Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 32 (Main Gila)


__ADS_3

“Sudah, terima Ky!” Gibran menyakinkan Kissky untuk menerima pemberian Jenny.


“Terimaksih banyak tan.” ucapnya. Lalu Jenny menyerahkan cincin tersebut kepada Kissky.


“Nah, kalau ini, baju-baju dari Turki!” Jenny memberi Liza dan Kissky, masing-masing 3 tas besar, yang isinya baju dan makanan khas Turki.


Kissky dan Liza begitu senang mendapat hadiah dari Jenny.


Setelah selesai makan, Jenny membawa kedua sahabat karib itu ke ruang tamu untuk mengobrol, Liza tak menyia-nyiakan kesempatan untuk pencitraan pada calon mertuanya.


Setalah pukul pukul 18:00 malam, Kissky dan Liza memutuskan untuk pulang.


“Ayo Ky, ku antar.” ucap Gibran.


“Ehm, terimakasih banyak, tapi aku pulang naik taksi saja.” Kissky menolak tawaran Gibran, karena takut rahasianya ketahuan.


Liza yang berpikir, Kissky ingin memberi privasi padanya dan Gibran melempar senyum lebar pada sang sahabat.


“Hati-hati ya Ky!” ucap Liza, seraya menepuk-nepuk lengan Kissky, agar segera memesan mobil online.


“Tapi... inikan sudah malam.” Gibran merasa bertanggung jawab atas keselamatan Kissky.


“Aku sudah pesan mobil, sebentar lagi akan di datang.” tak lama, mobil yang di pesan Kissky pun tiba di pintu utama.


Alhasil Gibran tak bisa berbuat apapun, ia yang berharap bisa lebih lama mengobrol dengan Kissky harus pupus.


“Aku duluan ya, Gibran, Liza dan tante!” Kissky melambaikan tangannya.


“Hati-hati,” ucap ketiganya.


Kissky merasa senang, karena Gibran dan Jenny begitu baik padanya.


“Beruntungnya Gibran, bisa dapat keluarga sebaik itu,” gumam Kissky.

__ADS_1


Lalu ia menatap senja merah yang berangsur hilang, di gantikan oleh langit malam.


Ku rasa, Luna sudah pulang kalau jam segini, batin Kissky.


Ia pun melirik ke arah jam di ponselnya, yang telah menunjukkan pukul 18.30 malam.


Tanpa terasa, ia telah sampai di pintu utama rumahnya.


Kissky pun turun dengan menjinjing 3 tas oleh-oleh dari Jenny.


“Aku sudah tak sabar, mau makan roti simit, dan juga... aku mau coba baju-baju keren yang tante Jenny berikan!” Kissky yang sudah tak sabar segera naik ke lantai 2.


Setelah menaiki anak tangga yang membuat kakinya pegal, tanpa sengaja netranya yang mengarah lurus ke balkon menyaksikan Zanjiil yang tengah duduk di atas bangku memangku Luna, keduanya sibuk bercumbu mesra, tanpa tahu waktu.


Kissky pun menundukkan pandanganya, Dia belum pulang? Apa Zanjiil enggak takut ketahuan sama orang rumah? batinnya.


Ia yang tak ingin mengganggu momen mesra sang suami dan kekasihnya, memilih balik kanan.


Pada hal aku istrinya, tapi kenapa aku yang harus bersembunyi?? batin Kissky.


Perlahan ia turun, Zanjiil yang telah selesai melakukan peraduannya dengan Luna, melihat punggung Kissky yang semakin hilang, saat menuruni anak tangga.


Apa dia melihat ku? batin Zanjiil.


“Lun, sudah malam, sebaiknya kau pulang.” Zanjiil menyuruh kekasihnya untuk pulang, sebab kehadiran Kissky membuat Zanjiil tak nyaman.


“Kau antar aku pulangkan?” Luna yang manja, menyandarkan kepalanya di dada bidang Zanjiil.


“Maaf, aku lupa harus menjemput mama ke kantor, kau pulang di antar supir saja ya,” ucap Zanjiil.


“Masa kau tega memulangkan ku dengan supir? Itu enggak sekelas dengan ku!” Luna tak rela, bila harus di antar oleh Dimas.


“Maaf Lun, tapi mama menunggu ku!” ucap Zanjiil

__ADS_1


Luna tak bisa berbuat apapun, karena Zanjiil memberi alasan tentang ibunya.


Ia pun berkemas, lalu turun di antar oleh Zanjiil menuju pintu keluar yang ada di dekat garasi mobil keluarganya.


“Hati-hati di jalan sayang.” Zanjiil mengecup kening Luna.


“Iya sayang.” Luna pun membalas ciuman yang Zanjiil berikan di tempat yang sama. Setelah itu, ia pun pulang di antar oleh Dimas.


Setelah Luna pergi, Zanjiil masuk kembali ke dalam rumah. Ia pun menghampiri Kissky yang duduk di ruang tamu dengan berpangku tangan.


“Kau sudah pulang?” sapa Zanjiil, seraya duduk di hadapan Kissky.


“Iya.” Kissky yang lelah, bangkit dari duduknya, dengan menjinjing 3 tas belanja yang di berikan oleh Jenny.


“Kau habis belanja?” tanya Zanjiil. Karena ia melihat, tangan Kissky penuh dengan tas belanjaan bermerek.


Dapat uang dari mana dia? Apa Gibran yang membayarnya? batin Zanjiil.


“Enggak.” jawab singkat Kissky, ia yang akan beranjak di hentikan oleh Zanjiil.


“Lalu, dapat dari mana barang-barang yang ada dalam tas mu? Kau pasti tahu, itu nilainya bukan ratusan ribu.” Zanjiil semakin curiga pada istrinya.


“Kau benar, bahkan aku punya ini.” Kissky menunjukkan cincin Celline dengan harga 1 Milyar pada suaminya.


“Kau dapat darimana semua ini? Pada hal kau baru beberapa jam di luar!” Zanjiil yang mengira istrinya main gila dengan Gibran atau pria hidung belang lainnya, mulai naik pitam.


“Asalnya darimana, kau tak perlu tahu! Sudah, aku mau ke kamar!”


“Huwl! Kau enggak jual diri untuk membeli semua barang itukan?!”


Sontak Kissky tersinggung atas tuduhan suaminya.


“Apa?!” Kissky yang tak terima di fitnah memberi tatapan tajam pada suaminya.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2