
📲 “Halo, Za,” Gibran.
📲 “Halo, kau lagi apa Bran?” Liza.
📲 “Hanya bersantai, ada apa menelepon?” Gibran.
📲 “Besok, kau ada acara enggak?” Liza.
Gibran berpikir sejenak, untuk jujur atau tidak.
📲 “Aku, hanya di rumah,” Gibran.
📲 “Kebetulan yang sangat tepat!” Liza.
📲 “Memangnya ada apa?” Gibran.
📲 “Besok kencan yuk!” Liza.
📲 “Apa?!” Gibran.
📲 “Eh salah, maksud ku, besok jalan yuk!” Liza.
📲 “Mau jalan kemana?” Gibran.
📲 “Ke hutan, ke mall, gunung, bioskop, bar! semua aku oke, asal itu bersama mu! Hehehe,” Liza.
Apa Liza sama kesepiannya dengan ku? Meski pun Liza ubnormal, pastinya dia juga butuh refreshing, dan suasana baru,batin Gibran.
📲 “Baiklah, bagaimana kalau kita ke kebun binatang saja besok? Kebetulan aku sudah beli 2 tiket untuk kita,” Gibran.
📲 “Cocok banget, kebetulan aku sudah lama enggak lihat belalai gajah,” Liza.
Wah! Ternyata Gibran memang ingin mengajak ku kencan, ya Tuhan... apakah aku harus memilih Gibran sebagai pelabuhan terakhir ku? Terimakasih Tuhan, setelah menjomblo selama 16 tahun, akhirnya aku laku juga,
batin Liza.
📲 “Baiklah, kalau begitu besok ku jemput,” Gibran.
📲 “Tapi rumah ku jauh,” Liza.
📲 “Enggak apa-apa, kirim saja alamatnya, aku akan menjemput mu tepat waktu,” Gibran.
📲 “Baiklah, kalau kau memaksa, aku bisa apa, jika mau mu begitu, ku tutup ya,” Liza.
📲 “Baiklah,” Gibran.
__ADS_1
“Apa salahnya, sesekali menyenangkan hati orang lain, apa lagi itu Liza,” gumam Gibran.
_________________________________________
“Aaahh! Senangnya!!” Liza yang merasa bahagia, memutar-mutar tubuhnya seraya mendongak ke langit-langit.
“Tapi kasihan banget dia, harus jauh-jauh menjemput ku, hum! Tahu begini, kemarin aku jadi saja pindah ke kosan, tapi ya sudahlah, Senin saja pindahnya, toh sudah bayar, tinggal bawa barang-barang kesana. Lebih baik aku tidur sekarang.” Liza amat bersemangat untuk menunggu pagi, ia pun memutuskan untuk istirahat, meski itu masih pukul 17:30 sore.
______________________________________
Tok tok tok! Zanjiil mengetuk pintu kamar Kissky.
“Huwl! Apa kau masih hidup?”
Tok tok tok!
“Huwl! Buka, ini handphone mu ada pada ku, tadi tinggal di meja makan!” meski Zanjiil berulang kali mengetuk pintu kamar istrinya, tetap saja Kissky tak menyahut.
“Apa dia sedang tidur ya?” karena tak mendapat respon, ia pun beranjak ke dalam kamarnya.
ia yang telah berada dalam kamar, duduk di atas meja belajarnya.
“Oh iya, kanvasnya ada pada Kissky.” Zanjiil yang tak punya kegiatan, ingin melanjutkan lukisan pengantin mereka, ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar gadis cantik itu, melalui pintu yang ada dalam kamarnya, yang terhubung langsung ke kamar istrinya.
Retek!!
Krieet!! Dengan hati-hati Zanjiil membuka pintu.
Deg! deg! Ia yang berharap mendapat pemandangan sedap memegang dadanya yang bergetar.
Zzzzz....
Namun saat Zanjiil akan mendekati ranjang Kissky, ia mendapati istrinya sedang tidur dengan mendengkur keras.
“Benar-benar jorok!” pekik Zanjiil.
Ia yang telah hilang selera pada istrinya, melempar handphone yang akan ia kembalikan ke ranjang.
Namun ketika ia akan beranjak pergi, tanpa sengaja netranya melihat resleting baju atas Kissky yang terbuka.
“Jangan-jangan!” Zanjiil menggelengkan kepalanya.
Meski mulutnya menolak, namun hatinya berontak ingin melihat isi di balik balutan busana tersebut.
“Apa salahnya? Aku kan suaminya, lagi pula yang akan ku lakukan padanya, akan jadi pahala semuanya, benar banget!” dengan perlahan Zanjiil naik ke atas ranjang.
__ADS_1
Kemudian, tangan jenjang dan bidangnya mulai memegang ujung resleting baju Kissky.
“Maaf ya monyet, aku hanya ingin menutup baju mu, lagi pula aku akan berdosa, jika membiarkan mu sampai masuk angin, hehehe...” niat awalnya hanya ingin merapikan resleting Kissky, justru malah menurunkan dengan pelan-pelan.
Reett...
Saat belahan bukit Kissky akan terlihat, tiba-tiba si pemilik tubuh malah terbangun.
Plak!
“Au!!” Zanjiil di buat kaget bukan main.
“Apa-apaan kau Biawak! Buaya rawa!” pekik Kissky dengan suara melengking.
“Aku hanya menutup resleting baju mu,” sahut Zanjiil.
“Alasan! Pada hal sudah jelas kau menurunkannya! Mesum! Ini apa ini?!” Kissky menunjuk ke arah resletingnya yang terbuka lebar, kemudian Kissky pun melempari Zanjiil dengan bantal.
“Kau salah paham, aku tak ada niat jahat pada mu!”
“Apa kau bilang? Tak ada niat jahat, tapi masuk ke kamar orang lain?” Kissky menendang bahu Zanjiil, hingga pria tampan yang duduk di ujung ranjang terjatuh ke granit.
“Darimana kau masuk mesum?!” Kissky mengambil guling lalu memukul kepala Zanjiil berulang kali.
“Dari sana!” Zanjiil menunjuk ke arah pintu yang bersebelahan dengan lemari baju Kissky.
“Jadi kamar kita benar-benar terhubung? Apa mungkin selama ini, kau sering masuk kamar ku tengah malam?” lalu Kissky menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Apa kau juga sudah melihat aset-aset berharga ku?”
Zanjiil yang duduk di atas granit pun berdiri, “Belum, sejujurnya aku baru mau coba tadi tapi...”
“Apa?! Jadi benar! Tadi kau mau melihat dada ku?!” netra Kissky membelalak.
“Iya, tapi jujur, aku belum lihat tombolnya, baru sampai belahan saja!”
“Teganya kau melakukan itu Rabbani!” Saat Kissky akan memukul Zanjiil kembali dengan guling. Pria tampan itu menangkap guling yang menjadi senjata andalan istrinya.
“Cukup Huwl!” Zanjiil menarik guling tersebut, hingga lepas dari tangan Kissky.
Gila! Dia kuat banget! Bisa habis aku kalau dia sampai macam-macam, batin Kissky.
“Marah mu heboh sekali, pada hal aku belum lihat juga!” pekik Zanjiil.
...Bersambung......
__ADS_1