
Kissky menatap nanar wajah Liza yang ada di sebelahnya.
Aku tak tega kalau harus meninggalkannya, batin Kissky.
“Apa lagi yang kalian tunggu! Cepat pulang!” karena terus di desak oleh Rio, akhirnya ketiganya pun meninggalkan kediaman Liza.
Saat mereka sudah di dalam perjalanan Kissky cemberut menahan tangis.
“Ada apa dengan mu?” Zanjiil tak suka dengan ekspresi istrinya yang cengeng.
“Kasihan Liza... hiks...” Kissky menitikkan air matanya.
“Ya salah sendiri, makanya jangan asal main enak kalau belum menikah,” Zanjiil mengatakan pendapatnya.
“Tapi itu semuakan sudah suratan takdirnya.” Kissky menghapus air matanya dengan jemarinya.
“Sudahlah Ky, apa boleh buat, semua sudah terjadi, Liza harus bisa bertanggung dengan apa yang dia lakukan.” ujar Gibran yang duduk di sebelah Dimas.
Zanjiil yang tak suka ada siangannya di antara mereka, berniat mengusir anak baik itu.
“Heh! Kau turun di perempatan ya!” pekik Zanjiil.
“Kitakan satu arah kalau dari rumah Liza,” ujar Gibran.
“Pokoknya kau turun, kau terlalu berat!” Zanjiil tetap tak mau berbaik hati pada sahabat istrinya.
Kissky yang tahu suaminya membenci Gibran tak memberi pembelaan pada sahabatnya itu sama sekali.
Gibran yang terus di suruh turun menatap lekat wajah Kissky.
“Kita turun sama-sama ya.” Gibran mengajak Kissky untuk naik taksi bersama.
“Enak saja, yang turun hanya kau seorang!” pekik Zanjiil.
“Enggak mau!” Gibran menolak perintah Zanjiil.
“Aduh... kalian berdua jangan bertengkar dong!” Kissky yang sedang berduka tak suka mendengar keributan yang di timbulkan sahabat dan suaminya.
“Stop pak!” Zanjiil menyuruh Dimas untuk berhenti. “Turun kau sekarang juga!” Zanjiil yang keras kepala pada Gibran tak mau dekat dengan teman sekelasnya itu.
“Sudah Bran, sebaiknya kau turun, dia orangnya sangat gila, nanti kau malah di gigit lagi!” ucap Kissky.
“Apa?!” Zanjiil memelototi istrinya.
Gibran yang mengerti posisinya tak mau memaksakan diri untuk tetap disana.
“Baiklah, Ky jaga diri ya, sepertinya dia benar-benar galak!” setelah itu Gibran keluar dari dalam mobil Zanjiil.
“Iya, terimakasih Gibran.” Kissky tersenyum pada sahabatnya.
“Ayo jalan pak Dimas.” titah Zanjiil.
__ADS_1
“Baik tuan.” kemudian Dimas melajukan mobil yang ia bawa membelah jalan raya.
Setelah menempuh perjalanan selama 4 jam, mereka baru sampai ke rumah.
“Enggak lagi deh, jangan pernah kesana lagi, jauh! Bikin masuk angin.” Zanjiil mengeluh karena merasa perutnya begah.
“Iya pak.” Kissky yang merasa seluruh badannya lengket segera menuju kamar untuk mandi.
🏵️
Malam itu Lula datang berkunjung ke rumah ibunya.
“Tumben kau kesini, bukannya di rumah papa?” ucap Pinkan.
“Aku kesini cuma mau bilang ma, kalau mama harus datang ke sekolah besok.” kabar buruk dari putrinya membuat Pinkan geram.
“Kau buat masalah apa lagi sih? Bukannya sudah mama bilang, jangan buat onar Lula!” Pinkan yang bosan marah putrinya tak tahu harus menghukum putrinya dengan cara apa lagi.
“Dia yang salah, selalu saja mencari-cari kesalahan ku,” ujar Lula.
“Terus saja kau limpahkan kesalahan mu pada orang lain, sudahlah! Mama pusing!” Pinkan yang takut khilaf memilih pergi dari hadapan putrinya.
🏵️
Basuki yang ada di ruang kerjanya di temui oleh Winda.
“Ada apa kau kesini?” tanya Basuki, karena ia merasa tak memanggil artnya itu.
“Ini tuan.” Winda memberikan selembar photo pada Majikannya.
“Siapa gadis ini?” Basuki tak mengenali sosok Liza yang belum bertemu dengannya.
“Namanya Liza tuan, pacar dari tuan Joe,” terang Winda.
“Lalu? Kenapa kau menunjukkannya pada ku?” Yudi tak mengerti maksud Winda.
“Gadis itu sedang mengandung anak dari tuan Joe, itu informasi yang saya dapatkan, dari ajudan yang menjaga makan tuan.”
Basuki sengaja menyuruh orang yang masih setia padanya untuk menjaga pusara putra pertamanya, karena ia takut jika ibunya, atau keluarganya yang lain akan menggalinya.
“Jangan sampai ada yang tahu.” Basuki yang sayang Joe, menginginkan cucunya tetap hidup.
“Sayangnya tuan Zanjiil dan nyonya Kissky adalah sahabat dari gadis ini.” Winda menceritakan pada Basuki lebih detail.
“Astaga...” kepala Basuki jadi nyut-nyutan, ia takut jika Zanjiil akan membunuh cucu kandungnya.
“Winda, apa yang harus kita lakukan?” Basuki meminta pendapat artnya.
“Sembunyikan saja dia, atau nikahkan dengan siapapun untuk sementara tuan, setelah anaknya lahir, baru ambil.” saran dari Winda dapat di terima oleh Basuki.
“Kau benar juga.” Basuki menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
🏵️
Keesokan harinya, saat bel belum berbunyi, Liza datang dengan memakai masker.
Kissky yang melihatnya langsung mendatangi sahabatnya ke pintu kelas.
“Apa kau sakit?” Kissky memegang bahu Liza.
“Au! Sakit!” Liza meringis dengan sentuhan yang di berikan Kissky.
“Za, kau baik-baik sajakan? Enggak di hukum oleh om kan?” Kissky sangat takut jika terjadi sesuatu pada sahabatnya.
“Enggak kok.” Liza menyembunyikan kenyataan, bahwasanya sang ayah mencambuk bahunya dengan rotan.
“Lalu kenapa kau pakai masker?” Kissky sangat penasaran dengan apa yang di alami sahabatnya.
“Nanti aku cerita, setelah selesai ujian,”ujar Liza.
“Baiklah.” atas permintaan sahabatnya, Kissky bersedia untuk sabar menunggu.
Tak lama suara bel berbunyi, tanda ujian semester di mulai.
“Liza yang menunduk, tak dapat melihat soal dengan jelas, karena tiba-tiba pandangannya kabur. Sebab bakas tamparan Rio yang keras mengenai sudut mata kanannya.
Waktu ujian terus berlalu, namun Liza untuk kesekian kalinya tak mengerjakan soal-soal yang ada di hadapannya.
Hingga waktu ujian selesai, kertas jawaban ujiannya bersih.
Setelah jam ujian selesai mereka menunggu kelas sepi.
Saat yang tersisa hanya, Liza Kissky, Zanjiil dan juga Gibran yang tak mau ketinggalan, Liza langsung memeluk sahabaynya.
“Aku di hajar habis-habisan oleh papa Ky.” kemudian Liza membuka masker yang menutupi bibirnya yang pecah.
“Ya ampun! Apa kau sudah berobat?” Kissky merasa sedih atas kondisi Liza.
“Belum, karena tak sempat.” bibir Liza yang terbuka saat berbicara membuat Kissky, Zanjiil dan juga Gibran tersentak.
“Gigi mu kemana Za?” tanya Zanjiil. Sebab gigi depan bagian atas Liza hilang satu.
“Copot, karena papa menampar mulut ku berulang kali dengan keras, hiks...” Liza menangis sesungukan.
“Orang tua mu kejam banget Za! Pada hal kan ada solusi di setiap masalah!” Gibran emosi karena Liza mendapat kekerasan dari Rio.
“Mau bagaimana lagi, ini salah ku, hiks.. ” Liza terus menangis.
“Astaga... tapi om sudah tak marah lagikan?” tanya Kissky.
“Sampai tadi pagi, dia hanya bilang untuk menggugurkan kandungan ku ini.” Liza yang sayang Joe, tak ingin jika benih cinta mereka di hancurkan.
“Terus gimana dong?” Kissky jadi bingung apa yang harus di lakukan.
__ADS_1
“Begini saja Za, sebaiknya kau kabur yang jauh, masalah uang serahkan saja pada ku, atau kau mau nikah dengannya Bran? Kasihan juga kalau Liza di cibir orang lain, di tempat pengasingannya nanti.” Zanjiil yang ingin menjauhkan Kissky dari Gibran, terus saja menjodohkan pria tak bersalah itu pada Liza.
...Bersambung... ...