
Mereka pun masuk ke dalam kelas yang di tentukan, yang letaknya berada di lantai 2.
Saat Kissky telah sampai di teras kelasnya, tanpa sengaja ia menoleh ke depannya.
“Ya Tuhan, indahnya...” gumamnya, sebab dari lantai 2, terlihat jelas laut biru yang berada di dekat sekolah mereka. Setelah puas menikmati pemandangan indah tersebut, ia pun masuk ke dalam kelas.
Seketika ia di buat terpesona, sebab ruangan tersebut begitu bersih dan elegan. Bangku dan meja belajar yang di tempati khusus satu orang tersusun dengan rapi, kelas itu juga di lengkapi dengan AC kualitas nomor satu, white board super, loud speaker dan juga infokus, dan laptop sebagai media belajar yang terletak di sudut kelas, jumlahnya sesuai dengan anggota kelas mereka.
Liza yang sudah terlebih dahulu memilih tempat duduk, yang posisinya baris ketiga dari arah dinding sebelah pintu pun melambaikan tangan pada Kissky.
“Sini!” ternyata gadis cantik itu telah mengambil bangku untuk sahabatnya, yang tepat di belakangnya.
“Aku sudah menjaganya untuk mu.” ucap Liza.
“Terimakasih banyak ya.” Kissky pun duduk di bangku tersebut.
“Kelasnya bagus ya.” ucap Liza, yang terlihat senang akan luas dan lengkapnya fasilitas sekolah tersebut.
“Kau benar, aku suka sekolahnya,” sahut Kissky.
“Sama, aku juga.” saat mereka masih berdecak kagum dengan sekolah mereka, tiba-tiba Zanjiil masuk ke dalam kelas, ia pun duduk di bangku nomor lima, barisan meja kedua, dari arah dinding.
Sedangkan Luna, sang kekasihnya pun duduk di bangku pertama, satu barusan dengan Zanjiil.
Liza yang melihat Zanjiil untuk pertama kalinya pun berbisik pada Kissky.
“Kau lihat laki-laki yang duduk di bangku belakang sebelah kita?”
Zanjiil? batin Kissky.
“Kenapa dengannya?” tanya Kissky.
“Sangat tampan, coba perhatikan, di seluruh kelas dia yang paling mencolok,” ujar Liza.
“Hah? Jelek begitu kau bilang tampan?” ucap Kissky dengan wajah kecut, sebab di matanya Zanjiil biasa saja.
“Tentu saja dia tampan, mata mu rabun ya, enggak bisa lihat yang bening dan maskulin.” ujat Liza, sambil sesekali melirik ke arah suami sahabatnya.
Luna yang tak sengaja melihat Liza curi-curi pandang pada kekasihnya pun mulai mengantisipasi.
Ia beranjak dari tempat duduknya, menuju Zanjiil.
“Sayang, pulang sekolah jalan yuk!” ucap Luna seraya memegang bahu Zanjiil.
“Boleh.” sahut Zanjiil, karena selama libur kelulusan sekolah, ia dan sang kekasih jarang bertemu.
__ADS_1
Liza yang melihat menyumpal mulutnya. “Ya ampun, ternyata dia sudah punya pacar,” bisik Liza.
Jangankan pacar, istri juga sudah, batin Kissky.
Kissky pun memutar mata malas, saat mengetahui rencana suaminya ingin kencan bersama kekasihnya.
Sedang Liza mengurungkan niatnya untuk menyukai Zanjiil, sebab Luna adalah saingan berat untuknya, bagaimana tidak, gadis itu memiliki paras cantik, dan tubuh tinggi gemulai.
15 menit kemudian, seorang guru wanita pun memasuki kelas.
“Selamat pagi anak-anak, semua silahkan duduk di kursi kalian masing-masing.” titah Riza, guru seni lukis yang akan menjadi wali kelas mereka.
Para siswa siswi pun duduk di tempatnya masing-masing, Riza sang wali krlas memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
“Selamat pagi anak-anak, perkenalkan nama ibu Riza, guru mata pelajaran seni, sekaligus wali kelas kalian selama 2 semester ini, apa ada pertanyaan?” ucap Riza.
“Status bu!” sapa Rizal yang duduk di hadapan Zanjiil.
“Ehm... masih lajang.” jawab Riza dengan sedikit malu, karena di usianya yang telah menginjak 23 tahun, ia masih sendiri.
“Cihuii...” semua siswa siswi menggoda Riza.
“Wah... malam minggu boleh dong berkunjung ke rumah ibu,” ujar Rizal.
“Maaf ya, ibu ada acara lain.” Riza menolak permintaan Rizal, yang membuat siswa usil itu patah hati.
“Nomor handphone bu?!” tanya seorang siswa.
“Baiklah, pertanyaan bagus, catat nomor ibu ya, jangan lupa di simpan, karena kita akan me buat group chat.” Riza dengan sigap menulis nomornya di white board.
Rizal yang telah jatuh hati pada Riza dengan bersemangat menyimpan nomor gurunya tersebut.
“Oke, sekarang giliran kalian untuk memperkenalkan diri, di mulai dari barisan depan.” satu persatu siswa pun memperkenalkan dirinya, dengan menyebutkan nama, usia dan alamat, sampai pada giliran Kissky.
“Nama saya Kissky Huwl, usia 15 tahun, alamat...” sejenak ia terdiam, karena ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, sebab jika ia jujur, maka akan jadi pertanyaan bagi orang tentang hubungannya dan Zanjiil, akhirnya ia pun mengatakan alamat rumah orang tuanya.
“Alamat, jalan persatuan, gang sentosa nomor 02.”
Wah, ternyata dia peka juga, batin Zanjiil.
Lalu seorang siswa dengan paras tampan, suara maskulin, yang duduk di meja barisan ke empat bangku paling belakang, bertanya pada Kissky.
“Apa kau sudah punya pacar?” sontak semua orang menoleh ke pria tampan tersebut.
Lalu Kissky dengan cepat menjawab, “belum.”
__ADS_1
Zanjiil melirik tajam ke arah istrinya seraya tersenyum getir.
Siswa tampan dan meneduhkan hati itu berdiri dari duduknya dan berkata, “Nama ku Gibran, usia 16 tahun, senang menemukan mu kembali.” kata-kata Gibran membuat semua orang bertanya-tanya. Namun Kissky yang berpikir Gibran salah bicara hanya merespon dengan senyuman.
“Senang bertemu kau juga, semoga kita bisa menjadi teman karib ” ucap Kissky, lalu ia pun duduk kembali, begitu pula dengan Gibran.
Pada saat Giliran Zanjiil ia pun memperkenalkan dirinya. “Nama saya Zanjiil Rabbani, usia 16 tahun, alamat jalan Samudra Indah nomor 04.”
Wajah tampan Zanjiil membuat para siswi langsung jatuh hati, terlebih suami dari Kissky itu memiliki tubuh tinggi dan kekar, menambah kesan seksi dan hot di mata para gadis-gadis dalam kelas.
“Masih sendiri atau gimana bang?” tanya seorang siswi, lalu Luna yang ada di bangku depan langsung menyahut, sebelum Zanjiil menjawabnya.
“Aku pacarnya!” sontak anggota kelas tertawa terbahak-bahak. Kelas pagi yang baru di mulai hari itu menjadi hangat berkat tingkah unik dari setiap pelajarnya.
Pada saat istirahat pertama, Rizal yang ternyata sahabat Zanjiil dari SMP pun mulai berterus terang.
“Jiil, sepertinya aku jatuh hati beneran sama bu Riza,” ucapnya seraya memegang dadanya yang berdetak kencang.
“Kau gila ya, dia itu guru mu, jangan persulit posisinya di sekolah ini,” ujar Zanjiil.
“Apa salahnya, aku hanya mencintainya,” ungkap Rizal.
“Oh, ku pikir kau ada niat untuk pacaran dengannya,” ucap Zanjiil.
“Kalau bu Riza bersedia, apa salahnya!”
“Dasar aneh! Masih banyak perempuan lain, jangan pacari guru mu!” pekik Zanjiil, ia yang salah satu anak donatur sekolah itu pun tahu betul, bahwa seorang guru di larang keras memiliki hubungan dengan siswanya.
Saat mereka masih berbincang, Kissky yang akan keluar kelas bersama Liza pun di hentikan oleh Gibran.
Zanjiil yang melihat hal tersebut merasa penasaran.
Apa si Gibran beneran suka pada Kissky? batinnya.
“Apa bisa kita bicara sebentar?” permintaan Gibran membuat Kissky sedikit risih, sebab ia merasa tak nyaman di dekati orang yang baru di kenal.
“Maaf, aku sibuk.” Kissky menolak langsung ajakan Gibran.
“Hanya 3 menit, aku ingin menanyakan sesuatu pada mu, kalau aku salah, aku enggak akan menggangu mu lagi.” karena Gibran sudah berjanji, maka Kissky pun menyetujuinya
“Baiklah, hanya 3 menit ya,” ucap Kissky.
“Iya, tapi... hanya kau seorang.”
“Kenapa teman ku enggak boleh ikut?” Kissky sedikit ragu, untuk mengikuti Gibran atau tidak.
__ADS_1
...Bersambung......