Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 153 (Jlub)


__ADS_3

Setelah itu, keduanya pun masuk ke dalam mobil.


“Kita mau kemana?” tanya Arsy, sebab Eric belum memberitahu tujuan mereka.


“Ke pantai!” ucap Eric.


“Di belakang rumah ku kan ada pantai, bagaimana kalau kita di situ saja?” Arsy yang malas bepergian mengusulkan ke laut yabg ada di belakang rumahnya.


“Mana seru kalau disitu.” Eric tersenyum pada Arsy.


“Iya, kau benar juga, hah... ya sudah, ayolah kemana pun kau mau!” ucap Arsy.


Ia berpikir kalau pikiran Eric lurus, tidak ada tikungan sama sekali.


“Baiklah kalau begitu!” kemudian Eric melajukan mobilnya. Menuju Bandara.


“Kau sudah makan belum?” tanya Eric, sebab ia takut kalau Arsy kelaparan.


“Sudah.” jawab Arsy singkat.


“Kau tak tanya aku sudah makan apa belum?” Eric berharap di sapa juga oleh Arsy.


“Memangnya kalau aku tanya perut mu akan kenyang?” sikap judes Arsy membuat Eric terhibur.


“Manis banget sih? Marah lagi dong!” Eric mencubit dagu istrinya.


“Eric, aku bukan anak-anak lagi, aku enggak suka kau bercanda tak penting pada ku!” pekik Arsy.


“Kau sendiri yang menunjukkan dirimu belum dewasa, lagi pula dengan mu, aku merasa muda lagi, hahaha!” Eric tertawa lepas.


“Enggak bisa di percaya, umurnya saja yang sudah tua, tapi pikirannya masih kanak-kanak!” Arsy geleng-geleng kepala.


“Tepat sekali, ayo kita ulang masa-masa kita yang telah hilang?!” Eric memegang tangan Arsy.


“E e eh... kau mau bawa aku kemana?” Arsy merasa aneh, karena Eric membawanya masuk tol.


“Pulang!”


Brummm!!!!


Eric melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


“Hentikan! Aku tak mau pergi dengan mu, sekarang kampung ku disini!” Arsy menolak untuk ikut.


“Siapa bilang? Aku suami mu, ikut aku kemana pun, selama status kita masih sah! Enak saja kau mau main nikah dengan orang lain! Memangnya kau ayam?!” pekik Eric.


“Putar balik enggak?!” Arsy menggertakkan giginya.


“Enggak! Memangnya aku sebodoh itu apa?!Mencari mu cape-cape selama 10 tahun, sudah dapat mau di lepas lagi? situ waras?” Eric tertawa getir.


“Dasar ular!” Arsy yang marah karena di bohongi membuka pintu mobil.


Ceklek!


“Kau mau apa?!” pekik Eric.


“Putar balik, atau aku turun sendiri?!” Arsy mengancam Eric dengan wajah serius.


“Lompat saja kalau berani!” Eric menantang Arsy.

__ADS_1


Gila! Apa dia ingin aku benar-benar mati? batin Arsy.


Arsy yang nyalinya hangat-hangat bokong ayam, membatalkan niatnya untuk keluar mobil.


“Kok enggak jadi?” Eric tertawa getir. “Takut ya?” Erix meledek istrinya.


“Sialan!” kemudian Arsy membuka pintu mobil lebih lebar, selanjutnya ia pun mengeluarkan kakinya.


Sruk sruk Cit!!!


“Akh!!” teriak Arsy karena terkejut Eric melakukan rem mendadak di pinggir jalan yang rinbun akan daun pepohonan.


Mata Eric membelalak menatap ke wajah Arsy.


Arsy yang tak perduli membuka sabuk pengamannya.


Lalu Eric dengan cepat menahan tangan Arsy yang ingin turun dari mobilnya.


“Lepaskan aku!” pekik Arsy.


Plak!


Eric menampar wajah istrinya dengan keras. Arsy yang menerima perlakuan kasar itu tentu tak terima.


“Apa kau ingin membunuh ku?!” pekik Arsy.


Namun Eric lagsung keluar dari dalam mobil. Selanjutnya ia menarik tangan Arsy untuk keluar dari dalam mobil juga.


“Apa-apaan sih kau!” Arsy mencoba melepaskan tangannya dari genggangan Erat Eric.


“Tutup mulut mu!” kemudian Eric membuka pintu mobil belakang, dan memasukkan tubuh Arsy secara paksa.


Mata keduanya saling beradu pandang. Arsy yang tak suka akan momen itu mencoba bangkit, namun Eric dengan cepat menyambar bibirnya.


“Um.. um...” Arsy mendorong tubuh Eric yang ada di atasnya.


Kemudian Eric melepas ciumannya, dan membantu Arsy duduk.


“Goblok ya! Makin enggak ada sopan santunnya kau!” Arsy menarik rambut Eric.


Namun Eric tak perduli, ia malah memeluk Arsy dengan erat.


“Arsy, aku rindu kau!” Eric yang sudah 10 tahun menunda melucuti baju Arsy.


“Jangan! Mau apa kau! Lepaskan aku!” Arsy mendorong tubu Eric.


Namun Eric yang ingin membawa istrinya pulang ke rumah, tak mau mendengarkan. Ia pun mengunci pergerakan Arsy hingga wanita mungil itu tak bisa berbuat apapun.


Eric terus saja membuka resletng dress istrinya yang ada dari belakang meski Arsy terus menolak.


Rekkk....


Perlahan punggung mulus yang pernah ia lihat di masa lalu, ia saksikan kembali.


Sentuhan tangan Eric membuat Arsy merinding.


“Eric! Jangan lakukan itu! Besok aku mau nenikah!” mata Arsy berkaca-kaca, meminta agar tak menodainya. “Aku mohon, aku tak mau melakukannya dengan mu, lepaskan aku!”


“Arsy. Aku sudah lama berdosa karena mengabaikan tugas kita satu sama lain. Arsy! Aku tak rela, bila laki-laki lain menyentuh mu, kau milik ku seutuhnya.”

__ADS_1


setelah mengatakan hal itu. Eric membuka seluruh bajunya dan Arsy. Mereka yang tak di balut busana membuat jantung Arsy mau copot.


Tubuh Arsy yang gemulai membuat Eric panas dingin.


“Hiks... teganya kau pada ku, kau telah 2 kali mengancurkan hatiku. Brengsek!” Arsy mengoceh dengan mata tertutup.


Sebab ia tak sanggup bila bertemu mata dengan Eric yang ada di atasnya.


“Maaf, kalau aku egois, tapi aku ingin pernikahan kita utuh sampai kakek nenek!”


Jlub!


“Kau menjaganya untuk ku?” Eric mengecup kening Arsy yang ada di bawahnya.


“Jahat!” teriak Arsy.


“Biar saja!” kemudian Eric mencampuri Arsy yang masih suci. Meski isak tangis wanita itu bergema di telinganya. Namun Eric tak perduli. Ia tetap mengerjakan apa yang ia telah rencanakan.


“Hiks... sakit... sakit...” Arsy meringis karena merasa perih dan nyeri di bagian sensitifnya.


“Sabar...” ucap Eric dengan nafas memburu, dan keringat bercucuran.


Harapan untuk menbina rumah tangga dengn Devan hancur lebur.


Ia yang telah menyatu dengan Eric, sang suami pertama membuat Arsy merasa tak pantas jika bersama Devan lagi.


“Akh!” Eric yang telah mencapai puncak mengecup kening Arsy lembut.


Arsy yang marah dan juga merasa malu tak mau melihat wajah Eric lagi.


Perlahan Eric melihat, darah segara keluar di antara paha mulus istrinya.


“Jorok!” guma Eric.


Ia pun mengambil tisu dan memberishkan milik istrinya.


“Hei, kau tak mau pakai baju?! Atau mau aku bantu pakai baju?” pertanyaan Eric membuat Arsy naik pitam.


Namun ia terlalu malu untuk menoleh ke arah Eric.


Ia yang masih berbaring di atas kursi pelahan bangun.


“Jangan menangis, kitakan bukan zinah, lagi pula kau istri sah ku!” Eric mencubit dagu Arsy.


Plak!


Arsy menepis tangan Eric. “Brengsek! Bangsat!” umpat Arsy.


Eric yang mendapat kata-kata kasar, langsung naik darah!


Bruk!


Ia kembali mendorong tubuh Arsy ke atas kursi.


“Ma-mau apa lagi kau?!” mata Arsy semakin basah akan air mata.


“Lanjut! Sampai isi!” Eric kembali menggauli istrinya yang masih merasa kesakitan.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2