
Air mata Riza bercucuran, ia merasa pedih dan takut pada anak didiknya yang berdarah dingin.
“Ini baru awal, kalau sampai ada yang menyakiti Kissky, ku gorok leher mu!” setelah memberi ancaman pada gurunya, Zanjiil pun meninggalkannya dalam keadaan wajah pucat, dan mental ciut.
Brammm... Zanjiil pulang kembali menuju rumahnya.
______________________________________
Di dalam kamarnya, Kissky yang belum tidur kepikiran dengan hal yang ia alami hari itu.
Drrrtt...
Lamunannya pun terhenti, saat handphonenya bergetar.
“Gibran?” batinnya.
Kemudian ia membuka pesan yang di kirim oleh sahabatnya.
Semangat Kissky! Badai pasti berlalu! Kau harus kuat, jangan mau di remehkan orang lain!✉️ Gibran.
Isi pesan Gibran membuat Kissky jadi senang, ia juga bersyukur karena selain Zanjiil ada Gibran yang masih tulus menerima statusnya.
Meski begitu, hatinya merasa sakit, saat sahabat karibnya tak bicara padanya sejak status dirinya terkuak ke publik.
“Apa kau akan menjauhi ku Za?” Kissky menghela nafas panjang.
__ADS_1
Saat ia akan memejamkan matanya, tiba-tiba Zanjiil mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok!
“Zanjiil?” Kissky dengan cepat bangkit dari ranjang dan menuju pintu.
Retek!
Krieet!!
Kissky membuka pintu kamarnya, “Zanjiil...” Kissky tak dapat menyembunyikan rona bahagia yang ada di wajahnya.
“Kau menunggu ku?” Zanjiil mengelus wajah Kissky.
Kemudian Kissky menggenggam jemari Zanjiil yang ada pada wajahnya.
“Iya, kau darimana saja? Kenapa baru pulang?” ucap Kissky yang merindukan suaminya.
“Dari jalan, apa aku boleh masuk ke dalam?” tanya Zanjiil yang ingin beristirahat bersama Kissky.
“Gimana ya?” Kissky meragu untuk mengizinkan atau tidak, sebab malam itu sudah sangat larut.
“Baiklah, aku mengerti, aku akan kembali ke kamar ku, tutup pintunya rapat-rapat, dan jangan lupa...”
“Aku sudah sikat gigi, cuci kaki, dan muka!” Kissky menyambung perkataan Zanjiil, sebab ia sudah hafal apa yang akan di katakan suaminya. Zanjiil pun tersenyum pada istrinya yang patuh..
Ya Tuhan, kok malah langsung pergi? Kenapa enggak ada tawar menawar kali ini, Zanjiil maksa buat masuk dong!! batin Kissky.
Saat Zanjiil akan pergi Kissky memegang ujung jaket yang di pakai suaminya.
“Jiil, mau temani aku minum teh? Ku lihat kau banyak pikiran, ceritakanlah pada ku.” Kissky yang masih ingin berlama-lama dengan Zanjiil terpaksa membuat alasan demikian.
“Dimana?” tanya Zanjiil.
“Bagaimana kalau kita minum teh di taman?” Kissky memilih taman karena tempat tersebut begitu indah.
“Baiklah! Akan ku suruh Art menyiapkan teh dan cemilan kecil untuk kita.”
“Mantap!” Kissky mengacungkan kedua jempolnya.
Kemudian pasangan suami istri itu beranjak menuju taman.
Zanjiil pun mengirim pesan pada Winda untuk menyiapkan apa yang mereka butuhkan di taman.
Sesampainya mereka di taman yang berada di sisi barat rumah keluarga Rabbani, Zanjiil menuntun Kissky untuk duduk di sebuah ayunan berbentuk ranjang yang terbuat dari kayu, yang memiliki rantai sebagai pengait pada tiang jati yang memiliki atap seng tembus pandang.
“Ayo naik!” Zanjiil memegang ayunan tersebut agar tak goyang saat Kissky menaikinya.
“Terimakasih.” ucap Kissky setelah berada di atas ayunan.
__ADS_1
Kemudian Zanjiil pun menyusul Kissky untuk naik ke atas ayunan.
“Aku baru tahu, kalau di taman ini ada ayunannya.” senyum bahagia terpancar dari wajah cantik Kissky.
Kissky begitu suka dengan taman terawat milik keluarga Rabbani, selain berbagai macam bunga sebagai penghias, rumput hijau sebagai pijakan, air mancur pun turut serta menambah keindahan taman itu
“Kau suka?” Zanjiil mengelus puncak kepala Kissky.
“Tenty saja,” sahut Kissky.
Tak lama Winda pun datang dengan membawa teh hangat dalam botol dan juga roti kering.
“Kenapa enggak dalam gelas?” Kissky ingin tertawa saat yang di hidang di hadapan mereka adalah teh kemasan botol.
“Kau lihat sendiri kita duduk dimana,” ucap Zanjiil.
“Oh iya, kau benar juga.” Kissky pun mulai membuka tutup botol tehnya.
Tek!
Gluk gluk gluk!
“Pada hal aku masih ingin makan bakso dan mie ayam!” Kissky mengajak Zanjiil untuk bercanda.
“Kissky, kau jangan sering-sering makan, makanan yang berlemak, bisa-bisa purut mu bergelambir.” ucap Zanjiil.
”Enggak apa-apalah, toh aku sudah laku,” ucap Kissky sembarang.
“Memangnya kalau sudah jadi istri, kau tak mau menjaga penampilan mu lagi?”
“Untuk apa? Nanti kalau aku di lirik banyak lelaki, kau malah mencekik ku lagi, baru satu orang yang mendekati ku kau sudah ketar ketir, apa lagi banyak, xixixixi!” Kissky tertawa cekikikan.
“Apa?” Zanjiil geleng-geleng kepala. “Dasar, di mata mu mungkin tak mengapa, tapi itu sangat mengganggu pandangan ku kalau kau jelek. Kau juga pasti begitu, kalau aku tak merawat diriku.”
“Siapa bilang? Justru aku senang, kalau kau buruk rupa, takkan ada yang menyukai mu selain aku xixixixi. Eh!” Kissky menutup rapat mulutnya dengan tangannya. Ia yang kebablasan tanpa sengaja mengatakan rasa sukanya pada Zanjiil.
Deg! Jantung Zanjiil berdebar kencang.
“Ky, kau serius menyukai ku?” Zanjiil memastikan kalau yang ia dengar barusan tidak salah.
“Ehm, hufff... memangnya aku bilang begitu?” Kissky yang malu mencoba bersilat lidah.
“Kau baru saja mengatakannya, aku dengar dengan jelas, apa betul kau menyukai ku? Karena jujur, aku menyukai mu juga.” Di bawah langit malam tanpa bintang, Zanjiil mengungkapkan isi hatinya pada Kissky Huwl.
...Bersambung......
__ADS_1