Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 42 (Jujur Tapi Konyol)


__ADS_3

“Karena bibir mu itu bekas penambalan bibir Luna! Najis banget harus bersentuhan dengan ku! Dan masalah Joni mu! Kau pikir aku suka?!” pekik Kissky.


“Luna saja suka, apa lagi kau!” ujar Zanjiil.


“Apa? Jadi Luna sudah pernah menyentuh burung mu yang kecil itu?” Kissky menunjuk ke arah celana Zanjiil dengan raut wajah jijik.


“Sudah tak terhitung berapa kali.” jawab Zanjiil.


“Kau bangga mengatakan itu pada ku?”


“Aku hanya jujur pada mu, karena kita suami istri, aku tak ingin menyembunyikan apapun pada mu, dan satu lagi, punya ku super, kalau kau tak percaya pegang saja!” Zanjiil tertawa genit pada Kissky yang ada di sebelahnya.


“Astaga! Berdosa banget aku karena mu! Ya Tuhan... kenapa kau jodohkan aku dengan orang yang jalan hidupnya sesat...” Kissky mengeluhkan nasibnya pada Ilahi.


“Yang tak mau membatalkan pernikahan kau sendirikan? Jadi terima saja, saat suami yang tampan ini, di miliki orang lain juga!” ujar Zanjiil.


“Dasar biawak! Buaya rawa!” Kissky yang sudah tak tahan adu mulut dengan Zanjiil bangkit duduknya.


“Eh, kau mau kemana?” Zanjiil menggenggam tangan Kissky yang akan beranjak.


Plak!


“Kotor! kotor!” Kissky memukul tangan Zanjiil.


“Ky, jangan pergi dulu, kau belum belum melihatnya!” Zanjiil yang ingin mempermainkan Kissky membuka resleting celananya


“Akh!! Orang gila!!” Kissky yang takut melihat ulat kayu pun berteriak seraya berlari menuju kamarnya.


Aku harus kunci kamar rapat-rapat, mama dan papa enggak di rumah, bisa-bisa kesucian ku di renggut sama si hidung belang itu! Kalau minta tolong pada Art pasti percuma, karena mereka semua terlihat takut pada keluarga ini! batin Kissky.


Sesampainya ia ke dalam kamarnya, Kissky buru-buru mengunci kamarnya.

__ADS_1


Retek! Ceklek!


“Aman...” gumamnya.


Selanjutnya Kissky merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Hufft!! Hari ini melelahkan sekali, untung besok minggu.” Kissky yang ingin mengajak Liza ke pantai esok hari, berniat untuk meneleponnya.


Ia pun merogoh sakunya, “Hum?? Dimana handphone ku?” ia yang tak mendapati dalam kantongnya pun bangkit dari tidurnya.


“Ada dimana ya? Bukannya ada di saku ku tadi?” ia pun mulai sibuk mencari di area ranjang dan meja rias, hingga akhirnya ia pun ingat.


Plak! Kissky menepuk keningnya, “Goblok! Kenapa harus tinggal di meja makan sih?” ia yang membutuhkan ponselnya saat itu berpikir dua kali untuk turun, sebab ia takut akan bertemu dengan Zanjiil lagi.


“Aku harus bagaimana? Malah handphone ku enggak punya password lagi, tapi... Zanjiil enggak akan usil untuk melihat isi handphone ku kan?” meski ia sangat ingin mengambil handphonenya, namun batinnya sudah menyerah duluan.


“Sudahlah, lagi pula tak ada yang harus di takutkan, kalau pun dia mau melihat isi handphone ku.” ia yang pasrah, kembali merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.


Zanjiil yang baru selesai makan mendengar handphone Kissky berdering.


Awalnya ia tak memperdulikannya, namun karena terus berulang, Zanjiil jadi penasaran, ia takut jika yang menelepon adalah mertuanya.


Ketika ia melihat nama si pemanggil, “Gibran?” ia memutar mata malas.


“Apa memang mereka pacaran? Atau dia saja yang naksir pada Kissky?” Zanjiil pun membiarkan panggilan itu berakhir sendiri.


“Kenapa Kissky tak menjemput handphonenya? Apa dia takut pada ku?” ia yang ingin menunjukkan perhatiannya pada Kissky, membawa ponsel tersebut menuju kamar istrinya.


Ia pun beranjak menuju lantai 2, saat ia menaiki anak tangga, handphone Kissky bergetar.


Drrtt!!!

__ADS_1


Sebuah pesan baru masuk ke ponsel Kissky, Zanjiil pun melihat dengan jelas, kalau itu dari Gibran.


“Anak ini maunya apa sih?” Zanjiil yang kesal, tanpa izin membuka pesan dari Gibran.


Ky, apa besok kau senggang? Kalau ada waktu, ke kebun binatang dengan ku yuk, mama ku membeli 2 tiket untuk kencan dengan papa, tapi ternyata papa belum pulang dari Amerika sampai hari ini, ✉️ Gibran.


“Uum! Kaset lama... jadul banget sih alasannya, tinggal ajak saja apa susahnya, kenapa harus bawa orang tua mu, untuk melakukan dosa dengan istri orang lain.” Zanjiil yang ingin mengerjai Gibran, membalas pesan tersebut.


Maaf, aku sudah punya janji lain, ✉️ Zanjiil.


Zanjiil yang berpikir, Gibran akan berhenti, malah menerima pesan baru.


Batalkan saja, maaf kalau aku memaksa, tapi tiketnya hanya sampai besok, aku juga bawa kamera, nanti kita lakukan poto-poto, ✉️ Gibran.


“Enggak tahu malu, sudah di tolak dengan cara baik-baik sekarang malah memaksa, kalau soal kamera, aku juga punya, mulai dari Tustel sampai Leica!” Zanjiil yang ingin mematahkan hati Gibran pun membalas dengan kasar.


Enggak bisa, karena besok, aku dan Zanjiil akan kencan, ✉️ Zanjiil.


“Kalau kau masih berani membalas, akan ku patahkan tulang rahang mu!” beruntungnya, Gibran tak membalas pesan dari Zanjiil tersebut.


________________________________________


“Sejak kapan mereka pacaran? Bukankah pacar Zanjiil itu adalah Luna?” Gibran menggenggam erat tiket masuk kebun binatang yang telah ia beli.


“Enggak mungkin Kissky bercanda, tapi kalau itu benar... hati ku sakit Ky.” Gibran merasa gundah, akan perasaannya.


Di saat ia tak bersemangat, Liza mendial nomornya.


“Untuk apa dia dia menelepon?” Gibran menatap layar handphonenya dengan perasaan malas.


Namun, karena Liza tak kunjung memutus panggilannya, Gibran yang iba pun mengangkatnya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2