Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 133 (Surat Cinta)


__ADS_3

Basuki sungguh hancur kali itu. Apakah aku salah mengambil keputusan? batin Basuki.


Ia tak hentinya bertanya pada hatinya yang paling dalam.


“Basuki, kenapa kau tak sekalian menghabisi anaknya juga? Aku baru tahu dari Lula, kalau kau menanggung kebutuhan putranya, bahkan kau mempekerjakannya juga, kalau dia tahu masalah ibunya, sudah jelas, kau akan jadi sasaran balas dendamnya.” Berli merasa yakin kalau Joe akan menuntut balas kematian Esra.


“Aku takkan melakukan itu, karena Joe tidak bersalah atas hubungan kami,” ucap Basuki.


“Hum... sepertinya kau sangat menyayangi anak itu, tapi... hati-hati, biasanya peliharaan bisa juga menggigit majikannya. Hah!!!” Berli meregangkan otot-otot tubuhnya.


“Mama mau makan dulu, kau lanjutkan pekerjaan mu, karena mama mau pulang cepat besok.” Berli yang begadang menemani putranya memutuskan untuk istirahat sejenak.


Setelah ibunya pergi, Basuki mengepal tangannya. “Kenapa selalu Lula yang berbuat ulah, anak itu... paling suka membuat onar.” Basuki kesal pada putri satu-satunya.


🏵️


Setelah pulang sekolah, Lula menemui Faiq di ruang guru.


“Mana surat panggilannya pak?” meski tak ingin namun Lula terpaksa mengikuti kemauan gurunya.


“Ini.” Faiq yang telah menyiapkan sebelumnya memberikannya pada siswinya. “Besok salah satu wali mu wajib datang, kalau tidak, tiada ampun bagi mu.” sikap tegas Faiq membuat Lula sakit kepala.


“Iya, baiklah, apa masih ada yang ingin kau katakan pak?” Lula berharap Faiq bicara soal kematian kakeknya.


“Kau akan menyesal atas dosa yang kau lalukan.” pernyataan Faiq membuat wajah Lula berubah jadi kaku.


“Tidak ada yang perlu di sesalkan, karena semua itu adalah takdir.” Lula tahu apa yang di maksud oleh gurunya.


“Saya permisi pak.” saat Lula ingin pergi Faiq menghentikan langkahnya.


“Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau melakukan itu?” ruang guru yang sunyi membuat Faiq leluasa untuk menanyakan apa yang mengganjal dalam hatinya.


Ternyata kau tahu, apa setelah ini kau akan lapor polisi? batin Lula.


“Saya, Lula Rabbani, dan aku tak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaan bapak, kalau tak ada lagi yang perlu, saya mau pulang.” Lula pun keluar dari kantor guru.


“Sebaiknya aku bunuh dia.” setelah itu Lula bergegas menuju parkiran sekolah, ia yang di beri tugas oleh sang ibu segera menuju kantor Angels Hand.


🏵️


Pinkan yang sedang duduk di kursi panas suaminya kembali mengingat wajah Basuki yang menyedihkan.

__ADS_1


“Apa mungkin, kami bisa memulainya lagi dari awal? Tapi jujur, hati ku ingin berpisah.” Pinkan yang ingin cerai harus terhalang oleh kedua mertuanya yang mengerikan.


“Sudah jelas, kalau mama kasih perintah, semua orang akan melaksanakannya, aku bisa apa, meski pun aku menantu, tetap perintah mama dan papa yang paling akurat.” Pinkan menjadi bingung akan keputusannya.


“Menyedihkan sekali kalau aku tetap bersamanya.” di tengah kepalanya yang pusing tiba-tiba Lula datang.


Krieett...


Dengan perlahan Lula membuka pintu ruangan ayahnya.


“Mama cantik.” ucap Lula dengan lembut, sebab ia ingin mengambil hati sang ibu agar tak kena marah.


“Ada apa La?” Pinkan menoleh ke arah putrinya yang berdiri di pintu.


“Mama sudah makan?” lalu Lula masuk ke dalam ruangan ayahnya dan meletakkan makan siang untuk ibunya di atas meja.


“Belum, kau tak lihat kerjaan mama menumpuk?” Pinkan menunjuk ke arah file yang ada di atas meja suaminya. “Hei, kenapa kau kemari? Bukannya mama bilang kau ke kantor?” Pinkan baru ingat akan titahnya pada sang putri.


“Ehm begini ma...” Lula ragu untuk memberi surat panggilannya pada sang ibu.


“Ada apa? Jangan bertele-tele deh! Mama lagi sibuk?!” Pinkan yang cerewet membuat Lula makin jantungan.


Enggak terbayang kalau aku kasih di rumah, pasti seluruh keluarga akan mendakwa ku, batin Lula.


“Apa ini?” Pinkan mengernyitkan dahinya


“Buka saja ma.” ucap Lula dengan suara redup.


Dengan wajah tak ikhlas, Pinkan pun menyobek ujung surat yang di beri putrinya.


Sreekkk!!


Ketika Pinkan membacanya, matanya langsung membelalak.


”Apa ini?!” suara Pinkan yang bagai petir membuat Lula gemetaran.


“Maaf ma, itu dari guru yang membenci ku,” terang Lula.


“Jangan banyak alasan kau! Di Tunas bangsa juga kau brandalnya, kenapa sekarang kau berani menyalahkan guru mu?!” Pinkan yang pusing dengan segala masalah pekerjaan dan juga perasaannya, langsung bangkit dari duduknya.


Nyut!!

__ADS_1


Pinkan menjewer telinga Lula dengan sangat kuat.


“Mama, ampun ma... aku enggak bersalah ma,” Lula membela dirinya.


“Jangan asal kau ya kalau bicara! Kalau kau baik, pasti guru mu tidak akan memberi surat cinta ke mama!” Pinkan yang marah akan kebohongan Lula berencana menghukum putrinya.


”Mama... ampun...” meski jeweran di telinganya tak sebanding dengan mencabut nyawa orang lain, namun bagi Lula itu lebih menyeramkan jika di lakukan oleh ibunya.


“Heh! Sebagai hukumannya, dalam sebulan penuh, kau harus ke kantor, dan mama akan meminta guru-guru mu untuk mengawasi mu di sekolah, setiap hari mereka akan mengirim dokumentasi belajar mu! Kalau kau berani macam-macam lagi, mama enggak akan pikir 2 kali untuk mengembalikan mu ke Tunas Bangsa.” pekik Lula.


“Mama... kok ancamannya banyak banget? Aku masih anak di bawah umur loh ma, harusnya kerjaan ku masih main bongkar pasang, lompat tali dan nonton Doraemon.” Lula menuntut hak masa kecilnya.


Nyutt!!


Pinkan mencubit perut atletis putrinya. “Malu sama badan kau! Iya kali kau main lompat tali, pokoknya enggak ada protes, mama enggak akan terima, kalau sudah mengerti, tinggalkan ruangan ini!” meski Lula putri kandungnya, namun Pinkan hampir tak pernah menunjukkan kasih sayangnya.


“Belajar Khyokushin enggak jadi ma?” tanya Lula mengalihkan pembicaraan.


“Bulan depan, oh ya... hati-hati kalau dekat dengan Joe, karena sewaktu-waktu dia bisa meledak, sebentar lagi juga dia akan tahu, kalau ibunya telah mati.” meski Lula hebat dan pembunuh berantai nomor satu di Angel's Hand, namun yang namanya seorang ibu pasti khawatir pada keselamatan anaknya.


“Iya ma, terimakasih sudah kasih perhatian, meskipun hanya setitik,” ucap Lula.


“Jangan pancing amarah mama lagi Lula.” Pinkan tak suka jika putrinya bercanda.


“Iya ma. Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu.” Lula yang juga banyak pekerjaan memutuskan untuk pergi.


“Baiklah, hati-hati di jalan,” ujar Pinkan.


“Iya ma.” kemudian Lula keluar dari ruang kerja ayahnya.


“Dasar Faiq! Awas saja kau!” gumam Lula.


🏵️


Tet... tet... tet... Bel tanda pelajaran selesai pun berbunyi.


“Cepat! Cepat..!!” Liza mengemas seluruh barang-barangnya ke dalam tasnya.


“Kita ke bioskop mana?” tanya Kissky.


“Ke pusat kota saja, habis nonton kita jalan-jalan ke mall, sambil main photo box.” Liza yang telah merencanakan kencan itu jauh-jauh hari sudah tahu apa saja yang akan dia lakukan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2