Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 39 (Buaya)


__ADS_3

“Iri! Bilang bos!” Liza memanas-manasi Kissky yang terlihat jelas cemburu dari mimik wajahnya.


“Enggak banget!” Kissky pun masuk ke dalam kelas. Lalu ia melihat di atas meja setiap siswa terletak hasil karya mereka yang tak di pajang.


Ketika ia membuka kembali lukisannya, ia terperangah, sebab nilai yang ia dapatkan benar-benar sangat minim.


“Dapat berapa?” Liza melihat angka 7 yang terdapat di sudut kanan bawah kertas kanvas Kissky.


“Gila! Bu Riza pelit banget kasih nilai!” lalu Liza pun memperhatikan dengan seksama, hasil lukisan Kissky.


“Bagus kok, malah lebih bagus dari punya ku, tapi kenapa kau dapat nilai jelek?” Liza yang penasaran dengan nilai orang lain, membuka satu persatu lembaran kanvas teman sekelasnya, sebelum pemiliknya datang.


“Ck!” Liza berdecak, seraya geleng-geleng kepala.


“Ada apa?” melihat ekspresi Liza yang penuh makna, Membuat Kissky penasaran.Lalu Liza mendekat pada Kissky kembali.


“Hanya kau yang dapat nilai 7, yang lain paling rendah 8.5, ada dendam apa bu Riza pada mu, pada hal hasil lukisan mereka tak jauh beda darimu, malah ada yang lebih jelek!” terang Liza.


Kissky mulai memikirkan kesalahan apa yang pernah ia perbuat pada Riza.


“Pada hal aku enggak pernah membuat Bu Riza tersinggung dan sakit hati,” gumam Kissky.


Gelagat bingung dari Kissky dan Liza ternyata di pantau oleh Riza dari ruang control cctv sekolah.


“Ah hahaha! Jangan harap hidup mu tenang, ini baru permulaan Ky, akan ku buat nilai mu anjlok, sehingga kau di drop out!” Riza yang bahagia di atas menderita Kissky, berniat untuk mengeluarkan gadis itu dari sekolah.


“Kau harus jadi anak yang terbuang selamanya!”


_________________________________________


Sore harinya, Kissky yang berada di parkiran, mendapati ban sepedanya kempes.


“Lagi? Ulah siapa sih ini?” batinnya.


Zanjiil yang baru tiba di melihat istrinya dengan raut wajah menahan kesal.


Ia yang ingin menyapa Kissky tiba-tiba di datangi oleh Luna.

__ADS_1


“Kau mau apa?!” pekik sang kekasih.


“Enggak ada.” jawab Zanjiil.


“Bilang saja, kalau ingin mendatangi cewek jelek itu! Baru saja kita berdebat karena dia, beraninya kau ingin mengajak dia bicara, terlalu!” ucap Luna.


Zanjiil yang tak tahan mendapat amukan terus dari Luna, langsung memberontak.


“Iya, aku memang ingin bicara padanya, kau lihat sendirikan dia kesusahan?” Zanjiil menjelaskan situasi yang sebenarnya.


“Lalu, kau mau apa? Ingin mengajaknya pulang bersama?!” netra Luna membulat, kala memberi ancaman pada Zanjiil.


“Ku rasa begitu.” jawab Zanjiil.


“Apa? Kau serius ingin melakukan itu?” Luna amat kecewa dengan sikap kekasihnya.


“Sudah, enggak usah di perpanjang, pulanglah duluan.” setelah itu, Zanjiil beranjak menuju Kissky.


Hati kecil Luna menangis darah, ketika orang yang ia cintai terang-terangan perhatian pada wanita lain di hadapannya.


Awas kau Jill! Beraninya menyakiti aku! batin Luna.


Sementara Zanjiil yang telah berada di belakang Kissky yang sedang berjongkok, menyapa dengan lembut.


“Sepeda mu kenapa lagi nyet?”


“Biawak! Kalau enggak mau membantu, sebaiknya pulang duluan!” pekik Kissky, ia terus melihat ban sepedanya yang kempes.


“Apa lain kali aku bawa pompa ke sekolah?” gumam Kissky.


“Sudah, tinggalkan saja sepedanya, naik mobil dengan ku saja.” Zanjiil mengajak Kissky untuk pulang bersama.


“Enggak mau! Entar pacar mu marah-marah lagi, sekarang saja pasti dia ngamuk pada mu!” ternyata Kissky melihat percekcokan Zanjiil dan Luna sebelumnya.


“Sudah ku urus, pulanglah bersama ku!” Zanjiil mengulurkan tangannya pada Kissky untuk membantunya berdiri.


Lalu Kissky mendongak, “ Kau sok ganteng banget sih biawak! Dengan berani di depan Luna kau melakukan hal ini, um um... teganya kau pada gadis itu!” Kissky menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Aku mengajak mu, karena kita memang serumah, lagi pula tak ada yang salah, kitakan suami istri,” ucap Zanjiil.


Saat mereka masih mengobrol, Gibran pun hadir di antara mereka.


“Ky, ada apa?” ucapnya seraya melihat ke arah ban sepeda Kissky. ”Kempes?”


“Iya nih! Aku boleh ikut sampai bengkel enggak?” tanya Kissky.


“Jangankan sampai bengkel, sampai pelaminan pun akan ku temani.” gombalan yang Gibran berikan, membuat netra Zanjiil membulat.


Apa-apaan dia, beraninya menggombal istri ku, batin Zanjiil.


“Bisa saja kau! Kalau kau serius, apa salahnya!” ucap Kissky dengan wajah memerah.


Hati Zanjiil semakin berkobar, saat istrinya meladeni gombalan dari Gibran.


Dasar nakal! Batin Zanjiil.


“Apa kita bisa pergi sekarang?” tanya Kissky, yang ingin segera memperbaiki sepedanya.


“Oke!” sahut Gibran.


Ketika istrinya akan pergi dengan lelaki lain, Zanjiil meletakkan kaki jenjangnya ke kursi duduk sepeda Kissky.


“Jangan kemana-mana!” ucap Zanjiil seraya berkacak pinggang.


“Minggir biawak!” pekik Kissky dengan menggertakkan giginya.


“Huwl! Masuk mobil!” titah Zanjiil.


“Enggak mau! Aku dan Gibran masih mau ke bengkel!” Kissky tak mendengarkan kata-kata suaminya.


“Huwl!!!” Zanjiil yang marah, makin meninggikan suaranya.


“Hei, kau enggak boleh berbicara kasar pada perempuan.” Gibran berdiri tepat di hadapan Kissky, hingga kedua pria tampan itu saling berhadapan.


“Gibran, ini enggak ada urusannya dengan mu, sebaiknya kau pulang, bantu ibu mu cuci piring!” Zanjiil mengibas-ngibaskan tangannya, berharap Gibran akan meninggalkannya dengan Kissky.

__ADS_1


“Kau lihat sendirikan? Kissky enggak mau pulang dengan mu, kau tak boleh memaksanya, karena Kissky berhak memilih,” ujar Gibran


...Bersambung......


__ADS_2