
Arsy yang telah turun ke lantai satu bertemu keluarga Fahri dan Basuki.
“Mau kemana Sy?” tanya Basuki, apa lagi wajah Arsy terlihat tak karuan.
“Aku mau pulang pa, soalnya besok ada rapat guru, tidak bisa di tinggal.” kemudian Arsy menjabat tangan semua orang yang ada di sana.
“Harusnya besok saja kak pulangnya,” ujar Fahri.
“Aku juga maunya begitu, tapi tidak bisa hehehe...” Arsy tertawa kaku.
“Naik apa kak?” tanya Fahri kembali.
“Mobil dik,” jawab Arsy. Saat Arsy akan selesai, Eric datang menyusul.
“Kau juga mau pulang Ric?” Basuki merasa ada sesuatu yang tak beres.
“Iya pa.” Eric pun ikut menjabat ayahnya dan para tamu yang menginap.
Namun Arsy yang selesai terlebih dahulu meninggalkan suaminya tanpa mengatakan apapun di depan orang banyak.
Fi yang telah keluar dari rumah berjalan menuju jalan raya.
“Arsy!” Eric dengan buru-buru naik ke dalam mobilnya kemudian tancap gas dan melakukan rem mendadak di hadapan istrinya. Selanjutnya Eric keluar dari dalam mobil.
“Arsy! Bukankah kita pernah saling berjanji untuk bersikap dewasa dan tak meninggalkan satu sama lain?” pernyataan Eric tak di gubris oleh Arsy.
“Arsy! Jawab aku, apa karena masalah anak, kau akan meninggalkan ku?” mata Eric membelalak, rasa kecewa dalam hati tak bisa ia sembunyikan lagi.
“Aku bosan mas, di tanya sama keluarga mu terus, jujur aku lebih ingin dari siapapun, au juga sebenarnya ingin sekalikan?” ucap Arsy dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
“Iya, aku mau kalau Allah kasih, kalau enggak, aku takkan mengeluh,” ucap Eric.
“Nah! Kau juga mengakui kan? Mas! Hatiku sakit saat mama dan adik mu meminta aku bercerai darimu, harga diriku terinjak-injak saat mereka ingin menjodohkan mu dengan wanita lain, dan mengatakannya langsung pada ku, mas ku mohon, ayo bercerai saja, lagi pula aku sudah bosan dengan hubungan ini, menikah tanpa bisa memberi mu anak menjadi beban batin terbesar dalam hidup ku.” Arsy mengatakan keresahan hatinya selama ini.
“Apa kau gila? Kita sudah pernah berpisah sekali, apa kau enggak kapok? Arsy... lupakan apa yang terjadi di dalam, ku mohon, jujur aku sangat lelah kalau kita bertengkar terus. Arsy ku mohon. berhenti berpikir negatif, selagi aku tetap bersama mu, apapun yang di katakan orang lain tak usah di dengar, karena tanpa anak pun, aku tetap bagia bersama mu.” sebisanya, Eric memberi pengertian pada istrinya.
“Baiklah, aku mengerti, tapi berikan aku waktu untuk menyendiri, kalau hatiku sudah lebih baik, aku akan datang menemui mu.” kemudian Arsy pun keluar dari rumah mertuanya.
Eric yang sudah habis cara untuk membujuk istrinya, merasa gundah karena beban pikiran yang sama selama ini. Ia pun akhirnya membiarkan istrinya pergi.
“Mungkin dia butuh waktu untuk sendiri, di paksa untuk pulang bersama pun, pasti akan percuma kalau dia masih marah” gumam Eric.
Meski tak rela, namun ia ingin menuruti kemauan istrinya.
Setelah itu Eric kembali ke dalam rumah dengan wajah yang murung.
Basuki yang kini tinggal sendiri di ruang tamu karena keluarga Fahri telah masuk kamar pun mendekat ke putranya.
“Kalian bertengkar?” tanya Basuki dengan suara pelan.
“Iya pa, ini semua karena mama.” Eric yang lelah menundukkan kepalnya yang terasa berat.
“Kenapa mama mu jadi terseret dalan masalah rumah tangga kalian?” Basuki memperjelas perkataan anaknya.
“Huffff... mama menyuruh cerai dengan Arsy, katanya mama akan menjodohkan ku dengan teman seperguruan mama, bukankah itu namanya gila pa?” Eric yang kesal duduk di atas sofa, lalu menyandarkan lehernya yang kaku ke punggung sofa.
“Kurang ajar sekali mama mu! Tunggu, biar papa marahi!” Basuki ikut emosi pada Pinkan.
“Jangan pa, yang ada nanti rumah jadi ramai, dan keluarga Fahri tahu lagi masalah keluarga kita.” Eric tak ingin melihat dan mendengar pertikaian lagi.
“Sudah, kau tenang saja.” kemudian Basuki mencari Pinkan ke kamar Lula yang kini menempati lantai 2.
Krieettt!!!
__ADS_1
Basuki membuka pintu, dan ia pun istrinya yang sedang membicarakan Arsy.
“Apa kau sudah puas merusak rumah tangga anak mu?” suara Basuki yang tenang namun mencekam membuat Pinkan langsung menoleh pada mantan suaminya.
“Itu karena aku memikirkan masa depan putra kita, aku kasihan melihat dia yang tak punya tujuan hidup karena Arsy, kalau ada anak, maka dia akan lebih bersemangat, dan kalau sudah tua, ada yang mengurusnya, mungkin dia dan Arsy memang tak berjodoh Basuki.” Pinkan menerangkan dengan santai.
“Salah satu tujuan menikah memang untuk menambah keturunan, tapi... tak ada anak-anak pun bukan berarti pernikahan itu akan hambar. Pinkan, kau lihat sendiri, karena kita, Zanjiil merubah identitasnya, melarikan diri, dan tak mau tinggal bersama kita lagi, dia pergi karena Arsy, dan dia kembali juga karena wanita itu, kenapa sampai disitu kau belum mengerti juga?” Basuki tak habis pikir dengan mantan istrinya yang begitu kritis.
“Aku lebih tahu, apa yang terbaik untuk anak-anak ku di banding kau?!” Pinkan masih tetap jutek pada suaminya.
“Iya, kau benar, tapi baik di mata mu, belum tentu baik di mata anak-anak mu, apa kau tak kasihan pada Eric? Yang kau lakukan, hanya untuk memuaskan hatimu, aku tahu, sekarang ilmu agama mu tinggi, tapi bukan berarti kau lebih suci dari yang lain dan pendapat mu bukan selalu benar, kalau Eric masih anak-anak, tujuan baik mu yang sekarang bisa di terima akal sehat, tapi kalau sudah menikah, itu namanya kau memisahkan anak mu dan istri yang ia cinta? Terlalu!” Basuki mendengkus kesal.
“Papa, mama itu hanya ingin abang bahagia ke depannya, papa mengertikan?!” Lula membela ibunya.
“Sana, kalian lihat ke ruang tamu, Eric bahagia atau sengsara! Kau juga Lula, mentang-mentang kau dapat orang baik, jadi menurut mu yang kau katakan semuanya jadi benar, banyak yang amalnya lebih tebal dari kalian masuk neraka hanya karena melakukan satu kesalahan, jadi kalian berdua, jangan sampai amal ibadah kalian habis karena masalah yang tak perlu kalian urus!” setelah itu Basuki meninggalkan anak dan putrinya.
Ia yang kembali ke ruang tamu melihat Eric sedang memijat pelipisnya.
Basuki sungguh iba pada putranya yang malang.
Eric yang melihat ayahnya datang pun berdiri dari duduknya.
“Pa, aku pulang ya, hatiku tak tenang membiarkan Arsy pergi begitu saja,” ucap Eric.
“Oke nak, hati-hati di jalan, semoga kau dan Arsy cepat berbaikan.” jauh dalam lubuk hati Basuki, ia tak ingin anaknya sepertinya.
Setelah Eric menjabat tangan ayahnya, ia pun pergi pulang dengan menaiki mobil pribadinya.
Selama perjalanan Eric terus mendial nomor Arsy, namun Arsy sang istri tercinta tak kunjung menjawab.
“Arsy, kenapa semakin hari kau semakin tak terkendali? Harusnya kau hanya mendengarkan aku, bukan orang lain.” Eric yang merasa sedih menitikkan air matanya, ia takut jika Arsy melarikan diri lagi.
Setelah 2 jam 30 menit dalam perjalanan, Eric pun sampai ke rumah.
Kemudian Eric mencari ke ruangan lain dengan terus memanggil nama istrinya.
Tapi pencariannya sia-sia, istrinya tak ada dimana pun, saat ia mendial kembali kontak Arsy.
Sayangnya nomor sang istri sudah tidak aktif lagi.
Deg!
Deg!
Eric dengan cepat dapat menebak, jika istrinya telah melarikan diri.
Eric pun terduduk lemas di atas lantai dapur. “Arsy!!!”
Yang ia cinta pergi tanpa permisi, itu semua berkat kata-kata pedas ibunya yang melukai hati istrinya.
Eric yang marah mendial nomor ibunya dengan cepat.
Halo Ric. 📲 Pinkan.
Apa mama sudah puas sekarang? 📲 Eric.
Apa maksud mu? Bicara yang jelas!📲 Pinkan.
Arsy pergi lagi, ini semua karena mama dan Lula! Kalau Arsy tak kembali maksimal satu minggu, akan memutus tali kekeluargaan ku dengan kalian, anggap saja aku tak pernah ada mama! 📲 Eric.
Eric yang emosi mematikan sambungan teleponnya.
“Arsy!!!” Eric berteriak kencang karena patah hati.
__ADS_1
Pinkan yang menerima amukan dari anaknya seketika merasa sedih dan takut, ia pun menyesal karena telah ikut campur dalam masalah rumah tangga putranya.
Eric yang menunggu kedatangan Arsy menangis pilu.
Eric yang tak mau berputus atas mencari istrinya ke sekolah tempatnya mengajar, namun hasilnya nihil.
Eric juga mencari ke segala tempat, dan membuat brosur orang hilang, namun tak ada hasil sama sekali.
Meski ia telah menawarkan hadiah ratusan juta, tetap tak ada satu orang pun yang dapat menemukan Arsy.
Hingga 3 tahun berlalu, sang istri yang ia sayangi tak kunjung kembali.
Eric yang tak percaya lagi soal cinta, hanya melangkahkan kakinya ke tempat kerja dan rumahnya saja.
Ia tak pernah mau pergi ke tempat lain, ia lebih memilih menghabiskan waktu luangnya di dalam kamar, membayangkan kehidupannya bersama Arsy dalam angannya.
Ting dong!
Bel rumah yang tak pernah terdengar selama 3 tahun tiba-tiba berbunyi.
Eric yang tak ada gairah menuju pintu, untuk melihat siapa yang datang.
Ceklek...
Krieett...
“Siapa??” ketika Eric melihat orang yang menekan bel pintu rumahnya, bibirnya pun bergetar.
Matanya memerah dan juga berkaca-kaca. Perlahan air matanya menetes.
“Apa kabar mas? Apa kau sudah punya pengganti ku di dalam?” senyum Arsy yang begitu indah membuat Eric naik pitam.
Plak!
Ia menampar pipi kanan istrinya. “Hiks... rupanya tak cukup dengan kau pergi sekali selama 10 tahun, kau malah menambah 3 tahun untuk menyiksa batin ku!” Eric bak wanita, menangis tersedu-sedu.
“Maafkan aku, aku 3 tahun yang lalu memutuskan ke New Zeland, niatnya hanya seminggu, tapi setelah curhat sama mama, aku di suruh ke psikolog, untuk mengobati mental ku yang sakit, ku pikir hanya sebentar, tenyata lama. Tak mudah menghilangkan trauma masa lalu yang ada di kepala ku, Mas, maafkan aku.”
“Haruskah kau pergi tanpa permisi? Harusnya kau mematikan seluruh akses mu? Dimana otak mu Arsy! Disini aku yang kalian semua buat menderita!”
Arsy yang tak tega melihat air nata suaminyapun memeluk Eric yang ada di hadapannya.
Eric yang tak ingin larut dalam Marah dan sedihnya membalas memeluk Arsy.
“Maafkan aku, maafkan keluarga ku juga, kalau kau datang hanya untuk singgah bukan menetap, sebaiknya pergi saja, karena rasanya sakit Arsy.” Eric mengatakan keluh kesalnya.
“Tidak akan lagi, karena aku pergi untuk berobat mas, aku cinta kau mas.” Arsy semakin mengencangkan pelukannya.
“Kau serius? Jangan buat aku patah hati lagi setelah ini kalau kau memang mau disini,” ujar Eric.
“Tentu mas, kali ini akan setia menemani mu sampai tua.” Arsy mengecup kening Eric.
Setelah itu. Arsy dan Eric hidup bersama dengan penuh suka cita.
Meski mereka belum memiliki anak, namun keduanya tetap bahagia.
Mereka juga melupakan masalah yang terjadi di antara mereka.
Hingga keduanya berusia 50 tahun, Arsy dan Eric memutuskan untuk mengadopsi anak laki-laki tampan dari panti asuhan.
Meski tak lahir dari rahim Arsy, namun kasih sayang yang ia berikan tak ada kurangnya.
“Terimakasih mas, karena telah bersama ku, meski aku tak pernah bisa memberi mu anak.” Arsy memeluk Eric di atas tempat tidur.
__ADS_1
“Aku juga. Terimakasih banyak Kissky Huwl ku. Mari kita hidup dengan bahagia! Tujuan ku menikahi mu, yang utama untuk bersama mu setiap waktu.” Eric mengecup lembut kedua pipi istrinya.