Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 173 (Kena Ceramah)


__ADS_3

Arsy yang melihat kejadian itu dapat merasakan bagaimana perasaan Liza.


Ia pun mendatangi sahabatnya. “Za, jangan marah-marah Za, tenangkan dirimu, kau sedang hamil tua.” Arsy mencoba memegang bahu Liza, namun Liza menghempaskan nya.


“Tenang kata mu? Gimana aku bisa tenang Sy? Saat anak ku tak sadarkan diri karena di gigit ular ular? Leon pingsan Sy?! Hiks... aku juga ingin tenang, tapi tak bisa, hati ku!” Liza menepuk dadanya.


“Sakit Sy! Hiks...” Liza yang tertekan makin hilang kontrol.


“Sayang, yang sabar sayang.” Gibran memeluk Liza.


“Yang kita lakukan hanya bisa berdo'a, semoga yang maha kuasa memberi keselamatan pada anak kita,” Gibran menepuk punggung Liza.


Namun Liza yang tak kuat dengan ke khawatiran dan gelisah nya tiba-tiba tumbang.


“Liza!!” teriak Arsy.


Ia yang ada di dekat sahabatnya membatu Gibran untuk menangkap tubuh Liza yang akan jatuh ke lantai.


Mereka semua jadi heboh, Pinkan pun lari mencari perawat, sedang Lula yang sadar diri, bahwa ialah penyebab segalanya, memilih duduk di kursi seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bodoh! Kenapa aku kecolongan sih! batin Lula.


Ia sangat takut, jika keponakannya meninggal dunia.


Meski Leon anaknya Joe, namun ia sangat menyayangi buah hati Liza dan abang tirinya tersebut.


Tak lama dua orang perawat pria datang membawa ranjang dorong. Kemudian, Eric, Gibran dan kedua perawat itu mengangkat tubuh Liza ke atas ranjang.


Setelah itu mereka membawa Liza ke unit gawat darurat.


Saat yang tersisa hanya keluarga Rabbani, Basuki menghela napas panjang.


“Apa yang kau lakukan Lula? Bukankah sudah papa katakan, jangan bawa-bawa Leon ke ruang reptil mu, bahaya! Dia itu bukan pawang ular! Lihat, terbuktikan?! Seumuran Leon, minat ingin tahunya besar, melihat mu mudah berinteraksi dengan ular, dia juga berpikir kalau dirinya bisa, astaga... Liza... Liza.” Basuki memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Kejadian Fi dan ayahnya belum membuat mu sadar ya Lula, harusnya kau jangan membuat kerjaan baru, kalau mau menjadikan seseorang monster, buat saja anak mu kelak, kalau ada apa-apa, biar kau tahu rasanya kehilangan seperti apa!” Eric benar-benar kesal pada adiknya.


“Taubatlah Lula! Buang semua ular-ular mu itu! Harusnya kalau mau memelihara hewan, itu pilih singa atau harimau, karena kalau kau rawat dari kecil mereka akan menurut dan patuh pada mu. Nah! Kalau ular itu enggak ada sifat mengenal majikan, kalau dia lapar atau stres, kau akan di gigit, meski pun kau telah merawatnya sejak menetas dari telur,” terang Pinkan.


“Aku mengerti ma.” Lula tak bisa berpikir jernih karena Leon.

__ADS_1


“Sudah terlambat untuk kau mengerti dan sesali, kalau nyawa Leon sampai melayang, hadapi saja amarah ibunya, mama enggak mau ikut-ikutan.”


Pinkan yang ingin membuat anaknya berubah, memutuskan tak mau membatu masalah Lula.


Basuki pun angkat tangan, sebab yang jadi korban kali itu adalah cucu dari anak pertamanya.


Wajah Leon yang 90% mirip dengan Joe, membuat ketua mafia itu lemah.


Ia yang merasa bersalah atas kematian anak yang ia sayangi, menjadikan Leon sebagai cucu emasnya.


“Kalau begini repotkan Za! Kau ajari lagi dia pegang-pegang ular, atau jangan-jangan, kau mengajarinya membunuh kucing juga?” kecurigaan Eric membuat Lula ingin marah.


“Mana mungkin aku mengajarinya hal seperti itu? Kalau pun mau praktik! Ya langsung ke adiknya saja ku suruh!” bagi Lula, nyawa kucing lebih berharga dari manusia.


“Syukurlah kalau begitu, dan kalau Leon selamat dari kritisnya, hentikan semua rencana-rencana tak masuk akal mu itu, cukup sampai dirimu saja, jangan kau buat generasi baru untuk mewarisi sifat monster mu!” ucap Pinkan.


Ia tak mau suatu saat jika Lula punya anak, Lula mewariskan kegarangannya pada sang anak.


“Taubat Lula! Makanya, sering-sering buka yutub! Lihat ceramah ustad Fahri.” saat kegentingan sedang berlangsung, Pinkan masih sempat mempromosikan menantu pilihannya pada keluarganya.


Tujuannya agar tak ada penentangan dari pihak Basuki maupun Eric.


Lula yang mendapat ceramah dari arah kiri dan kanan merasa sesak.


Setelah Lula luput dari pandangan mereka, Eric pun mulai memberi komentar tentang adiknya.


“Aku tak menyangka, Lula sangat sayang Leon, terbukti, dia tak membantah apapun yang kita katakan, dia juga mengaku salah dengan perbuatannya, biasanyakan dia akan ngamuk dan juga membunuh orang yang memarahinya, apa lagi sampai tampar wajah, seperti yang Liza lakukan tadi,” terang Eric.


“Iya, kau benar, pada hal tadi mama hampir jantungan loh, mama sudah takut, Lula akan merobek mulut Liza,” timpal Pinkan.


“Dia takkan melakukan itu, karena Leon anak yang spesial,” ujar Basuki.


“Maksud mu, karena Leon adalah cucu kandung mu?” Pinkan mulai emosi pada mantan suaminya.


“Bukan, karena Leon adalah anak yang patuh, dan juga baik hati, Lula itu suka dengan orang yang penurut.” terang Basuki, meluruskan ke salah pahaman Pinkan.


“Alasan!” pekik Pinkan.


🏵️

__ADS_1


Lula yang sedang duduk di area bebas rokok, mengisap filter rokoknya.


“Astaga... benar-benar sial, kasihan Leon, pasti dia merasa kesakitan.” saat Lula merasa otaknya buntu, ia pun teringat dengan apa yang di katakan ibunya.


“Sebagus apa sih Fahri berdakwah.” Lula yang penasaran pun membuka akun yutubnya, kemudian ia mencari nama ustad Fahri.


Dengan cepat pencarian mesin yutub menampilkan banyak Wajah Fahri.


Kemudian Lula membuka ceramah Fahri yang di tonton lebih dari 26 juta orang.


Dalam video itu Fahri menjelaskan dosa menyakiti hati orang lain.


Lula yang kurang bimbingan agama selama ini tak tahu yang ia lakukan adalah dosa.


Basuki dan Pinkan pun tak pernah menceritakan masalah, masalah mati, apa lagi soal surga dan neraka.


Ia yang suka dengan cara penjelasan Fahri, malai menonton video calon suaminya itu satu persatu.


Lula yang cerdas langsung paham dengan semua yang di katakan oleh Fahri.


Hatinya tiba-tiba merasa sakit, dan ia pun melihat kedua tangannya yang penuh dengan darah.


“Apa Allah akan menerima taubat ku?” Lula menjadi gelisah. Ia sangat menyesal dengan apa yang ia lakukan selama ini.


🏵️


Arsy yang menemani sahabatnya merasa sedih, karena Liza belum sadarkan diri juga.


Saat Arsy berdiri, ia tak sengaja melihat ke arah lantai.


“Air becek apa ini?” gumam Arsy.


Ia tak mengerti jika itu adalah air ketuban Liza yang telah pecah.


Arsy pun keluar dari ruangan Liza dan memanggil petugas kebersihan wanita yang sedang mengepel lantai di depan ruangan Liza.


“Bu, bisa pel air yang ada di dalam sebentar!” Fi meminta dengan sopan.


“Mana airnya bu?” tanya sang petugas.

__ADS_1


“Itu bu.” Arsy menunjuk ke arah bawah ranjang Liza.


...Bersambung......


__ADS_2