Pernikahan Berdarah!

Pernikahan Berdarah!
Bab 130 (Menangis)


__ADS_3

Basuki tertunduk lesu mendengar penuturan kedua orang tuanya.


Hatinya yang gundah masih teringat akan wajah ceria Esra semasa hidup.


“Dimana mayatnya?” tanya Berli, ia takut jika putranya saat itu membohongi mereka lagi.


“Di garasi.” ucap Basuki dengan wajah yang muram.


“Bawa dia ke ruang basement, sebagai hukuman bagi mu, jadikan dia patung! Mama akan memantau pekerjaan mu, kau harus menyelesaikannya dalam 3 hari, karena mama akan membawanya ke kampung, lumayankan hiasan di depan pintu, apa ada mayat lainnya Pinkan?” tanya Berli.


“Ada ma, patung mantannya Zanjiil,” terang Pinkan.


Sontak Basuki melihat ke arah istrinya. ”Kau membunuh gadis itu juga?” Basuki tak percaya dengan kegilaan istrinya.


“Statusnyakan sama dengan Esra, jadi menurut ku itu tak salah sana sekali.” Pinkan yang tak merasa bersalah merasa semua biasa-biasa saja.


“Betul kata Pinkan, harusnya kau sudah tahu itukan? Pengkhianat atau perusuh di keluarga Rabbani harus di tumpas habis!” Musa setuju dengan pendapat menantunya.


Basuki menatap nanar ke semua anggota keluarganya.


Kenapa, rasanya mereka semua terlihat aneh? batin Basuki.


Ia yang terbiasa dengan kasih sayang Esra, perlahan merasa semua yang di lakukan anggota keluarganya salah.


Namun ia yang hidup di lingkungan berdarah, tak dapat beranjak begitu saja.


“Mama mau patung gadis itu juga, hum... rasanya bahagia sekali mendapat souvernir dari kalian berdua, tak sia-sia mama datang kemari.” Berli begitu bahagia dengan dua patung yang akan ia bawa pulang.


“Berdamailah kalian berdua, Basuki, papa dan mama tak ingin, ada masalah di keluarga kalian lagi! Awas saja, kalau di antara kalian semua ada yang membuat kami pusing.” Musa yang lelah bangkit dari duduknya.


“Mama, papa ngantuk, ayo kita istirahat.” Musa mengajak istrinya menuju ke kamar.


“Papa saja duluan, mama mau mengawasi anak nakal ini!” Berli yang hilang kepercayaan pada Basuki berencana menemani putranya dalam pembuatan patung Esra.


“Baiklah kalau begitu.” Musa pun menuju ke kamar terlebih dahulu.


”Ayo, Basuki. Pinkan, kau juga ikut, Bantu suami mu memisahkan organ-organ madu mu, lumayankan, sekalian balas dendam.” Berli tertawa menyeringai.


“Oke ma,” sahut Pinkan.


Atas permintaan sang ibu mertua, Pinkan mendampingi Basuki menuju ruang bawah tanah, tempat biasa mereka melakukan pembedahan kalau di rumah.


Basuki pun terlebih dahulu mengambil mayat Esra dari mobil, setelah itu membawa ke basement.


Sesampainya mereka, ternyata Winda sudah ada disana.


“Winda, kau tak usah ikut mengerjakannya, biar Basuki dan Pinkan saja, karena ini masalah hati, hehehe...” Berli begitu girang melihat tumbangnya istri kedua putranya.

__ADS_1


“Baik nyonya.” Winda yang hanya seorang kaki tangan, menurut apa yang di perintahkan majikannya.


Kemudian Basuki meletakkan kekasih hatinya di atas bathub.


Tangannya pun bergetar, saat Pinkan memberinya pisau bedah yang teramat tajam padanya.


Basuki, sang kepala mafia, menyayat bagian tubuh istrinya dengan air matanya terus mengalir, terlebih saat mengambil orang demi organ milik Esra.


Wajah cantik Esra pun perlahan mulai membiru dan kaku.


Meski Pinkan membenci Esra dan suaminya, namun ia tak tega, saat Basuki terus menangisi apa yang di lakukannya pada istri keduanya.


Ternyata begitu rasanya di cintai, meski Esra harus berakhir di tangan Basuki, namun hati Basuki terus bersamanya, batin Pinkan.


Pinkan merasa sedikit bersalah, bagaimana pun, masalah hati tak bisa di paksakan, andai ia dan suaminya tak bertengkar di depan anak-anak mereka, pasti Lula takkan mengadu pada kakek neneknya.


🏵️


Kissky yang berada di kamarnya bersama Zanjiil sedang asyik bermain ludo online.


“Hei! Apa yang kau lakukan! Kaukan tidak menang! Cepat jongkok!” Zanjiil yang kalah di putaran pertama mendapat hukuman dari Kissky.


“Kaki ku sakit, aku duduk saja ya.” Zanjiil yang curang tak ingin mengikuti apa kata istrinya.


“Enggak bisa begitu!” Kissky yang ingin menyiksa Zanjiil tak mengizinkan lelaki tampan itu untuk duduk.


“Hufff!!” Fi menghela nafas panjang. “Baiklah, kalau begitu, kau mau hukuman lain tidak?” tanya Kissky.


“Apa itu?”


“Telinga mu di sentil lima kali!" ujar Kissky.


“Enak saja! Enggak, akukan kalah sekali, masa di sentil 5 kali, yang benar saja!” Zanjiil tetap menolak hukuman dari Kissky.


“Akhh! Dasar cowok rese!” Kissky yang emosi menarik rambut indah suaminya. “Apa-apa kau, semua serba tidak mau!” pekik Kissky.


“Yang ngajak main ludokan kau! Bukan aku!” Zanjiil memarahi kembali istrinya.


“Habis kita berdua enggak ada kegiatan! Jalan-jalan kau enggak mau.” ucap Kissky.


“Eh, goblok! Bukannya besok kita ada PR seni?!” Zanjiil baru teringat akan tugas yang diberikan oleh guru mereka.


”Kau benar juga biawak! Aduh! Bagaimana ini?” keduanya pun menjadi panik.


”Ayo, minta bantuan Lula, diakan pintar cari kunci lagu.” pekerjaan rumah mereka kali itu adalah mengarang sebuah lagu.


“Ayo, cepat!” Keduanya pun turun ke lantai 1 menuju kamar Lula.

__ADS_1


Sesampainya mereka di depan pintu kamar Lula, Zanjiil pun mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk.


Tok tok tok!


Ceklek!


Lula yang belum tidur membuka pintu. “Ada perlu apa kalian berdua menemui ku?” tanya Lula dengan wajah sinis, sebab ia masih kesal karena tak bisa menguping pembicaraan orang tua dan kakek neneknya.


“Bantu kami mencari kunci lagu ini!” ucap Zanjiil seraya menunjukkan lagu karangannya.


“Aku juga ya Lula, adik ku yang cantik!” Kissky memuji paras adiknya iparnya.


”Hum... baiklah, sebagai upahnya, kalian harus kasih aku uang jajan selama sebulan.” Lula yang ingin membantu meminta bayaran pada abang dan kakak iparnya.


“Baiklah, berapa La?” tanya Kissky.


“300 juga perorang,” jawab Lula.


“300? Kau gila ya? Jajan mu sebanyak itu?" mata Fi membelalak sempurna.


“Iya, kalau enggak mau ya sudah.” Lula tak bersedia ada penawaran kali itu.


“Baiklah.” ucap Zanjiil.


“Hei!” Kissky menepuk punggung suaminya.


“Apa?” tanya Zanjiil.


“Aku mana mampu bayar segitu?” Fi yang tak punya penghasilan merasa keberatan dengan harga yang di katakan Lula.


“Kan aku yang bayar. Baiklah, kami mau.” setelah sama-sama setuju, mereka bertiga pun menuju ruang seni yang ada di lantai 4.


Lumayan, modal buat beli mobil, beruntung juga punya saudara kurang ilmu, batin Lula.


🏵️


Keesokan harinya, Joe yang pulang ke rumah tak mendapati ibunya dimana pun.


“Ma? Mama!!” Joe sibuk mencari ibunya segala tempat, saat ia mendial nomor sang ibu, Joe merasa aneh, karena tak biasanya Esra menonaktifkan handphonenya.


”Apa mama dan papa pergi liburan lagi?” Joe yang berpikir positif tak tahu kalau ibunya telah meninggalkannya untuk selamanya.


Ia yang sendiri di dalam rumah, menyiapkan roti panggang sebagai sarapan paginya sebelum pergi sekolah.


“Harusnya aku tak usah pulang kalau tahu begini, mama pergi berapa hari ya sama papa? andaikan masih lama, aku akan menginap di kosan Liza sampai mama kembali.” Joe yang merasa semua baik-baik saja, berencana mengabiskan waktu bersama Liza kekasih yang sangat ia sayangi.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2