
Sontak Arsy menoleh ke arah suaminya. Bicara apa sih dia? batin Arsy.
“Papa tak bisa melakukan itu, karena semua itu tak mudah Ric.” Basuki yang telah hidup di ruang lingkup berdarah tak bisa lepas begitu saja.
“Papa pikirkan saja lagi, yakinlah pa, hidup normal itu akan membuat papa bahagia.” ucap Eric, sebab ia ingin ayahnya tidak berbuat dosa lagi.
Basuki pun mulai mempertimbangkan apa yang di katakan putranya.
“Benar kata Eric Ki, aku juga jauh merasa sehat, karena tak banyak pikiran,” ujar Pinkan.
“Ya sudah ma, aku dan Arsy pulang dulu, jangan lupa datang tepat waktu di hari pernikahan kami.” ucap Eric.
“Kami pergi, ma, pa.” Arsy dan Eric pun menjabat orang tua mereka, setelah itu pulang menuju Bandung.
Pada tanggal 10 Juni, akad dan resepsi pernikahan antara Arsy dan Eric pun berlangsung dengan sakral.
Dita yang juga menghadiri pernikahan pernikahan bosnya menahan tangis, karena pada akhirnya, ia tak bisa mendapatkan hati Eric.
July yang turut hadir, menangis melihat anak yang ia tinggalkan selama 10 tahun. Kini telah menjadi wanita dewasa yang memiliki paras cantik.
Malam harinya, setelah Arsy, July dan keluarga Rabbani di rumah.
Mereka pun mengobrol-ngobrol seputar pernikahan Lula yang akan di laksanakan 3 minggu lagi.
“La, kau sudah lancar ngaji belum? Nanti pas habis sholat Magrib kau di suruh ngaji malah gelagapan lagi, kau bisa baca iqra kan?” Eric mengejek adiknya.
“Aku sudah lancar tahu!” pekik Lula.
“Tapi aku enggak menyangka, kau bisa di lamar oleh Fahri, andai dia tahu kau penjahat kelas kakap pasti dia akan mundur teratur!” Eric terus menggoda adiknya.
“Namanya juga jodoh! Ya apa saja bisa terjadi! Kau jangan bisanya meledek orang bang! Kau saja tak kenal huruf hijaiyah! Aku masih lebih baik darimu!” Lula membalas kelakuan usil abangnya.
“Hei kalian berdua! Enggak malu apa saling menghina?” Pinkan memarahi kedua anaknya.
“Bang Eric duluan ma!” Lula memutar mata malas.
“Mau Eric atau kau duluan, kalian sama saja, kalian berdua ini enggak bisa duduk bersama dalam waktu yang lama. Pasti bertengkar, pada hal sudah pada tua!” Pinkan memarahi anak-anaknya yang tidak ada perubahan.
“Mama sendiri kapan balikan sama papa?” pertanyaan Lula membuat Pinkan naik pitam.
“Benar kata Lula Pinkan,” ucap July
Basuki yang masih menaruh hati pada Pinkan menatap penuh makna.
“Kenapa kalian semua jadi mengalihkan topik?!” mata Pinkan membelalak sempurna.
“Mama yang mengalihkan topik, sudah lama berpisah kok belum pada menikah?” Lula tertawa getir.
__ADS_1
“Itu karena mama betah menyendiri!” jawab Pinkan.
“Berdua itu lebih baik Pinkan.” ucap Basuki dengan tersenyum hangat.
Pinkan yang masih punya dendam masa lalu membuang wajahnya.
“Enggak tahu diri” Pinkan mengendus kesal.
“Sudahlah ma, yang lalu biarlah berlalu, lagi pula papa sering curhat pada ku, katanya papa menyesal karena telah menyakiti hati mama.” Lula sangat berharap kalau ayah dan ibunya bersatu.
“Benar ma, banyak hal besar yang terjadi di masa lalu, sebaiknya kita lupakan itu semua, dan memulai lembaran baru.” Eric sangat rindu masa-masa mereka berkumpul bersama dalam satu atap.
“Benar kata Lula dan mas Eric, aku yakin kalau mama dan papa masih memiliki rasa satu sama lain, namanya rumah tangga pasti banyak cobaannya ma, pa.” Arsy datang dengan membawa teh untuk keluarga suaminya.
Pinkan yang mendapat dukungan dari anak, besan dan menantunya, mulai mempertimbangkan untuk bersama kembali dengan mantan suaminya atau tidak.
“Eh sayang, sekarang kau panggil aku mas?” Eric mengecup pipi Arsy di hadapan keluarganya.
“Hei, apa yang kau lakukan?” Arsy merasa malu dengan sikap suaminya.
“Apa salahnya, sudah halal dari jauh-jauh hari.” Eric memeluk istrinya dengan erat.
Lula yang melihat hal itu menyunggingkan bibirnya.
“Sialan! Enggak lihat-lihay tempat banget mereka!” pekik Lula.
“Mas Eric, lepas! Enggak pantas banget tahu!” Arsy tak enak dengan tatapan 4 orang jomblo yang ada di hadapannya.
“Ini salah satu pahala orang menikah.” Eric memanas-manasi adiknya.
“Iya-iya, tapi saran ku jangan pamer di hadapan orang selain kami, nanti bisa kena penyakit ain lagi!” Lula memberi masukan pada abangnya.
“Tidak, aku hanya akan melakukan di hadapan keluarga.” setelah itu Eric melepas pelukannya.
🏵️
Liza yang ada di rumah di temani oleh ibunya. “Ayo makan nak.” Rachel menyuap putrinya.
“Terimakasih banyak ma.” Liza yang sudah berusia 25 tahun begitu di manja oleh ibunya.
“Bagaimana? Apa bekas operasi mu masih sakit?” tanya Rachel dengan perasaan khawatir.
“Enggak terlalu ma, cuma terasa perih sedikit.” Liza menjelaskan apa yang ia rasakan.
“Kalau begitu kau harus makan ikan gabusnya yang banyak.” Rachel terus menyuap putrinya.
Setelah selesai makan, Rachel memberi Liza vitamin ektra ikan gabus dalam bentuk cangkang.
__ADS_1
“Minumlah, tadi mama baru beli, katanya ini juga akan membantu untuk mengeringkan luka bekas operasi dengan cepat.” Rachel yang sayang Liza membantu untuk meminum vitamin kesehatan tersebut.
“Terimakasih banyak ma.” Liza sangat bersyukur ada ibunya di sampingnya.
Aji yang tak dapat tidur malam itu mendatangi ibunya ke kamar.
“Mama, aku boleh tidur disini ya.” Aji yang manja memeluk Liza.
“Aji tidur sama abang saja ya, Aji kan lihat sendiri, ranjangnya hanya muat untuk mama dan nenek.” Liza memeluk anaknya.
“Tapi Aji maunya tidur sama mama.” sejak kelahiran kedua adik cantiknya, Aji merasa tersisih oleh ibu dan ayahnya.
“Aji, nanti papa akan tidur dengan mu, sudah ya,” ucap Liza.
“Aji tidur di kamar Aji ya, nanti kalau mama sudah sehat, Aji bisa tidur sama mama. Lagi pula Aji kan tidurnya sama Eza,” timpal Rachel.
“Memangnya mama sembuh kapan nek?” Aji sangat rindu tidur berpelukan dengan ibunya.
“Sebentar lagi, makanya kau harus sabar, oke...” kemudian Rachel mengantar Aji ke kamarnya.
Liza yang kini punya anak 5 merasa semua bagai mimpi.
Pasalnya ia baru saja menjadi anak-anak, kini malah sudah punya anak.
“Sebaiknya aku KB, aku takkan sanggup kalau hamil lagi,” gumam Liza.
🏵️
Arsy dan Eric yang ada di dalam kamar mulai membicarakan rencana liburan mereka.
“Berangkat besokkan?” ucap Eric.
“Iya, orang mama pulang kita ke bandara,” ujar Arsy.
“Mantap, semoga kita segera punya momongan ya sayang.” Eric memeluk Arsy.
“Aamiin mas, aku juga mau punya anak seperti Liza.” Arsy ingin mengikuti jejak sahabatnya
“Bagus! Kalau kau siap hamil tiap tahun tak masalah, nanti tugas mu cukup di rumah, aku yang cari nafkah!”
“Memangnya mas ingin kita punya anak berapa?” tanya Arsy.
“Maksimal 3 minimal 2, aku enggak tega kalau kau melahirkan banyak anak. Nanti seluruh waktu mu malah buat urus anak setiap hari lagi.” Eric tak tega kalau istrinya banyak repot.
“Tanggung mas, 4 saja, kita tinggal pekerjakan pengasuh kan bisa, pasti semua beres, banyak anak, banyak rezeki mas, dan kita juga akan banyak cuciunanti. Aku enggak mau kalau anak-anak kita kesepian, karena aku jelas merasakan itu mas, saat aku tak punya siapapun di dunia ini,” terang Arsy.
...Bersambung......
__ADS_1