Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 46 (Gatot)


__ADS_3

Pukul 07:00 pagi, Kissky bangun dari tidurnya, ia yang teringat ada janji dengan Zanjiil buru-buru turun dari ranjang.


“Aku harus segera mandi.” Kissky pun amsuk kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai, Kissky memakai baju terbaiknya, Maxi dress warna merah dengan motif bunga-bunga.


Rambut panjang indahnya pun di kuncir, tak lupa Kissky memakai kaca mata dengan model segi 4 warna coklat.


Ia yang melihat wajahnya dalam cermin pun bergumam. “Cantik!”


Setelah itu, Kissky keluar dari kamarnya menuju kamar Zanjiil.


Tok tok tok!


“Zanjiil, Zanjiil! Apa kau sudah bangun?” Kissky terus mengetuk pintu kamar suaminya.


Namun tak kunjung ada jawaban, saat ia ingin mengetuk kembali, Hera sang Art yang sedang mengepel lantai pun berkata, “Tuan tak ada nyonya.”


“Dia kemana kak?” tanya Kissky.


“Ke kantor nyah, karena ada meeting penting yang harus di hadiri,” terangnya.


“Hari Minggu dia ke kantor?” gumam Kissky.


Berarti batal dong ke pantainya, batin Kissky.


“Terimakasih kak atas infonya,” ucap Kissky.


Kemudian Kissky pun turun ke lantai satu untuk sarapan pagi. Sesampainya ia ke lantai satu, ia melihat Lula tengah makan roti panggang, dan di hadapan adik iparnya juga telah tersedia segelas susu panas


“Pagi kak!!” sapa Lula.


“Pagi juga.” sahut Kissky.


“Hari ini enggak jadi ke pantai ya?” ucap Lula.


“Darimana kau tahu?”


“Bang Zanjiil yang cerita, tadi ketemu di depan, saat aku baru pulang lari pagi,” terang Lula.


“Tapi La, kenapa meeting nya harus hari mingggu?”

__ADS_1


“Karena si klien maunya begitu, lagi pula itu biasa kok kak,” terang Lula.


“Zanjiil kan masih muda, apa klien akan percaya padanya? Terlebih dia belum ada pengalaman kerja,” ucap Kissky.


“Dia dari SD sudah ikut meeting dengan ayah,” ujar Lula.


“Apa?” Kissky tak percaya dengan yang Lula katakan.


“Tentu saja, makanya agak sedikit kasihan sih lihat dia, tapi apa boleh buat, suatu saatkan perusahan akan jatuh ke tangannya, jadi dia perlu belajar dari dini, apa kakak enggak tahu, kalau bang Zanjiil jarang di rumah?” ujar Lula.


“Bukannya dia disini terus?” ucap Kissky, karena setahunya, Zanjiil selalu ada di rumah selama ia resmi jadi menantu Rabbani.


“Iya benar, tapi itu karena pernikahannya dengan kakak, jadi dia dapat cuti dari ayah selama 2 minggu,” terang Lula.


Saat mereka masih mengobrol, Winda yang telah selesai memanggang roti untuk Kissky, menghidangkannya di atas meja.


“Selamat menikmati nyonya,” ucapnya.


“Terimaksih banyak kak.” Kissky pun segera menyantap roti panggang yang masih hangat tersebut.


Lula yang melihat kesepian di sorot mata kakak iparnya pun merasa iba.


“Jangan khawatir, bang Zanjiil pasti pulang cepat, paling jam 12 sudah sampai rumah, percayalah, walau otaknya kurang beres, tapi dia jagonya negoisasi dengan para klien.”


“Tapi maaf, aku enggak bisa menemani kakak, karena hari ini aku ada kencan! Hehehe!” Lula tertawa pada Kissky.


“Iya, enggak apa-apa,” sahut Kissky.


Setelah Lula selesai sarapan, ia pun bangkit dari duduknya.


“Aku duluan ya kak, karena aku mau langsung siap-siap!” setelah izin pada kakak iparnya, Lula meninggalkan Kissky.


Seketika, ruang makan berukuran besar itu jadi sunyi, yang terdengar hanya suara renyah roti panggang yang Kissky gigit.


Meski ia di temani Winda dan 2 pelayan lainnya, namun tak ada yang bersedia untuk mengajaknya bicara.


__________________________________________


Pukul 11:00 siang, Lula yang berada dalam mobil bersama kekasihnya, tak sengaja melihat Zanjiil sedang berdiri di lobi utama mall bersama Luna.


“Itukan bang Zanjiil, tapi... siapa cabe-cabean yang di sebelahnya?” gumam Lula.

__ADS_1


Ia yang penasaran pun meminta pada kekasihnya untuk menepi.


“Sayang, berhenti!” pinta Lula.


“Kenapa sayang?” tanya Roy, kekasih Lula yang telah berkepala tiga.


“Itu abang ku!” Lula menunjuk ke arah Zanjiil.


“Lalu? Apa yang salah? Biarkan saja dia disana, kita sudah terlambat nih” tanya Roy kembali.


“Tunggu disini sebentar! Aku segera kembali!” tanpa menjawab pertanyaan kekasihnya, Lula turun dari mobil kekasihnya.


“Beraninya kau Jiil dengan wanita lain, saat kak Kissky menunggu mu di rumah untuk pulang!” ia dengan langkah kaki yang cepat mendatangi Zanjiil.


“Zanjiil, kau disini?” ucap Lula dengan bersedekap.


Luna yang tak mengenali Lula, mengangkat sebelah alisnya.


“Siapa perempuan ini? Jangan bilang, ini kekasih mu yang baru! Kalau sampai benar, ku kebiri dia dan kau!” suara lantang Luna, membaut Lula kesal.


“Aku adiknya! Kau sendiri siapa?!” ucap Lula dengan mata membelalak.


“Dia adik mu?” Luna melirik ke arah Zanjiil.


“Ya, dia adik ku, Lula.” jawab Zanjiil.


“Oh, maaf ya dek, kakak pikir tadi selingkuhan bang Zanjiil, habis bang Zanjiil suka macam-macam akhir-akhir ini, hehehe.” Luna tertawa untuk mencairkan ketegangan di antara mereka. “Kenalkan, aku Luna.” Luna mengulurkan tangannya pada Lula.


Namun, Lula yang memiliki tingkat kesombongan akut, menepis tangan Luna.


“Pulang bang Zanjiil! Kak Kissky menunggu mu!”


Netra Zanjiil dan Luna membulat sempurna, saat Luna mengatakan nama Kissky.


Apa mereka sudah pacaran? batin Luna.


Lula... Anak ini kenapa sih! Selalu ikut campur urusan orang! batin Zanjiil.


Sorot mata tajam Luna membuat Zanjiil salah tingkah.


“Kenapa dia ada di rumah mu? Apa kalian sudah pacaran? Bukannya kau sudah berjanji, enggak akan mengulanginya lagi?” netra gadis cantik tersebut memerah menahan tangis, ia tak dapat menahan sakit yang ada dalam dadanya, karena kekasih yang ia cintai selama ini telah mengkhianatinya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2