
Keduanya pun kembali ke tempat Zanjiil mengambil kelapa.
“Apa? Kau dapat kepiting?” tanya Kissky, ia yang senang lupa kalau sedang merajuk pada suaminya.
“Iya, sekarang kau bersihkan kepitingnya, aku akan mencari ranting pohon yang patah, agar kita dapat membuat api dan membakar kepiting ini selagi baru mati,” terang Zanjiil.
“Apa kau punya korek api?” tanya Kissky.
“Tidak.” sahut Zanjiil.
“Memangnya kau bisa membuat api dari batu? Atau menggesek kayu?” Kissky meragu pada suaminya.
“Kerjakan saja Ky, apa yang menjadi tugas mu, cuci yang bersih, jangan sampai nanti gigi ku memakan pasir!” Zanjiil yang seorang pembunuh bayaran sudah terbiasa menghadapi situasi sulit, ia yang pernah tersesat 5 hari di hutan setelah membunuh targetnya harus bertahan hidup dengan makan apa saja yang ia temukan. Pada saat itu Zanjiil yang perlu cahaya saat malam hari belajar membuat api dari batu.
“Baiklah, cari kayunya jangan jauh-jauh, nanti kau tersesat lagi,” ucap Kissky.
“Oke bu!” keduanya pun mengerjakan tugasnya masing-masing.
_________________________________________
Pinkan yang telah kembali menerima telepon dari Sora.
Halo nyonya, apa tuan muda Zanjiil dan nyonya Kissky sudah pulang ke rumah? 📲 Sora.
Tidak tahu, karena saya baru pulang dari London 📲Pinkan.
Oh, begini nyonya, kemarin tuan muda dan nyonya datang kemari, dan tadi malam mereka pergi memancing ke laut menggunakan speed boat, anehnya sampai sekarang mereka tak kunjung kembali, dan barang-barang mereka juga masih disini dan handphone tuan muda tak bisa di hubungi. 📲 Sora.
Tunggu sebentar, biar saya tanyakan pada Art. 📲 Pinkan.
Baik nyonya. 📲 Sora.
Kemudian Pinkan yang melihat Sinta pun bertanya.
“Apa Zanjiil dan Kissky di rumah?”
“Maaf nyonya, saya belum melihat nyonya dan tuan muda 2 hari ini,” terang Sinta.
“Baiklah, terimakasih Sinta.” Pinkan merasa ada yang tak beres, ia yang bermasalah dengan Esra berpikir, jika madunya yang telah melenyapkan anak dan menantunya.
Halo Sora, mereka tidak ada disini. 📲 Pinkan.
Setelah mengatakan hal itu, Pinkan mematikan teleponnya.
__ADS_1
Kemudian mendial nomor ajudan kepercayaannya.
Halo, Musa, segera kerahkan anggota mu untuk mencari keberadaan Zanjiil dan Kissky, lokasi terakhir di pulau Bintang Lail. Telusuri semua lautan Utara, ku tunggu kabar mu secepatnya. 📲 Pinkan.
Laksanakan nyonya. 📲Musa.
Musa yang mendapat misi dari sang nyonya besar Rabbani segera menjalankan perintah.
Musa pun menelepon kepala anggota yang bertugas di udara dan air.
Jangan pulang tanpa hasil! 📲 Musa.
Anggota yang di kerahkan segera berangkat ke lokasi yang telah di tentukan.
Bagian udara mengutus 10 helikopter. Sedang bagian air mengirim 20 kapal untuk berlayar di lautan.
__________________________________________
“Aku yakin, wanita itulah pelakunya, awas saja, kalau anak-anak ku lecet! Aku akan membunuh mu dan anak mu Esra!” Pinkan menyusun rencana pembunuhan Esra dan Joe. Setelah itu Pinkan pun mencari Hera ke kamarnya.
Sesampainya Pinkan, ia pun melihat Hera sedang melakukan Muay Thai dengan samsak.
“Hera, bersiaplah! Mulai hari ini sampai waktu yang di tentukan, kau latihan fisik, tak usah kerjakan rumah, karena kau ku beri misi, untuk membunuh, Esra, Joe dan... tuan besar.” Kali itu kesabaran Pinkan telah habis.
“Siap nyonya!” Hera yang sudah lama vakum merasa bersemangat di beri pekerjaan.
Saat semua orang heboh dan mengkhawatirkan penerus generasi Rabbani, justru yang di cari sedang bersenang-senang.
_______________________________________
Zanjiil dan Kissky sendiri sedang menikmati hasil kerja keras mereka. Yaitu menikmati kepiting bakar di temani kelapaa muda segar.
“Tak ku sangka, kau bisa membuat api dari batu,” Kissky memuji bakat Zanjiil.
“Kau juga bisa melakukannya kalau mau.” ucap Zanjiil.
“Pasti sulit.”
“Tidak, kau tinggal buat begini.” Zanjiil pun memperaktikkan dengan mengadu 2 batu bersamaan.
Tik tik! Dan sebuah percikan api keluar dari hasil gesekan 2 batu tersebut
Saarrhhh!!
__ADS_1
“Keren banget, berarti kita tak perlu khawatir masalah api, hahaha.” setelah Kissky tertawa tiba-tiba wajahnya berubah jadi sedih.
“Ada apa lagi?” tanya Zanjiil.
“Sampai kapan kita akan disini? Apa orang-orang akan mencari kita?” Kissky menahan tangisnya, sebab ia takut jika berakhir sampai tua di pulau itu, di tambah ia rindu akan sang ibu yang baru saja meninggalkannya.
Seketika Kissky tak dapat membendung air matanya.
“Hiks... huahh... mama...”
Zanjiil yang melihat istrinya menangis tak merasa kasihan sama sekali, sebab ia yakin, akan ada gerombolan yang mencari mereka.
Tak mungkin seorang pewaris di biarkan bilang begitu saja, batin Zanjiil.
Namun hal tersebut tak di sampaikan oleh Zanjiil pada istrinya.
Zanjiil juga mengambil handphone yang ada dalam sakunya. Yang ia atur ke mode pesawat.
Aku ingin bersamanya beberapa hari lagi, batin Zanjiil.
Tanpa ia sadari, liburan istimewa yang ia ciptakan, akan membuat malapetaka antara 2 dua hati yang lagi bersaing ketat.
“Untuk apa kau menangis, mungkin ini adalah jalan takdir kita, lagi pula tak apa-apa kita hidup disini, toh lebih aman dan juga nyaman,” terang Zanjiil.
“Mata mu, kau ini bicara seolah semua tempat terlihat oke untuk di tinggali, hiks!” Kissky memarahi suaminya.
“Seingat ku, dulu kau pernah bilang, kita membeli tanah di kampung lalu bertani, apa bedanya dengan ini? Disini kita tak perlu beli tanah, makanan juga telah tersedia, kita juga belum menyusuri seluruh hutan, siapa tahu saja ada sumber air, nah! Apa lagi kurangnya? Soal rumah, kita bisa bangun dengan dedaunan.” Zanjiil sungguh serius dengan yang ia katakan. Meski itu sangat tidak mungkin terjadi.
“Aku enggak mau, kalau kau punya ide sebagus itu, kenapa kita tak mencari sesuatu untuk membuat rakit? Dua tiga hari masih enak disini, tapi untuk selanjutnya pasti membosankan. Aku juga tak mau, kalau anak ku lahir dan tumbuh tanpa melihat manusia selain kita, hiks.. aku mau pulang!!!” Kissky sungguh tak sanggup membayangkan masa depannya yang rumit di tempat itu.
“Katanga cinta, mau hidup bersama, baru dapat cobaan begini saja kau sudah mengeluh, tak bisa di percaya, ternyata kau hanya menyukai harta ku,” ucap Zanjiil.
“Bu-bukan begitu, aku hanya ingin pulang, kalau kita di perkampungan tak masalah hidup seadanya, ini kau lihat sendiri, hanya ada kita berdua!” Kissky sungguh tak terima jika ia di tuduh gila harta.
“Pokoknya nikmati saja, ayo!” kemudian Zanjiil bangkit dari duduknya.
“Mau kemana?” tanya Kissky.
“Mencari kayu dan daun, kita akan membuat rumah untuk tempat tidur kita malam ini,” terang Zanjiil.
“Apa? Kau serius?” tanya Fi tak percaya.
“Ya, atau kau mau basah? Kalau seandainya turun hujan?” perkataan Zanjiil membuat Kissky terpaksa menurut
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu. Ayo kita pergi.” Demi tidur yang nyaman Kissky mau mengikuti langkah suaminya untuk kembali ke dalam hutan.
...Bersambung......