Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 162 (Perjodohan)


__ADS_3

7 menit kemudian, Arsy keluar dari kamar mandi.


“Bagaimana sayang?” tanya Eric dengan antusias.


“Negatif Eric! Enggak akan jadi secepat itu juga kali!” kemudian Arsy memperlihatkan hasil tespek yang menunjukkan garis 1.


“Ya Tuhan, aku pikir sudah.” Eric merasa sedikit sedih.


“Kau marah??” Arsy berpikir kalau suaminya kecewa.


“Tidak, aku hanya merasa diriku kurang sehat, mungkin kita harus promil sejak sekarang.” Eric yang ingin anak, berencana untuk melakukan program hamil.


“Baiklah, mulai besok lauk kita toge tahu dan ikan-ikanan.” Arsy pun setuju dengan rencana suaminya.


“Arsy...” Eric mencolek pinggang istrinya.


“Apa lagi Eric?! Kau enggak cape apa?” Arsy tak suka jika suaminya bercanda saat ia ingin tidur.


“Olah raga yuk! Kalau mau cepat harus sering-sering,” ujar Eric.


“Besok saja, aku lelah, kata orang main menjelang subuh lebih oke, karena badan lebih fit!” Arsy menolak karena terlanjur ngantuk.


“Baiklah, kalau begitu.” Eric pun setuju karena ia sangat ingin ada jagoan kecil di antara mereka.


❤️


Pukul 21:00 malam Faiq baru sampai di rumah Pinkan di karenakan macet.


Ting tong! Faiq menekan bel rumah Pinkan dengan percaya diri penuh.


Krieeett...!!!


Pinkan membuka pintu rumahnya. Wajah cantik sang calon mertua nampak bercahaya malam itu. Hingga Faiq merasa terpesona.


Cantik, batin Faiq.


“Silahkan masuk pak,” ucap Pinkan.


“Eh, iya bu.” seketika Faiq tersadar dari kekagumannya.


Setelah mereka masuk ke dalam rumah, Pinkan mempersilahkan dosen anaknya untuk duduk.


“Tolong siapkan minum untuk pak Faiq.” titah Pinkan pada Artnya.


“Baik nyonya.” sahut sang Art.


“Oh ya pak, ada masalah apa sampai bapak datang ke rumah saya secara khusus?” tanya Pinkan.


“Bu.”


“Iya pak?”


“Saya ingin melamar Lula bu.”


“Hah!! Bapak ingin melamar anak saya??” Pinkan tersentak, pasalnya ia tak menyangka Faiq yang datang dari keluarga baik-baik suka dengan putrinya yang kasar dan tidak ada aturan.


“Iya bu, tolong izinkan saya untuk menikahi anak ibu, saya berjanji akan menyayanginya sepenuh hati saya.” Faiq menyatakan keseriusannya pada Pinkan.

__ADS_1


“Gimana ya pak, saya sih setuju saja, tapi... saya perlu menanyakan hal ini pada Lula.” meski Pinkan setuju, tapi dirinya perlu menanyakan kesediaan putrinya.


“Baiklah bu, lusa saya akan kesini bersama kedua orang tua saya.” ketulusan Faiq membuat Pinkan terharu.


Ia juga tak menyangka, jika hatinya akan bahagia hanya karena putrinya di lamar oleh seorang pria baik-baik.


“Begitu juga boleh pak.” ucap Pinkan dengan tersenyum hangat.


“Tolong bujuk Lula bu. Agar mau pada saya.” kemudian Faiq bangkit dari duduknya.


“Insya Allah akan saya lakukan pak.” Pinkan dan Faiq pun saling berjabat tangan.


“Terimakasih banyak bu. Saya permisi pulang dulu.” kemudian Faiq beranjak dari rumah Pinkan.


Pinkan pun mengantar calon menantunya ke depan pintu.


“Saya pulang bu.”


“Iya pak.” sahut Pinkan.


Setelah Faiq pergi, Pinkan menutup pintu rumahnya.


Ia yang sudah tak sabar menjadikan Faiq sebagai menantunya, segera mendial nomor putrinya.


Halo, kau dimana Lula? 📲 Pinkan.


Di rumah, ada apa ma? 📲 Lula.


Besok, datang ke rumah, mama ada misi penting untuk mu. 📲 Pinkan.


Sudahlah, jangan banyak tanya, datang saja besok! Awas saja kalau kau sampai tak datang, mama acak-acak muka mu!! 📲 Pinkan.


Pinkan mengancam agar putrinya datang tepat waktu.


Baiklah, ku harap mama enggak kasih misi ecek-ecek pada ku. 📲 Lula.


Iya! Ya sudah kalau begitu, mama tutup dulu, jangan begadang kau! 📲 Pinkan.


Iya mama. 📲 Lula.


Setelah itu, Pinkan langsung mematikan sambungan teleponnya dengan putrinya.


“Pokoknya, Faiq harus jadi menantu ku, aku tak mau Basuki yang mencari jodoh untuk Lula, bisa-bisa dia di nikahkan dengan para ajudannya lagi, bisa gawat masa depan anak ku, setidaknya amal dan dosa harus seimbang.” Pinkan yang suka Faiq, ingin putrinya menikah dengan pria tampan dan pintar itu.


🏵️


Lula yang ada di rumah malah garuk-garuk kepala.


Sebab sang ibu bersikap aneh. “Ya Tuhan, mama kenapa lagi sih?!” Lula tak suka dengan perubahan suasana ibunya yang sering berganti secara tiba-tiba.


Lula yang ingin masuk ke kamarnya melihat Basuki yang sedang duduk di sofa.


Lula yang ngantuk tak menyapa sang ayah. Namun Basuki yang melihat Lula langusung memanggil putrinya.


“Hei Lula, kemarilah!” ucap Basuki.


Kemudian Lula mendatangi sang ayah ke sofa.

__ADS_1


“Ada apa pa?” ucap Lula seraya mendaratkan bokongnya ke sofa.


“Bagaimana menurut mu pria ini?” Basuki menunjukkan photo yang ada di tangan kanannya.


Yang menunjukkan seorang pria perkasa, tinggi, tampan dan juga jago pukul.


“Ini si Tejo kan pa?” ternyata Lula mengenali orang kepercayaan ayahnya.


“Iya, benar. Dia tampan kan?!” ujar Basuki penuh senyum.


“Terus, kalau dia tampan, aku harus menikah dengannya?” Lula sudah curiga duluan dengan rencana ayahnya.


“Bukankah tipe mu yang seperti ini?” ucap Basuki dengan perasaan yakin.


“Siapa bilang? Aku sudah punya pacar, jangan jodohkan aku dengan siapapun, aku menolak papa!” Lula yang marah bangkit dari duduknya.


“Siapa yang kau maksud dengan pacar? Laki-laki perjaka tua itu? Hah!? Kau belum putus juga dengannya?” Basuki tak suka dengan hubungan anaknya yang usia yang jauh dengan kekasih putrinya.


“Iya, benar, aku akan menikah, jika dia laki-lakinya!” Lula yang setia, tak mau meninggalkan kekasih bujang lapuknya.


“Astaga, sepertinya kau kena pelet sambal mersem oleh pacar mu!” ucap Basuki dengan sembarang.


“Enak saja! Sudah ah pa! Aku mau tidur!” Lula yang tak suka, meninggalkan ayahnya begitu saja.


Setelah Lula berada dalam kamarnya, ia pun melihat photo kebersamaannya dengan kekasihnya yang telah senja.


“Mana mungkin ada yang bisa menggantikan mu di hatiku.” Lula mengecup photo kekasihnya


Setelah itu, ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


🏵️


Pagi harinya, Liza yang telah menitipkan anak-anaknya pada orang tuanya dan juga Basuki memutuskan untuk menuju Bandung dengan suaminya.


Mereka yang menaiki mobil pribadi, sudah seperti kencan, sebab dalam mobil hanya ada mereka berdua.


“Sayang, kita tak usah pergi ya, kasihan Aji dan Eza, mereka pasti rindu kita, kau juga lagi hamil besar loh.” Gibran merasa iba dengan kedua putranya.


“Tidak sayang, kita tetap pergi, karena aku ingin menghajar selingkuhan mu.” Liza yang penasaran tak mau mengurungkan niatnya.


“Baiklah sayang.” setelah itu Gibran menyalakan mesin mobil, dan mulai membelah jalan raya.


🏵️


Leon yang berada di rumah Basuki di jaga oleh Lula.


“Leon, kau libur sekolah hanya karena ibu mu pergi ke Bandung, untuk liburan?” ucap Lula.


“Iya, enggak apa-apakan tan? Lagi pula kasihan mama, cape setiap hari mengus kami, tapi tak pernah cari angin.” terang Leon.


“Oh, kau benar juga, oh ya... sebelum tante pergi ke rumah nenek, kau mau tidak latihan dengan tante?” Lula berniat akan mengasah naluri membunuh Leon.


“Boleh tan, memangnya hari ini kita mau membedah apa??” tanya Leon penasaran.


“Ular kobra,” sahut Lula dengan tersenyum lepas.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2